Puisi dan Diksi


Penenun Kata tentang Puisi dan Diksi

Hari itu ada diskusi bebas tentang puisi. Menyambung ide Sahabat TMH yang sedang membuat "puisi bersambung". Entah, apa nama yang seharusnya. Aku menyebutnya seperti itu. Jadi, puisi itu dibuat oleh beberapa orang. Satu orang menulis satu bait puisi, kemudian dilanjutkan oleh yang lain, dan seterusnya sampai diperoleh ujung dari puisi tersebut.

Beberapa kali membuat, mungkin sudah dapat empat atau lebih halaman. Jika hendak dibukukan. Namun, ada salah satu peserta event menulis bersama bertema ibu, bertanya tentang kemungkinan puisi tersebut dikoreksi.

Maka, ketika ada kesempatan masuk ruangan virtual itu, aku tak berlama-lama menyambut harapannya. Sedikit saja mengulik tentang diksi dan proses edit. Kalau biasanya aku akan coret sana coret sini di naskah fiksi lain. Kali ini enggak bisa sembarang coret.

Ketika menghadapi naskah puisi, suara seseorang selalu saja mengalungi pendengaranku. Bahwa, edit puisi itu tidak sama dengan edit naskah lain. Ada perbedaan dalam pemilihan kata, kosakata, atau kalau di puisi biasa disebut diksi. Bahkan juga penulisannya. Oleh karena itu, selain hal-hal yang sifatnya sudah diatur dalam PUEBI, puisi memiliki aturan longgar lain yang tidak dimiliki oleh naskah selainnya.

Penjelasan itu menuai banyak tanggapan tentu saja. Sebab memang yang menjelaskan pun masih perlu banyak belajar dan memahami. Aku sendiri masih sering bingung, antara itu harus diperbaiki atau tidak. Sepanjang bukan salah ketik, ada baiknya tak hendak langsung diubah. Karena mungkin penulis punya maksud sendiri terkait penulisan itu.

Terlepas dari itu, bebaskan semua ide dan fantasi, Sahabat. Lepaskan mereka di medan yang seharusnya. Supaya langkahnya tepat dan pilihannya pas. Kadang jika ide itu dibiarkan saja mengambang di udara, mereka justru bertumbuk satu sama lain. Sehingga si empunya ide merasa enggak bisa fokus pada satu ide dulu dan menuntaskannya. Bahkan, sudah ditulis saja terkadang masih sering mengembang.

Maka, yuk mulai ambil pena dan kertas. Atau kalau enggak ada, bisa gunakan aplikasi catatan di gawainya. Tulis apapun yang terlintas. Ikuti semua yang terasa dan terpikirkan, sampai tuntas, sampai enggak ada lagi kata yang bisa ditumpahkan. Kalau misalnya masih satu bait atau paragraf sudah berhenti. Ya, sudah. Tak apa-apa, besok bisa diulangi lagi. Jangankan satu paragraf, satu kalimat mungkin. Tetap tidak jadi soal. Yang terpenting, kita enggak berhenti menulis.

Supaya Sahabat PeKat enggak kehabisan stock kosakata, kalian bisa memperbanyak dengan cara membaca. Pilih buku bacaan yang disukai. Bisa dari penulisnya, temanya, genrenya, dan beragam spesifikasi lainnya. Yuk, hidupkan lagi bara semangat yang sempat dan semakin meredup itu. Kalian bukan tidak bisa, hanya saja mungkin belum pernah mencobanya.

*))

Ar, 9620

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter