Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Sabtu, 23 November 2019

Super Writer: Menulis Buku Semudah Bernafas

Mulai Baca
Buku Super Writer

Caraku melumpuhkanmu hanya dengan membaca buku seperti ini. Kedengarannya sangat sadis ya Sahabat. Hehehe,,, tentu saja tidak. Jadi, sepekan ini aku sedang mengikuti challenge di ODOP yang namanya Reading Challenge ODOP disingkat RCO. Seharusnya itu kalimat pembukanya tidak seperti itu ya? Hehehe, berasa lucu sendiri.

Alhamdulillah, bagiku buku selalu menjadi kado istimewa. Memiliki jalan ritualnya sendiri. Entah sejak kapan aku mulai mengamatinya. Tapi yang jelas hasil pengamatanku mengatakan bahwa, apa pun buku yang kubaca, mereka adalah jawaban dari setiap tanya. Dan Allah memiliki jutaan cara untuk memberikan jawaban yang tepat kepada pinta kita. Betul apa betul Sahabat?

Nah, buku Super Writer ini salah satunya. Jadi sudah sejak bulan-bulan lalu, aku sedang memikirkan langkah tepat untuk memulai nulis buku. Hanya saja, ada saja alasan yang mematahkannya. Anggap saja memang motivasi nulisnya juga belum kuat ya. Dan biasanya, kalau ada promo launching, aku selalu stay calm untuk enggak buru-buru klik tombol add to cart. Ya semakin sadar bahwa kebutuhan bukan hanya buku saja, soalnya kalau lihat buku sering lapar mata. Jadi harus selalu mengaktifkan tombol filter antara kebutuhan dan keinginan. Bukan hanya itu, langkah ini juga sebagai bentuk upayaku untuk meminimalisir "tumpukan lapisan kayu".

Bukan tidak baik ya, sebenarnya investasi leher ke atas memiliki keuntungan yang luar biasa. Hanya saja, kita juga perlu paham bahwa tidak kemudian semua buku yang membuat kita bling-bling itu kita butuh. So, bijaklah untuk membelanjakannya ya. Dan tentu saja sesuaikan juga dengan bujet kita.

Kenapa aku bilang bahwa buku merupakan kado istimewa untuk menjawab tanya? Karena di rak masih banyak buku yang mulus dan halus tanpa cela, karena masih rapi dengan bungkusnya. Dan dia akan terbuka saat si pembaca ini membutuhkan jawaban. Biasanya hal itu terjadi tanpa direncana bahkan tidak disadari bahwa sebenarnya lakunya itu dalam rangka mencari jawaban, seringkali hanya merasa butuh refreshing saja.

Dan buku Super Writer karya Ahmad Rifa'i Rif'an menjadi pilihan yang tepat untuk memulai tantangan pekan pertama di RCO. Tebalnya memang melebihi standar minimal, yaitu 70 halaman. Sedangkan buku ini berjumlah 160 halaman. Tapi, apa yang kusangka ternyata tak kudapati. Kupikir bakal mengkerutkan dahi dan tak bisa baca cepat. Alih-alih baca cepat, aku justru betah berlama-lama. Untuk ukuran buku non-fiksi, buku ini ringan tapi berbobot. Ya, sesuailah dengan value penerbitnya. Yang lebih cenderung menerbitkan buku-buku how to.

Jadi, Kak Rifa'i dalam buku SW ini membedah tuntas teknik penulisan buku yang sebetulnya mungkin sering kita lakukan. Hanya saja, wawasan yang kita miliki enggak sampai sana. Jadi terlewat begitu saja. Dan bersyukur ikut promo launching kemarin, jadi bisa menikmati ilmunya lebih cepat dan memang hadir di waktu yang tepat juga.

Dari sekian banyak kutipan yang kugarisbawahi saat membaca buku ini. Ada satu yang paling menohok. Dan rasanya kena tamparan keras dari sini. Coba perhatikan kutipan berikut:
Segagah apa pun kosakata yang dipakai, sementereng apa pun kesan ilmiah dan intelek yang dicitrakan, tetapi jika tidak sesuai dengan cakrawala audiens, pastilah "ilmu" yang disampaikan akan sia-sia belaka. Dan jelas ini bukanlah watak cendekiawan sejati. -Edi Mulyono, dalam Ahmad Rifa'i Rif'an, 2019-
Apa yang kalian dapat dari kalimat tersebut?

Kalau aku, ini adalah bahasa lain dari teguran yang pernah disampaikan senior kepadaku. Sekali pun dalam menulis, aku tidak pernah menasbihkan diri menjadi ini dan itu. Sebab aku menuliskan apa yang kupikirkan dan apa yang mengalir dalam kepalaku. Hanya saja, mungkin aku lupa, bahwa tulisan yang sudah kita bagikan kepada pembaca, itu milik pembaca. Aku lupa, bahwa penilai sesungguhnya adalah mereka. Dan ternyata tulisanku itu berkesan demikian, sok intelek yang justru menunjukkan betapa bodohnya aku, kemudian sok ilmiah yang membuat pembaca kurang kena terhadap pesan dari setiap tulisanku itu. Betul-betul sebuah tamparan.

Jadi, di sini aku kemudian juga mengenal bahwa ada ilmu yang "sia-sia" karena bungkusnya kurang tepat. Maka, sebagai manusia lumrah yang sejatinya selalu berbenah. Tak ada salah jika pernah melewati masa-masa seperti itu, tapi jangan lupakan untuk segera bangkit dan memperbaiki. Kita tidak mau kan jika hanya menulis untuk kesia-siaan?

Oleh karena itu Sahabat, menulis itu mudah kata Kak Rifa'i. Mulai dengan menumpahkan seluruh isi yang ada di kepala kita, sampai habis. Perkara nanti apakah dia terstruktur atau tidak, sesuai kaidah atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting tuang dulu semua isi dalam tangki ide kita. Kalau sumber lain menyebut, endapkan dulu tulisan itu sebelum kemudian disusun kembali sesuai dengan kaidah yang tepat.

Secara sederhana sesuai judul bukunya. Kak Rifa'i menjelaskan dengan gamblang, bagaimana menulis buku menjadi sangat mudah. Bisa dengan cara kompilasi artikel yang kita miliki, antologi bersama kawan menulis, dan beragam metode lainnya. Tentu saja, semua itu disertai dengan contoh dan praktik yang bisa kita kerjakan. Sehingga semestinya, setelah membaca buku ini, kita sudah bisa memulai untuk menulis buku masing-masing.

Satu lagi pesan di buku yang ingin kusampaikan pada Sahabat PeKat, bahwa menulis adalah salah satu upaya kita untuk menyampaikan pesan. Maka, dalam hal ini sederhanakanlah bahasa pesan itu sesuai dengan level audiens yang akan kita sasar. Sehingga, buku kita dapat diterima dengan mudah tanpa harus berpikir panjang untuk memutuskan memilikinya.

Semoga ulasan singkat ini memberi wawasan baru bagi teman-teman dan khususnya saya pribadi, untuk dapat segera menuntaskan proyek yang tak kunjung di mulai. Hehehehe

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 23 November 2019

Selesai Baca
Buku Super Writer

3 komentar:

  1. Bagus sekali kakakku, senang membacanya
    #semangat

    BalasHapus
  2. Semangat menulis kak.. bagus review bukunya

    BalasHapus
  3. Review buku yang keren dan bikin tambah semangat menulis.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-