Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Minggu, 03 November 2019

PENULIS RASA: Pena Pejuang

Menulis bukan hanya soal apa yang akan dituangkan melalui pena. Melainkan hikmah apa yang terkandung di dalamnya. Sekalipun aku harus menulis cerpen dan sejenisnya.

Setelah mengikuti event daring setahun lalu, giat literasiku semakin mengangkasa. Jejak-jejak pena semakin lincah dan luwes, meski kadang terbentur kerikil kecil di perjalanannya. Aku pun mulai menyusun satu per satu kata. Meski sesekali aku menjadi pejuang deadline, tapi kontribusi itu perkara tanggung jawab. Bagaimana kemudian aku akan mengakhiri apa yang sudah kumulai.

Biidznillah,  naskah kedua pun turun gunung dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aku membagikan kepada dunia tentang kisah sederhana yang pernah melintas di garis kehidupanku. Menulis benar-benar telah membuatku salut dan terharu luar biasa. Entah, dari mana aku mendapatkan warisan ini. Tapi yang jelas aku bahagia bisa membersamainya dalam diriku.

Gara-gara menulis aku mengesampingkan apa yang menjadikanku tak berdaya. Akhir masa kuliah mestinya aku bisa menyandang gelar baru bersama seluruh rekan seangkatan. Namun takdir berkata lain, Allah menghendakiku untuk mundur satu semester. Yang akhirnya menjadikan menulis sebagai pokok masalah yang akan kuangkat dalam sebuah rangkaian eksperimen.

Maka, setelah semua perjalanan itu tertempuh. Bukan lantas aku akan melepaskannya begitu saja. Perlahan mimpi berliterasi itu tersemai dalam imajinasiku. Memenuhi ruang ingin yang mengejawantah dalam giat yang tak terukur saat itu. Aku berusaha menikmati perjalanan ini. Hingga perjuangan sang pena rasa tak pernah sia-sia.

Tinta itu membasahi kanvas kehidupanku dengan bijaksana dan tutur yang menenangkan. Mengajakku merenung dan berkontemplasi bahkan kadang diskusi dengan mereka yang seminat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar