Dua Sisi Mata Uang

Sedih dan senang, dua hal berbeda yang saling bersanding. Seperti mata uang dengan dua sisinya.

Dua hal ini kata sahabat saya, tidak bisa dipisahkan. Artinya, kita tidak bisa memilih untuk sedih saja atau pun senang saja. Sebab semua sudah ada timbangannya, ada takarannya, ada ukurannya. Maka, mereka berdua adalah penyeimbang satu sama lain.

Keberadaan kedua emosi ini, seringkali menimbulkan gejolak. Di mana emosi sedih membawa gejolak dan badai negatif. Sedangkan emosi senang membawa energi positif. Jika kemudian kita menyadari akan adanya sistem keseimbangan ini. Maka yang perlu diperhatikan adalah bersedih dan senang lah sesuai ukurannya. Sebab keduanya akan hilang bersama dengan waktu.

Semua hal yang kita hadapi hari ini, tanpa kita sadari memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Entah sebabnya apa, namun memang keduanya ini saling bersisian. Dan, satu lagi karena tidak ada kesempurnaan atas diri makhluk. Itulah mengapa, kedua hal itu hadir saling mengisi dan menyeimbangkan.

Bisa jadi kebahagiaan kita hari ini adalah ujian yang tidak kita sadari, maka sudah sebesar apa kita mengingat-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur atas kebahagiaan tersebut. Sebaliknya, bisa jadi juga hal yang membuat kita sedih adalah pelajaran yang memang harus kita petik hikmahnya, supaya tak lekang ingatan kita oleh hal-hal yang membahagiakan.

Terlepas dari itu semua, sejatinya Allah sedang mengajarkan makna-makna kehidupan kepada kita. Mengirimkan sinyal-sinyal kasih sayang dan kuasa-Nya. Lalu, apakah kita sudah menyadari kehadirannya?

Seringkali saya sendiri lupa, dan memilih untuk lebih peduli pada rasa sedih yang tiba-tiba menyapa. Mestinya, saya paham bahwa ia hanya sekedar ingin menyapa saya. Yang artinya, tak lama ia akan berhadapan dengan saya. Tetapi, lelah justru lebih sering menggandrungi si sedih, sehingga pertemuan itu bukan hanya sekedar sapa melainkan cengkerama yang waktunya pun tak bisa dikatakan sebentar. Jika sudah demikian, langkah apa yang akan saya ambil. Apakah berdiam diri merupakan pilihan terbaik? Atau tetap bergerak dan sedikit demi sedikit menanggalkan pedih yang kian kentara.

Laa haula wa laa kuwwata illabillahil'aliyyil'adziimi

Kdr, 9 Desember 2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

1 komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter