PENULIS RASA: Menulis Menyehatkan



Aku adalah rasa yang tertuang dari tinta sebuah pena. Menghamburkan berjuta kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang puanku rasakan. Sesekali ia merobek kanvas tempatku tertoreh. Sebut saja kertas dari buku hariannya. Dan seringkali aku menyaksikan mata itu sembab ketika sedang mengayunkan tubuhku.

Kamu tahu? Sekalipun aku ini tak disadari keberadaannya. Bahkan mungkin cenderung dilupakan maknanya. Tapi aku bahagia. Karena sudah membantu puanku melegakan hatinya.

Seringkali ketika sudah mulai aksi, ia tak segan untuk menghabiskan berlembar-lembar helai. Dan yang dikisahkan tentu saja beragam. Sebab aku tak hanya satu. Kadang rupaku yang kecewa ia suguhkan pada kanvas putih dengan bungkus gang menarik. Dan jadilah si putih tak tampak semakin pucat.

Dan seringkali rona kepedihanku yang menemaninya berhari-hari. Menghasilkan ribuan huruf dan ratusan kata, seolah rutinitas ini menjadi pelengkap harinya. Bahkan tak satu pun hari terlewat tanpa satu pesan singkat. Iya, kadang hanya satu bait saja. Dan seringnya berbaris-baris.

Puanku ini memang tak pandai bicara. Menyembunyikanku dengan caranya yang elegan ini, membuatku merasa dihargai. Pelan-pelan kehadiranku membuatnya jatuh hati. Semakin giatlah lagi ia bercerita, ini dan itu. Dari ujung ke ujung, dan dari waktu ke waktu.

Geliatku semakin diperhatikan saat ia menyadari ada sesuatu yang tak biasa. Ada yang berbeda dengan dirinya, dan jika kuperhatikan sebab efek dari rutinitasnya. Apa kau tahu rutinitas yang mana? Ya, benar sekali menulis.

Meskipun tulisannya saat itu tak beraturan, suka-suka dan moody. Tapi, justru menimbulkan vibrasi positif. Sebab ia selalu jujur tentangku dan terhadapku. Tak peduli mereka mengatakan apa. Tapi ia jujur saat mengalirkanku. Dan tak sekalipun meninggalkanku seorang diri dengan pikiran buruk. Dan aku, bahagia bersama lembaran-lembaran catatannya.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter