Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Kamis, 02 Januari 2020

BTS of Cerita Kemarin


Setelah hibernasi tanpa postingan, ternyata aku cukup menyesal karena membiarkan waktu berlalu begitu saja. Mestinya sedikit coretan dapat melengkapi harapanku di penghujung tahun 2019. Tapi, apalah daya, memang aku juga harus tetap memilih prioritas. Bukan, bukan memilih tetapi menentukan. Dan, hasil dari memaksa itu sebetulnya tidak menyenangkan, jika akhirnya tak dapat sepenuh hati hadir di dalamnya. Seperti coretan kemarin lusa.

Menjawab semua komentar yang masuk, maka di sini aku coba untuk membuka diskusi. Eum, bukan sih ya. Lebih tepatnya aku mau membuka cerita di balik layar. Kenapa kemudian aku seolah seperti berkampanye untuk menulis yang baik. Meski mungkin tulisanku sendiri masih dalam proses perbaikan. Sebetulnya, bukan permintaan, tapi memang itu yang seharusnya diperhatikan oleh insan literasi.

Ok, jadi ada cerita apa di balik Cerita dari Sudut Kota?

Bang Dutinov, atau yang biasa kusebut Kak Ibra, atau juga kalian bisa mengenalnya sebagai Ninja Penulis tiba-tiba mampir karena aku juga mendadak mencantumkan link ke list di grup setor link. (Ini sih perkiraanku saja. Soalnya udah lama banget Beliau enggak mampir ke sini). Kenapa aku bilang mendadak? Karena memang sudah lama juga aku enggak mempublikasikan link post. Biasanya ya membagikan tulisan mah bagi aja, setelah kelas artikel usai beberapa pekan lalu. Maka, aktivitasku dengan perblogingan juga sedikit longgar. Mestinya sih enggak begitu ya. Dengan alasan apapun, seharusnya tetap dikasih makan tiap hari. Ya, minimal satu kali lah gapapa. Nah, kali ini entah kenapa aku mampir ke grup itu dan ikut mendemokan link postingan.

Oiya, setelah kelas artikel selesai. Aku paling masih mampir ke sini untuk melempar umpan hasil review buku yang sudah purna kubaca. Itu pun masih asal bikin review aja. Penggugur kewajiban gitu agaknya. Meskipun, percaya atau enggak itu terserah pembaca ya, sebetulnya program itu memberi efek yang luar biasa. Jadi, kalau sehari enggak baca tu rasanya kaya ada yang kurang aja.

Ya, kadang aku ingat pertanyaan rekan. Kapan aku sempat membaca buku, sedangkan pekerjaanku terlihat sudah sangat menyita waktu, tapi lihatlah, tumpukan buku di ruanganku bisa sebanyak itu. Aku sendiri juga tidak tahu, kapan. Yang jelas, ketika aku seharusnya bisa pergi ke tempat lain untuk berlibur, tapi kenyataannya masih harus tetap berkutat dengan pekerjaan. Buku bisa membawaku berlibur dengan tidak kalah membahagiakannya. Kalau kata teman lain, literasi itu surga bagi para pecintanya. Aku bilang, itu kalimat untuk menghiburku saja dah. Hehe ... Meski kenyataannya memang iya.

Ah iya, balik lagi. Kak Ibra bilang ini ko postingan mendadak kembali ke masa lalu gitu ya?

Heum, kalau boleh aku tertawa gitu ya. Aslinya aku sih bengong, Beliau koment itu habis berselancar ke mana? Hehehehe

Iya, jadi cerpen Cerita dari Sudut Kota itu adalah tugas akhir dari RCO. Pada tahu RCO itu apaan? Eum, RCO itu Reading Challenge-nya ODOP. Di musim keenam ini aku adalah salah satu dari peserta yang bertahan hingga pekan keempat atau pekan terakhir. Namanya saja tantangan baca ya, jadi setiap pekan kami diberi tantangan untuk membaca buku dengan genre tertentu. Yang bikin degdegan itu ketika akhir pekan dan pembukaan pekan berikutnya. Kenapa? Karena belum tentu kita punya buku yang dibuat tantangan. Atau kalau enggak, kita belum tentu familiar dengan jenis buku tersebut. Ah, yang benar saja. Setelah tiga pekan lewat dengan genre yang mengharu biru, ternyata tantangan ini memilih dirinya ditutup dengan hisfic aku menyebutnya. Apa itu? Fiksi Sejarah. Eh, apa iya ya.

Sepertinya tidak harus fiksi. Bebas mau fiksi atau non fiksi. Hanya saja harus tentang sejarah. Kemudian, tantangan akhirnya adalah membuat cerpen dengan latar belakang masa di mana buku kita bercerita. Maksudnya, buku yang kita baca tadi itu sedang menceritakan masa apa? Kalau aku misalnya, membicarakan tentang masa penjajahan kolonial Belanda. Setting tempatnya di Surabaya. Lupa ya, tahun berapa. Kalau kalian sudah pernah membaca mungkin tahu, Bumi Manusia-nya Eyang Pramoedya Ananta Toer. Atau malah ada yang sudah nonton filmnya.

Eum, panjang cerita kenapa akhirnya aku memilih buku ini untuk kubaca. Selain memang sudah lama masuk daftar baca yang tak kunjung terealisasi, aku juga penasaran tentang sastranya. Meski pada kenyataannya, buku semacam ini perlu effort yang luar biasa untuk bisa menuntaskan. Bersyukur di tengah halaman (kurang lebih halaman 85 - 100) jalan cerita mulai membuatku nyaman dan bahkan larut. Sehingga tak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke halaman terakhir. Hanya saja yang kusayangkan adalah aku membaca versi ebooknya. hehehe ....

Kemudian, menjawab komentar dari pembaca pertama (mungkin)
😂😂😂😂 tapi... kok aku merasa random ya bacanya. Jadi kaya meloncat-loncat gitu loh. Mau ngikutin peristiwa mana ga bisa.
Okay, fine. Aku jawab begini, "Namanya juga mimpi."

Setelah itu aku banyak merenung, kalau mimpi itu kan memang begitu. Ceritanya enggak urut. Bisa banyak hal masuk jadi bagian cerita. Tapi sebenarnya, justru ini memang random. (Heum, aku ingin terbahak sekali lagi.) Random karena apa yang terlintas di benakku tak sepenuhnya matang. Kebiasaanku kalau mau menulis dan membagikan tanpa mengendapkannya terlebih dahulu. Jadi, pure pikiran pertama. Hanya saja, lebih tepat kalau aku menyebut cerpenku itu hasil dari perjuangan pejuang DL. 😋

Next, komentar selanjutnya dari Anak Muda (entah, siapa dia ini 😅).
Katanya cerita ini membuatnya bingung tentang siapa yang  dibicarakan, dan ternyata dia mendapat kejutan di ujung cerita. Kubilang, untung saja sadar kalau itu cuma mimpi. Namanya juga mimpi, kan? Tak perlu logis tentang siapa yang diceritakan.

Ok, Sekian jawaban dariku yang mungkin malah bisa jadi cerita baru ya Sahabat. Yang ingin kukatakan sebetulnya singkat, tulisan kemarin itu adalah hasil dari upayaku merobohkan benteng. Tulisan fiksi itu bagiku tantangan yang luar biasa, belum pernah aku dapat feel-nya sebagaimana aku menulis seperti ini.

Maka, ketika mendapat tantangan semacam ini. Yang pertama kali kupikirkan bukan buku apa yang akan kubaca. Tetapi, cerpen apa yang akan kutulis. Jadi, ternyata bergerak dari garis finish itu tidak hanya berlaku untuk pencapaian kita dalam hidup saja. tetapi, juga bisa kita aplikasikan saat akan mengerjakan suatu tugas seperti ini misalnya. Oleh karena itu, tentukan dulu apa yang ingin kita raih. Barulah kemudian breakdown menjadi tahapan lebih detail untuk mencapai tujuan tersebut.

Selamat bereksplorasi dan berbagi ya Sahabat! Dunia ini memang fana, tetapi bergerak untuk keabadian tidak pernah akan sia-sia.


Kdr, 2/1/2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar