Kutemani Kau dalam Diam

Hujan belum sempat mengabarkan keberadaanku.


Mungkin kau merasa, bahkan bertanya dalam benak. Apakah aku sungguhan menyayangimu? Oh, tunggu mungkin terlalu tinggi untuk berkata sayang. Bahkan mungkin, kau berpikir apakah aku seserius itu menerimamu. Menjadi bagian dari keluargaku. Ya, keluarga yang selama ini membersamaiku tentu saja.

Mungkin, kau berpikir bahwa aku tak pernah sungguh bisa memahamimu. Menerima kau apa adanya. Bahkan mengizinkanmu memasuki arena bermainku. Mungkin, iya, mungkin saja. Karena aku bukan Tuhan yang tentu bisa mengetahui, yang tersembunyi, sekalipun di hati.

Tau kah kamu? Aku mungkin terlihat berbeda. Galak dan pastinya tak mudah didekati. Menakutkan, seperti ketika kau harus menaklukkan ulat bulu yang sedang asik berjalan. Padahal ia tak sedang mendekatimu. Hahaha, bagaimana bisa kau samakan aku dengan ulat bulu.

Jadilah dirimu sendiri, untuk mendapati hati yang bahagia

Entah, bagaimana sekarang aku akan mendeskripsikannya. Juga seperti apa aku akan memulai cerita. Yang harus kau tahu pasti, bahwa kau harus membuktikan semua pradugamu itu sendiri. Ya, sendiri. Jangan izinkan orang lain termasuk saudaraku, menginterupsi pikiranmu. Biarkan nuranimu menuntun untuk mengenalku lebih dekat lagi. Dan aku, tak akan mengintervensi apapun. Tak ingin aku membuat pernyataan-pernyataan. Tak akan aku menjadikan apapun untuk memoles kebaikan. Tidak!

Hari, ini. Biarkan aku sedikit saja bercerita. Tentang waktu yang kau lalui beberapa pekan lalu. Tentang masa yang kau tempuhi seakan tanpaku. Tentang semua cara yang telah kita lewati bersama meski tak bersama. Ya, aku, kau, dan mereka.

Hari itu aku terdiam di ujung lorong sunyi bernama kesendirian. Meski kulihat kau dan mereka sedang berlalu lalang di hadapanku. Bukan, bukan. Kau hanya berupa bayang-bayang, karena wujudmu tak nampak sedang baik-baik saja di hadapku. Hanya sempat kulihat sekilas, kemudian pergi berlalu.

Aku tetap bergeming, saat semua bayangan itu merangkak perlahan dan pasti, mendekatiku. Hingga wujudnya menyentuh lengan dan kaki, sembari berucap supaya aku baik-baik saja. Sejenak, mungkin sepersekian detik, aku sadar, sesungguhnya bukan aku yang tengah dikhawatirkan. Terlebih, 'mungkin' terbesit harap aku akan membersamaimu dan mereka. Tapi lagi-lagi bibirku kelu, suara-suara itu mendadak selancip duri yang menyakiti, bila kupaksa menggerakkan pita suara. Dan pada akhirnya, semua kata itu tertahan dan kembali tertelan ke dalam lambung ingatanku.

Kutahu sungguh, harapan itu melebur bersama bening kaca yang coba disamarkan. Hanya saja, hatiku tak serapuh itu untuk menjadi iba sedemikian rupa. Lagi-lagi berpayung tadah kehampaan, kukuatkan tuk berucap, "Harus kuat, harus yakin, bisa melewati semua, harus tenang."

Dan bayangan itu berarak perlahan meninggalkan singgasana sunyi yang kutingkahi sendiri. Aku kembali terpekur. Mungkin dia benar, bahwaku terlalu banyak menggelar alas. Bukan untuk dapat kusinggahi ketika penat menghampiri. Justru, aku berusaha menyembunyikan sesuatu dari sendu yang kulebur dalam bisu.

Lalu, menit itu pun datang. Saat fajar telah sampai mengantarkan sang mentari pagi. Tak ada suara lain yang kudengar selain bisikan syahdu dari dalam diri. Entah mengapa, kuhanya ingin katakan itu berulang kali. "Hatinya yang tenang, yakin. Allah akan menolong. Bagaimana pun keadaannya, kudu tetap tenang."

Mungkin, sekarang kalian masih belum percaya ini. Tapi, ketahuilah, aku paham yang kalian rasakan. ☺️

Tak perlu mengejar tanya, bagaimana bisa kupahami itu. Bagaimana bisa kurasakan itu. Tak. Jika bukan sekarang kalian paham, mungkin nanti. Kutahu dan kusangat tahu, bagaimana rasanya. Dan di saat seperti itu, yakinlah hanya pada Yang Esa. Yakin pada Tuhanmu. Hanya Dia-lah, Allah, yang akan menolong dan menjaga. Sebab hanya Ia sebaik-baik penolong dan penjaga.

-**-

Allahu yubarik fiik adikku. Barokalloh untuk keluarga yang kau bangun. Semoga Allah meridhoi serta jadikan keluargamu sakinah mawaddah warohmah. Dan selamat menjadi Ayah dan Bunda. Semoga bisa amanah dan menjadi madrasatul ula yang Allah mudahkan untuk menjadi panutan yang baik.

Tulisan ini kudedikasikan untuk adikku yang tengah merasakan pengalaman pertamanya saat istri melahirkan. Dan semoga Allah mudahkan bagi kalian untuk lebih banyak lagi belajar tentang pendidikan pertama bagi anak. Oiya, meski sudah lewat, boleh dong sharing apakah mitos tentang ibu hamil itu ada atau enggak. 😁

Ok, happy day with my little Khumaira, Alfa. Semoga menjadi anak yang sholihah dan qurrota a'yun untuk kedua orang tuanya. Aamiin

Meski Ammah tak menemanimu menyapa dunia, tapi kau harus tahu, Ammah selalu menemanimu dalam setiap doa. Dan kutemani kau dalam diam yang tenang.

-Ar, 31082020

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter