Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Kamis, 21 November 2019

Menulis Menyehatkan

Bicara tentang healing, menulis juga termasuk dalam kategori media untuk healing. Hanya saja ada proses dan teknik khusus untuk mencapai tingkat tersebut. Meskipun demikian, sahabat PeKat tidak perlu khawatir, karena proses dan tekniknya tidak memerlukan latihan khusus. Sahabat PeKat hanya perlu memerhatikan instruksi yang diberikan oleh fasilitator. Atau bisa juga dilakukan secara mandiri.

Akan tetapi, pada sebagian kasus proses ini menimbulkan efek yang mungkin membutuhkan pendampingan. Tetapi, sekali lagi sahabat PeKat tidak perlu khawatir juga akan hal itu. Karena ini bisa kita lakukan seperti saat menulis buku harian. Hayo, siapa yang bilang tak pernah menulis buku harian? Hampir sebagian besar dari kita pernah membuat catatan harian. Bagaimana pun bentuknya.

Iya, karena sejatinya tulisan yang menyehatkan itu ya tulisan di buku harian sahabat. Hanya karena bentuknya beragam, maka efek terapinya pun berbeda masing-masing orang. Bergantung pada tingkat kedalaman topik yang dituliskannya.

Ada orang yang bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan sangat mudah. Tetapi ada juga yang untuk memulainya pun sulit. Dan ada yang hanya mengutarakan permukaannya saja. Maka, ketiga tipe tulisan ini tentu saja memberikan dampak yang berbeda bagi penulisnya.

Sebelum beranjak terlalu jauh, apa sih healing itu? Kapan healing dilakukan? Dan apa efek yang ditimbulkan selama proses?

Menarik, bukan? Yuk kita kupas satu per satu.

Healing adalah penyembuhan. Ya, secara bahasa healing berarti penyembuhan. Lalu bagaimana menulis bisa bekerja sebagai media penyembuhan? Sip.

Menulis itu salah satu media penyembuhan, dan ini benar sekali. Karena ternyata menulis memiliki beragam manfaat. Tapi merujuk pada hasil penelitian James W. Pannabeker, bahwa menulis yang akan menghasilkan efek terapi adalah menulis yang dilakukan secara kontinu selama 15 menit setiap sesi. Lalu, apa yang ditulis? Yang ditulis adalah semua pengalaman pahit yang pernah terjadi. Baik di masa lampau maupun masa sekarang.

Maka, dalam kasus-kasus tertentu proses ini harus didampingi tenaga ahli. Apakah itu dokter atau psikolog. Kenapa? Karena beberapa kasus menunjukkan bahwa efek dari terapi ini adalah adanya gangguan fisik. Bisa jadi gastritis selama ini bukan karena terlambat makan. Tetapi sebab adanya persoalan hidup yang terkadang belum mampu diungkapkan. Sehingga bernaung terlalu berat pada pikiran, inilah yang seringkali membuat seseorang terkena serangan fisik. Dan keluhan fisik ini masing-masing orang berbeda. Sedangkan keluhan itu sendiri menyerang pada bagian tubuh yang lemah.

Untuk teknik lengkap terapi, teman-teman bisa merujuk ke sini. Pada salah satu penelitian J.W. Pannabeker memberikan instruksi yang berbeda untuk respondennya. Di mana ada kelompok yang harus menuliskan luka batin yang terjadi di masa lalu. Apapun tentang luka batin tersebut, peristiwanya, apa yang dirasakan, dan dipikirkan. Kemudian ada kelompok yang diminta untuk menuliskan kegiatan sehari-harinya. Proses ini dilaksanakan selama empat hari berturut-turut. Selama 15 menit per sesi.

Dan ternyata setelah hasilnya keluar, keduanya menunjukan perbedaan yang signifikan. Kelompok yang menulis luka batinnya, menjadi lebih terorganisir dan rileks dalam menjalani kegiatan harian. Keluhan fisik yang mungkin muncul selama proses sampai berakhirnya proses berangsur normal. Sedangkan kelompok yang hanya menuliskan daily activity tidak menunjukkan perubahan serupa.

Maka, sejatinya proses terapi di dalam menulis ini ada pada seberapa jauh kita berani mengambil langkah. Seseorang mengatakan bahwa ada perubahan besar yang terjadi dalam dirinya sejak mengenal terapi menulis. Selain menuliskan hal-hal yang menyakitkan secara acak, artinya kita tidak perlu memerhatikan kaidah menulis, dalam hal ini sesuai EYD dst. Karena yang kita perlukan hanya menyalurkan apa yang mengendap di kepala.

Akhiri tulisan tersebut dengan ungkapan yang reflektif. Seseorang akan mengalami proses seperti segitiga. Bergerak dari dasar, semakin naik dan meruncing (fase pelepasan emosi terdalam), kemudian turun. Ketika kembali ke posisi di bawah ini, ia sudah berada dalam masa release. Maka, ini adalah tahap yang paling krusial karena berkenaan dengan bagaimana seseorang melihat dan menilai suatu peristiwa tersebut. Bagaimana pula ia memaknai diri dan rangkaian peristiwa yang terjadi.

Semoga, yang sedikit ini bisa diambil manfaat.

Wallahu a'lam bishshowab


Kediri, 21 November 2019

3 komentar:

  1. Mantaaap. bangga menjadi sahabat PeKat. hihihi

    BalasHapus
  2. Masyaa Allah, Mba Na, makasih sharingnya... Lima belas menit setiap hari ternyata cukup yah, hmmm semoga bisa istikamah deh minimal 15 menit sehari. Hehehe

    BalasHapus
  3. ah setuju sekali saya :)

    blognyaa rapi dan enak dibacaa, semangat :)

    BalasHapus