Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Rabu, 20 November 2019

5 Ide Menulis


Setelah kemarin kita bahas tentang potensi diri, kemudian niche blog, sekarang ide. Menurut kalian, ide itu apa sih? Mengapa semua pekerjaan kreatif termasuk menulis butuh ide? Lalu, ide itu dari mana sih?

Sebagian orang mungkin tampak tidak terganggu dengan ada atau tidak adanya ide yang matang. Kenapa begitu? Karena sejatinya semua orang itu memiliki ide di kepalanya. Bahkan kita ini bisa disebut sebagai buku berjalan. Siapa pun itu, tidak hanya seorang penulis. Namun, seringkali kita masih mendengar mereka mengatakan bahwa sedang tidak punya ide. Sedang tidak menemukan ide. Jangankan mereka, aku pun sering mengalaminya, bukan?

Nah, lalu apa sih ide?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ide adalah rancangan yang tersusun di kepala, gagasan, cita-cita, dan perasaan yang benar-benar menyelimuti pikiran.

Sudah jelas ya? Jadi, sebenarnya kita itu sudah kaya ide. Hanya saja mungkin stock-nya beragam masing-masing orang. Dan untuk memunculkannya seringkali butuh pancingan. Seperti kalau kita memancing ikan, maka butuh umpan. Dan ide ini ibarat ikan yang bisa keluar kalau kita menyiapkan umpan.

Lain orang tentu saja lain juga umpan yang disukainya. Ada yang dengan umpan a dia langsung respon, ada yang dengan umpan baru tergugah, dan seterusnya. Kali ini aku tidak sendirian membahas tentang umpan untuk memunculkan ide menulis. Itu kenapa bannerku bertuliskan Inun - Arhana Talk.


Karena perbedaan tersebut, maka kali ini mari kita bicara lima ide menulis ala aku.

  • Membaca Buku
Hehem, mestinya sih sudah tidak asing ya. Mengapa membaca buku bisa jadi umpan untuk menulis. Masih ingatkah, bahwa banyak membaca banyak menulis.

Ya, membaca merupakan satu aktivitas memasukkan. Apakah itu informasi, kosakata, maupun wawasan. Dengan membaca berarti kita sedang mengumpulkan berbagai macam kebutuhan dalam menulis. Sebut saja senjata dalam menulis.

Sedangkan menulis sendiri adalah aktivitas menuang. Ibarat teko, ia akan mengeluarkan sesuai dengan isinya. Bisa dibayangkan apabila sedikit sekali isi tekonya, mungkin satu kalimat saja sudah berhenti. Membaca juga dapat mengurangi dampak gagap tulis lho.

Selain itu, membaca juga bisa memberikan wawasan baru atau yang sifatnya membarui. Sehingga pada salah satu prosesnya, membaca akan memunculkan sebuah gagasan baru dan murni dari para pembaca. Maka, itulah kemudian mengapa membaca bisa jadi umpan kita untuk memunculkan ide tulisan.

  • Blog walking (BW)
Ketika masih dalam masa ujian selama dua bulan kemarin, salah satu inspirasiku dalam menulis adalah aktivitas blog walking. Sebetulnya ini sama dengan membaca. Hanya saja, ada sensasi berbeda saat menemukan tulisan teman-teman.

Seringkali aku merasa terkejut dan tertarik dalam waktu bersamaan, ketika mendapati tema yang sangat sederhana tetapi disajikan dengan sangat istimewa. Maka aktivitas BW tidak berhenti hanya pada membaca saja, melainkan ada proses diskusi di sana. Atau proses perenungan dengan diri sendiri, yang kemudian sering mendapati hati berucap, o ... Iya ya.

  • Mendengarkan Musik
Hehe ... Sebenarnya ini bukan tipikalku. Tapi kurasa ini juga bisa jadi satu umpan yang menarik. Lirik lagu yang dibuat oleh para musisi sangat beragam. Bisa jadi lirik-lirik ini yang kemudian membawa kita pada sebuah argumen baru.

Ada salah satu peserta non-fiksi yang baru kutahu bahwa dia konsen pada bidang ini. Jadi, dia fokus pada review sebuah lagu. Menurutku ini unik. Di saat banyak orang sedang menggarap review buku bacaan mereka, sedangkan dia justru memilih review lagu. Bukan hanya itu, si Mbak ini juga mengakui bahwa dari lagu itu dia juga mencoba untuk memetik pelajaran apa yang terkandung.

Lagu itu serupa puisi yang dimusikalisasi kalau menurutku. Meski pengertian ini berbeda dengan pemahaman para kritikus sastra ya sahabat. Tapi, bahasa puitis seringkali memberikan ruang lebih luas untuk berimajinasi. Terlebih jika kita tidak dapat diskusi langsung dengan penulisnya.

Maka, kalau dulu saat SMP, guru Bahasa Indonesia mengajarkan pada kami untuk bisa membuat parafrasa puisi. Bahkan dari situ kita bisa memunculkan ide, kemudian mengembangkannya.

Baca : Cerita dan Lagu

  • Diskusi
Nah, ini yang paling menarik. Aku memang tipe orang yang tidak suka bertemu orang. Ketika melakukan serangkaian tes, hasilnya tentu lebih besar prosentase TKO atau Tidak Ketemu Orang. Bukan soal apakah aku suka atau tidak suka sebenarnya, akan tetapi tentang kenyamanan.

Tapi, apa kalian tahu? Bahwa diskusi tidak harus bertemu dengan orang dan aku bisa melakukannya melalui media sosial. Sebut saja aplikasi chatting. Dari sini, seorang aku yang tidak nyaman bertemu orang sekalipun tetap bisa melakukan diskusi menarik sekaligus membahagiakan. Karena dari sana mengalir bermacam-macam ide.

Maka, umpan ini menjadi umpan istimewa setelah membaca buku. Bahkan aku memiliki ruang khusus untuk teman-teman diskusi ini. Aku sering menyebutnya ruang makan. Ruang yang seharusnya kita gunakan untuk makan, tapi justru aku nyaman berbincang di sana. Sekali pun virtual.

Untuk ruang khusus ini, tentu saja hanya akan ada aku dan seseorang saja. Membicarakan apa pun yang menurut kami perlu dibicarakan. Termasuk, apakah kita perlu menulis ini atau tidak. Buku apa yang menarik dan sudah sampai mana progres tulisan kita. Dan menariknya, memang topik tulisan selalu menjadi yang terbaik saat kami sedang diskusi di ruang makan.

Ruangan lain yang sering kugunakan untuk belanja ide adalah grup. Isinya sudah tentu banyak orang. Dari percakapan sederhana mereka seringkali memantik satu dua ide di benakku. Kemudian menunggunya apakah akan bertunas dan menjadi kokoh, atau hanya sekedar lewat begitu saja. Karena seperti kata Dee Lestari, bahwa tidak semua ide mempunyai potensi berkembang dengan baik.

  • Pengamatan
Topik terakhir sebagai umpan adalah mengamati. Apa yang bisa kita amati? Apapun. Biasanya kalau aku, proses ini terjadi saat aku berkunjung ke suatu tempat. Apakah itu ke rumah teman, saudara, atau hanya sekedar lewat selama  di perjalanan.

Jadi memang, seorang aku belum pernah dengan sengaja berkunjung ke tempat wisata. Sehingga obyek pengamatan seringkali berkisar hal-hal yang ada di sekitar saja. Padahal, penulis itu bukan hanya yang duduk berlama-lama di depan laptop atau layar gawai seperti ini.  Meskipun juga tidak wajib menguras kantong.

Sekedar jalan-jalan, kemudian singgah sebentar ke taman kota atau hehijauan di sekitar rumah seperti sawah, tepi sungai. Mungkin juga akan menumbuhkan setingginya imajinasi kita.

Apapun umpan ide menulismu, tidak akan berarti apa-apa jika setelah menemukannya tidak segera eksekusi. Ibarat kita menginginkan sesuatu, tapi tidak membayarnya dengan aksi dan doa. Ya sama juga bohong kalau kata Bang Rifa'i.

Jadi, yuk temukan inspirasi itu dengan eksplorasi berbagai macam aktivitas. Kemudian sediakan waktu untuk mengikatnya. Tentu saja dengan cara menulis.

Selamat bereksplorasi! Selamat Menulis!

-arhana- 20/11/2019

15 komentar:

  1. Curhatan teman bisa juga jadi ladang ide buat nulis. Ini yang biasa kulakukan, lalu ditambah sedikit dengan hikmah di balik setiap kejadian ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiya Mbak Ree... Sip... Makasih Mbak Ree udah mampir

      Hapus
  2. Bener mbak. Niche itu emang erat dengan passion kita ya^^
    Tulisannya keren mbak

    BalasHapus
  3. Terimakasih informasinya mbak...☺☺☺

    BalasHapus
  4. Nice info kak 😍

    BalasHapus
  5. Ternyata banyak ide menulis darimana saja ya

    BalasHapus
  6. Karena isi kepala kita sebenarnya 'tidak kosong', hanya butuh 'pemantik' untuk mentransformasikannya menjadi sebuah tulisan utuh, ya ....

    Dan mood yang bagus tentu saja. Itu mah saya, ding. 🙈

    BalasHapus
  7. Harusnya writers block itu ngga ada ya, karena sumber ide banyak. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang bukan idenya yang mampet. Tapi bingung menuangkan dalam barisan hurufnya

      Hapus
  8. Wah keren ini, salam kenal ya Mbak Nana. Blog ini tampilan dan isinya keren. Mau dong diajarin bikinnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung Ndan Bet... Mari belajar bersama Ndan Bet. Saya lebih kagum dengan tulisan Ndan Bet yang gayanya "aku banget".

      Hapus
  9. reverensinya keren ka bisa ditambah lagi melihat kondisi sekitar dan mendengarkan cerita org yg baru dikenal atau orang lama juga bisa tu ka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap... Terimakasih sarannya Mbak Retno...

      Hapus