Isyarat, Bahasaku Akankah Kau Pahami

Ketika itu aku masih baru lulus dari gedung hijau. Langkahku berikutnya membawa diri ini ke sebuah tempat asing. Di mana aku harus berbaur dengan teman-teman sejawat, memang sebagian juga masih teman semasa belajar, dan sebagian yang lain betul-betul baru. Hari itu, aku tidak langsung melaksanakan apa yang menjadi tugasku sesungguhnya. Istirahat dan briefing, dua hal ini dilaksanakan secara bergantian.

Briefing, bagiku lebih ke orientasi dari pada penguatan. Sebab, memang aku juga belum pernah mempelajari hal ini dengan sangat detail. Ah, memang belum pernah ya. Akan tetapi, sedikit demi sedikit informasi mulai memenuhi ruang imaji. Aku membayangkan akan menangani klien seperti apa. Meski saat itu posisiku masih sebagai co. terapis, tapi harus paham situasi seperti apa yang akan kuhadapi.

Anak-anak istimewa ini berada di rumah masing-masing. Tinggal bersama keluarga mereka. Kami, hanya lah orang asing yang insyaallah, atas panggilan hati, memenuhi tugas untuk membantu para orang tua memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Tujuan utamanya adalah memberikan keterampilan latih diri, supaya kelak mereka mampu menghadapi dunia dengan dirinya sendiri.

Hal pertama yang terlintas adalah kemandirian. Terbiasa ke toilet sendiri, memakai baju sendiri, makan sendiri. Ya, melakukan semua hal yang memang semestinya dilakukan oleh diri mereka sendiri. Semua rangkaian latih ini dikemas dalam wadah yang kami nama terapi. Meski pelaksanaannya, kami bahkan nampak seperti sedang belajar di bangku kanak-kanak, atau bahkan bermain. Tapi, memang di dalam keseluruhan aktivitas tersebut mengandung beragam nilai. Di mana kesemuanya itu jika dilihat secara menyeluruh, akan membentuk sebuah karakter pribadi yang mandiri dan terlatih.

Selama sesi belajar ini, aku seringkali terlihat tak bergairah. Banyak hal yang harus kupelajari, salah satunya adalah justru mengalahkan diri sendiri. Aku sama sekali tidak menyukai dunia bertemu dengan orang lain. Sekali pun aku terlihat baik-baik saja, tetapi ada sesuatu yang sangat besar di benakku. Tentu saja itu sangat mengganggu, bahkan ketika aku harus berlatih menjadi terapis.

Ada kalanya, aku tidak menggunakan bahasa sebagaimana mestinya berbicara dengan orang lain. Jika memang diperlukan, aku harus melakukan gerakan yang akan lebih mudah dipahami anak-anak. Atau pun menyederhanakan bahasa. Biasanya ini dilakukan ketika dalam kondisi tertentu saja. Pengalaman semacam ini sangat melekat dalam benakku. Bahkan bisa dikatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan dunia.

Sebelumnya, aku hanyalah sesosok yang angin-anginan. Maka menjadi terapis tidak pernah masuk dalam list cita-citaku. Hanya saja, ternyata jalan itu tetap harus kulewati untuk sampai pada pencapaian yang saat ini aku rasakan hasilnya. So, jangan menyerah dan menganggap remeh, apa yang saat ini kamu dapatkan, meski sebetulnya semua itu tidak pernah ada dalam daftar keinginanmu.

Terimakasih sudah menyimak, mari kita renungkan kembali, pencapaian apa yang sudah membuat kita bersyukur hingga detik ini.

Kdr, 15/12/2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter