Bicara Baik atau Diam

Meski tidak semua, tapi ada jenis manusia yang lebih mudah menjustifikasi dari pada dengan lemah lembut klarifikasi. Apakah dalam kehidupan sehari-hari, kalian pernah mengalami hal ini? Atau baru-baru ini sedang mengalami hal tersebut? Mungkin juga malah sudah menjadi konsumsi setiap hari, ya?

Apapun itu Sahabat, menurut kalian lebih baik yang mana? Atau mungkin kalian punya pandangan lain terkait isu ini? Secara umum kalau aku pribadi, sebelum kita mengadili, tentu saja ada proses membuktikan. Seperti halnya saat Pihak Kepolisian yang akan membuat keputusan apakah seseorang akan diberi predikat tersangka atau bukan. Semua itu perlu perjalanan panjang. Nah, apalagi yang hanya sekedar bicara.

Jika komunikasi itu bukan hanya sekedar bicara dan memiliki tata aturannya, maka begitu juga dengan cara kita menilai dan menyampaikan hasil dari pengamatan. Orang yang mengamati mestilah lingkungan luar yang secara tidak sadar berebut masuk untuk menjadi "tahu" kondisi di dalam. Lantas, apakah yang demikian itu kemudian membuat seseorang ini menjadi "yang lebih tahu"? Tentu saja tidak.
Dok. Pribadi (Story WhatsApp)
Ketika seseorang di samping kita ada masalah, tentu saja kita boleh membantunya. Dengan catatan yang bersangkutan berkenan untuk dibantu, yang pertama. Kedua, pastikan bahwa niat baik kita untuk membantu tidak mencurangi hak mereka sebagai makhluk individu. Yang mana mereka punya privasi yang mesti dijaga oleh dirinya sendiri misalnya.

Jadi, sebenarnya semakin kita merasa tahu, justru kita tidak tahu apa pun. Orang boleh saja mengamati, boleh saja menyimak, tapi dia tidak berhak ikut campur urusan orang lain. Mestinya seperti itu, tapi kadang mereka lupa batasan. Sehingga tidak sadar bahwa ucapan atau lakunya menimbulkan konflik batin pada diri yang lain.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita belajar dan melatih diri untuk bijak menghadapi situasi. Termasuk bijak dalam menyikapi informasi. Apakah kemudian berita yang kita terima layak dibagikan? Apakah informasi yang kita baca sudah valid? Dan meskipun demikian, timbang lagi dengan apakah ada manfaat jika wacana itu kita sampaikan kepada khalayak?

Maka, aku mencoba menawarkan solusi pada diriku sendiri. Sebuah kalimat yang bagiku sederhana, dan aku siap untuk berjaga.
Setiap orang memiliki ruang privasinya. Di saat aku merasa paham tentangnya, bisa jadi aku sebenarnya tidak mengetahui apa pun. Oleh karena itu, kekang diriku untuk tidak dengan mudah menghakiminya. Jika mungkin, aku akan bertanya terlebih dahulu. Tentu mereka memiliki alasan tertentu atau jawaban yang semestinya.
Ya, jika tidak bisa berkata baik, maka diam. Karena terkadang bukan orang lain yang kelewat sensitif, sehingga sedikit mendengar ucapan kita jadi tersinggung. Tetapi, mungkin justru kitanya lah yang terlewat tidak peka dan terlalu "sok paham" etika bersosial.

Maka, mari berlatih bersama. Menumbuhkan empati sosial dan peka lingkungan. Supaya gesekan antar individu bisa diminimalisir. Kesalahan dalam memberi respons juga dapat ditangguhkan. Meski tidak menutup kemungkinan, semua benturan itu memang kadang hadir untuk memberi warna dan sekerat makna pada manusia. Sebab memang, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 28 November 2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

15 komentar

  1. "Meski tidak semua, tapi ada jenis manusia yang lebih mudah menjustifikasi dari pada dengan lemah lembut klarifikasi." Arhana 2019

    Jadi keinget salah satu hadits Arba'in karya Al Imam An-Nawawi.

    "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rosulnya, berkatalah yang baik, atau diam...."

    Tulisan ini mengisnpirasi untuk berpikir dulu sebelum berbicara. keren Kak.

    Ada typo di Denhan atau mati kita , seharusnya kan Dengan atau Mari kita ya. ah tapi ini mah pasti karena buru-buru. hehe

    dan aku baru tahu ternyata penulisan apapun itu bakunya apa pun (dipisah) ya(?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh makasih Kak Ibra. Udah bantu koreksi. Bener banget, nulisnya masih ilmu sekali duduk share.

      Dan itu, memang betul. Belum konsisten ini Kak... Makasih udah diingetin...

      Hapus
    2. keren tuh, sekali duduk. seringkali aktivitas seperti itu yang bikin kita jadi produktif, karena tidak menyia-nyiakan ide yang sedang mampir. hehe

      koment aku ada yg salah ternyata, harusnya "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir...." duh, hehe

      Hapus
    3. Ok Kak.... Terimakasih banyak untuk koreksinya

      Hapus
  2. Qul khair aw liyasmust. :D

    BalasHapus
  3. Jadi silent reader itu pilihan, saat bingun mau komen apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi.... Mantap Ndan Bet...
      Menyimak di pojokan dengan santai dan selow dulu ya Ndan Bet. Sip sip sip

      Hapus
  4. Keren mbak.. aku jadi silent reader (lagi) supaya bisa mencerna lebih baik

    BalasHapus
  5. فليقل خيرا أو ليصمت

    BalasHapus
  6. Memang ada nikmatnya jadi silent reader untuk beberapa tahun ini. Manstap.

    BalasHapus
  7. Mba Nana, semangat terus nulisnyaaa

    BalasHapus
  8. Suka mengamati saja hemat komen 😁

    BalasHapus
  9. Suka mengamati saja hemat komen 😁

    BalasHapus
  10. Tapi manusia sekarang jarang untuk mengakui jikalau salah pandai memutar balikkan fakta😌

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter