(Bukan) Memindahkan Sekolah ke Rumah

Belajar dari rumah, mempelajari hal baru yang tak ada di bangku sekolah.

Sudah hampir satu semester para pembelajar aktif ini tak lagi berkunjung ke lingkungan yang disebut sekolah. Sudah hampir satu semester juga, mereka tak bertemu sapa oleh seseorang yang mereka sebut guru. Ya sih, masih ada tegur sapa itu untuk mereka, meski berupa sapaan virtual.

Memang benar, tak ada yang bisa menjamin bahwa cara ini akan lebih menjaga kita. Tetapi, ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk menekan kenaikan angka kasus covid-19. Ya, kami seolah diliburkan sebab pandemi belum juga menunjukkan tanda akan berakhir. Meski tentu saja, dalam hati berharap esok telah lenyap dari bumi, virus yang saat ini tengah kita perangi bersama.

Sistem belajar baru yang disebut-sebut sebagai kebijakan pendidikan, memang belum menemukan titik terang, bagaimana langkah efektifnya. Hingga beberapa instansi, baik itu resmi dari pemerintah pun oleh pihak swasta, gencar melakukan pelatihan dalam jaringan. Mereka berlomba-lomba membagi ilmu dan harapan bisa menemukan metode yang paling cocok selama masa pandemi.

Meskipun demikian, bukan berarti kebijakan ini bermakna bahwa kita sedang memindahkan sekolah ke rumah. Tidak! Jelas saja tidak pernah, dan tidak akan. Maka, di antara gegap gempitanya situasi saat ini, yang coba pendidik upayakan adalah bagaimana agar pendidikan bisa merata. Tentu saja hal tersebut dilatarbelakangi banyak faktor. Salah satunya adalah keunikan atau ciri khas yang dimiliki anak-anak.

Masa seperti ini, mestinya dapat dimanfaatkan oleh semua pihak untuk memperbaiki apapun. Salah satu diantaranya adalah memperbaiki pola komunikasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya satu kesatuan dalam keluarga ini bisa saling berbagi. Menghabiskan banyak waktu untuk memahami lebih jauh. Seperti mantra yang sering kudengungkan sejak mengenalnya, "banyakin ngobrol bareng, main bareng." Karena ternyata dengan cara demikian, kita akan lebih mudah memahami karakter anak, keinginan anak, bahkan apa yang membuatnya ceria dalam menajalani kehidupan. Sehingga tak lagi ada dusta diantara kita. 🤭🤭🤭

Bukan-bukan, dengan cara itu, mestinya tak perlu ada drama ketika harus melaksanakan program belajar dari rumah. Sebab kebersamaan merekalah yang sesungguhnya menjadi tolok ukur, apakah pembelajaran daring yang selama ini kita laksanakan bisa mencapai target. Ya, kalau kupikir, targetnya tentu saja bukan selesai atau tidak materi yang harus disampaikan. Tetapi bertambahnya kecakapan hidup peserta didik sesuai dengan usia perkembangannya.

Pola belajar dalam jaringan seperti ini pun sesungguhnya adalah media komunikasi bagi orang tua dan anak. Supaya orang tua juga paham, apa yang sesungguhnya dilakukan pendidik di lingkungan sekolah. Dan sudah berapa 'rasa berat' yang menyambangi hati orang tua, sebab tak sanggup lagi menjalani peran seorang pendidik sebagaimana guru di sekolah. Kendati memang orang tua bukanlah guru sebagaimana pendidik di sekolah, tetapi semoga tak terlupa, bahwa orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Mungkin, pandemi ini juga sebagai teguran bagi kita, untuk tak meremehkan para guru anak-anak mereka.

Adab menuntut ilmu yang mungkin telah lama menjadi usang dan berdebu. Semoga saat ini sudah menjadi baik, sebab banyak hati terbangun dari tidur panjangnya. Dan bergegas membersihkan dan merawat kembali, apa-apa yang sulit untuk dilakukan sebagaimana adab menuntut ilmu itu harus diupayakan.

Mungkin kita masih ingat, betapa banyak berita tentang guru yang dipidanakan sebab mengingatkan peserta didiknya. Ya, tetapi jangan juga menjadikan congkak bagi para pendidik. Bisa saja kondisi ini juga merupakan peringatan bagi pendidik itu sendiri. Sehingga, sudah semestinya semua menyadari hikmah di balik hadirnya pandemi covid-19.

Semoga Allah kuatkan kita untuk selalu semangat menuntut ilmu hingga liang lahat.

-Ar, 31082020

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter