Bukan Sekedar Hafalan

Mengaji Tajwid Sebelum Hafalan


Sejak tanggal 16 lalu, aku memang belum lagi move dari ruangan segi empat yang menjadi tempat isolasi paling nyaman. Kondisi memang tak memungkinkan untukku beranjak, selain itu siswa juga sedang dipindahtugaskan ke rumah untuk sementara waktu. Hah, bahasaku. Ko dipindahtugaskan ya? Hehehe .... No, mereka belajarnya pindah ke rumah masing-masing. Semoga saja enggak ada yang malah rekreasi ya. Sekalipun miris, karena di tempat lain justru siswanya bersorak, "Hore libur Corona!"

Ini memang keputusan untuk tetap masuk atau tidak sempat simpang siur. Dan bisa dikatakan juga mendadak. Sampai aku membaca bahwa ini ditetapkan sebagai bencana non alam. Yaa Allah, minimnya informasi yang terpercaya seringkali malah menimbulkan hal-hal yang tidak seharusnya. Tapi, baiklah. Mari kita move dari hal itu. Beralih ke catatan harian yang mendadak menghampiriku hari ini.

Jadi, kemarin memang sengaja aku bikin story tentang pencapaian teman. Karena berhasil membuat satu media daring untuk evaluasi siswa. Dan hari ini, postingan yang sudah bau kemarin justru dikomentari oleh salah satu wali murid. Kebetulan Beliau juga seorang guru.

Singkat cerita, aku malah bertanya tentang isian ceklist, atau yang kusebut lembar aktivitas. Dan, yang membuat amazing, bukannya aku dikirimi hasil ceklist-nya justru dikirim voice note setoran hafalan sang putri. Maka, dari sinilah ide tulisanku bermula. Tentang hafalan yang tak sekedar hafal.

🌷🌷🌷

Ketika mengaji, kita itu mesti dihadapkan pada tingkatan-tingkatan. Bukan hanya ngaji ya. Belajar kan begitu, ada kelas 1, 2 dan seterusnya. Ada level 1, 2 dan seterusnya. Nah sama, ketika ngaji kita harus mengenal dulu huruf Hijaiyah, kemudian kita juga akan belajar tentang tajwid, makhorijul huruf, serta ahkamul huruf. Sebelum kemudian kita belajar menghafal. Namun demikian bukan berarti kesemuanya itu harus berjalan sendiri-sendiri. Kita tetap bisa menghafal dengan terus memperbaiki bacaan.

Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Yang dapat kita upayakan adalah mendekati Dzat Yang Mahasempurna. Oleh karena itu, ketika kita sedang membersamai ananda dalam menghafal surah-surah dalam Alquran, hendaknya tidak hanya sekedar memerhatikan apakah ananda sudah hafal atau belum. Tetapi pun perhatikan apakah bacaannya sudah tepat atau belum.

Dan pelajaran ini kudapat ketika mendampingi siswi saat lomba tahfidz bulan lalu. Di sana, sang juri berpesan, supaya bacaan anak tetap diperhatikan. Membaca secara tartil dan sesuai kaidah tentu saja. Karena hafal saja tidak cukup, jika kemudian membacanya sekeluarnya suara.

Hari ini, aku teringat kembali akan hal itu. Dan benar sekali, bahwa memperbaiki itu lebih sulit dari pada membangun dari awal. Oleh karena itu, sebelum terlambat, yuk perhatikan kembali hafalan ananda. Semoga Allah meridai dan memberi rahmat kepada kita semua.

20320

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter