Literasi Bukan Hanya Baca Tulis



Literasi bukan hanya baca dan tulis saja, lho. Belajar juga bukan cuma duduk manis di belakang meja saja. Lebih dari itu. Dan selalu ada hal yang lebih besar dari pengetahuan kita. Akan tetapi semua itu tak akan pernah bisa diperoleh jika belum menempati kursi "pikiran terbuka".

Bukan menuduh. Tetapi faktanya demikian, bukan? Tidak akan seorang berpikiran terbuka melihat sesuatu dengan terbatas. Ia mesti akan melihatnya secara luas, lebih detail, juga lebih heterogen dalam menilai suatu hal. Ia akan bisa melihat sesuatu dari banyak sisi. Beragam aspek atau sudut pandang bermunculan darinya untuk menimbang sesuatu. Apakah sebuah obyek itu berharga, tidak hanya dilihat dari kacamata hitamnya. Ia akan menggunakan mata faset untuk mengamati sebuah obyek. Kemudian memutuskan bahwa benda tersebut istimewa.

Hanya karena seseorang memiliki pikiran terbuka juga maka ia akan belajar banyak hal. Dan sekali lagi, belajar bukan hanya ketika seseorang berada di belakang meja saja, lantas duduk rapi sambil memegang buku teks untuk dipahami materinya. Bahkan ketika menemani seorang anak belajar pun sesungguhnya juga sedang belajar. Mempelajari bagaimana supaya sang anak nyaman hingga cinta belajar.

Baca situasi dan kondisi untuk dapat memahami langkah apa yang akan kita tempuh. Juga merupakan area literasi. Sebab, salah satu makna literasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berbunyi kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Maka, jika boleh aku menyampaikan pemikiran, bahwa literasi itu tak terbatas hanya soal membaca dan menulis secara deskriptif. Akan tetapi pun membaca dan menulis dalam konteks yang lebih luas. Termasuk mempelajari teknologi, kemudian disebut dengan literasi media. Dan seterusnya.

Tulislah semua yang telah kita pahami bersama sebagai warisan ilmu kepada anak cucu, kelak. Karena ilmu itu ibarat buruan, maka tulisan adalah tali kekangnya. Namun pertanyaannya, karena literasi ini maknanya sangat luas. Apakah kemudian "tulis" tersebut hanya akan berbatas pada proses pemahaman simbol, kemudian kemampuan membuat simbol tersebut menjadi sebuah frasa. Tentu saja tidak, ya?

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Hari ini aku tercengang, saat mendapati seorang bocah bertanya tentang mengapa ini berdekatan sementara yang itu terpisah. Sejak awal aku membersamai mereka mengenal huruf Hijaiyah hingga ada yang setingkat Alquran. Maka, baru kali ini menemukan pertanyaan ajaib itu.

Mengapa ر tidak 'dempetan' (bergandengan) sedangkan yang ini 'mepet' (sambil menunjuk huruf س)?

Apakah kemudian anak usia lima tahun bersama dengan rasa ingin tahunya tadi harus dipadamkan semangatnya? Hanya karena pendamping merasa tak sepatutnya dia bertanya karena dia seorang murid. Atau alasan lain, karena belum masanya disampaikan. Atau sebab lain, karena dia dianggap mengatur.

Apakah kemudian, rasa ingin tahu yang besar dan merupakan anugerah Allah sebagai fitrahnya manusia, menjadikan dia boleh dilabeli ini dan itu seperti pemikiran orang dewasa? Sementara pelabel tak menyadari bahwa ternyata rasa ingin tahunya telah dipadamkan dengan cara yang sama. So, bagaimana tidak lingkaran setan itu akan terus berlanjut, jika kita tak tebersit sedikit pun rasa senang belajar. Di hati kita tak ada celah untuk menjadi open minded. Sementara, apakah kita lupa bahwa masing-masing dari kita dibekali Allah SWT. kemampuan untuk memahami ilmu-Nya. Lalu, kenapa harus memaksakan seorang bocah harus paham sesuatu melalui perspektif kita.

Maka, kalau aku boleh katakan, di situlah letaknya bahwa kita sejatinya juga sedang belajar bersama ananda. Anak belajar memahami hal yang baru ia temukan. Sesuatu yang kadang di mata kita hanya begitu saja, tetapi bagi anak adalah hal yang luar biasa. Perlu digali, perlu ditanyakan, dan perlu untuk dipahami. Lantas, apa iya kita akan jadi 'pembunuh' atas rasa ingin tahu dan semua atribut yang mengungkapkan bahwa ia kritis? Tentu tidak, bukan?

Mengapa kemudian kita tidak berusaha membuka diri bahwa mungkin dengan pertanyaan dari anak tersebut, sebetulnya Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada kita? Misalnya mungkin cara kita memberikan penjelasan belum atau kurang tepat. Atau apa yang kita lakukan belum memberikan keterangan sama sekali kepada anak. Sehingga ia harus menanyakan hal yang oleh kita dianggap mudah.

Maka, jangan sampai pengalaman belajar tersebut justru memadamkan fitrah cinta belajarnya. Jangan juga menjadikan diri kita sebagai perantara gugurnya tunas sebelum sempat bertumbuh. Karena fitrahnya manusia itu senang belajar, hanya bagaimana kemudian kita memelihara semangat dan rasa cinta itu. Jangan sampai harapan mereka pupus hanya karena satu kalimat dari lisan kita. Misalnya saat anak bertanya ini dan itu lantas kita menjawabnya dengan mengucapkan, "Ah, sudahlah, dibaca saja. Nggak usah banyak tanya." Atau dengan kalimat lain, "Ya pokoknya seperti itu." Atau, "Ya memang seperti itu."

Kalau seperti ini, yang ada anak lari dari kita tanpa disadari. Padahal sebenarnya, ketika kita meluangkan waktu sejenak saja untuk mencari jawabannya, yang terjadi adalah kita sama-sama belajar. Sama-sama akan menemukan hal baru dengan versi yang berbeda. Tanpa disadari pun kita akan semakin kaya, karena Yang Mahakaya sedang menebar ilmu di dalam majelis yang hanya mengharap rida-Nya semata.
Wallahua'lam bishshowab

Literasi itu luas, bukan hanya baca tulis saja. Belajar pun tak melulu hanya duduk manis di balik buku tugas dan meja belajar semata. Tapi kita bisa menyiasati tugas anak TK dengan justru mengajaknya bermain bersama. Sehingga, kegiatan 'belajar' di usia PAUD tak memiliki nilai membosankan apalagi mengerikan. Sebab anak melakukannya dengan enjoy dan nyaman, sembari kita tanamkan value kehidupan yang sesuai dengan keyakinan kita. [Ar]

Kediri, 24 Maret 2021

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter