Komunikasi : Tidak Hanya Berbicara

Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik.
Kita sering mendengar ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan akhir-akhir ini, kalimat sederhana sarat makna itu menjadi salah satu bahan perenunganku.

Mengapa kemudian seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, maka dia akan menjadi pembicara yang baik pula? Sekarang kita bicara ini dalam konteks perspektifku ya. Dan kupikir semua orang bebas memaknai kalimat ini.

Seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, akan menangkap informasi atau pesan dari lawannya secara menyeluruh. Tidak sepotong-potong yang kemudian menimbulkan respon tak utuh pula. Kadang dalam kehidupan, kita menemui beberapa kasus, di mana orang suka sekali memotong pembicaraan orang lain. Menengahi penjelasan yang diberikan orang lain. Sebab, yang bersangkutan merasa sudah paham. Padahal, boleh jadi informasi yang disampaikan itu berbeda dari apa yang dipahaminya atau yang sudah pernah didengar.

Oleh karena itu urgensi dari mendengar ini aku pikir sangat penting. Kita tidak bisa serta merta jadi pendengar yang baik jika tidak dilatih. Dan kebiasaan memotong pembicaraan pun termasuk dalam kategori ketidaksopanan. Merupakan perilaku yang menyalahi adab berkomunikasi.

Dan hal-hal seperti ini yang justru seringkali memicu terjadinya gesekan bahkan perdebatan yang tak berkesudahan. Oleh karena itu, perlu kita pahami bersama bahwa komunikasi itu tidak melulu soal apa yang disampaikan saja. Tapi, bagaimana kemudian kita bisa menerima informasi yang disampaikan dengan utuh. Sehingga, jalur komunikasi tersebut tidak timpang atau bahkan memicu hal yang tak diinginkan.

Namun demikian, kita tidak bisa selalu memaksa orang untuk bisa mendengar apa yang kita sampaikan. Tidak selamanya kita menjadi individu penyampai pesan. Ada kalanya kita lah yang menerima pesan. Dalam konteks ini, komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Berbeda dengan pesan yang disampaikan melalui media seperti ini, maka akan muncul aturan lain lagi.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Oleh karena itu, untuk tetap menjaga jalin silaturahmi dengan orang lain tetap baik. Salah satunya adalah dengan mematuhi adab berkomunikasi. Jika tidak boleh menyela pembicaraan orang lain, maka bersabar untuk mendengarkannya hingga selesai. Bahkan, pelajaran ini dulu sudah disampaikan sejak pendidikan dasar.

Lalu, apakah kemudian hari ini krisis tata krama telah sangat pudar? Sehingga manusia hanya mengerti bahwa komunikasi itu sekedar berbicara. Aku yang tua maka harus didengarkan. Aku yang tua maka harus diikuti. Apakah demikian? Let's talk with our heart. 

Semoga kita termasuk ke dalam golongan mereka yang paham bahwa menghormati hak orang lain termasuk menghargai dirinya sendiri. Tidak menyela ucapan orang lain, termasuk ke dalam menghargai diri sendiri. Sehingga, bukan hanya menuntut orang lain harus menjadi tapi, kita lah dulu yang harus menjadi.

For things for change, I just change first.

Kediri, 26 November 2019 

Related Posts

There is no other posts in this category.

11 komentar

  1. "Seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, akan menangkap informasi atau pesan dari lawannya secara menyeluruh. Tidak sepotong-potong yang kemudian menimbulkan respon tak utuh pula." Arhana, 2019

    Mantap nih Kak, eh tapi aku ada sedikit ganjalan nih, mungkin unek-unek tentang tulisannya Kak Arhana ini. btw, tulisan ini non-fiksi kan? beberapa kata yang Kak Arhana kutip pastinya berasal dari seseuatu yang pernah didapatkan yakan? entah itu buku, artikel, perkataan orang atau tayangan dalam media elektronik.
    apa itu perlu dicantumkan sumbernya di bawah postingan?

    hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak...
      Benar sekali. Tapi dalam proses penulisan teks ini, enggak sama sekali ngutip. Jadi, semacam mengolah ulang informasi yang diterima sih Kak. Mungkin semacam opini kali ya?

      Hehe, but sure thanks udah kasih advice, Kak.

      Hapus
  2. Bener banget ini. Apalagi di Indonesia komunikasi juga ada unggah ungguhnya

    BalasHapus
  3. Suka dengan tulisannya. Semangatt

    BalasHapus
  4. Itulah yang seringkali memicu sindrom gagal paham. Ketika kita enggan menyimak sebuah informasi secara utuh ...

    Wah, nice artikel mba Na, selalu suka sama gaya tuturnya, empuk... πŸ₯°πŸ˜

    BalasHapus
  5. Nice artikel mbaaa. Terimakasih

    BalasHapus
  6. Keren mbak tulisannya..

    BalasHapus
  7. jadilah menjadi pendengar yang baik *catet dulu

    BalasHapus
  8. Baru pertama mampir di sini 😊

    BalasHapus
  9. jadi inget berita agnes mo yg lagi viral😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter