Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 09 Desember 2019

Lihatlah Semuanya

Lukisan itu nggak hanya sekedar kumpulan gambar. -Flipped, hlm. 40-

Kutipan sederhana ini membawaku berkelana jauh ke masa enam tahun yang lalu. Di mana aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang konsen pada kasus-kasus anak istimewa. Semua yakin bahwa kita harus bisa melihat secara keseluruhan. Bukan hanya bagian per bagiannya saja. Sebab itu sama seperti kita memahami sesuatu dari permukaannya saja.

Saat itu, aku mendengar tentang bagaimana mereka menerjemahkan siapa aku. Entah, untuk apa waktu itu, yang kuingat hanya samudera dan menara. Kita itu kalau mau memahami dan menerima lingkungan (baca: adaptable) maka jadilah samudera, bukan menara. Menjadi samudera itu berarti luas. Bukan hanya wawasan tapi juga hati. Ketika hati lapang, orang itu akan seperti padi. Padi, semakin berisi semakin merunduk.

Sebaliknya, menara itu menjulang. Tapi dia sendiri. Dan sulit menerima atau menggapai, apa yang ada di sekitarnya. Karena dia meninggi. Berbeda dengan samudera yang dianalogikan untuk orang-orang yang merakyat. Mereka memiliki wawasan luas, tetapi bisa merangkul semua kalangan. Maka, aku sering mendengar luaskan samudera, luaskan samudera, dan jangan tinggikan menara.

Tapi, menjadi diriku tantangannya berbeda. Aku lebih mudah melihat keseluruhan kondisi ketika berada di luar lingkaran. Dan masih sering terjebak arus, ketika berada di lingkaran itu sendiri. Maka, butuh waktu lebih untuk mengakhiri drama persoalan yang dihadapi.

Lalu, bagaimana dengan cuplikan novel di atas?

Ya, ketika tokoh utama menikmati keberadaannya di atas pohon. Dia merasa seperti di atas awan. Kalau aku bilang sih, seperti di menara mercusuar. Yang kemudian mengamati pergerakan kapal-kapal yang sedang berlayar. Dan dia sedang mengamati wilayah sekitar. Apa yang bisa dia rasakan, lihat, dan dengar. Maka, kesatuan dari penangkapan indera itu mewujud sebuah keajaiban.

Analoginya kalau dalam kehidupan sehari-hari adalah membiasakan diri untuk mengaktifkan seluruh indera. Aku pernah beberapa kali membaca kisah, bagaimana produktifnya seseorang ketika seluruh inderanya diaktifkan. Masyaallah, aku yang memang belum sampai pada titik ini, takjub dengan cara-cara mereka melewatkan waktunya dengan hal-hal yang memang produktif. Maka, ketika kita memerhatikan apa-apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Hasilnya adalah kesatuan yang luar biasa. Dan di situlah kita seringkali menyebut bahwa itulah kuasa Allah. Yang kadang tak sampai nalar manusia. Masyaallah ...

So, yuk mulai belajar mengaktifkan seluruh indera yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Syukur-syukur dapat membantu kita mengenali tanda-tanda kasih sayang dan kebesaran Allah.

Wallahu a'lam

Kdr, 9 Desember 2019

5 komentar:

  1. Hebat kakakku, sangat bagus informasinya tersaji dengan lugas #semangat

    BalasHapus
  2. Kadang2 aku lebih suka menilai dengan sudut pandang mulut daripada telinga, hehehe. Semangat kak...

    BalasHapus
  3. Masya Allah mbak.. tulisannya keren

    BalasHapus
  4. Analogi salah satu ilmu yg sangat melekat buat mengingat sesuatu

    BalasHapus