Bulan Hujan

Bersama hujan, aku merenda kisah ini lagi...

Tadi sore, samar-samar aroma tanah basah memenuhi ruang indera. Bisa dipastikan hujan tengah dalam perjalanan menyambangi kotaku. Meski ribuan suara memintaku untuk segera pulang, aku masih bergeming. Meminta untuk menangguhkannya, sebentar saja. Bukan. Tapi ini rencana di luar duga. Aku masih duduk di sini sembari sesekali menghirup aroma basah yang terbungkus beragam aroma lainnya.

Aku masih di sini, menikmati bulan hujan bersama nyala dimar dan sesekali hembusan napas sang bayu menerpa wajah kuyu. Kupikir tidak mengapa, suasana ini sejenak saja mengusir penat yang sejak tadi sudah menggelayut manja di bahuku. Mungkin malam ini akan menjadi malam pertamaku bercengkerama dengan dingin dan suasana haru.

Di sini tidak ada cokelat hangat, meski pun sejak tadi aroma-aroma itu menggodaku. Mungkin saja hanya delusi. Sebab hujan selalu membawa cerita baru. Cerita tentang rinduku yang melimpah dan seringkali tumpah. Kali ini ia kuyup dan terserak seperti terhempas dan pecah menjadi kepingan, bersama hamparan debu yang kadang menempel sebentar lalu menghilang.

Kepingan basah itu perlahan merambati hati yang kian ngilu. Entah akan berapa lama aku membutuhkan waktu untuk memungut puing teka-teki-Mu.

Bersama hujan di malam yang baru, aku menitipkan sebait rindu. Mungkin setelah reda nanti, kau sempat singgah untuk memungut titipanku. Bisa jadi ia akan menemuimu di antara pinta dan sela rindu.


Dan,
aku masih di sini. Menikmati bulan hujan, bersama rindu yang mengasap bersama aroma cokelat hangat hasil seduhanmu.

Kediri, 5 Desember 2019

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter