Berlabuh di Lind∅ya : Sketsa Kehidupan yang Baru

Cover Depan : Berlabuh di Lindoya
Cover depan buku Berlabuh di Lindoya
Source : Dok. Pribadi

Identitas Buku

Judul : Berlabuh di Lind∅ya
Penulis : K. Fischer
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
Tebal : 280 hal; 20 cm
ISBN : 978-602-03-1866-0

FYI : untuk tahu banyak tentang penulisnya, atau baca buku lain dari penulis yang sama, silakan klik nama penulis.

Kisah di Balik Kisah

Ketika memilih sebuah bacaan, mungkin ada satu pertanyaan wajib yang sering kuhadirkan. Yaitu tentang mengapa aku harus membaca buku ini. Jawabannya tentu saja akan beragam. Mulai dari hanya untuk refreshing, sampai menemukan sesuatu. Seringnya sih referensi, tapi tak sekaku saat harus mencari bahan skripsi. Ya, buku kan selalu membawa ceritanya sendiri-sendiri. Apakah dia jatuh ke tanganmu sebab memang kau butuh referensi tulisan? Atau kau yang sedang butuh teman.

Kali ini, aku marathon baca dalam rangka menghabiskan koleksi yang masih terbungkus rapi. Dan kalian tentu akan mengomentari sebab angka tahun terbitnya sudah lama. Tidak masalah. Dan mengapa dalam setiap ulasan, aku selalu menampilkan kisah di balik kisah? Kenapa tidak langsung saja bahas apa sih isi buku ini?

Ok, pertama karena memang aku baru sekali dalam hal review. Sejujurnya adalah hal tersulit bagiku untuk menentukan kritik dan nilai pada sebuah karya. Well, katakan itu memang bukan kapasitasku. Oleh karenanya, aku lebih fix untuk menulis pengalamanku saat membaca sebuah buku.

Kedua, sebetulnya ini hanya kebutuhanku untuk merekam jejak bacaan. Jadi, supaya enggak lupa jenis buku apa sih yang sudah kubaca. Atau apa sih isi buku yang kubaca, dst.

Ketiga, sebagai rekam jejak tentang pelajaran apa yang bisa kuambil dari sebuah buku. Banyak orang mengatakan bahwa baca novel itu buang-buang waktu. Lebih baik baca jenis ini atau itu. Well, itu tidak akan pernah mudah bagi mereka yang baru menyukai dunia baca ketika usia dewasa. Seseorang perlu bacaan yang dia sukai terlebih dahulu. Baru bisa memanage jenis bacaan apa yang bisa ia nikmati dan sekaligus dibutuhkan.

Balik lagi ya Sahabat, semua kembali pada tujuan mengapa kamu membaca sebuah buku. Semisal ternyata kamu enggak ada butuh untuk membacanya, ya stop it. Cari buku lain, yang memang kamu butuhkan. Karena membaca itu butuh energi, dan kamu enggak akan dapat apa-apa kalau hanya membaca karena lapar mata. Yes, semua tergantung niatnya.

Jadi, kali ini Berlabuh di Lind∅ya menemani waktuku untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Salah satu karenanya adalah refreshing, salah lainnya mungkin bisa jadi referensi kalau-kalau aku mau nulis fiksi dengan latar luar negeri. Sekalipun itu saat ini rasanya jauh. Ok, nggak perlu banyak-banyak lagi ya, langsung saja kita berpindah ke halaman sebelah.

Lind∅ya atau Norwegia yang Baru

FYI, aku paling sulit baca novel atau buku terjemahan.

Dan kali ini meskipun latar tempatnya adalah Norwegia, Oslo, Lind∅ya tapi bukan berarti buku yang purna kubaca merupakan terjemahan. Sama sekali bukan. Biasanya sebuah buku bertengger di jajaran koleksiku sebab ada sejarahnya. Dan lagi-lagi bisa saja dia akan menjadi sebuah referensiku menulis, kelak. Tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Maka, buku ini dulu juga direkomendasikan untuk bisa dijadikan bahan bacaan kalau-kalau Sahabat butuh contoh karya dengan latar luar negeri. Selain itu, buku seperti ini juga bisa membuka wawasan kita tentang bumi Allah di belahan lain dari tempat kita berpijak. Makanya buku itu disebut sebagai jendela dunia, bukan?

Mengapa Norwegia yang baru? Dia baru bagiku. Sekalipun aku tidak pernah pilih-pilih latar mana yang ingin kubacai. Semua yang berbau seberang jendela tentu saja menarik. Buku ini tidak hanya menyajikan pesan moral dari penulis tentang tokoh utama. Melainkan juga banyak sekali informasi terkait setting tempatnya. Dan ya, hal itu memang diperlukan dalam sebuah karya fiksi, untuk menambah nilai karya itu sendiri.

Bisa saja dengan setting yang digambarkan secara detail, akan membawa pembaca pada visualisasi yang nyata. Pembaca akan merasakan bagaimana tinggal di Lind∅ya meski hanya sebuah gambaran atau bayangan. Merasakan dinginnya suhu minus atau ketika hujan es tiba. Mungkin juga menambah wawasan bagaimana penduduk asli akan mengadakan sebuah perayaan saat siang atau malam harinya lebih panjang. Semua itu tentu akan menambah bobot sebuah karya. Meski dengan catatan tetap harus logis dan sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

Kemudian, hal menarik lainnya dari novel ini adalah gambaran tokoh utama atau sebut saja Sam. Bagaimana Sam menghadapi masa lalunya? Bagaimana kemudian dia mengatasi serangan traumanya. Sehingga ialah yang muncul sebagai pemenang, sebagai seorang perempuan yang tak menolak menyerah dalam menghadapi persoalan hidup.

Bahasa yang mudah dipahami, membuatku sukses tak mengulang kalimat yang tuntas dibaca. Melaju dengan kecepatan rata-rata dan menghabiskan waktu tiga hari atau mungkin lebih tepatnya hanya 4 - 5 jam, jika diakumulasi nonstop.

Dan di sini, karena aku tak mengomentari soal penokohan dan lain sebagainya terkait dengan unsur intrinsik sebuah novel. Maka, aku lebih menggarisbawahi pada feel ketika Sam harus bergulat dengan masa lalu yang seperti teror. Sekalipun ini bukan novel dengan spesifikasi psikologi, aku tetap apresiasi tentang informasi yang minim itu.

Mungkin, aku punya sedikit harapan kalau-kalau unsur ini bisa diangkat lebih dalam lagi. Hanya saja, karena showingnya sudah dapat. Sehingga, pembaca sepertiku bisa membayangkan dan mungkin merasakan bagaimana Sam bergetar sekaligus merasa kosong saat stimulus hadir tanpa aba-aba. Dan proses yang bisa dikatakan singkat serta sederhana itu, memulihkan keadaan. Ah, meski pada kenyataannya tak pernah sesingkat dan sesederhana itu.

Tapi, akhirnya aku mengerti. Bahwa semua kemungkinan itu akan hadir sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Sam melalui babak barunya setelah ia memiliki self esteem yang lebih kuat. Merasa bahagia dengan dirinya. Menerima masa lalunya sebagai bagian dari sejarah hidup. Yang karenanya ia bisa belajar untuk tak kembali terpuruk.

Penerimaan yang diawali dengan kesadaran atas siapa dirinya. Akan mengantarkan si empunya jiwa lebih mudah menguasai situasi. Sehingga ia dapat melangkah lebih leluasa menghadapi teror traumatiknya. Maka, trauma itu sebetulnya dapat diatasi, bergantung dari seberapa besar seseorang memiliki keinginan untuk menghadapinya.

22.1.2020/arhana/



Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter