Puisi untuk Jiwa

Puisi untuk Jiwa

Puisi untuk jiwa dimaksudkan sebagai catatan tugas membuat puisi yang inspirasinya didapat setelah membaca sebuah buku. Adapun buku yang kubaca kali ini berjudul Kepundan. Sebuah novel bertema sosial karya Syafiril Erman. Diterbitkan oleh Bentang sudah sejak tahun 2006. Buku ini masuk ke daftar koleksiku setelah diserahkan seseorang untuk berubah kepemilikan menjadi punyaku. Iya, Kepundan adalah hadiah yang kudapat. Entah tahun berapa tepatnya, juga entah dalam rangka apa aku bisa memegang buku ini kala itu.

Alasan kenapa kemudian aku baru bisa membacanya sekarang. Lalu kenapa hari ini buku tersebut terasa lebih ringan daripada sebelumnya. 🤷🏻‍♀️

Insyaallah akan kita jawab di tulisan yang akan datang ya. Karena sekarang fokus kita bukan untuk mengulasnya. Tetapi, membuat puisi daripadanya. Puisi untuk Jiwa, mari kita baca dari hati kepada jiwa.

Puisi untuk Jiwa

Kata-kata berserak mengumpulkan puing-puing nilai
Belajar memahami walau tertatih seorang diri
Jiwa kelana menyebutnya itu mantra
Untuk menjadikan kuat meski badai terus saja menghantam, karam

Tak ada tawar soal kebenaran
Juga bukan negasi untuk perlawanan
Sebab kebebasan adalah perkara ikatan
Dan tak ada ikatan yang sungguh pun kepasrahan yang tulus
Selain hanya pada Pemilik Kehidupan

Perumpamaan masih saja sanggup menggantikan
Saat semua keterjujuran itu dibungkam dalam senyap
Menyerah bukanlah jalan jika itu bukan kepada Tuhan
Untuk jiwa yang merdeka sebab rasa
Ia utuh, berserah dan pasrah hanya pada Sang Pemilik semesta

Bahwa kemerdekaan itu tidak ada yang mengikatnya
Jiwa bebas bukan berarti tak memegang prinsip dan nilai kehidupan
Namun kadang, hal demikian itu disebutlah pemberontakan
Tak mengapa

Sebab kemerdekaan dan bebas selalu punya pegangan
Sang Pemilik Kehidupan pun tak pernah kehabisan jalan
Untuk mempertemukanmu kepada kebaikan
Meski dimulanya adalah kepenatan dan rasa tak nyaman
Sebab surga tak pernah didapat dengan cara yang biasa saja

Arhana, 1732021

Puisi untuk jiwa, menyuarakan nilai kehidupan yang telah entah berada di mana. Dan yang semakin langka menjelang akhir dunia. Bahwa kebenaran dan kejujuran adalah mereka sendiri, untuk ditanyakan kepada hati kecilnya.

Secuil Kisah Aku dan Buku

Buku ini seperti sedang menegurku. Saat menghadapi situasi yang bisa dikatakan sebelas dua belas dengan ide cerita Kepundan. Berulang kali aku berpikir, kenapa buku ini terbuka ringan tanpa beban. Sedangkan dulu, melihat covernya saja aku enggan.

Mungkin, itulah cara Sang Pemilik Hati menghibur gulana yang tak mengerti sebabnya. Tapi yakin, bahwa Allah Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Aku belum betul-betul tuntas membaca buku ini. Karena meski aku menikmatinya, tetap saja butuh usaha untuk memahami maksud penulisnya, Syafiril Erman.

Sebetulnya sih, kosakatanya meski sastra, enggak rumit juga dipahami. Hanya saja gaya penceritaan yang menurutku di situ lah nilai sastranya lahir (ku yang awam, hanya merasakan), jadi bukan terletak pada diksi atau pilihan kata dan kalimatnya. Sehingga ketika membaca, apalagi kalau lagi banyak distraksi, sudah otomatis ambyar. Oleh karenanya, membaca jiwa itu butuh suasana anteng dan nyaman. Ya, seperti membaca Kepundan itu sendiri. Oiya, aku juga gunu baru tahu lho arti dari kepundan itu apa. 🤭

Ternyata kepundan itu bagian dari gunung berapi yang mengandung magma dan siap untuk dimuntahkan. Nah, lalu apa hubungannya dengan tokoh utama? Nantikan kisahnya di review buku selanjutnya.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter