Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Jumat, 20 Maret 2020

Bukan Sekedar Hafalan

Maret 20, 2020 0 Comments
Sejak tanggal 16 lalu, aku memang belum lagi move dari ruangan segi empat yang menjadi tempat isolasi paling nyaman. Kondisi memang tak memungkinkan untukku beranjak, selain itu siswa juga sedang dipindahtugaskan ke rumah untuk sementara waktu. Hah, bahasaku. Ko dipindahtugaskan ya? Hehehe .... No, mereka belajarnya pindah ke rumah masing-masing. Semoga saja enggak ada yang malah rekreasi ya. Sekalipun miris, karena di tempat lain justru siswanya bersorak, "Hore libur Corona!"

Ini memang keputusan untuk tetap masuk atau tidak sempat simpang siur. Dan bisa dikatakan juga mendadak. Sampai aku membaca bahwa ini ditetapkan sebagai bencana non alam. Yaa Allah, minimnya informasi yang terpercaya seringkali malah menimbulkan hal-hal yang tidak seharusnya. Tapi, baiklah. Mari kita move dari hal itu. Beralih ke catatan harian yang mendadak menghampiriku hari ini.

Jadi, kemarin memang sengaja aku bikin story tentang pencapaian teman. Karena berhasil membuat satu media daring untuk evaluasi siswa. Dan hari ini, postingan yang sudah bau kemarin justru dikomentari oleh salah satu wali murid. Kebetulan Beliau juga seorang guru.

Singkat cerita, aku malah bertanya tentang isian ceklist, atau yang kusebut lembar aktivitas. Dan, yang membuat amazing, bukannya aku dikirimi hasil ceklist-nya justru dikirim voice note setoran hafalan sang putri. Maka, dari sinilah ide tulisanku bermula. Tentang hafalan yang tak sekedar hafal.

🌷🌷🌷

Ketika mengaji, kita itu mesti dihadapkan pada tingkatan-tingkatan. Bukan hanya ngaji ya. Belajar kan begitu, ada kelas 1, 2 dan seterusnya. Ada level 1, 2 dan seterusnya. Nah sama, ketika ngaji kita harus mengenal dulu huruf Hijaiyah, kemudian kita juga akan belajar tentang tajwid, makhorijul huruf, serta ahkamul huruf. Sebelum kemudian kita belajar menghafal. Namun demikian bukan berarti kesemuanya itu harus berjalan sendiri-sendiri. Kita tetap bisa menghafal dengan terus memperbaiki bacaan.

Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Yang dapat kita upayakan adalah mendekati Dzat Yang Mahasempurna. Oleh karena itu, ketika kita sedang membersamai ananda dalam menghafal surah-surah dalam Alquran, hendaknya tidak hanya sekedar memerhatikan apakah ananda sudah hafal atau belum. Tetapi pun perhatikan apakah bacaannya sudah tepat atau belum.

Dan pelajaran ini kudapat ketika mendampingi siswi saat lomba tahfidz bulan lalu. Di sana, sang juri berpesan, supaya bacaan anak tetap diperhatikan. Membaca secara tartil dan sesuai kaidah tentu saja. Karena hafal saja tidak cukup, jika kemudian membacanya sekeluarnya suara.

Hari ini, aku teringat kembali akan hal itu. Dan benar sekali, bahwa memperbaiki itu lebih sulit dari pada membangun dari awal. Oleh karena itu, sebelum terlambat, yuk perhatikan kembali hafalan ananda. Semoga Allah meridai dan memberi rahmat kepada kita semua.

20320

Sapa Sipi Hello, Corona!

Maret 20, 2020 0 Comments
Lama sekali tidak mampir ke rumah online. Apa kabar sahabat PeKat? Hampir satu minggu sejak ditetapkannya masa "apa ya?" Yang pokoknya selama 14 hari, siswa belajar di rumah. Dan selama sepekan itu aku meringkuk tak berdaya di salah satu ruang di rumahku. 🤔 Ya iyalah masa di rumah orang. Meskipun bukan karena corona, tapi aku memang butuh mengisolasi diri sendiri. Dan hari ini adalah hari pertama aku bisa feel free untuk melakukan sesuatu. Meskipun semua itu dilakukan secara daring. Atau istilah familiarnya online.

Dan hari ini juga aku tiba-tiba ingin membagikan dongeng. Eum, bukan sih. Lebih tepatnya ya catatan untuk diriku sendiri yang siapa tahu bermanfaat untuk sahabat.

Jadi, sejak ditetapkan masa 14 hari untuk #dirumahsaja, aku beserta teman-teman guru menyiapkan bahan ajar yang bukan bahan ajar juga sih. Lebih tepatnya tugas untuk dikerjakan siswa selama belajar di rumah. Harapannya, mereka benar-benar belajar di rumah bersama orang tua tentunya. Well, aku sendiri menyiapkan beberapa tugas yang disusun sesederhana mungkin berikut dengan lembar penilaian. Karena bidang yang kusampaikan ke anak-anak adalah materi praktis aplikatif daann lebih banyak ke pembiasaan, maka aku bikin lah lembar aktivitasnya seperti bikin ceklist habit tracker. Harapannya itu memudahkan juga untuk orang tua selama mendampingi putra-putrinya belajar di rumah.

Dan harapanku yang lain adalah semoga aja hal sederhana itu bisa menginspirasi mereka jadi sesuatu yang dilanjutkan. Enggak cuma 14 hari ini doang, enggak cuma buat menuhin tugas, tapi benar-benar bisa lah untuk saling bantu mengontrol. Bukan hanya putra-putrinya tapi habit tracker bagi para orang tua. Hehehe, itu harapan, sahabat. Kalau terwujud Alhamdulillah, kalau enggak ya ga masalah. Udah dibikinkan untuk putra-putrinya aja udah syukur. 😁

Ok, yang dari tadi penasaran. Seperti ini lah punyaku. So simple, so irit, dan mudah lah bikinnya.

Habit Tracker Ceklist untuk kelas 1

Hal lain yang dilakukan teman-teman adalah membuat tes daring dengan memanfaatkan salah satu fasilitas google, yaitu google form. Sesuatu yang sederhana dan bisa digunakan banyak kalangan. Ini merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi kami. Mengingat, potensi kondisi masyarakat yang mungkin belum melek teknologi, kadang membuat sesuatu yang mudah pun menjadi sulit. Jadi, untuk apa mempersulit semua yang mudah.

Yeay, dalam artikel kali ini aku tidak terlalu membahas soal si corona ini memang. Tapi, sedikit ya itu tadi. Berbagi dan mengabadikan moment. Karena memang masa-masa yang bisa disebut lockdown bagi para siswa ini atau belajar di rumah selama 14 hari, menjadikan sebuah tantangan sendiri bagi guru. Apakah kemudian hal tersebut efektif atau tidak. Dst. Tapi semoga, upaya kita dalam rangka memutus mata rantai penyebaran covid-19 diridloi Allah. Sehingga sekecil apapun usaha itu membuahkan hasil.

Sahabat di mana pun berada. Tetap patuhi SOP yang sudah disosialisasikan sebagai upaya pencegahan. Semoga semua senantiasa diberi kesehatan dan dijaga dari marabahaya. Tak ada guna menyalahkan siapa atas siapa atau mencari kesalahan siapa untuk siapa. Akan lebih baik jika kita awali dari diri sendiri. Menyadari kemudian bertindak secara nyata memang bukan sesuatu yang mudah. Maka, lakukan kebaikan sekecil apapun itu. Social distance bukan berarti kemudian tidak peduli sama sekali dengan lingkungan. Tetap jaga kebersihan diri sendiri dan patuhi semua rule yang sudah diinformasikan pemerintah.

Teman-teman dokter dan seluruh tenaga medis yang sampai saat ini masih terus bergerak di antara bahaya yang mengintai. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian.

#dirumahsaja #Indonesiabisa

20320