Self Editing untuk Penulis Pemula


Jumpa lagi dengan Rabu, saatnya ngobrol seru tentang tema baru. Kali ini kita akan membahas tentang self editing untuk penulis pemula. Kalau sebutnya penulis pemula, berarti kita ngobrol ringan saja tentang tema ini ya. Jangan bayangin hal-hal berat yang jatuhnya malah bikin malas untuk melanjutkan, bahkan bisa jadi malah malas menulis.

Ketika mendengar kata Self Editing, apa sih yang pertama kali terlintas di benak Sahabat?

SELF EDITING

Self Editing atau juga disebut dengan swasunting. Kalau diartikan sembarang sesuai kata atau menggunakan google translate, maka artinya adalah pengeditan diri. Namun jika dipahami secara menyeluruh mengenai kegiatan yang berkenaan dengan swasunting, kita dapat memaknainya sebagai proses sunting yang dilakukan oleh seorang penulis itu sendiri ketika naskah telah diselesaikannya.

Self editing harus dilakukan setelah naskah benar-benar sudah selesai diketik. Hal ini bertujuan agar ide penulisan tertuang secara menyeluruh dan utuh. Bukan hanya itu, tetapi juga supaya proses penulisan naskah tidak berhenti pada satu kalimat saja. Seringkali, penulis pemula mengalami kerancuan posisi ini, yang justru akan menghambat prosesnya dalam menuangkan ide.

Saya ingat ketika mengikuti sebuah seminar kepenulisan, di sana disampaikan sebuah tips dan kiat untuk melakukan self editing supaya tidak rancu dan justru menghambat proses kreatif. Yaitu, ketika menulis maka gunakan jubah penulis. Jangan berganti jubah sampai naskah yang ditulis tadi selesai. Dan ketika naskah telah selesai, beri jeda pada diri kita supaya bisa melihat naskah lebih objektif. Baru kemudian kenakan jubah editor untuk memulai proses self editing dengan menyenangkan.

Baca juga :

MENGAPA SELF EDITING PERLU DILAKUKAN?

Ketika penulis menuangkan ide-idenya, tentu semua yang tertuang masih dalam keadaan mentah. Bisa jadi, masih asal ketik dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau yang sering disebut dengan PUEBI. Hal ini disebabkan karena proses berpikir manusia seringkali lebih cepat daripada gerakan jemari pada PC atau media tulis lainnya.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengikutsertakan naskah mentah pada lomba atau event menulis bersama yang sedang diikuti. Lebih parah lagi jika kalian nekad mengirim naskah mentah itu ke penerbit untuk tujuan diterbitkan. Wah, sudah pasti naskah kalian enggak bakal dilirik. Sekali pun draf yang kalian kirim tadi idenya orisinil dan berbeda dengan yang beredar di pasaran. Hal ini berarti bahwa, kualitas tulisan tidak hanya dilihat dari isi dari sebuah naskah semata, melainkan juga bentuk atau format dari tulisan itu sendiri.

Draf artikel atau pun naskah lainnya yang sudah beredar ke tangan pembaca, selanjutnya adalah milik pembaca kalian. Bisa dibayangkan jika tulisan kalian masih dalam kondisi acak-acakan. Kosakata berulang, tanda baca acak-acakan semau gue meletakkan, kemudian kesalahan ketik bertebaran di mana-mana. Kira-kira, pesan yang ingin kalian sampaikan kepada pembaca akan sampai dengan baik atau tidak. Dan apakah pesan-pesan itu enak dibaca atau tidak? Kalau sudah acak-acakan, tidak mudah dipahami, berputar-putar, kira-kira pembaca akan tetap bertahan melanjutkan atau justru berhenti sebelum pesan tersampaikan?

Nah, itu jawabannya. Mengapa self editing itu perlu dilakukan? Karena penulis adalah penanggung jawab utama dari tulisan yang dibagikan. Ia merupakan penyampai pesan dari naskah yang ada di tangan pembaca. Maka, penulis sudah semestinya menjaga kualitas tulisannya dengan cara memastikan tidak ada kesalahan, baik itu pengetikan mau pun struktur kalimatnya. Sekali pun dalam dunia perbukuan, ada editor yang akan membantu menjadikan naskah itu lebih baik lagi.

Jadi, editing atau sunting tidak melulu tugas seorang editor melainkan juga tanggung jawab seorang penulis dalam menyampaikan pesan kepada pembaca. So, jadilah penulis yang baik.

penulis yang baik adalah pembaca yang baik

TIPS SELF EDITING ALA ARHANA

Sebagaimana penulis pemula, saya mengawali perjalanan dengan membiasakan diri dengan jeli pada hasil karya sendiri. Memastikan bahwa apa yang hendak kita bagikan tersebut sudah minim kesalahan. Meski memang kita sadari dan akui bahwa manusia tidak lah ada yang sempurna. Akan tetapi, dalam hal ini kita dapat mengupayakan untuk bisa produktif dengan cara yang baik. Yaitu, memastikan kualitas hasil yang minimal sesuai standar. Kalau produknya tulisan, maka kita dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI sebagai standar kualitasnya.

Oke, langsung saja kita bahas satu per satu tips editing sederhana ala Arhana.

Memastikan Format Penulisan

Tahap awal sebelum kita masuk pada editing content atau isi naskah, biasanya saya akan cek terlebih dahulu, apakah format penulisan sudah sesuai dengan syarat dan ketentuan penulisan? Seperti margin kanan, kiri, atas, dan bawah. Kemudian jenis dan ukuran huruf atau yang biasa disebut dengan font style dan font size. Selain itu juga ada format paragraf, apakah sudah rata kiri kanan (justify)? dst.

Membaca Ulang Naskah

Pada tahap ini, kita baca cepat naskah untuk memastikan ada atau tidaknya kesalahan ketik, penempatan tanda baca, dan kalimat tidak efektif. Ketika proses ini berlangsung, siapkan terlebih dahulu senjata untuk quality control yang akan kita lakukan. Diantaranya ada KBBI dan PUEBI. Untuk KBBI, saya biasa menggunakan versi aplikasi yang disediakan oleh pihak play store karena saya menggunakan android. Atau Sahabat bisa membuka secara online di https://kbbi.web.id. Sedangkan untuk PUEBI, saya ada file sendiri dengan ekstensi pdf. Atau versi bukunya saya menggunakan Kitab PUEBI karya Eko Sugiarto yang bisa kalian dapatkan di Togamas atau toko buku lain yang menyediakan.

Ketika membacaa ulang naskah, biasanya kita akan menemukan kalimat-kalimat tidak efektif sehingga perlu ditambah atau dikurangi. Maka, pada tahap ini juga kita perlu memastikan bahwa karakter atau kata yang dibutuhkan sudah sesuai dengan ketentuan. Biasanya pada event menulis, mensyaratkan untuk membuat tulisan sepanjang 750 - 1.000 kata, atau 3 - 5 halaman.

Editing Kata Baku dan Kesalahan Ketik

Pada tahap editing ini, seringkali kita sudah mulai low energy, sehingga untuk memulianya menjadi sebuah tantangan sendiri. So, cukup pastikan kembali naskah kita sudah "perfect" dengan cara membaca cepat. Dan gunakan tools yang sudah disediakan oleh pihak Microsoft. Saya biasa menggunakan find and replace untuk mengubah kosakata yang belum baku.


Sekali lagi, karena tulisan itu merupakan tanggung jawab penulis. Jadi, mari mulai saat ini perhatikan kembali ide-ide sudah kita tuangkan dalam tulisan. Apakah sudah layak dibagikan atau perlu ada yang diperbaiki. Jika kalian tidak yakin dengan hasil polesan sendiri, sangat disarankan untuk membagikannya terlebih dahulu kepada orang terdekat. Hal pertama yang harus kalian tanyakan adalah apakah tulisan kalian cukup dapat dipahami maksud dan tujuannya? Jika, jawabannya iya, maka bisa dipastikan bahwa tulisanmu sudah layak bagi atau kirim.

Oke, sekian sedikit ilmu yang bisa saya bagikan siang hari ini. Semoga bermanfaat dan membantu Sahabat PeKat.

Salam Literasi!

Kdr, 4 desember 2019

Related Posts

3 komentar

  1. Aku juga masih sering typo, masih sering menggunakan kata yang berulang dalam 1 kalimat, masih harus banyak belajar
    Terimakasih atas info yg bermanfaat ini

    BalasHapus
  2. Wah..makasih masukannya mbak..

    BalasHapus
  3. sangat bermanfaat . Mantabs Kak Arhana

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter