Kehidupan Kita Hari Ini

Menyongsong New Normal: Tatanan Baru Kehidupan


Ada yang berubah, semoga menjadi lebih baik. Ada yang berbeda, semoga perbedaan yang bermanfaat. Ada yang baru, semoga bisa jauh lebih baik.

Kebaruan, perubahan, dan perbedaan inilah yang jamak disebut new normal. Alih-alih berpikir tentang new normal, aku justru menimbang akan bersiap dengan cara atau proses seperti apa. New normal yang digagas beberapa pekan terakhir ini, kuanggap sebagai masa peralihan. Beralih seperti apa? Tentu saja peralihan dalam berbagai aspek. Utamanya adalah perilaku.

Kita tak mengingkari bahwa tidak semua orang siap menghadapi perubahan pola. Apalagi sesuatu yang mengakar kuat bernama kebiasaan. Perlu kesadaran dan adaptasi dengan beragam cara. Menyesuaikan pribadi itu sendiri.

Selama pandemi, bisa dihitung jari, berapa kali aku keluar rumah. Sehingga terasa sekali perbedaan yang terjadi di lingkungan sekitar. Utamanya kondisi alam. Januari lalu, jalanan terasa seperti arena malaikat pencabut nyawa yang siap setiap saat ketika ada yang tak awas. Tapi beberapa pekan setelah diberlakukan PSBB di beberapa wilayah, jalan raya dekat rumahku pun terdampak. Situasi yang berbeda tentu saja. Polusi semakin berkurang. Awan berarak cantik di antara kaki langit yang membiru cerah. Roda kendaraanpun lengang. Seolah jalan milik sendiri.

Kondisi ini tak sendirian. Di dukung pula dengan perubahan perilaku masyarakat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa tak semua merasa siap menghadapi bencana non alam ini. Berita-berita burung itu terbang bak kapas yang diterpa angin. Ringan menghinggapi daun telinga para pendengar. Ketakutan sebentar-sebentar menyambangi relung hati mereka. Sehingga kepanikan tak pula terhindarkan. Orang-orang di sekitar menjadi target sasaran kecurigaan. Meski mungkin juga tak semestinya.

Ya, tak ada yang salah dengan semua itu. Hanya saja, meski saat ini kita perlu dan sangat dianjurkan bahkan, untuk menjaga jarak satu sama lain. Namun, tak lantas boleh menjadi antipati. Hati yang panik dan was-was mudah sekali dikendalikan oleh sesuatu di luar diri. Maka, ada baiknya dalam situasi seperti ini, kita tetap perlu menjaga hati dengan banyak mengingat Allah. Jaga wudu sebagai upaya untuk menjaga kebersihan.

Sisi lain dari kondisi baru ini adalah perubahan pola ekonomi. Sebab hampir semua lapisan terdampak, tak terkecuali adalah mereka yang pekerjaannya bergantung pada kesibukan orang lain. Misalnya seperti tukang ojek, becak, atau pengemudi angkutan umum. Biasanya mereka berpendapatan dari jasa yang digunakan untuk mengantar orang bekerja atau berkunjung ke suatu tempat. Maka, dalam situasi seperti ini tentu saja hal demikian makin minim terjadi.

Tak jarang kondisi yang menghimpit menjadikan pikiran pun menyempit. Seolah otak tak perlu lagi mengembang untuk menakar seberapa tinggi kreativitas seseorang. Atau penilaian tentang kebaikan itu memudar. Akan tetapi, tak sedikit pula yang kemudian bisa banting setir atau hanya menjadikan upaya itu sebagai sumber keuangan kedua. Ya, beberapa rekan saya contohnya. Ketika WFH, mungkin mobilitas tak begitu tinggi. Sehingga, ada masa-masa jenuh menghampiri. Kemudian justru memicunya untuk berdiri dan melakukan sesuatu yang berguna.

Alih-alih hanya digunakan untuk mengusir kejenuhan. Upaya-upaya ini justru seringkali menggulirkan kemerincing koin berpindah ke pundi-pundinya. Maka, seharusnya seperti inilah sistem bekerja. Kita diberi akal untuk berpikir, supaya kita belajar. Mengambil hikmah atas apa yang Allah sedang ajarkan kepada kita. Sehingga, tak ada alasan memendeknya akal yang menyebabkan perbuatan brutal dan menyakitkan bagi banyak nyawa.

Mari, kita sama-sama menjaga diri. Aku menjaga diriku untuk menjagamu, dan kamu menjaga dirimu untuk menjagaku. Bukan supaya kita terpisah dan terpelanting ke dunia masing-masing. Tetapi, mari ciptakan media silaturahmi baru. Sehingga, kekuatan kebersamaan itu senantiasa ada.

*))

Ar, 1762020

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter