Pesan Literasi dalam Surah Al-'Alaq: Menyari Live IG bersama Ustaz Yuyun

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bagaimana kabarnya Sahabat PeKat? Alhamdulillah semoga selalu luar biasa dan istimewa, tak pernah lupa bersyukur. Malam ini aku mau berbagi tentang hasil belajar sore tadi. Lebih tepatnya aku menyarikan dari kalimat closing narasumber, Ustaz Yuyun. Ada yang menggelitik sekaligus membuatku mengangguk setuju, bahkan juga menjadikanku ber-oh ria, karena ternyata aku baru menyadarinya. Apakah itu? Mari lanjutkan obrolan sederhana kita malam ini tentang pesan literasi dalam surah Al-'Alaq.

Surah Al-'Alaq ayat 1


  • Makna Terkandung dalam Ayat

"Allah menitipkan pesan literasi kepada manusia melalui surah Al-'Alaq," kata Ustaz Yuyun. Sampai di sini aku manggut-manggut sepakat. Karena dulu, aku juga mencantumkan ayat ini dalam laporan tugas akhirku yang juga bersinggungan dengan literasi. Namun sepersekian detik kemudian, Beliau menambahkan tentang makna literasi yang terkandung dalam ayat tersebut. Lebih tepatnya merujuk pada kata iqro'.

Beliau menjelaskan bahwa arti iqro', bacalah, bukan hanya sekedar membaca buku, atau bahkan sesederhana makna literasi yang bisa jadi kita miliki saat ini, yakni membaca dan menulis. "Akan tetapi, iqro’ dapat bermakna menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri sesuatu. Oleh karena itu, sesungguhnya setiap apapun yang kita kerjakan sejatinya kita sedang berliterasi." Lanjut Ustaz Yuyun.

Masyaallah tsumma masyaallah

Sampai di sini, aku merasa amazing. Literasi bukan hanya sekedar anjuran pemerintah tetapi lebih dari itu. Allah bahkan menitipkan pesan tersirat bagi seluruh hamba-Nya berkenaan dengan literasi. Alih-alih hanya untuk Baginda Nabi Muhammad S.a.w sebagai penerima wahyu.

Nah, jika sudah demikian apakah kemudian kita hendak mempersempit makna menjadi hanya yang kita pahami saja? Semoga, tidak. Karena keluasan wawasan itulah, mungkin juga Allah menitip pesan supaya kita tak berputus asa dari rahmat dalam hal menuntut ilmu. Maka, sebetulnya santri itu sedang berproses memperkaya dirinya sendiri. Agar kelak pemahaman yang mereka miliki bukan hanya sebatas A dengan B saja. Melainkan lebih jauh lagi hingga ke Z.

Bersama dengan pesan tersebut, tak ada alasan pula bagi kita untuk duduk berpangku tangan mendapatkan hidayah. Sebab segala sesuatu itu diraih setelah upaya yang dikerjakan. Maka, perlu yang namanya daya untuk bisa mencapai tujuan hidup kita. Pada akhirnya semua bermuara kepada tujuan penciptaan makhluk di alam semesta ini.

Wallahu A'lam bishshowab

  • Bahasa Ibu Menjadi Sarana Menyentuh Hati

Suatu siang kami sedang dialog ringan, aku dengan rekan kerja. Kami membahas tentang bahasa asing yang ingin diajarkan kepada anak. Kemudian berkembang kepada alasan kenapa anak bisa sampai gagap dengan bahasanya sendiri, dan mengapa perlu dan penting penguatan bahasa ibu kepada anak-anak sebelum kemudian mereka dikenalkan kepada bahasa asing.

Pada saat itu, jawaban yang kita dapat sangat sederhana, minimal menurutku, yakni bahasa ibu merupakan induk. Maka, perlu dikuatkan kepada anak-anak. Dalam arti dia memahami betul apa bahasa ibunya, bahasa daerahnya, bahasa di mana ia tumbuh dibesarkan. Jika sebuah bahasa ini terbentuk dengan baik, insyaallah kelak ia akan mudah menguasai bahasa asing yang dipelajarinya.

Ya, sesimple itu memang. Namun, sore ini aku semacam mendapatkan angin segar berkaitan dengan mengapa dahulu aku memiliki keyakinan tersebut.

Berdasarkan dari pengalaman Ustaz Yuyun saat membawakan ceramah kepada penduduk tempat Beliau tinggal. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa yang bersangkutan lebih kena di hatinya saat Ustaz membawakan materi ceramahnya menggunakan bahasa ibu, bahasa mereka, bahasa daerah mereka.

Bahasa daerah memiliki kedekatan sendiri. Maka, kuatkan dulu bahasa ibu, sebelum mempelajari bahasa asing lainnya.

Sampai di sini aku akhirnya bersimpul makna, bahwa bahasa daerah memiliki kedekatan tersendiri bagi warganya. Sehingga sesuatu yang menjadi identitas telah melekat dalam dirinya, maka ia akan kokoh saat mendapati hal baru yang mungkin saja bisa merubahnya. Sekalipun demikian, identitas bahasa telah menjadi karakter yang tertanam kuat. Maka meski telah melanglang buana mempelajari beragam bahasa, ia tak kan pernah lupa untuk pulang. Tak melupakan bahasa daerahnya sendiri.

Masyaallah, inilah pentingnya mengosongkan gelas sebelum menuntut ilmu. Sekalipun mungkin materi kajian terasa familiar, tetapi percayalah akan tetap ada kejutan di dalamnya. Akan ada mutiara baru yang bisa saja tak semua orang menyadari keberadaannya. Maka, kemudian mempelajari dan memahami adab sebelum menuntut ilmu itu sangat penting.

Alhamdulillah, akhirnya Allah sampaikan juga aku pada penghujung tulisan ini. Semoga yang sederhana ini bisa memberikan manfaat. Mungkin sari yang kusampaikan tentang pesan literasi dalam surah Al-'Alaq belum lah lengkap. Boleh kiranya Sahabat PeKat mengoreksinya atau pun menambahkannya sebagai bahan luasan kajian ini. Sebelum benar-benar kita tutup, yuk kita mencari mutiara yang tersebar luas di rumah virtual bundaimut.com

Terima kasih,

Ar, 1442021

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter