Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Rabu, 27 November 2019

Euforia Rasa: Rindu dan Hujan yang Basah

Alhamdulillah,
Segenggam ucapan itu bergemuruh memenuhi ruang bernama hati. Gerimis tidak hanya membasahi seluruh ruang di luar diriku. Tanah kering mengeringkan itu kini kuyup oleh gerimis ritmis yang Allah kirimkan, tepat hari ini.

Setelah sekian purnama terlewati tanpa aroma petrichor nyata, hari ini aku tak perlu lagi mengandaikannya hadir. Sebab ini nyata, gerimis itu nyata, desau angin yang tadinya hanya semilir, kemudian menjadi sangat ricuh saat hujan mulai menyapa, dan itu nyata. Apalagi lagu yang memenuhi ruang dengarku, meski hanya melalui dunia yang terlipat, ia tetap nyata.

Alhamdulillah,
Rindu itu menyapaku dengan lebih jelas lagi. Imaji berkelana menyusuri setiap jejak yang mesti dihampiri. Berhenti sesekali untuk sekedar menyimpan aroma kenangan. Memenuhi kantong bekal, untuk nanti kita buka saat mata hendak terpejam sebab lelah menggelayut tanpa rasa. Rindu yang memenuhi bekal ajaib itu yang akan menetralkan semua.

Aroma ini yang membuatku terbang, berputar dan mengitari pusaran. Rasanya basah yang membuat lega selega-leganya. Air hujan ini rembes, tanpa penghalang. Meninggalkan jejak kuyup pada diri yang sengaja menari di bawahnya.

Dan ini, lagi-lagi tentang rindu yang menguar bersama aroma hujan yang menghampiri tanpa kabar. Semoga alveoliku mampu mengembung tanpa meletus, menangkap kemudian menyimpan. Memasok oksigen ke segala penjuru, untuk kubawa beberapa waktu lagi. Sampai, rindu itu benar-benar terbayar.

Alhamdulillah,
Tak ada ungkapan yang lebih indah selain syukur yang tiada henti. Nafas ini tercemar petrichor yang mengagumkanku. Membuatku runtuh dan luruh bersama aroma lain yang tak mampu menghapus bau tanah basah. Sekali lagi, perlahan menyesapi dan menempati seluruh ruang yang dilewati, hingga sampai pada titik terdalam, bernama kalbu.

Sampai jumpa lagi....

Kediri, 27 November 2019

2 komentar: