Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Minggu, 03 November 2019

PENULIS RASA: Closing

Tak ada yang tiba-tiba. Puanku merangkai kata bukan mendadak tanpa peringatan. Hati yang selalu membawanya berima dan menjadi celah untukku teralir suka cita. Meski kadang tersendat dan tak menemukan jalan kembali. Tapi aku selalu punya cara untuk membuat Puan ingat dan menemukanku lagi.

Aku dan Puan adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisah. Mendengar semua ide yang terlontar oleh  mulut memori, membuatku gundah sekaligus bahagia. Sebab puanku tak mesti lega dalam berkarya. Ada saja yang menariknya kembali atau sekedar menjadi distrak.

Rasa, aku menjadi pengiring pada setiap paragraf. Apakah itu tentang irama atau sumbang yang kuhasilkan. Hingga orang lain memahami tentang keindahan itu bukan hanya berupa jejak langkah tetapi juga rangkaian. Dan di sini ia tak hanya untuk dirangkai.

Rasa, penutup itu termasuk ke dalam bagian yang tak terpisahkan. Apakah bahagia, menegangkan, atau justru terasa sangat tak masuk akal.

Puan,
Langit senja menerbangkan segenggam gulanaku. Berarak awan dan sesekali meninggalkan jejak lebam. Aku tak kan putus membiarkanmu terlalu lama bergulat kesedihan. Meluruh bersama puing-puing bernama air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar