Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Rabu, 01 Januari 2020

Cerita dari Sudut Kota

"Lagi ngapain Mbak?"
"Bebersih nih, banyak sarlab?" Jawabku sekenanya.
"Apa tuh sarlab?"
"Sarang laba-laba Dek."

Dek Amah dan Dek Chocho beroh ria. Mereka ini kalau lagi dekat, sudah seperti regu koor yang dipentaskan. Bisa kompakan gitu responnya. Aku sering geli kalau lagi ngobrol bareng mereka. Ada saja yang bikin ketawa. Dan anehnya, kita bisa membahas apapun, bahkan dari yang recehan sampai ke emas karatan. Eh bukan, emas 24 karat.

"Ini emang kamar siapa Kak?" Suara Dek Cho akhirnya terdengar tunggal.
"Eum kamar itu tuh."
"Siapa?" Dek Amah ikut melongok.
"Masa ga kelihatan sih Dek?" Jawabku sambil sesekali mencuri pandang, barangkali mereka berespon lain.
"Oh, kamarnya si Minke?" Jawab Dek Chocho dengan nada tertahan.

Mendadak aku terdiam, menimbang mana kalimat yang akan tepat untuk aku lontarkan saat ini. Mengingat sebenarnya aku sedang kalut dengan bacaanku sendiri.

"Ngomong-ngomong, kita ngapain tiba-tiba berada di Boerderijc Buitenzorg, Mbak?" Suara Dek Amah terlihat kesulitan mengeja istilah Belanda. Dan aku sendiri belum tentu juga lancar.
"Jadi, begini ceritanya." Sambil menahan tawa, aku langsung saja pada inti. Yang sebenarnya juga aku sendiri tidak tahu, kenapa kami bertiga tiba-tiba berada di sebuah bangunan tua dengan ornamen khas Belanda. "Sebenarnya kan, kita itu tadi lagi ngobrol apa sih? Tentang Bumi Manusia." Aku berhenti lagi, untuk memilih kalimat.
"Oiya, bener. Sssssttt, ...." Dek Chocho menginterupsi. "Ada yang lewat barusan, tergopoh-gopoh, tapi terlihat letih sekali." Lanjutnya.

Ya, dia tiba-tiba menemukan sosok Nyai Ontosoroh, pemilik rumah ini. Dan berusaha menukar keberaniannya dengan cerita seperti apa dia melihat.

Tadi siang kami sedang duduk bertiga di bale-bale sambil menikmati cemilan yang disediakan Bunda untuk kami. Aku, Dek Amah, dan Dek Chocho adalah sahabat sejak orok. Kemana-mana kami selalu bersama. Sekolah pun, Alhamdulillah, bisa sama. Entah lah, skenario Allah memang tiada duanya. Kedua sahabatku ini adalah pelangi yang Allah hadiahkan untukku.

Hari ini kami libur, jadi menyempatkan diri untuk bisa bertemu, meski mungkin hanya sebentar saja. Dan seperti biasa, kami akan membahas apapun yang perlu dibicarakan. Namanya juga sahabat yang juga sahabatnya buku. Kami terbiasa membahas apapun, mulai dari hal receh sampai sesuatu yang sangat penting atau istimewa. Sekalipun kami sama-sama pecinta buku, tapi kami memiliki art yang berbeda.

Ya iya dong, masa harus sama terus. Enggak jadi pelangi nanti kalau sewarna. Seperti halnya sekarang, ternyata ide cerita Dek Chocho jadi pilihan waktu. Sehingga kami tertarik kembali ke masa kolonial ini. Euh, rasanya kalau boleh milih, ndak usahlah masuk ke buku genre begini.

"Iya, ini tuh kisah mereka pasca Noni Annelies dipulangkan ke negerinya sesuai dengan keputusan sidang beberapa hari lalu." Aku melanjutkan cerita. "Seperti yang telah diucapkan Minke, bahwa ia akan menyusul Anna, setelah keberangkatannya. Maka, hari ini Minke berusaha mencari cara untuk bisa segera berangkat."

Minke adalah pribumi terpelajar yang berwawasan Netherland. Dia memiliki banyak jaringan, meski pun belum seluas jarangin laba-laba yang hari ini harus kusibak sepanjang langkah kami bergerak. Untuk menunjukkan kesungguhannya, dan mematahkan persepsi bahwa Minke merelakan cintanya begitu saja. Ia pun bersegera mengirim telegram kepada Mantan Asisten Residen B. Kepada Tuan Asisten Residen itu ia akan menuju terlebih dahulu.

Tujuh hari lamanya, sejak telegram dikirim. Akhirnya pesan itu terjawab. Tuan Asisten menyatakan kesediaannya untuk menerima Minke. Meski apa peraturan negeri Belanda pada saat itu. Maka siasat tak boleh kurang dan kesopanan tetap harus dijunjung tinggi. Minke datang membawa nama pribumi, sebagai tamu dari Tuan eks-Asisten Residen.

Segala keperluan menuju negara pulau itu dipersiapakan. Perjalanan laut yang sangat panjang seolah memperpanjang jarak antara ia dengan Anna. Meski kenyataannya, perjalanan itu justru memperbesar harapannya untuk mendapatkan istrinya kembali.

Aku tak habis pikir, bagaimana secarik kertas bisa lebih berharga daripada kesaksian seorang Ibu kandung dan suami sahnya. Ah, betapa aturan itu terasa sangat wajar untuk berlaku dan diberlakukan. Dan memang benar, tak ada peradilan itu yang seadil-adilnya di dunia ini. Sebab tak ada yang betul-betul bisa paham, mana yang baik dan tidak. Manusia itu hanya meraba dan memilih kepada apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Seperti halnya menjadikan selembar kertas lebih berharga daripada suara.

350 tahun bukan waktu yang singkat. Sendi-sendi pribumi telah digerogoti dan diganti dengan engsel-engsel pemikiran baru. Sehingga terpatri sebuah esensi diri pribumi yang kebelandaan. Meski sebenarnya pribumi memiliki pribadinya sendiri. Sebuah kebiasaan itu terjadi dan mewujud jika terus menerus dibiasakan. Sedangkan kemauan yang tinggi akan keilmuanlah yang akan mengekang segala gerak engsel itu kepada kecenderungan yang tak semestinya.

"Alhamdulillah, akhirnya tiket keberangkatan sudah berhasil aku dapatkan, Ma." Kata Minke beberapa saat lalu.
"Berangkatlah Nyo, Nak, Minke. Mama menunggumu di sini. Biarlah segala yang di sini, Mama urus. Sementara Mama akan pulang ke Sidoarjo."

Di sudut lain, kami duduk menyaksikan. Seolah di hadapan kami sedang ada syuting lanjutan kisah Minke. Dan saking khusuknya, kami tidak sadar bahwa Bunda sudah sejak tadi menggoyang bahuku.
"Mbak, sudah waktunya Sholat Shubuh." Kata Bunda seraya menepuk lembut pipiku yang tak juga tembam ini.

Perlahan aku membuka mata, menyadarkan diri di mana aku kini berada. Bukankah tadi aku masih duduk di ruang berdebu itu. Aku bersama dua sahabatku sedang menukar nyali untuk menyaksikan kelanjutan kisah mereka. "Astaghfirullah, ...." Buru-buru aku sadar, ternyata itu tadi hanya mimpi.


-arhana-
Kdr, 1/1/2020


10 komentar:

  1. Udah lama gak mampir ke sini nih, kyknya lagi pada bertema cerita masa lalu ya? Atau diangkat dari novel yang berbau sejarah itu?

    Btw,, adaa yang ganti domain nih. Mantaaapss..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih Kak, sepertinya sedang sibuk di dunia nyata ya ...
      Hehehe, sepertinya aku perlu bikin pojok BTS gitu ya ...

      Eum, bukannya sudah lama tahu. Sejak pekan ketiga kelas artikel kayanya.

      Hapus
  2. tadinya bingung siapa yg sedang dibicarakan
    ternyata itu mimpi...
    dan pertanyaannya
    kapan pipinya akan tembam??
    hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohohoho .... Untung sadar kalau ternyata mimpi. Jadi, sudah jamak dong ya. Bahwa mimpi itu ga ada yang runtut. Kalau ga samar-samar, ya loncat-loncat. Tapi, bukan kutu loncat lho ya. Hihihi...

      Pipinya akan tembam setelah ini, Anak Muda.
      Dan, mari duduk di bale-bale. Nanti Bunda ceritakan sesuatu untukmu.

      Hapus
  3. Kalau ndak loncat ya jatuh,, haha

    Jadi anak muda ini manggilnya bunda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang Anak Muda mau memanggil saya apa?

      Hapus
    2. Lebih baik kakak saja,,hihi

      Hapus
    3. Mana bisa seperti itu .... :-D

      Hapus
    4. 😂😂😂
      Baiklah kakak... Kakak muda bukan kakak tua ya...

      Hapus