Secuil Kenangan

Ketika tulisan masih bau pensil, bermimpi menjadi seorang penulis produktif adalah sesuatu yang istimewa. Di antara jajaran kata-kata yang menurutku saat itu, hanya boleh dinikmati seorang diri. Tapi, bisa jadi itu adalah masa-masa pembuktian, masa-masa pencarian jati diri pun pengakuan. Kata seniorku sih begitu. Dan sekarang bukan lagi, tapi lebih ke aktualisasi diri. Begitu tambahnya. Sahabat PeKat bisa banget silaturahmi ke rumah virtualnya, untuk menambah bahan bacaan, pun belajar sastra dengannya. Di alamat https://kesatriakata.blogspot.com

Yaps, ini hanya lah sepenggal kisah yang ingin kuingat dan bagi. Bahwa, apa yang saat ini kupijaki, merupakan apa yang pernah kuimpikan. Dan ternyata benar, mimpi yang kita tulis, bisa jadi kenyataan. Entah bagaimana skenario Allah bekerja. Juga kapan waktu terwujudnya, meski semua itu tetap menjadi rahasia-Nya. Tugas kita hanya yakin, berdoa dan usaha. Percaya juga bahwa ketetapan-Nya adalah terbaik untuk kita.

Jadi, saat itu anganku hanya berkata bahwa nanti aku akan duduk di depan meja dan sebuah laptop di atasnya. Di samping ada jendela yang memberiku akses untuk menikmati indahnya gemerlap malam. Kecantikan malam yang bertabur bintang, dan aroma tanah yang berbaur dengan dedaunan menambah syahdu. Rasanya, aku percaya bahwa akan banyak ide mengalir dan jangkauan berbagiku lebih luas. (Baca: produktif menulis).

Saat itu aku belum mengenal blog. Media berbagi masih ada friendster dan facebook. Selain itu aku belum banyak mengenal, sekali pun sudah bisa dikatakan lancar berselancar di dunia maya. Eh, di belakang pada bisik-bisik ya? Generasi kapan ko ada friendster. Atau malah nanya, friendster itu sejenis apa. 😅 Sedikit saja nyuplik ya. Friendster itu dulu adalah juga sebuah situsweb serupa Facebook. Merupakan platform jejaring sosial.

Nah, sebelum kenal banget dengan blog. Dulu aku sempat aktif di sebuah halaman. Mungkin kalau sekarang Facebook group begitu ya. Namanya Kata -kata Indah Para Pujangga, kalau aku enggak salah ingat juga. Waktu itu memang lagi menikmati rangkaian kata-kata puitis, prosais dan sejenisnya. Apapun bisa dibagikan. Hanya saja, karena satu sebab dan pertimbangan mendalam. Akhirnya diputuskan bahwa aku harus berhenti.

Namanya mungkin juga ego masih tinggi sekali. Jadi, belum bisa betul-betul save energy atau bisa dikatakan terlalu sembrono. Saat itu, terjadi sedikit perselisihan yang bisa bikin aku benar-benar melek aturan. Benar-benar paham bahwa tulisan yang kita bikin, tetapi sudah kita bagikan ke publik. Maka, hukumnya akan berubah, jadi milik publik. Bisa dibayangkan, terlebih jika tulisan itu tidak berinisial. Dikasih inisal pun kadang masih diduplikat. Nah, apalagi kosongan. Bisa saja, sembarang pihak mengaku itu dari mana dan dari mana.

Akhirnya, sejak saat itu aku lebih save dengan tulisan-tulisan yang sudah selesai. Jarang mempublikasikan dan bisa dikatakan juga tidak pernah. Hm, ini masih perkara kecil sih. Kalau sekarang aku bisa saja mengatakan demikian. Mengingat, sekarang sudah marak buku bajakan. Maka dari itu, segala perjalanan ini membawaku jauh lebih bisa menghargai karya. Baik karya orang lain pun diri sendiri. Enggak mudah lho. 

Memulai untuk menghasilkan karya hingga finish, membutuhkan effort yang luar biasa. Sekalipun di mata kita hasilnya belum seberapa. Tapi itu bagian dari prestasi. Tanpa proses tersebut, tidak ada ceritanya Penenun Kata bisa ada di sini bersama kalian. Bener, enggak?

Perjalanan mimpi itu sangat panjang. Aku akui melelahkan. Tapi Allah selalu punya cara untuk mengembalikan energi yang hilang, entah karena lelah atau karena memang kita butuh recharge. Begitu juga diriku dengan dunia literasi. Mungkin hari ini aku masih sampai di sini. Ikut nebeng tulisan. Terus cetak bareng. Namanya antologi. Punya angan-angan nulis buku solo, meski jalannya masih setapak demi setapak. Belum bisa los kaya di tol.

Betul-betul tidak apa-apa. Kita punya target, tapi juga jangan sampai ninggalin kewajiban. Seperti apa misalnya? Pekerjaan, keluarga, dan prioritas yang memang berada di skala tertinggi. Hal-hal semacam ini, kadang bisa nulis sebentar saja sudah bisa mengembalikan mood. Menulis jadi semacam terapi akhirnya. Biar belum produktif untuk berbagi, setidaknya produktif bagi diri sendiri.

Dan, ya. Akhirnya aku berdiri di sini. Di antara kalian yang hebat dan luar biasa. Aku bisa menyerap energi positif. Berbagi sejumput ilmu yang Allah titipkan padaku. Dan belajar banyak-banyak dari ilmu yang ada pada diri kalian. Ini luar biasa tentu saja. Masyaallah ... Alhamdulillah ... Dan kemudian, salah satu kesyukuran itu wujudnya adalah ruang berbagi ini.

Semoga dengan begini, aku tidak terpenjara dalam badai tsunami informasi. Sebab apa yang sudah kita pelajari, sesungguhnya membutuhkan ruang untuk menjadi berdaya dan bermanfaat. Sehingga bukan dipelajari untuk diri sendiri, melainkan juga bermanfaat bagi lingkungan di sekitar.

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah ....
Terimakasih kepada seluruh Sahabat PeKat yang diam-diam support aku dengan doa terbaik kalian. Semoga doa-doa itu juga kembali kepada yang mendoakan. Aamiin

Wallahu a'lam

Kediri, 10 Desember 2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

10 komentar

  1. Semua butuh proses ya Mbak... Berani bermimpi juga adalah sebuah prestasi, karena tidak semua orang berani bermimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. He,em Dek ... Bahkan bermimpi itu pun sudah masuk prestasi. Dan aku baru saja terbangun darinya. Makasih ya... For everything ... Jangan lupa tinggalin note di meja makan. ☕

      Hapus
  2. Bagus kakakku keren sekali tulisannya
    #semangat

    BalasHapus
  3. So inspiring ❤️

    BalasHapus
  4. TapMantap, ternyata Kak Arhana ini anak Friendster ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Dulu iya, sempat nyobain main friendster

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter