BTS of Live Streaming


Ketika percakapan itu mengudara bagai doa. Semilir angin bak suara penyambut asa. Obrolan sederhana yang diselingi canda itu berubah jadi harapan tanpa ucapan. Kami bicara seolah hendak merencanakan upacara. Runut, tertib, khidmat dan penuh keyakinan. Meski sebetulnya, kami sedang berangan-angan, bahwa jika itu terlaksana.

Tetapi mata keraguan mendadak tertutup kabut pekat. Tak lagi bisa menyorot tajam ke dalam sanubari yang sedang merancang. Perlahan keinginan-keinginan itu menyemai ajakan. Hingga tercapai mufakat, meski persiapan hanya berupa keyakinan.

Kami yakin dimampukan menghadapi kamera. Yang kami tahu saat itu, bahwa hambatan hanya ada pada kepercayaan diri. Sementara jika materi telah siap dan bahkan di luar kepala, logikanya dapat disampaikan dengan apik di mana saja. Seringan ketika kami membincangnya di ruang makan sambil nyoklat hangat.

Tapi nyatanya, ketakutan kami sirna kala mengetahui bahwa ngobrol bareng sahabat itu seru. Beda ketika harus bermonolog atau dialog satu arah. Rasanya itu berbeda. Jelas ya? Iya, jelas. Karena ketika ada teman bicara, kita itu bisa yang lebih mengalir. Enggak kaku. Dan kalau misalnya ada blank gitu, lawan bicara kita yang nyambungin. Meskipun sebenarnya aku lebih banyak blank-nya dari pada nyambung.

Kalian tahu kenapa? Karena aku terlalu fokus pada, sudah ok-kah aku di depan kamera?

Heum, enggak worth it banget ya sama kebengonganku. Sebetulnya enggak cuma itu, sih. Kami setipe dalam hal menghadapi kamera. Sama-sama enggak percaya diri menjadi sorotan. Sama-sama sedang belajar menaklukkan rasa malu saat kamera on. Dan betul-betul sedang sama-sama BERUSAHA merealisasikan project berdua.

Ya, kalian benar. Ini adalah cerita di balik layar, Time to Action, Sharing and Advanture. BERUSAHA "ngoBrol sERU berSAma saHAbat" di ruang makan, untuk menciptakan bonding. Cara yang paling sederhana dan bisa juga kalian praktekan dengan keluarga atau pun tim. Tentu saja dengan berbekal pakem atau mantra Ibu Profesional.

Ngobrol bareng, Main bareng, Aktivitas bareng

It's so amazing. Ini beneran terjadi ya. Karena dengan melakukan sesuatu bersama, kemudian rutin ngobrol dan main bersama. Itu membuat kita jadi mudah memahami apa sih yang dipikirkan keluarga kita, apa yang diinginkannya, juga apa yang menjadi harapannya. Bukan karena cenayang atau hal sejenisnya, lantas kalian berpikir bahwa satu sama lain jadi tahu banget. Sebenarnya enggak gitu juga sih. Tapi, kalian bisa bayangkan nggak? Ketika atasan dalam kondisi nggak stabil, tapi kalian bisa tepat banget ngerjain sesuatu yang dimintanya. Padahal ngomong aja belepotan, sampai-sampai seisi kantor nggak ngerti maunya bos ini apa.

Nah, atau kalau nggak, buat yang udah menikah. Pernah berpikir kenapa istri atau suamimu peka banget tentang kebutuhanmu. Atau mereka tahu maksudmu tanpa harus dijelaskan lebih. Yeah, meskipun enggak semua seperti itu. Tapi, semua itu bisa lho dibentuk. Bisa dibangun. Caranya gimana? Ya itu tadi, pake mantra 3B.

Balik lagi ke cerita tadi ...

Kami itu adalah aku dan adikku. Seseorang yang disebut-sebut kembar denganku. Padahal kami bertemu ketika sama-sama hadir di acara besar pertama Ibu Profesional (selanjutnya kusebut IP). Leader Camp. Bukan hanya agenda besar pertamanya IP, tapi juga event nasional pertamaku, di luar kota pula. Ok, aku tidak akan bercerita tentang bagaimana awal mula kami bertemu hingga berada di titik ini, tidak. Tapi, aku akan berbagi pengalaman seru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Siang itu aku menemukan kabar bahagia, akan diadakan pelatihan tentang basic live streaming. Di mana undangan tersebut diperuntukkan bagi all leader dan manajer. Seperti biasa, aku ng-blast gitu aja ke komponen sekretaris regional. Eum, aku sih baca infonya. Cuma belum minat untuk tampil. Ya seorang aku gitu, rasanya berat banget kalau harus menghadapi kamer on. Jangankan video, foto saja rasanya udah awkward. Apalagi ini live. Oh, tidaaaaakkkk.

Ya sudah deh, toh aku juga lagi sibuk ngurusin pernah-pernik kantor yang memang harus disiapkan menjelang akhir bulan. Ya? Serius kalian nanya apa? Beneran enggak tahu atau ngetest nih? Hm, ya gitu. Laporan-laporan akhir bulan. Yang akhirnya waktuku banyak kesita ke sana. Nah, berhubung aku sudah enggak fokus ke event itu ya. Dan kupikir juga biar diwakili sajalah sama manajer kesayanganku. Iya gitu, istilah Jawanya tuh "njagagne". Karena di jajaran manajer ada yang sudah menjiwai sekali ilmu per-live streaming-an begini. Jadilah aku pasrah gitu maunya. Enggak usah ikut.

Sudah, kan ya? Setelah ng-blast, kami sih ngobrol masih. Bercanda seperti biasa. Eum, tadinya aku berpikir bahwa aku telat ngshare info itu, gitu. Aku scroll berulang kali di pendopo, tapi enggak nemu apa-apa yang berhubungan dengan info tersebut. Akhirnya, yasudahlah, pasrah kalau misal ada protes terlalu mepet atau apalah. Kuperhatikan lagi masa pendaftaran, terakhir itu esok harinya.

Sudah gitu, karena berasa sudah selesai tanggung jawab sampai nerusin info saja. Aku niatnya mau sesorean saja di luar. Jadi, pulang sekolah enggak langsung pulang gitu sih. Dan pagi itu ternyata masih berlanjut diskusi di grup. Bukan diskusi juga sih, tapi lebih ke negosiasi pada diri sendiri. Manajer operasionalku udah menyatakan mundur sejak semalam. Tinggal tiga orang yang belum respon. Ternyata sampai pagi pun belum ada kabar yang duanya.

Dan obrolan kami bertiga hanya seputar, ketidaksiapan kami sebab tak punya konten untuk dibagikan. Berasa ketampar nggak sih kalau udah bilang gitu, tahu-tahu ada yang ingetin, kalau berbagi itu ga butuh harus mapan dulu, ga harus udah yang top dulu. Apa yang kamu punya dan bisa, ya udah bagiin. Siapa tahu dari kesederhanaan itu justru bisa membagi manfaat yang luas. Nah, selesai ngobrol ngalor ngidul sampai usul konten yang kupertimbangkan, meski untuk maju masih meragu.

2 jam berlalu. Aku tetap belum mengambil keputusan akan menjemput tiket masuk atau tidak. Karena hatiku sendiri masih bimbang, tentang apa yang akan kusampaikan nanti.

"Kakak." Panggilnya dalam ruang chat.
"Sent info."
"Mau ikut ini nggak?" tanyanya tanpa menunggu responku.
"Maunya, tapi masih mikir." Jawabku yakin.
"Yuk kita kerja sama 😅"

Alarmku berbunyi nyaring sekali, mendengar tanda "bahaya" yang tak disangka-sangka. Tepat dua jam tiga puluh menit, kami terjebak dalam rencana kilat tanpa basa-basi. Tak ada lagi alasan dengan dalih "aku malu". Sampai cerita ini diturunkan, aku masih berpikir apa yang terjadi padaku saat itu.

Aku hanya ingat akan kesempatan. Jika dulu aku mengidamkan program ini bisa dieksekusi regional. Mungkin ini jawaban dari sebuah harapan tanpa suara. Mengapa harus mengandalkan orang lain, kalau diri sendiri bisa? Kalau pun toh belum bisa, mengapa tak memberi ruang kesempatan untuknya belajar lebih? Sudah tak ada waktu untuk negosiasi. Dan sudah kuputuskan sekali untuk kompromi sekuat hati. Baik itu pada waktu, situasi, materi, dan hati.

Sore itu, instagram live streaming pertamaku lahir. Eum, ada yang penasaran ya program seperti apa sih yang membuatku jungkir balik sampai beneran terbalik begini. Next post insyaallah akan kureviewkan sedikit tentang program bagus itu, ya.

Meskipun tak mudah, tapi jika ada kemauan insyaallah semua akan dimudahkan. Sebab Allah lah Yang Maha segala. Kuncinya mau dan yakin.

Selepas dari program itu, aku kembali merenung. Apa dampak aku ikut pelatihan ini? Mengapa aku dipertemukan pelatihannya sekarang? Kemudian juga mengapa saat itu aku bisa seyakin itu akan turut serta mengejar tiket masuk ke program yang dilaksanakan di playground baru. Rumah Pantai 1000 Cermin.

Happy Reading, Playing, and Chatting Together!


Ar, 592020

Related Posts

2 komentar

  1. Aaaaaaaa Kakak.... ingatanku melayang kembali ke masa itu 🤭

    Spontanitas yang ajaib, deg2an di awal khawatir tentang banyak hal nyatanya tak terbukti. Seru dan nagih 😍😍

    Ditunggu cerita selanjutnya 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, insyaallah Rumah Pantai 1000 Cermin di next post.

      Terima kasih sudah mampir, Adik.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter