Napak Tilas : Rumah Pantai 1000 Cermin


Semakin bertambah bilangan usia, semakin bertambah pula kematangannya. Pembaruan yang dilakukan di segala aspek, membuahkan perbaikan-perbaikan yang semestinya menjadikan seluruh anggota keluarganya semakin nyaman dan sayang. Salah satu gebrakan itu melahirkan beragam bentuk playground, termasuk si Rumah Pantai 1000 Cermin.

Oiya, aku sedang membicarakan ruang belajar bagi perempuan, yang saat ini masih aktif kutekuni. Betul sekali, Ibu Profesional. Meski pada kenyataannya aku harus berulang kali melipur diri dengan mengingat niat dan tujuanku berada di sini. Iya, sempat beberapa kali kapalku oleng karena gelombang yang tak terkira akan datang. Aku memang kurang antisipasi, karena berpikir bahwa semua bisa berjalan semestinya di rel yang telah disepakati. Tapi ternyata padatnya kesibukan membuatku merenung berulangkali. Apakah harus pergi atau sebisa mungkin bertahan. Apakah sudah cukup atau masih banyak hal yang kuperlukan di sini. Dan satu lagi, sekiranya area mana lagi yang akan kutekuni bila cukup sampai di sini.

Banyak hal yang kemudian membuatku menarik ulur diri sendiri. Sebab, keputusan untuk hadir menjadi bagian dari mereka adalah keputusanku sendiri. Bukan atas permintaan orang lain apalagi dipaksa. Lantas, jika aku mencukupkannya, berarti aku juga harus tahu, apakah KM-ku sudah mencapai tujuannya? Secara riil memang aku tidak membuat peta perjalanan belajar. Tetapi, secara rasa (yang akhirnya juga tak terukur) aku menimbangnya, sudah sejauh mana.

Perkembangan yang terjadi cukup pesat, apakah aku turut menjadi bagian dari perkembangan itu? Atau masih tertinggal dari kapal lain. Oh, ya. Jangan lupakan bahwa kami di sini memiliki peta masing-masing yang tentu saja tak dapat menjadi pembanding satu sama lain. Yang bisa terjadi adalah menjadikan peta lain sebagai referensi. Misalnya dari sisi proses pencapaian. Apa saja yang sudah perempuan lain lakukan sehingga ia mencapai titiknya saat ini. Titik yang mungkin membuat kita takjub. Titik di mana ia betul-betul menjadi kebanggaan keluarga. Dan titik di mana ia bertumbuh sebagaimana fitrahnya.

Tentu saja benar, bahwa menjadi member sebuah komunitas itu tak lantas menjadikan kita pengikut yang hanya boleh "manut grubyuk". Tidak. Kalau teman lain jalan ke utara, kita juga ikut jalan ke utara. Kalau teman lain balik arah, kita juga ikut balik arah. Tanpa tahu maksud dan tujuannya apa. Jelas, tidak demikian. Oleh karena itu, di salah satu materi yang kupelajari sebelum resmi menjadi member dulu adalah kami belajar bagaimana menyusun kurikulum belajar. Bagaimana juga caranya menentukan skala prioritas ilmu apa yang hendak kita pelajari. Termasuk, bagian dari komunitas yang mana kah yang akan kita diami sebagai wahana improvement. Sebab, di sini kita tidak hanya mendapat dari pemberian semata. Melainkan, kita juga bisa mendapat dengan cara memberi. Itu yang kemudian kukenal dengan istilah learning by sharing.

Nah, itulah, banyak sekali hal yang kemudian menjadi the first thing gitu, ketika aku bergabung bersama Ibu Profesional. Bagaimana denganmu? (Member IP di seluruh Indonesia). Salah satu hal pertama yang kulakukan sampai hari ini dan melalui IP adalah nampilin muka saat live streaming. Seorang aku yang panikan kalau menghadapi kamera on, apalagi harus bicara di depannya, ini adalah tantangan yang luar biasa. Bukan cuma kamera sih. Aku memang masih sering demam panggung kalau harus tampil di muka umum atau mungkin di depan member regionalku sendiri. Alasannya simple, belum terbiasa.

Ya, aku yakin ini hanya perkara waktu dan pembiasaan. Bukan hanya biasa tampil di muka umumnya, tetapi juga penguasaan panggung dengan public speaking yang ok. Nah, ini PR banget buatku yang belum bersahabat dengan si panggung dan semua tentangnya. Oleh karena itu, pengen banget rasanya kalau misal ada pelatihan tentang public speaking ini.

Rumah Pantai 1000 Cermin

Kemarin aku sudah cerita sedikit tentang behind the scene of live streaming (BTS of Live Streaming). Itu kurang ya, harusnya BTS of The First Time Live Streaming. Hahaha sok sok an bahasa Inggris ya. Kalau salah, koment aja, nanti kuperbaiki. Itu kebawa BTS-nya saja sih.

Iya, jadi Rumah Pantai 1000 Cermin ini adalah salah satu playground di Institut Ibu Profesional, yang berhasil membuatku melakukan siaran langsung pertama. Karena memang syarat mendapatkan tiket masuknya itu ya dari siaran langsung yang kami buat. Kemarin juga aku sudah sedikit bocorin gimana sih ceritanya sampe aku berani take my time untuk tampil di depan kamera. Nah, sekarang aku mau tuh cerita sedikit tentang apa sih yang terjadi di Rumah Pantai 1000 Cermin itu. Dan seperti apa visualisasinya menurtuku. Ya iyalah ya, menurut siapa lagi kalau bukan aku, yang nulis ini kan aku. Bisaan aja kepalaku ini. Ya nanti deh, bisa versi kalian yang juga ikut Rumah Pantai 1000 Cermin ini di kolom komentar. Ok?

Visualisasi Versi Arhana

Tadinya aku ga kepikiran sih, kenapa sampai dinamain Rumah Pantai 1000 Cermin. Tapi belakangan aku jadi meraba-raba makna dari penamaan itu. Bukankah sebuah nama adalah doa. Sebuah nama juga merupakan gambaran singkat tapi menyeluruh dari sebuah tempat, event seperti ini, dan lain-lain. Nah, kenapa kemudian pelatihan basic live streaming ini mengusung tema pantai. Kemudian ada lanjutannya 1000 cermin. Kenapa 1000 Cermin, gitu kan ya?

Mungkin pikiranku ini adalah sebuah tanya ketika pelatihan sudah dimulai. Dan berikut adalah visualisasi Rumah Pantai 1000 Cermin versi aku.

Ini adalah sebuah rumah di tepi pantai. Kalau biasanya rumah tepi pantai digambarkan dengan dinding kayu, berteras lantai dari kayu juga. Kemudian ada semacam pagar rendah juga dari kayu. Lalu ada atap yang menyerupai rumbai. Eh, tapi bukan. Ini bisa terbuat dari daun. Heum, tapi rumah pantai 1000 cermin ini berbeda di benakku. Meski aksennya masih didominasi dengan kayu.

Rumah pantai ini luas. Hingga muat sampai 500 penghuni. Hanya saja kali ini, ia kedatangan kurang lebih 300 tamu. Dari depan nampak pagar kayu yang ditata apik berbaris bak parade militer, tegas, kokoh, tapi ramah dan sedap dipandang. Gerbang rumah ini, oiya halaman rumah berpagar itu dilengkapi juga dengan gerbang. Karena memang di dalamnya bukan cuma ada satu arena utama yaitu rumah, tapi ada beragam hidangan yang memanjakan setiap mata. Ketika melangkah melewati gerbang kayu itu, kita akan disambut dengan taman hijau di sebelah kanan yang dilengkapi gazebo. Sebelah kiri ada jajaran rumpun bebungaan.

Semakin ke dalam, rumah ini terasa seperti playground raya yang menyajikan beragam spot. Tetapi uniknya, ketika langkah kita sudah sampai teras. Hal pertama yang menyambut adalah cermin. Ada cermin sapa di sana. Ya, ya, tentu saja aku akan berhenti agak lama di area ini. Sebelum kemudian memutuskan untuk melanjutkan langkah. Aku melihat lagi sekeliling, dari depan terdengar sayup-sayup deburan ombak tepi pantai, dan semilir nyiur yang meniupkan salam selamat datang.

Setelah puas menikmati sajian sedap di depan rumah. Aku pun masuk ke ruang tamu. Benar saja, di sana barulah kutemukan banyak sekali cermin dengan rupa-rupa. Ah, setelah itu. Aku kehilangan imajinasi. Yang kemudian diganti dengan renungan, mengapa namanya 1000 cermin. Ko bukan 1000 bunga.

Nah, dari sebutan itu yang muncul ketika sajian utama dihidangkan oleh tuan rumah. Sebenarnya salah sebut, tapi justru melecut imajinasiku untuk berkelana. Benar juga ya, kalau kita mau ngomong di depan orang banyak, latihannya itu kan mesti di depan cermin. Ya walaupun mungkin ga semua orang juga.

Makna 1000 Cermin untukku

Iya, jadi kalau kita lagi mau bicara di hadapan audiens yang jumlahnya lebih dari satu, pasti latihannya di depan cermin, kan? Ya, kalau cuma satu namanya ngobrol, dong. Nah, berawal dari situ mungkin akhirnya Rumah Pantai tempat pelatihan dilaksanakan, disebut Rumah Pantai 1000 Cermin. Ini sih perkiraanku saja.

Kemudian, kenapa aku kekeuh berpikir seperti itu. Bayangkan ya, sebelum masuk ke sajian utama di rumah ini, aku bersama peserta lain tuh diminta untuk keliling ruangan. Kemudian kami diminta memilih salah satu cermin. Lalu say something dengan si cermin. Ya, ngomong soal live streaming yang udah dibuat sebelum masuk rumah ini tentu saja.

Di situ aku merasa kejebak. Apa yang harus kukatakan pada cermin di depanku? Seolah-olah enggak ada sesuatu yang ingin kukatakan. Sebab aku sendiri masih enggak ngerti apa-apa soal siaran langsung itu. Eh, tapi selang beberapa menit, aku kembali berdiri di depannya. Aku melihat diriku dengan seksama. Membaca kembali instruksi, lalu mengingat semua yang terjadi selama live streaming berlangsung bahkan sejak persiapan. Lalu aku cerita tuh, apa sih yang kutahu tentang menyiapkan konten menarik untuk live streaming.

Ternyata, belum dapat materi utamanya nih, masih pemanasan aja itu, aku udah nemu beberapa poin. Meski juga enggak tau benar atau tidak. Terlepas dari itu semua, aku kembali fokus pada tour di rumah ini. Pelatihan dua hari yang menyenangkan sampai enggak terasa kalau aku nih lagi berjalan melewati batasku.

Setelah bertemu dengan cermin pertama yang disebut dengan cermin oval. Kami dipertemukan juga dengan cermin kedua yang disebut dengan cermin hias. Kalau di hadapan cermin pertama aku harus mengulik lagi terkait persiapan nih. Persiapan secara teknis ya, seperti konten, setting tempat, kemudian skenario juga. Sedangkan di cermin hias, kami lebih difokuskan untuk mengulik tentang teknik public speaking itu sendiri. Secara keilmuan, jelas aku enggak tau ya. Tapi secara pengalaman, sama, aku juga enggak tahu. Lha terus? Ya terus aku cerita saja apa yang kulakukan, alami, dan rasakan. Jadilah, cerita itu menjadi paket jawaban tantangan.

So, kenapa namanya Rumah Pantai 1000 Cermin? Karena setiap orang yang bicara di depan orang lain itu layaknya bercermin. Bagaimana kemudian latihan kita saat bicara di depan cermin itulah yang akhirnya akan menjadi pembawaan saat harus bicara di depan orang banyak. Maka, karena butuh banyak cermin untuk pelatihan ini, konsep rumah pantai ditambah julukan 1000 cermin semakin melekat di benak para peserta.

Akhir dari Pelatihan

Kita semua tahu, bahwa setiap pertemuan tentu ada perpisahan. Ada awalan juga ada akhiran. Ada pembukaan pun ada penutupan. Begitu seterusnya, karena Allah memang menciptakan segala di alam semesta ini dengan berpasang-pasangan.

Namun kali ini, akhiran dari cerita ini adalah lompatan. Bukan akhir yang bubar jalan. Pelatihan basic live streaming itu semacam tumpuan untuk bisa melompat lebih tinggi dan jauh. Seperti yang kemarin sudah sempat kusinggung. Kalau pelatihan ini membawaku dan rekan seperjuangan di IP melanjutkan langkah lebih banyak lagi. Meski mungkin ada beda dalam visi. Tetapi kami memiliki misi yang sama.

Berbekal cita-cita yang selaras itulah, kami mencoba dan belajar untuk kolaborasi. Hingga melahirkan satu momentum yang kami sebut dengan Time to Action, Sharing and Advanture. Sedangkan tajuknya kita sebut dengan BERUSAHA "ngoBrol sERU berSAma saHAbat".

BERUSAHA ini adalah sebuah siaran langsung yang insyaallah akan kami laksanakan setiap Sabtu sore dengan tema-tema berbeda. Misalnya ketika sesi petualangan atau adventure, kami akan membahas tentang petualangan seru seorang galibu dalam mencari ilmu. Bagaimana seorang gadis calon ibu (baca : galibu) dengan semangat menelusuri jejak waktu untuk menambah khazanah keilmuannya. Baik itu ilmu yang harus dipelajari saat ini, maupun ilmu yang dipelajari sebagai bekal.

Nah, kalau masuk sesi sharing. Fokusnya kami akan membahas tentang literasi. Namanya juga ngobrol seru ya. Tentu saja tema yang diusung adalah apa yang memang menarik untuk kami berdua. Atau kalau pun salah satu belum tahu, justru dengan ngobrol seru ini, satu sama lain bisa saling tahu.

Sementara ini adalah latihan kami untuk menambah jam terbang dalam ber-public speaking. Seperti pesan Pak Dodik ketika penutupan pelatihan di Rumah Pantai 1000 Cermin. Bahwa jangan pernah berhenti berlatih. Maka, dari situlah kami bertekad untuk dapat melanjutkan langkah, hingga misi itu tercapai.

Lalu, mengapa harus berdua? Karena memang kami menyadari bahwa satu sama lain diantara kami akan mudah sekali melempar alasan untuk menunda aksi, atas nama kesibukan. Oleh karena itu, semoga dengan cara seperti ini, rencana-rencana kami terealisasi satu per satu.

Baiklah, agenda napak tilas hari ini kita cukupkan. Semoga di dalam kesederhanaan ini mengandung hikmah seluasnya. Sehingga kemanfaatan pun tersebar sebagaimana mestinya.

Ar, 692020
Terbaru Lebih lama

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter