Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 01 Juni 2020

Hari Ini Sepi

Juni 01, 2020 4 Comments
Sepi dan kesendirian


Hari Ini Sepi


Hari ini tak ada pesan
Sepi tak bertuan
Tak ada kata yang dapat dikatakan
Juga tak ada suara untuk didengarkan
Sepi tak bertuan

Melenggang lesu kembali ke peraduan
Merebahkan badan di antara tegaknya pikiran
Menghiba semoga dapatkan pesan
Bersama detak yang kian menawan

Masih saja sepi
Tanpa kata apalagi suara
Titah salam pun tak sangkakan
Hingga badai gejolak tenang terdiam

Jemari menulis
Hati gerimis
Gemuruh luruh
Di antara ribuan duri
Rindu yang kian menyepuh
Sampai sepi kian melepuh
Meninggalkan badai
Di antara tangis tak berpeluh

Dan hari ini
Sepi tak bertuan

Ar, 162020

Minggu, 31 Mei 2020

Blog: Diary Digital atau Portofolio Karya

Mei 31, 2020 0 Comments
Blog: Digital Diary atau Portofolio Karya


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Apa kabar Sahabat PeKat? Lama tak bersua, semoga kalian senantiasa dilimpahi kesehatan dan rezeki yang lapang. Kondisi masih tetap harus waspada, jaga diri, jaga hati, dan jaga kesehatan. Be positive thinking!

Setelah berdiam cukup lama, hari ini aku memutuskan kembali. Tentu saja dengan membawa bahan "makanan" yang mungkin bisa kita nikmati bersama. Kali ini aku mau mengolah lagi tentang blog. Bagi Sahabat PeKat mungkin merasa sudah pernah dibahas kenapa dibahas lagi? Nope, semoga kali ini meski sajiannya terasa mirip tetapi isiannya berbeda. Boleh jadi sama-sama sup sayur, tapi isinya bisa kita kreasikan menurut selera masing-masing. Ok, langsung saja kita ke ruang opini, yuk!


Blog itu apa sih?

Sahabat PeKat tentu sudah familiar dengan makanan ini. Tetapi mungkin tak semua sudah mengantongi tujuan dari keputusannya untuk membuat blog. Kali ini aku tidak akan membahas tentang definisi ya, Sahabat. Karena definisi itu bisa ditemukan di mana saja. KBBI mungkin, wikipedia juga bisa. Atau artikel di bilik tetangga. Tentu sudah banyak yang membahas tentang definisinya. Sekiranya sekarang, mari saling beropini atau tinggalkan pesan di kolom komentar tentang pengalaman apa yang kalian dapat sejak mengenal blog.

Sebab tak semua telah mengantongi tujuan yang jelas. Maka, tak sedikit pula yang membuat blog ya hanya sekedar membuat. Menulis artikel, dibagikan, kemudian sudah. Tak pusing dengan beraneka printilan yang menyertai perjalanan perbloggeran.

Emang ada apa saja? Banyak. Salah satunya tentang sasaran pembaca. Atau topik artikel yang sedang banyak dicari tetapi minus referensi. Artikelnya masih sedikit gitu. Nah, bisa dibayangkan kalau kemudian blogger hanya sekedar nulis, lalu sudah.

Lalu, apa tujuan ng-blog kalau gitu?

Aku jadi merenung kembali tentang materi perbloggeran beberapa bulan ke belakang. Salah satunya yang terus bergaung di ruang bawah sadar. Yaitu, blog sebagai diary digital.

Ketika blog hanya menjadi wadah tulisan kita yang asal misalnya. Ya, bisa jadi seperti artikel ini. Semua hal tertuang di halamannya. Kemudian dibagikan begitu saja. Biasanya juga tanpa proses editing manual. Lalu, si blog ini akan terus menerus menyimpan berlembar-lembar opini dan artikel yang penulis buat. Just this!

Lalu, apakah yang seperti itu tidak ada manfaatnya? Bisa jadi bermanfaat, bisa jadi juga tidak. Karena dalam membagikan opini ke publik, kita perlu etika. Ada hal-hal yang ada baiknya kita simpan sendiri, ada yang sebaiknya dibagi. Contohnya curhatan kita setiap hari, keluh kesah dalam hidup mungkin, dan lain sebagainya.

Jika, hal-hal tersebut memiliki bungkus berbeda, bisa jadi justru akan bermanfaat bagi pembaca. Dan kalian akan menjadi wasilah penebar kebaikan. Atau mungkin juga dari tulisan itu pembaca menjadi semakin baik, lebih banyak bersyukur lagi akan nikmat yang Allah anugerahkan pada mereka. Serta masih banyak lagi manfaat lainnya.

Lalu, jenis lainnya adalah blog profesional. Apa yang dilakukan oleh blogger profesional ini? Meski dikatakan pemula, tetapi ia sungguh-sungguh dalam membangun detailnya. Menjadikan blog sebagai branding diri, dengan tujuan apapun. Ada yang jualan, ada yang menebar manfaat berdasarkan keilmuan yang dikuasai, atau juga penyedia jasa.

Profesional Pemula

Istilah profesional mungkin tak cocok jika disandingkan dengan pemula. Pada umumnya definisi profesional adalah ahli atau kalau merujuk ke KBBI, pro.fe.si.o.nal berarti:
  • a bersangkutan dengan profesi
  • a memerlukan keahlian khusus untuk menjalankannya
  • a mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.
Lalu di sini kita akan merujuk pada pengertian nomor dua. Bahwa profesional berarti memerlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Kalau di dunia blogger berarti dia paham detail dan seluk-beluk tentang perbloggeran tentu saja. Tetapi, memang untuk si empunya tulisan, tak mesti seseorang yang juga jago atau ahli dalam dunia blog itu sendiri. Jadi, mereka tetap ahli tetapi bukan dalam urusan teknis perbloggerannya, melainkan ahli pada bidang yang dikuasai. Kemudian menjadikan blogger sebagai media untuk berbagi kemanfaatan yang dia miliki.

Nah, sekarang yang mau kita bahas adalah seseorang yang ng-blog tapi segala sesuatunya diurus sendiri. Kaitannya dengan profesional pemula apa. Yups, mari kita lanjutkan diskusi.

Profesional pemula itu mereka yang niat ng-blognya bukan untuk sekedar nulis. Enggak cuma jadiin blognya sebagai diary digital. Tapi betul-betul membangun brand dari blog. Jadiin blog sebagai portofolio karya, opini, artikel, dll. Nah, yang seperti ini sudah mesti harus memperhatikan hal-hal dasar yang berkaitan dengannya. Siapa? Ya blognya, masa aku. 😴 😆

Ok, cek langsung, yuk!

Ranking

Atau peringkat, kalau para blogger nyebutnya DA. Domain Authority. Aku lebih mudah memahaminya sebagai peringkat. Peringkat apa? Bahkan ngeblog juga butuh peringkat seperti ini. 🤔

Ya, setelah sekian tahun mainan blog. Aku termasuk yang paling cuek. Bisa disebut selama ini aku menjadikan blog sebagai diary digital, meski mungkin isinya bukan yang curhat menye-menye. Tapi, memang sama sekali enggak paham tentang blog itu sendiri. Yang kutahu, ya kita nulis, bagi, sudah. Aku enggak tahu, apakah blogku dikunjungi orang atau tidak. Tulisanku dibaca orang atau tidak. Meskipun sebenarnya aku penasaran, bagaimana sebuah artikel bisa berada di posisi teratas pada mesin pencarian.

Ketika kita mengetik kata kunci di panel pencarian pada mesin telusur, apakah itu Google, Yahoo, atau media apapun. Mesti akan muncul beberapa artikel teratas. Kemudian aku memperhatikan tahun artikel itu dirilis. Beberapa di antaranya bahkan sudah berumur dua atau tiga tahun. Nah, apakah kemudian dalam kurun waktu tersebut tidak ada artikel terbaru? Jawabannya, tentu saja ada. Hanya saja banyak faktor yang mempengaruhi posisinya. Salah satunya perankingan tadi.

Untuk yang satu ini, aku tidak akan membahas tentang teknis bagaimana supaya nomor satu dst. Tetapi, aku hanya mengulas bahwa memperhatikan hal detail seperti ini juga perlu, lho. Bahkan penting untuk nasib tulisan kita. Sebab, ini juga yang membantu progres bertemunya dia dengan jodohnya. Iya, kan? Tulisan tentu saja berjodoh dengan pembacanya.

Untuk tes berapa nilai DA blog, bisa melalui situs-situs ini:
Yang terakhir ini juga aku biasanya menggunakan untuk plagiarism checker.

Nah, aku rasa dengan memperhatikan posisi ini, berarti kita juga akan memperhatikan hal detail yang menyertainya. Banyak referensi yang akan membantu kalian untuk memahami ini lebih jauh. Selain itu juga banyak artikel yang menjelaskan tentang bagaimana caranya meningkatkan DA blog. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan, diperbaiki, bahkan mungkin dimodifikasi. Meski kadang karena default penyedia layanan blog yang tidak bisa dikostumisasi, maka ya, terima nasib. Kalau kata kakak seniorku. 😆😆😆

Misalnya seperti default link halaman dari blogspot itu ada tahun/bulan, sedangkan hal tersebut terdeteksi sebagai URL unfriendly. Ya mau enggak mau, kita harus terima dong. Kalau pun berpengaruh, itu tidak masuk pada sesuatu yang signifikan jika saja bisa dimodifikasi.

Kualitas SEO Blog

Jadi, aku sebenarnya juga masih awam soal perbloggeran, Sahabat. Makanya di sini aku enggak jelasin soal detail buat naikin DAlah, atau SEO yang rumit. Please, pahamin kalau di sini aku cuma sharing pengalaman selama main blog.

Ok, lanjut ya. Perjalanan berikutnya, aku mulai melek per-SEO-an. Setelah dibikin mumet karena mengolah bahan-bahan baku supaya DA bisa naik. Sampai akhirnya aku kolaps dan enggak muncul sama sekali. Karena aku pikir emang belum prioritas juga. Ya itu tadi lho, ngeblogku masih yang untuk nulis aja. Numbuhin motivasi buat aktif nulis. Biar ga mandeg dan tetap lemes otot menulisnya.

Nah, jadi beberapa waktu lalu aku nemu salah satu review kelas gitu kayanya. Penulisnya bahas tentang SEO ini, dan langkah-langkah supaya DA bisa beranjak naik. Oiya, semakin tinggi nilai DA, menunjukkan semakin berkualitaslah blog itu. Kurang lebih yang kupahami seperti itu. Kalau ada yang kurang pas, boleh bantu revisi dengan meninggalkan pesan di kolom komentar ya, Sahabat.

Cek SEO bisa melalui https://www.seoptimer.com/

Hasil dari analisanya bisa kita jadikan acuan untuk memperbaiki bagian-bagian mana yang dianggap menurunkan nilai SEO itu sendiri. Ya, masing-masing orang kan berbeda cara belajarnya. Mungkin dengan otodidak sudah cukup. Tetapi ada juga yang perlu bimbingan mentor. Itu semua tak jadi masalah. Sekarang pun referensi untuk mempelajarinya juga banyak.

Kesimpulan

Mau dijadikan apapun blogmu, sesungguhnya itu adalah pilihan masing-masing. Tak ada keharusan harus seperti ini pun seperti itu. Tetapi ingat, pada setiap harapan selalu ada usaha dan kerja keras yang mengiringi untuk meraihnya. Sama seperti ngeblog ini. Seberapa tinggi harapan kita dengan ngeblog, maka barengi semua itu dengan usaha yang sungguh-sungguh. Sebab, tak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Pemula yang ingin menjadi seorang profesional bersama blognya, bukan mustahil. Asal, kerja keras menjadi laku dalam membangun setiap detail dari blog itu sendiri. Tetapi, jangan hanya berhenti di situ. Meningkatkan kapasitas dan kualitas leher ke atas juga sangat penting. Supaya kemanfaatan yang kita bagikan melalui rumah virtual ini, menjadi betul-betul berisi.

Satu lagi, ini ada alamat rumah virtual yang bisa kita jadikan referensi untuk belajar tentang blog.


Selamat berkarya dan membahana dalam kemanfaatan!

Ar, 3152020

Jumat, 20 Maret 2020

Bukan Sekedar Hafalan

Maret 20, 2020 0 Comments
Sejak tanggal 16 lalu, aku memang belum lagi move dari ruangan segi empat yang menjadi tempat isolasi paling nyaman. Kondisi memang tak memungkinkan untukku beranjak, selain itu siswa juga sedang dipindahtugaskan ke rumah untuk sementara waktu. Hah, bahasaku. Ko dipindahtugaskan ya? Hehehe .... No, mereka belajarnya pindah ke rumah masing-masing. Semoga saja enggak ada yang malah rekreasi ya. Sekalipun miris, karena di tempat lain justru siswanya bersorak, "Hore libur Corona!"

Ini memang keputusan untuk tetap masuk atau tidak sempat simpang siur. Dan bisa dikatakan juga mendadak. Sampai aku membaca bahwa ini ditetapkan sebagai bencana non alam. Yaa Allah, minimnya informasi yang terpercaya seringkali malah menimbulkan hal-hal yang tidak seharusnya. Tapi, baiklah. Mari kita move dari hal itu. Beralih ke catatan harian yang mendadak menghampiriku hari ini.

Jadi, kemarin memang sengaja aku bikin story tentang pencapaian teman. Karena berhasil membuat satu media daring untuk evaluasi siswa. Dan hari ini, postingan yang sudah bau kemarin justru dikomentari oleh salah satu wali murid. Kebetulan Beliau juga seorang guru.

Singkat cerita, aku malah bertanya tentang isian ceklist, atau yang kusebut lembar aktivitas. Dan, yang membuat amazing, bukannya aku dikirimi hasil ceklist-nya justru dikirim voice note setoran hafalan sang putri. Maka, dari sinilah ide tulisanku bermula. Tentang hafalan yang tak sekedar hafal.

🌷🌷🌷

Ketika mengaji, kita itu mesti dihadapkan pada tingkatan-tingkatan. Bukan hanya ngaji ya. Belajar kan begitu, ada kelas 1, 2 dan seterusnya. Ada level 1, 2 dan seterusnya. Nah sama, ketika ngaji kita harus mengenal dulu huruf Hijaiyah, kemudian kita juga akan belajar tentang tajwid, makhorijul huruf, serta ahkamul huruf. Sebelum kemudian kita belajar menghafal. Namun demikian bukan berarti kesemuanya itu harus berjalan sendiri-sendiri. Kita tetap bisa menghafal dengan terus memperbaiki bacaan.

Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Yang dapat kita upayakan adalah mendekati Dzat Yang Mahasempurna. Oleh karena itu, ketika kita sedang membersamai ananda dalam menghafal surah-surah dalam Alquran, hendaknya tidak hanya sekedar memerhatikan apakah ananda sudah hafal atau belum. Tetapi pun perhatikan apakah bacaannya sudah tepat atau belum.

Dan pelajaran ini kudapat ketika mendampingi siswi saat lomba tahfidz bulan lalu. Di sana, sang juri berpesan, supaya bacaan anak tetap diperhatikan. Membaca secara tartil dan sesuai kaidah tentu saja. Karena hafal saja tidak cukup, jika kemudian membacanya sekeluarnya suara.

Hari ini, aku teringat kembali akan hal itu. Dan benar sekali, bahwa memperbaiki itu lebih sulit dari pada membangun dari awal. Oleh karena itu, sebelum terlambat, yuk perhatikan kembali hafalan ananda. Semoga Allah meridai dan memberi rahmat kepada kita semua.

20320

Sapa Sipi Hello, Corona!

Maret 20, 2020 0 Comments
Lama sekali tidak mampir ke rumah online. Apa kabar sahabat PeKat? Hampir satu minggu sejak ditetapkannya masa "apa ya?" Yang pokoknya selama 14 hari, siswa belajar di rumah. Dan selama sepekan itu aku meringkuk tak berdaya di salah satu ruang di rumahku. 🤔 Ya iyalah masa di rumah orang. Meskipun bukan karena corona, tapi aku memang butuh mengisolasi diri sendiri. Dan hari ini adalah hari pertama aku bisa feel free untuk melakukan sesuatu. Meskipun semua itu dilakukan secara daring. Atau istilah familiarnya online.

Dan hari ini juga aku tiba-tiba ingin membagikan dongeng. Eum, bukan sih. Lebih tepatnya ya catatan untuk diriku sendiri yang siapa tahu bermanfaat untuk sahabat.

Jadi, sejak ditetapkan masa 14 hari untuk #dirumahsaja, aku beserta teman-teman guru menyiapkan bahan ajar yang bukan bahan ajar juga sih. Lebih tepatnya tugas untuk dikerjakan siswa selama belajar di rumah. Harapannya, mereka benar-benar belajar di rumah bersama orang tua tentunya. Well, aku sendiri menyiapkan beberapa tugas yang disusun sesederhana mungkin berikut dengan lembar penilaian. Karena bidang yang kusampaikan ke anak-anak adalah materi praktis aplikatif daann lebih banyak ke pembiasaan, maka aku bikin lah lembar aktivitasnya seperti bikin ceklist habit tracker. Harapannya itu memudahkan juga untuk orang tua selama mendampingi putra-putrinya belajar di rumah.

Dan harapanku yang lain adalah semoga aja hal sederhana itu bisa menginspirasi mereka jadi sesuatu yang dilanjutkan. Enggak cuma 14 hari ini doang, enggak cuma buat menuhin tugas, tapi benar-benar bisa lah untuk saling bantu mengontrol. Bukan hanya putra-putrinya tapi habit tracker bagi para orang tua. Hehehe, itu harapan, sahabat. Kalau terwujud Alhamdulillah, kalau enggak ya ga masalah. Udah dibikinkan untuk putra-putrinya aja udah syukur. 😁

Ok, yang dari tadi penasaran. Seperti ini lah punyaku. So simple, so irit, dan mudah lah bikinnya.

Habit Tracker Ceklist untuk kelas 1

Hal lain yang dilakukan teman-teman adalah membuat tes daring dengan memanfaatkan salah satu fasilitas google, yaitu google form. Sesuatu yang sederhana dan bisa digunakan banyak kalangan. Ini merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi kami. Mengingat, potensi kondisi masyarakat yang mungkin belum melek teknologi, kadang membuat sesuatu yang mudah pun menjadi sulit. Jadi, untuk apa mempersulit semua yang mudah.

Yeay, dalam artikel kali ini aku tidak terlalu membahas soal si corona ini memang. Tapi, sedikit ya itu tadi. Berbagi dan mengabadikan moment. Karena memang masa-masa yang bisa disebut lockdown bagi para siswa ini atau belajar di rumah selama 14 hari, menjadikan sebuah tantangan sendiri bagi guru. Apakah kemudian hal tersebut efektif atau tidak. Dst. Tapi semoga, upaya kita dalam rangka memutus mata rantai penyebaran covid-19 diridloi Allah. Sehingga sekecil apapun usaha itu membuahkan hasil.

Sahabat di mana pun berada. Tetap patuhi SOP yang sudah disosialisasikan sebagai upaya pencegahan. Semoga semua senantiasa diberi kesehatan dan dijaga dari marabahaya. Tak ada guna menyalahkan siapa atas siapa atau mencari kesalahan siapa untuk siapa. Akan lebih baik jika kita awali dari diri sendiri. Menyadari kemudian bertindak secara nyata memang bukan sesuatu yang mudah. Maka, lakukan kebaikan sekecil apapun itu. Social distance bukan berarti kemudian tidak peduli sama sekali dengan lingkungan. Tetap jaga kebersihan diri sendiri dan patuhi semua rule yang sudah diinformasikan pemerintah.

Teman-teman dokter dan seluruh tenaga medis yang sampai saat ini masih terus bergerak di antara bahaya yang mengintai. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian.

#dirumahsaja #Indonesiabisa

20320

Senin, 10 Februari 2020

Menulis Santai

Februari 10, 2020 1 Comments
Menulis santai menurutku ya menulisnya santai. Mengalir seperti air. Definisi santai yang kupahami adalah luwes dalam pemilihan diksi dan rangkaian kalimatnya lentur. Jadi ketika dibaca bisa mengalir. Tanpa disadari pembaca sudah sampai di ujung bacaan. Dan semoga definisi yang kukemukakan ini sejalan dengan definisi yang dimiliki oleh Sahabat PeKat, temansenja.com. Kalaupun tidak, semoga nanti kami punya kesempatan untuk diskusi terkait tema yang sama. Sehingga clear sharing kita hari ini.

Jadi, menjawab request tentang cara menulis yang rangkaian katanya santai terutama kalimatnya. Maka, Penenun Kata mencoba meramunya dalam post tulisan ini. Sekaligus mengerjakan ngODOP periode 3.

Eum, kalau kita membicarakan sesuatu untuk dipaparkan kepada publik, itu seolah kita adalah yang paling tahu tentang sesuatu tersebut. Dan untuk menebus kata seolah, supaya menjadi bagian yang enak dipahami. Maka, aku lebih nyaman kalau media ini menjadi sarana kita berbagi dan diskusi. Bukan karena siapa lebih jago dari siapa, atau lebih ahli dari siapa. Bukan. Melainkan, aku di sini sedang berbagi pengalaman. Syukur-syukur kalau pengalaman sederhana ini kemudian dapat menyebarluaskan manfaat.

So, langsung saja ya kita simak ulasan di bawah ini, AWAS! Tulisan ini mengandung dongeng.


Mungkin ini sudah pernah kusampaikan di tulisan-tulisan sebelumnya. Hanya saja mungkin tidak spesifik tentang bagaimana membuat tulisan kita itu santai. Tulisan santai tapi tak merasa sesantai itu. 😊😄

Menulis adalah skill yang dilatih, bukan bawaan apalagi bakat. Kalau pun toh iya, mungkin hanya sebagian kecil prosentase saja. Selebihnya adalah latihan, latihan, dan latihan. Di luar sana sudah banyak sekali informasi yang menguraikan tentang bagaimana menulis indah  dan menulis kreatif. Maka sebetulnya, kita bisa menyerap satu per satu ilmunya kemudian dipraktekkan.

🤔
Rasa-rasanya aku tidak memiliki ritual khusus untuk meramu sebuah tulisan. Semua hadir begitu saja. Dan kalau Sahabat masih ingat, bahwa untuk menghindari gagap menulis maka kita harus banyak baca. Karena membaca dan menulis itu saling terhubung.

Ya, kalau selama ini merasa masih sulit menuangkan apa yang ingin disampaikan, membaca. Apa yang dibaca? Apapun. Aktifkan kembali otot baca. Isi teko kita dengan beragam kosakata. Supaya ketika dibutuhkan, ibarat air dalam teko, ya tinggal tuang. Kalau kita lagi kurang baca, ya bisa jadi seperti teko kosong. Apa yang mau dituang? Benar, tidak?

Kemudian selain membaca, perbanyak lagi praktek. Pada proses ini seringkali menemui kerancuan. Mana yang boleh dan tidak boleh dibagikan. Sebagai insan literasi yang baik, maka kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Jangan semuanya kita bagikan kepada media. Sebab, sekali tulisan tetap tulisan. Meskipun ia merupakan manifestasi sebuah pemikiran. Meskipun ia adalah bentuk lain dari bahasa lisan. Tetap menjadi sebuah tulisan yang tak bernada. Sehingga, bisa menimbulkan beragam asumsi dari pembaca.

Buat sesuatu yang bermanfaat tanpa meninggalkan jejak ambiguitas. Jadi, pisahkan hal-hal yang beraroma tak menyenangkan dengan sesuatu yang kita anggap berguna. Biasanya di sini, aku menyiapkan ruang khusus untuk meretas pikiran-pikiran negatif, rasa tersakiti, dan semua hal yang tidak menyenangkan. Di sana, kita bebas berekspresi tanpa harus melukai pihak manapun. Setelah tuntas dan tandas, barulah diri ini siap melahirkan anak-anak pemikiran yang sehat dan bermanfaat. Insyaallah.

Maka Sahabat, perbanyak membaca dan latihan sebetulnya adalah kunci yang tak boleh sampai hilang. Meskipun membaca apapun bisa, tetap ingat bahwa teko akan mengeluarkan sesuatu yang kita tuang ke dalamnya. Tulisan ibarat isi teko. Maka, ia akan mengikuti apa-apa yang telah kita baca.

Aku pikir, seperti itu saja. Semoga yang sedikit dan sederhana ini bermanfaat untuk Sahabat PeKat. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

10.1.2020
-arhana-


Jumat, 31 Januari 2020

Tentang Siapa Aku Berada

Januari 31, 2020 9 Comments
Menyambangi rumah virtual menjadi sebuah rutinitas yang tidak lagi kulakukan beberapa hari ini. Terakhir setelah aku selesai membaca sebuah buku yang merupakan salah satu challenge-ku di tahun 2020. Berbicara tentang challenge, ternyata ada banyak sekali tantangan yang sengaja kuhadirkan sampai yang tidak kuharapkan sama sekali.

Namun, terlepas dari tantangan itu. Kali ini aku hendak bicara tentang siapa aku di sini. Sebuah rumah yang identitasnya pun haruslah jelas. Supaya pengunjung tak salah alamat. Selain itu pemberian identitas ini bermaksud juga untuk menjadikan sesuatu itu unik. Biasanya identitas digunakan untuk mengenali sebuah atau sesuatu yang bisa saja disebut aku, kamu, pun dia. Maka, perkenankan sekali lagi aku memberi label yang tak membatasi, tetapi justru bisa memberi kemanfaatan yang jauh lebih luas, insyaallah. Harapannya seperti itu.

Jadi, pada awal pendirian rumah virtual ini. Aku membangun dengan konsep literasi. Entah kecintaan atau memang minat besarku ya di dunia buku. Maka, aku ingin mendedikasikan sebagian waktu untuk hal-hal yang berkenaan dengan literasi. Meski sadar bahwa literasi itu sebetulnya masih sangat luas. Tapi, ketika kemudian akan menjalankan segala aktivitas di dalamnya, terasa ada batas tak kasat mata yang mengekang. Sehingga ketemulah titik bingung atau yang biasanya temen-temen penulis itu nyebut sebagai blocking atau writer's block.

Nah, setelah ketemu buntu. Akhirnya aku sedikit longgar dan menganggap bahwa yang penting aktif dulu mengisi. Soal tema bisa dipikirkan nanti. Ternyata eh ternyata, tanpa sadar apa yang kutulis muter-muter seputar itu saja. Menulis, membaca, buku, edit, dan hal-hal yang berkaitan dengan literasi membaca. Kalau pun ada beberapa post yang tidak nyambung, bisa jadi itu tantangan atau ya aku pengennya ngbahas itu. Pokoknya serba enggak jelas gitu. Dan aku sendiri mulai berpikir, ko yang kutulis itu ya cuma itu-itu saja, begitu-begitu saja, enggak ada perkembangan, enggak apa ya? Ada yang kuranglah pokoknya.

Sampai suatu ketika, di kelas nonfiksi yang sengaja kupilih karena memang ingin mengasah kapak yang tajam, meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Ada satu materi tentang perblogingan. Biasanya kalau ada kelas aku cenderung pasif. Antara bingung mau nanya apa dan belum baca materi secara keseluruhan. Jadi, kaya yang pelan banget gitu belajarnya. Banyak faktorlah kalau ini ya. Di situ, sama narsum diminta share link blog. Gunanya untuk dikunjungi dan dicek oleh narsum. Tentu saja bukan hanya itu ya sahabat. Dari kunjungan tersebut, akan ada semacam kritik dan saran dari sebuah blog. Nah, kata PJ BSO tahun ini, itu semacam dalil yang menyebutkan tentang siapa sih blog ini. Atau apa sih alamat yang cocok untuk rumah virtualku ini.

Jadi, pada saat itu Beliau mengatakan bahwa blogku cenderung bicara tentang literasi.
Kak Arhana saya sudah tengok blognya. Dari yang saya lihat, benang merah semua postingan di blog Kakak adalah tentang literasi. Itu bisa bnget dijadikan niche dan dikulik lebih dala pd setiap postingan 😊
Cuplikan jawaban dari narasumber saat itu. Dan benar, aku bangun rumah ini maunya masih suka-suka. Masih yang blog itu seperti diary digital. Meskipun aku masih selektif untuk membagikan apa, sekalipun aku menganggapnya sebagai diary, bukan lantas everything dibagikan pada khalayak ramai. Tentu saja tidak. Nah, tapi ternyata sistem kerja di kepalaku sudah membuat filter otomatis. Bahwa yang akan aku tulis di sini adalah tentang literasi. Seperti kata Mbak Rindang, narasumber.

Hanya saja, sesuatu yang tadi kupikir kurang dan hanya itu-itu saja adalah pembahasanku yang masih sangat dangkal. Ibarat makan, mungkin aku hanya mencicipi saja. Ambil permukaannya saja, enggak sampai menyelam ke dasar. Atau mungkin setengahnya saja, itu pun sepertinya juga tidak. Tapi, berangkat dari situ, aku jadi semakin yakin bahwa it's me. Rumah virtualku adalah dunia literasi, khususnya menulis dan membaca.

Dan terimakasih kepada PJ BSO yang sudah memberi kesempatan untuk menyelesaikan tantangan ini.

Kdr, 31.1.2020
-arhana-

Mekanisme Antologi dalam Menulis Buku

Januari 31, 2020 3 Comments
Hari ini, begitu banyak cara untuk bisa memiliki sebuah karya. Katakan sebuah buku, maka ada banyak cara untuk membuat sebuah buku. Dari beragam cara itu salah satunya adalah antologi. Mungkin, dalam artikel kali ini akan banyak sekali kisah pengantar. Sebagai media yang membantu Sahabat untuk memahami apa itu antologi.

Jadi, awal mula saya memiliki buku juga dengan cara seperti ini. Bersama puluhan penulis lain, kami mengumpulkan naskah yang memiliki tema sama. Karena hendak dikumpulkan atau biasanya kami menyebut proses itu dengan kompilasi. Maka, tentu saja naskah yang dibuat harus memenuhi beberapa syarat. Salah satunya adalah kesamaan tema.

Pada saat itu, yang kami kumpulkan adalah naskah kisah inspiratif. Baik berupa kisah pribadi maupun kisah orang lain yang kita ambil pelajarannya. Maka, setelah semua naskah itu terkumpul dan disusun secara teratur serta melalui proses edit oleh editor. Selanjutnya akan masuk meja kerja layoter. Sampai sini proses pembuatan buku tengah berlangsung dan hampir mencapai garis finish sebelum kemudian dicetak.

Jadi, mekanisme antologi kalau menurut saya pribadi adalah proses pengumpulan karya. Bisa berupa cerpen yang biasanya disebut dengan antologi cerpen atau kumpulan cerpen. Ada juga puisi, artikel dan macam-macam karya lainnya.


Iya, jadi kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antologi adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang. Nah, kalau berdasarkan definisi ini, tentu saja yang saya lakukan itu adalah menulis bersama dengan beberapa orang penulis lainnya. Lantas, apakah bisa jika saya seorang diri kemudian ingin membuat sebuah antologi karya? Jawabannya, tentu saja bisa. Mengapa tidak?

Sahabat silakan baca ulasan buku Super Writer yang sudah saya highlight di atas ya. Di situ sedikit saya beri gambaran tentang beberapa teknik yang dapat dilakukan seseorang untuk menulis buku. Salah satunya adalah kompilasi karya pilihan mereka untuk dijadikan satu buku yang tentu saja juga kaya manfaat. Lebih-lebih sahabat bisa membaca buku tersebut ya. Jadi, di masing-masing teknik, Kak Rifa'i sebagai penulis memberi penjelasan teknis sekaligus contoh praktek yang pernah Beliau lakukan.

Untuk teknik antologi ini, Beliau melakukannya seorang diri. Dengan cara mengumpulkan beberapa artikel yang pernah Beliau tulis dan dibagikan melalui blog pribadi. Kemudian setelah terkumpul, beberapa judul setema atau terkait akan dijadikan satu. Pada proses ini sebetulnya penulis sedang membangun konstruksi sebuah buku. Mau dijadikan berapa bab, membahas apa saja, masing-masing bab terdiri dari berapa judul, dan seterusnya. Hingga jadilah sebuah buku yang siap dicetak dan diterbitkan.

Sekian ulasan mengenai mekanisme antologi dari penenun kata. Semoga yang sederhana ini bisa memberi manfaat dan membantu sahabat yang membutuhkan.

Kdr, 31.1.2020
-arhana-