Komunikasi: Bahasa Bukan Sekedar Kode

Keteraturan dalam sebuah tatanan adalah sesuatu yang didambakan oleh sebagian orang. Karena keteraturan mungkin bisa bernilai sebuah kedamaian atau tempat terbaik. Hanya saja, kadang apa yang sudah kita rencanakan terjadi di luar kendali kita. Nah, bagaimana kemudian orang-orang yang pro keteraturan ini bisa toleran terhadap situasi uncontrol tersebut.

Dalam dunia sosial, keterkaitan satu dengan yang lain bisa terjadi karena adanya interaksi. Berbagai macam bentuk interaksi, salah satunya adalah dengan komunikasi. Dalam hal ini berarti ada pesan yang disampaikan dan diterima selama proses interaksi. Pola komunikasi ini melibatkan satu bentuk kode yang kemudian kita sebut sebagai bahasa.

Selama pesan yang disampaikan sesuai dengan diterima, berarti tidak ada masalah dalam proses komunikasi. Sekali pun mungkin, orang per orang kurang bisa memahami struktur kalimat yang benar. Tapi, pesannya sampai. Ya, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi proses komunikasi atau pun interaksi ini.

Nah, bagaimana kemudian yang terjadi pada individu yang memiliki kecenderungan control freak? Semua hal harus sesuai dengan apa yang diinginkan. Sementara lingkungan tidak memadai untuk bisa setara dengan apa yang dia mau.

Si control freak ini pun beragam bentuknya. Ada yang hanya bisa bicara tanpa do something more, ada juga yang justru bukan hanya mengontrol, tapi dia juga terjun langsung pada medan. Sehingga, Si CF ini tidak asal menentukan dan memerintah. Sebab semua sudah pada standarnya. Lalu, apa jadinya jika si CF ini juga seorang dengan sikap konformitas tinggi?

Udah gila kontrol, dia juga memenuhi standar masyarakat banget. Kalau sifat dan sikap tersebut tidak mengganggu hak orang lain, tentu tidak akan jadi masalah. Tapi, bagaimana jika kemudian sikapnya ini dipaksakan kepada orang-orang yang menurutnya harus sesuai dengan keinginannya? Tentu, akan menimbulkan konflik. Jika tidak adu argumen, yang bisa jadi tak berujung, juga bisa adu yang lain.

Kondisi-kondisi demikian ini, merupakan kondisi internal bagi pelaku. Dan merupakan kondisi eksternal bagi orang lain. Beragam situasi, sifat dan sikap manusia semakin banyak bermunculan dewasa ini. Dan mirisnya nilai toleransi semakin meluntur. Kalau pun ada, itu hanya sebagian kecil orang saja.

Jadi, sebetulnya semua orang itu memiliki sisi unik masing-masing. Oleh karena itu, perlunya memahami adab bermuamalah, untuk meminimalisir terjadinya gesekan. Bukan berarti meniadakan sama sekali, karena manusia masih memiliki unsur salah dan dosa. Sehingga menjadikannya makhluk yang memang tak sempurna. Ada peluang untuknya membuat kesalahan sehingga gesekan terjadi. Hanya saja, bagaimana kemudian batas toleransi bisa membuat mereka saling sadar dan bisa memahami.

Kembali lagi, tidak semua hal bisa kita kontrol sesuai keinginan kita. Yang bisa kita upayakan adalah apa yang menjadi tanggung jawab kita. Selama apa yang kita lakukan tidak menyalahi hak orang lain, maka sah saja tindakan yang kita lakukan. Satu lagi, manusia memang makhluk koding, yang artinya kode berbentuk bahasa untuk dapat dipahami rasa dan pikirannya.

Oleh karena itu, membangun komunikasi yang baik dan produktif akan menjadikan sebuah interaksi antar manusia ini menjadi efektif. Apa yang diinginkan disampaikan, apa yang ditolak didiskusikan. Jadi semua melewati mediasi berupa kompromi. Bukan saling kode, menunggu satu sama lain menjadi peka. Dan pada akhirnya, semua itu akan menemukan pelengkap, untuk bisa tumbuh berdasarkan fitrah dan menjadi manfaat bagi lingkungan.

Kediri, 24 November 2019


Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter