Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Minggu, 19 Januari 2020

Sebelum Pagi: Renungan Hariku

Source : dok. pribadi

Judul : Sebelum Pagi
Penulis : Harun Tsaqif
Penerbit : NunBooks
Tahun Terbit : 2019
Tebal : xi + 181 hlm
ISBN : 978-623-7688-00-6

Secuplik Kisah

Seperti dongengku sebelumnya. Bahwa buku adalah jawaban daripada tanya kita yang tak terucapkan. Buku bisa menjadi sebuah hadiah dari seseorang, tetapi tahu kah? Bahwa bisa jadi itu adalah jawaban Allah atas rasa gelisahmu. Apakah kita juga sadar bahwa ada tangan Allah yang bekerja di antaranya? Kita sungguh tidak pernah tahu pasti, bagaimana Allah akan memberi jawaban atas segala pinta. Dan kejutan-kejutan itu seringkali tak disadari untuk kemudian disyukuri.

Ya, buku ini salah satunya. Beberapa kali aku harus menutup mata untuk melakukan diet belanja buku. Sebab masih banyak saja antrian dari tahun ke tahun yang belum terjamah. Haaa, bukan karena banyaknya jam untuk melahap semua bahan bacaan. Tapi, mungkin aku terlalu malas dan lupa telah memaksanya hadir di bangku tunggu itu. 🙃 Oleh karenanya, aku perlu skip agenda belanja. Tapi, siapa sangka jika memang rejeki tetaplah akan hadir sebagaimana mestinya.

Sang pemberi berpesan untuk bisa menyelipkan referensi ini pada salah satu sift jadwalku. Yang aslinya juga tidak sepadat itu. Aku hanya perlu mengaturnya saja. 😬 Sehingga, mau tidak mau bacaan ini menjadi pembuka di tahun 2020. Semoga setelahnya makin rajin baca, enggak cuma belanja. Karena tentu saja itu tak baik. Akan bagaimana aku mempertanggungjawabkan mereka semua, bukan?

Alasan kenapa sang pemberi meminta segera menyelipkannya di antara waktuku adalah supaya aku segera bisa memberi kabar. Tentang apa sih buku yang aku baca ini? Jadi, tak usah berpanjang-panjang lagi dongengnya. Mari kita simak tulisan berikut ini 🥳
Btw, makasih buat yang ngasih. Besok lagi ya... 😆🤭

Sepenggal Makna

Sebelum Pagi adalah kumpulan motivasi, inspirasi, juga sebagai referensi kontemplasi. Kemasan buku karya Harun Tsaqif ini terbilang biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Aku pikir secara khusus Harun menyapa pembacanya dan mengenalkan diri sebagai sahabat.

Pendekatan yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Tentu saja, hal itu semakin menambah interest buku yang sudah ada di tangan pembaca. Dari surat tersebut, Harun bicara laiknya sahabat. Mengingati dan mengajak kita untuk merenungkan hal sederhana saja, tetapi berdampak. Surat yang ia selipkan membawa makna sendiri tentu saja. Dan buku itu hadir untuk dialog antara penulis dengan pembacanya.

Soal apakah nanti kalian setuju atau tidak, yang jelas buku ini adalah hasil renungan. Dari sepotong kisah dalam kehidupan sehari-hari. Bahasanya yang sederhana, kalem, dan tentu saja renyah, mampu membawa arti dari sesuatu yang terlihat sepele. Kalian tentu paham, bahwa hal yang sepele seringkali diabaikan. Maka, di sini kita diajak untuk memunguti kembali. Puing-puing yang tertinggal. Atau makna usang yang pernah kita temukan lalu hanya tersimpan rapi di kotak masa lalu.

Buku Sebelum Pagi dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah malam, kemudian sepertiga akhir lalu pijar mentari. Penamaan bagian ini tentu saja memiliki arti. Kalau aku sendiri melihatnya, ini seperti bagian dari pada sebelum pagi itu sendiri. Dan kalian akan menjawab, ya iya pasti. Tapi, perhatikan lagi lebih detail. Apa yang biasanya terjadi ketika matahari mulai tenggelam, sampai kemudian sepertiga perjalanan sunyi yang terakhir dan lalu matahari kembali menyinari bumi yang kita pijaki. Apa?

Ya, kontemplasi. Perenungan pada apa yang sudah kita lalui satu hari ini. Kemudian, kita akan belajar menata hati lagi. Dengan cara apa? Menerima setiap apa yang Allah beri, hari ini. Lalu, memaafkan pada setiap inci yang kita sebut dengan luka, kecewa, marah, dan semua hal yang pahit. Dan kita menutupnya dengan syukur atas segala sesuatu dan harapan baru untuk hari esok.

Kemudian di sepertiga terakhir, kita bersiap diri. Memulai hari dengan satu ritual lagi. Yaitu, melangitkan harapan dengan riyadhoh qiyamullail. Sampai sini mungkin kalian lebih paham daripadaku. Dan ngerti kenapa aku mengaitkannya dengan sebelum pagi. Makanya, subjudul buku ini adalah menata hati melangitkan mimpi.

Jadi, kurang lebih begitu isi buku yang telah kutuntaskan ini. Aku bacanya tiga hari ya sahabat, karena memang enggak bisa full booked, harus berbagi waktu dengan agenda lainnya. Buat kalian yang butuh buku motivasi, buku ini bisa jadi pilihan. Meskipun sebenarnya aku menunggu sesuatu yang deeply. Tapi, bisa jadi ini karakter dari buku Sebelum Pagi itu sendiri. Bahasan yang ringan, sederhana tapi bermakna.

19.1.2020/arhana/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar