Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 10 Februari 2020

Menulis Santai

Februari 10, 2020 1 Comments
Menulis santai menurutku ya menulisnya santai. Mengalir seperti air. Definisi santai yang kupahami adalah luwes dalam pemilihan diksi dan rangkaian kalimatnya lentur. Jadi ketika dibaca bisa mengalir. Tanpa disadari pembaca sudah sampai di ujung bacaan. Dan semoga definisi yang kukemukakan ini sejalan dengan definisi yang dimiliki oleh Sahabat PeKat, temansenja.com. Kalaupun tidak, semoga nanti kami punya kesempatan untuk diskusi terkait tema yang sama. Sehingga clear sharing kita hari ini.

Jadi, menjawab request tentang cara menulis yang rangkaian katanya santai terutama kalimatnya. Maka, Penenun Kata mencoba meramunya dalam post tulisan ini. Sekaligus mengerjakan ngODOP periode 3.

Eum, kalau kita membicarakan sesuatu untuk dipaparkan kepada publik, itu seolah kita adalah yang paling tahu tentang sesuatu tersebut. Dan untuk menebus kata seolah, supaya menjadi bagian yang enak dipahami. Maka, aku lebih nyaman kalau media ini menjadi sarana kita berbagi dan diskusi. Bukan karena siapa lebih jago dari siapa, atau lebih ahli dari siapa. Bukan. Melainkan, aku di sini sedang berbagi pengalaman. Syukur-syukur kalau pengalaman sederhana ini kemudian dapat menyebarluaskan manfaat.

So, langsung saja ya kita simak ulasan di bawah ini, AWAS! Tulisan ini mengandung dongeng.


Mungkin ini sudah pernah kusampaikan di tulisan-tulisan sebelumnya. Hanya saja mungkin tidak spesifik tentang bagaimana membuat tulisan kita itu santai. Tulisan santai tapi tak merasa sesantai itu. 😊😄

Menulis adalah skill yang dilatih, bukan bawaan apalagi bakat. Kalau pun toh iya, mungkin hanya sebagian kecil prosentase saja. Selebihnya adalah latihan, latihan, dan latihan. Di luar sana sudah banyak sekali informasi yang menguraikan tentang bagaimana menulis indah  dan menulis kreatif. Maka sebetulnya, kita bisa menyerap satu per satu ilmunya kemudian dipraktekkan.

🤔
Rasa-rasanya aku tidak memiliki ritual khusus untuk meramu sebuah tulisan. Semua hadir begitu saja. Dan kalau Sahabat masih ingat, bahwa untuk menghindari gagap menulis maka kita harus banyak baca. Karena membaca dan menulis itu saling terhubung.

Ya, kalau selama ini merasa masih sulit menuangkan apa yang ingin disampaikan, membaca. Apa yang dibaca? Apapun. Aktifkan kembali otot baca. Isi teko kita dengan beragam kosakata. Supaya ketika dibutuhkan, ibarat air dalam teko, ya tinggal tuang. Kalau kita lagi kurang baca, ya bisa jadi seperti teko kosong. Apa yang mau dituang? Benar, tidak?

Kemudian selain membaca, perbanyak lagi praktek. Pada proses ini seringkali menemui kerancuan. Mana yang boleh dan tidak boleh dibagikan. Sebagai insan literasi yang baik, maka kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Jangan semuanya kita bagikan kepada media. Sebab, sekali tulisan tetap tulisan. Meskipun ia merupakan manifestasi sebuah pemikiran. Meskipun ia adalah bentuk lain dari bahasa lisan. Tetap menjadi sebuah tulisan yang tak bernada. Sehingga, bisa menimbulkan beragam asumsi dari pembaca.

Buat sesuatu yang bermanfaat tanpa meninggalkan jejak ambiguitas. Jadi, pisahkan hal-hal yang beraroma tak menyenangkan dengan sesuatu yang kita anggap berguna. Biasanya di sini, aku menyiapkan ruang khusus untuk meretas pikiran-pikiran negatif, rasa tersakiti, dan semua hal yang tidak menyenangkan. Di sana, kita bebas berekspresi tanpa harus melukai pihak manapun. Setelah tuntas dan tandas, barulah diri ini siap melahirkan anak-anak pemikiran yang sehat dan bermanfaat. Insyaallah.

Maka Sahabat, perbanyak membaca dan latihan sebetulnya adalah kunci yang tak boleh sampai hilang. Meskipun membaca apapun bisa, tetap ingat bahwa teko akan mengeluarkan sesuatu yang kita tuang ke dalamnya. Tulisan ibarat isi teko. Maka, ia akan mengikuti apa-apa yang telah kita baca.

Aku pikir, seperti itu saja. Semoga yang sedikit dan sederhana ini bermanfaat untuk Sahabat PeKat. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

10.1.2020
-arhana-