Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Kamis, 28 November 2019

Bicara Baik atau Diam

November 28, 2019 15 Comments
Meski tidak semua, tapi ada jenis manusia yang lebih mudah menjustifikasi dari pada dengan lemah lembut klarifikasi. Apakah dalam kehidupan sehari-hari, kalian pernah mengalami hal ini? Atau baru-baru ini sedang mengalami hal tersebut? Mungkin juga malah sudah menjadi konsumsi setiap hari, ya?

Apapun itu Sahabat, menurut kalian lebih baik yang mana? Atau mungkin kalian punya pandangan lain terkait isu ini? Secara umum kalau aku pribadi, sebelum kita mengadili, tentu saja ada proses membuktikan. Seperti halnya saat Pihak Kepolisian yang akan membuat keputusan apakah seseorang akan diberi predikat tersangka atau bukan. Semua itu perlu perjalanan panjang. Nah, apalagi yang hanya sekedar bicara.

Jika komunikasi itu bukan hanya sekedar bicara dan memiliki tata aturannya, maka begitu juga dengan cara kita menilai dan menyampaikan hasil dari pengamatan. Orang yang mengamati mestilah lingkungan luar yang secara tidak sadar berebut masuk untuk menjadi "tahu" kondisi di dalam. Lantas, apakah yang demikian itu kemudian membuat seseorang ini menjadi "yang lebih tahu"? Tentu saja tidak.
Dok. Pribadi (Story WhatsApp)
Ketika seseorang di samping kita ada masalah, tentu saja kita boleh membantunya. Dengan catatan yang bersangkutan berkenan untuk dibantu, yang pertama. Kedua, pastikan bahwa niat baik kita untuk membantu tidak mencurangi hak mereka sebagai makhluk individu. Yang mana mereka punya privasi yang mesti dijaga oleh dirinya sendiri misalnya.

Jadi, sebenarnya semakin kita merasa tahu, justru kita tidak tahu apa pun. Orang boleh saja mengamati, boleh saja menyimak, tapi dia tidak berhak ikut campur urusan orang lain. Mestinya seperti itu, tapi kadang mereka lupa batasan. Sehingga tidak sadar bahwa ucapan atau lakunya menimbulkan konflik batin pada diri yang lain.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita belajar dan melatih diri untuk bijak menghadapi situasi. Termasuk bijak dalam menyikapi informasi. Apakah kemudian berita yang kita terima layak dibagikan? Apakah informasi yang kita baca sudah valid? Dan meskipun demikian, timbang lagi dengan apakah ada manfaat jika wacana itu kita sampaikan kepada khalayak?

Maka, aku mencoba menawarkan solusi pada diriku sendiri. Sebuah kalimat yang bagiku sederhana, dan aku siap untuk berjaga.
Setiap orang memiliki ruang privasinya. Di saat aku merasa paham tentangnya, bisa jadi aku sebenarnya tidak mengetahui apa pun. Oleh karena itu, kekang diriku untuk tidak dengan mudah menghakiminya. Jika mungkin, aku akan bertanya terlebih dahulu. Tentu mereka memiliki alasan tertentu atau jawaban yang semestinya.
Ya, jika tidak bisa berkata baik, maka diam. Karena terkadang bukan orang lain yang kelewat sensitif, sehingga sedikit mendengar ucapan kita jadi tersinggung. Tetapi, mungkin justru kitanya lah yang terlewat tidak peka dan terlalu "sok paham" etika bersosial.

Maka, mari berlatih bersama. Menumbuhkan empati sosial dan peka lingkungan. Supaya gesekan antar individu bisa diminimalisir. Kesalahan dalam memberi respons juga dapat ditangguhkan. Meski tidak menutup kemungkinan, semua benturan itu memang kadang hadir untuk memberi warna dan sekerat makna pada manusia. Sebab memang, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 28 November 2019

Rabu, 27 November 2019

Euforia Rasa: Rindu dan Hujan yang Basah

November 27, 2019 2 Comments
Alhamdulillah,
Segenggam ucapan itu bergemuruh memenuhi ruang bernama hati. Gerimis tidak hanya membasahi seluruh ruang di luar diriku. Tanah kering mengeringkan itu kini kuyup oleh gerimis ritmis yang Allah kirimkan, tepat hari ini.

Setelah sekian purnama terlewati tanpa aroma petrichor nyata, hari ini aku tak perlu lagi mengandaikannya hadir. Sebab ini nyata, gerimis itu nyata, desau angin yang tadinya hanya semilir, kemudian menjadi sangat ricuh saat hujan mulai menyapa, dan itu nyata. Apalagi lagu yang memenuhi ruang dengarku, meski hanya melalui dunia yang terlipat, ia tetap nyata.

Alhamdulillah,
Rindu itu menyapaku dengan lebih jelas lagi. Imaji berkelana menyusuri setiap jejak yang mesti dihampiri. Berhenti sesekali untuk sekedar menyimpan aroma kenangan. Memenuhi kantong bekal, untuk nanti kita buka saat mata hendak terpejam sebab lelah menggelayut tanpa rasa. Rindu yang memenuhi bekal ajaib itu yang akan menetralkan semua.

Aroma ini yang membuatku terbang, berputar dan mengitari pusaran. Rasanya basah yang membuat lega selega-leganya. Air hujan ini rembes, tanpa penghalang. Meninggalkan jejak kuyup pada diri yang sengaja menari di bawahnya.

Dan ini, lagi-lagi tentang rindu yang menguar bersama aroma hujan yang menghampiri tanpa kabar. Semoga alveoliku mampu mengembung tanpa meletus, menangkap kemudian menyimpan. Memasok oksigen ke segala penjuru, untuk kubawa beberapa waktu lagi. Sampai, rindu itu benar-benar terbayar.

Alhamdulillah,
Tak ada ungkapan yang lebih indah selain syukur yang tiada henti. Nafas ini tercemar petrichor yang mengagumkanku. Membuatku runtuh dan luruh bersama aroma lain yang tak mampu menghapus bau tanah basah. Sekali lagi, perlahan menyesapi dan menempati seluruh ruang yang dilewati, hingga sampai pada titik terdalam, bernama kalbu.

Sampai jumpa lagi....

Kediri, 27 November 2019

Selasa, 26 November 2019

Komunikasi : Tidak Hanya Berbicara

November 26, 2019 11 Comments
Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik.
Kita sering mendengar ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan akhir-akhir ini, kalimat sederhana sarat makna itu menjadi salah satu bahan perenunganku.

Mengapa kemudian seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, maka dia akan menjadi pembicara yang baik pula? Sekarang kita bicara ini dalam konteks perspektifku ya. Dan kupikir semua orang bebas memaknai kalimat ini.

Seseorang yang dengan kemampuan mendengar baik, akan menangkap informasi atau pesan dari lawannya secara menyeluruh. Tidak sepotong-potong yang kemudian menimbulkan respon tak utuh pula. Kadang dalam kehidupan, kita menemui beberapa kasus, di mana orang suka sekali memotong pembicaraan orang lain. Menengahi penjelasan yang diberikan orang lain. Sebab, yang bersangkutan merasa sudah paham. Padahal, boleh jadi informasi yang disampaikan itu berbeda dari apa yang dipahaminya atau yang sudah pernah didengar.

Oleh karena itu urgensi dari mendengar ini aku pikir sangat penting. Kita tidak bisa serta merta jadi pendengar yang baik jika tidak dilatih. Dan kebiasaan memotong pembicaraan pun termasuk dalam kategori ketidaksopanan. Merupakan perilaku yang menyalahi adab berkomunikasi.

Dan hal-hal seperti ini yang justru seringkali memicu terjadinya gesekan bahkan perdebatan yang tak berkesudahan. Oleh karena itu, perlu kita pahami bersama bahwa komunikasi itu tidak melulu soal apa yang disampaikan saja. Tapi, bagaimana kemudian kita bisa menerima informasi yang disampaikan dengan utuh. Sehingga, jalur komunikasi tersebut tidak timpang atau bahkan memicu hal yang tak diinginkan.

Namun demikian, kita tidak bisa selalu memaksa orang untuk bisa mendengar apa yang kita sampaikan. Tidak selamanya kita menjadi individu penyampai pesan. Ada kalanya kita lah yang menerima pesan. Dalam konteks ini, komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Berbeda dengan pesan yang disampaikan melalui media seperti ini, maka akan muncul aturan lain lagi.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Oleh karena itu, untuk tetap menjaga jalin silaturahmi dengan orang lain tetap baik. Salah satunya adalah dengan mematuhi adab berkomunikasi. Jika tidak boleh menyela pembicaraan orang lain, maka bersabar untuk mendengarkannya hingga selesai. Bahkan, pelajaran ini dulu sudah disampaikan sejak pendidikan dasar.

Lalu, apakah kemudian hari ini krisis tata krama telah sangat pudar? Sehingga manusia hanya mengerti bahwa komunikasi itu sekedar berbicara. Aku yang tua maka harus didengarkan. Aku yang tua maka harus diikuti. Apakah demikian? Let's talk with our heart. 

Semoga kita termasuk ke dalam golongan mereka yang paham bahwa menghormati hak orang lain termasuk menghargai dirinya sendiri. Tidak menyela ucapan orang lain, termasuk ke dalam menghargai diri sendiri. Sehingga, bukan hanya menuntut orang lain harus menjadi tapi, kita lah dulu yang harus menjadi.

For things for change, I just change first.

Kediri, 26 November 2019 

Minggu, 24 November 2019

Komunikasi: Bahasa Bukan Sekedar Kode

November 24, 2019 0 Comments

Keteraturan dalam sebuah tatanan adalah sesuatu yang didambakan oleh sebagian orang. Karena keteraturan mungkin bisa bernilai sebuah kedamaian atau tempat terbaik. Hanya saja, kadang apa yang sudah kita rencanakan terjadi di luar kendali kita. Nah, bagaimana kemudian orang-orang yang pro keteraturan ini bisa toleran terhadap situasi uncontrol tersebut.

Dalam dunia sosial, keterkaitan satu dengan yang lain bisa terjadi karena adanya interaksi. Berbagai macam bentuk interaksi, salah satunya adalah dengan komunikasi. Dalam hal ini berarti ada pesan yang disampaikan dan diterima selama proses interaksi. Pola komunikasi ini melibatkan satu bentuk kode yang kemudian kita sebut sebagai bahasa.

Selama pesan yang disampaikan sesuai dengan diterima, berarti tidak ada masalah dalam proses komunikasi. Sekali pun mungkin, orang per orang kurang bisa memahami struktur kalimat yang benar. Tapi, pesannya sampai. Ya, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi proses komunikasi atau pun interaksi ini.

Nah, bagaimana kemudian yang terjadi pada individu yang memiliki kecenderungan control freak? Semua hal harus sesuai dengan apa yang diinginkan. Sementara lingkungan tidak memadai untuk bisa setara dengan apa yang dia mau.

Si control freak ini pun beragam bentuknya. Ada yang hanya bisa bicara tanpa do something more, ada juga yang justru bukan hanya mengontrol, tapi dia juga terjun langsung pada medan. Sehingga, Si CF ini tidak asal menentukan dan memerintah. Sebab semua sudah pada standarnya. Lalu, apa jadinya jika si CF ini juga seorang dengan sikap konformitas tinggi?

Udah gila kontrol, dia juga memenuhi standar masyarakat banget. Kalau sifat dan sikap tersebut tidak mengganggu hak orang lain, tentu tidak akan jadi masalah. Tapi, bagaimana jika kemudian sikapnya ini dipaksakan kepada orang-orang yang menurutnya harus sesuai dengan keinginannya? Tentu, akan menimbulkan konflik. Jika tidak adu argumen, yang bisa jadi tak berujung, juga bisa adu yang lain.

Kondisi-kondisi demikian ini, merupakan kondisi internal bagi pelaku. Dan merupakan kondisi eksternal bagi orang lain. Beragam situasi, sifat dan sikap manusia semakin banyak bermunculan dewasa ini. Dan mirisnya nilai toleransi semakin meluntur. Kalau pun ada, itu hanya sebagian kecil orang saja.

Jadi, sebetulnya semua orang itu memiliki sisi unik masing-masing. Oleh karena itu, perlunya memahami adab bermuamalah, untuk meminimalisir terjadinya gesekan. Bukan berarti meniadakan sama sekali, karena manusia masih memiliki unsur salah dan dosa. Sehingga menjadikannya makhluk yang memang tak sempurna. Ada peluang untuknya membuat kesalahan sehingga gesekan terjadi. Hanya saja, bagaimana kemudian batas toleransi bisa membuat mereka saling sadar dan bisa memahami.

Kembali lagi, tidak semua hal bisa kita kontrol sesuai keinginan kita. Yang bisa kita upayakan adalah apa yang menjadi tanggung jawab kita. Selama apa yang kita lakukan tidak menyalahi hak orang lain, maka sah saja tindakan yang kita lakukan. Satu lagi, manusia memang makhluk koding, yang artinya kode berbentuk bahasa untuk dapat dipahami rasa dan pikirannya.

Oleh karena itu, membangun komunikasi yang baik dan produktif akan menjadikan sebuah interaksi antar manusia ini menjadi efektif. Apa yang diinginkan disampaikan, apa yang ditolak didiskusikan. Jadi semua melewati mediasi berupa kompromi. Bukan saling kode, menunggu satu sama lain menjadi peka. Dan pada akhirnya, semua itu akan menemukan pelengkap, untuk bisa tumbuh berdasarkan fitrah dan menjadi manfaat bagi lingkungan.

Kediri, 24 November 2019


Sabtu, 23 November 2019

Super Writer: Menulis Buku Semudah Bernafas

November 23, 2019 3 Comments
Mulai Baca
Buku Super Writer

Caraku melumpuhkanmu hanya dengan membaca buku seperti ini. Kedengarannya sangat sadis ya Sahabat. Hehehe,,, tentu saja tidak. Jadi, sepekan ini aku sedang mengikuti challenge di ODOP yang namanya Reading Challenge ODOP disingkat RCO. Seharusnya itu kalimat pembukanya tidak seperti itu ya? Hehehe, berasa lucu sendiri.

Alhamdulillah, bagiku buku selalu menjadi kado istimewa. Memiliki jalan ritualnya sendiri. Entah sejak kapan aku mulai mengamatinya. Tapi yang jelas hasil pengamatanku mengatakan bahwa, apa pun buku yang kubaca, mereka adalah jawaban dari setiap tanya. Dan Allah memiliki jutaan cara untuk memberikan jawaban yang tepat kepada pinta kita. Betul apa betul Sahabat?

Nah, buku Super Writer ini salah satunya. Jadi sudah sejak bulan-bulan lalu, aku sedang memikirkan langkah tepat untuk memulai nulis buku. Hanya saja, ada saja alasan yang mematahkannya. Anggap saja memang motivasi nulisnya juga belum kuat ya. Dan biasanya, kalau ada promo launching, aku selalu stay calm untuk enggak buru-buru klik tombol add to cart. Ya semakin sadar bahwa kebutuhan bukan hanya buku saja, soalnya kalau lihat buku sering lapar mata. Jadi harus selalu mengaktifkan tombol filter antara kebutuhan dan keinginan. Bukan hanya itu, langkah ini juga sebagai bentuk upayaku untuk meminimalisir "tumpukan lapisan kayu".

Bukan tidak baik ya, sebenarnya investasi leher ke atas memiliki keuntungan yang luar biasa. Hanya saja, kita juga perlu paham bahwa tidak kemudian semua buku yang membuat kita bling-bling itu kita butuh. So, bijaklah untuk membelanjakannya ya. Dan tentu saja sesuaikan juga dengan bujet kita.

Kenapa aku bilang bahwa buku merupakan kado istimewa untuk menjawab tanya? Karena di rak masih banyak buku yang mulus dan halus tanpa cela, karena masih rapi dengan bungkusnya. Dan dia akan terbuka saat si pembaca ini membutuhkan jawaban. Biasanya hal itu terjadi tanpa direncana bahkan tidak disadari bahwa sebenarnya lakunya itu dalam rangka mencari jawaban, seringkali hanya merasa butuh refreshing saja.

Dan buku Super Writer karya Ahmad Rifa'i Rif'an menjadi pilihan yang tepat untuk memulai tantangan pekan pertama di RCO. Tebalnya memang melebihi standar minimal, yaitu 70 halaman. Sedangkan buku ini berjumlah 160 halaman. Tapi, apa yang kusangka ternyata tak kudapati. Kupikir bakal mengkerutkan dahi dan tak bisa baca cepat. Alih-alih baca cepat, aku justru betah berlama-lama. Untuk ukuran buku non-fiksi, buku ini ringan tapi berbobot. Ya, sesuailah dengan value penerbitnya. Yang lebih cenderung menerbitkan buku-buku how to.

Jadi, Kak Rifa'i dalam buku SW ini membedah tuntas teknik penulisan buku yang sebetulnya mungkin sering kita lakukan. Hanya saja, wawasan yang kita miliki enggak sampai sana. Jadi terlewat begitu saja. Dan bersyukur ikut promo launching kemarin, jadi bisa menikmati ilmunya lebih cepat dan memang hadir di waktu yang tepat juga.

Dari sekian banyak kutipan yang kugarisbawahi saat membaca buku ini. Ada satu yang paling menohok. Dan rasanya kena tamparan keras dari sini. Coba perhatikan kutipan berikut:
Segagah apa pun kosakata yang dipakai, sementereng apa pun kesan ilmiah dan intelek yang dicitrakan, tetapi jika tidak sesuai dengan cakrawala audiens, pastilah "ilmu" yang disampaikan akan sia-sia belaka. Dan jelas ini bukanlah watak cendekiawan sejati. -Edi Mulyono, dalam Ahmad Rifa'i Rif'an, 2019-
Apa yang kalian dapat dari kalimat tersebut?

Kalau aku, ini adalah bahasa lain dari teguran yang pernah disampaikan senior kepadaku. Sekali pun dalam menulis, aku tidak pernah menasbihkan diri menjadi ini dan itu. Sebab aku menuliskan apa yang kupikirkan dan apa yang mengalir dalam kepalaku. Hanya saja, mungkin aku lupa, bahwa tulisan yang sudah kita bagikan kepada pembaca, itu milik pembaca. Aku lupa, bahwa penilai sesungguhnya adalah mereka. Dan ternyata tulisanku itu berkesan demikian, sok intelek yang justru menunjukkan betapa bodohnya aku, kemudian sok ilmiah yang membuat pembaca kurang kena terhadap pesan dari setiap tulisanku itu. Betul-betul sebuah tamparan.

Jadi, di sini aku kemudian juga mengenal bahwa ada ilmu yang "sia-sia" karena bungkusnya kurang tepat. Maka, sebagai manusia lumrah yang sejatinya selalu berbenah. Tak ada salah jika pernah melewati masa-masa seperti itu, tapi jangan lupakan untuk segera bangkit dan memperbaiki. Kita tidak mau kan jika hanya menulis untuk kesia-siaan?

Oleh karena itu Sahabat, menulis itu mudah kata Kak Rifa'i. Mulai dengan menumpahkan seluruh isi yang ada di kepala kita, sampai habis. Perkara nanti apakah dia terstruktur atau tidak, sesuai kaidah atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting tuang dulu semua isi dalam tangki ide kita. Kalau sumber lain menyebut, endapkan dulu tulisan itu sebelum kemudian disusun kembali sesuai dengan kaidah yang tepat.

Secara sederhana sesuai judul bukunya. Kak Rifa'i menjelaskan dengan gamblang, bagaimana menulis buku menjadi sangat mudah. Bisa dengan cara kompilasi artikel yang kita miliki, antologi bersama kawan menulis, dan beragam metode lainnya. Tentu saja, semua itu disertai dengan contoh dan praktik yang bisa kita kerjakan. Sehingga semestinya, setelah membaca buku ini, kita sudah bisa memulai untuk menulis buku masing-masing.

Satu lagi pesan di buku yang ingin kusampaikan pada Sahabat PeKat, bahwa menulis adalah salah satu upaya kita untuk menyampaikan pesan. Maka, dalam hal ini sederhanakanlah bahasa pesan itu sesuai dengan level audiens yang akan kita sasar. Sehingga, buku kita dapat diterima dengan mudah tanpa harus berpikir panjang untuk memutuskan memilikinya.

Semoga ulasan singkat ini memberi wawasan baru bagi teman-teman dan khususnya saya pribadi, untuk dapat segera menuntaskan proyek yang tak kunjung di mulai. Hehehehe

Assalamu'alaikum ....

Kediri, 23 November 2019

Selesai Baca
Buku Super Writer

Kamis, 21 November 2019

Menulis Menyehatkan

November 21, 2019 3 Comments
Bicara tentang healing, menulis juga termasuk dalam kategori media untuk healing. Hanya saja ada proses dan teknik khusus untuk mencapai tingkat tersebut. Meskipun demikian, sahabat PeKat tidak perlu khawatir, karena proses dan tekniknya tidak memerlukan latihan khusus. Sahabat PeKat hanya perlu memerhatikan instruksi yang diberikan oleh fasilitator. Atau bisa juga dilakukan secara mandiri.

Akan tetapi, pada sebagian kasus proses ini menimbulkan efek yang mungkin membutuhkan pendampingan. Tetapi, sekali lagi sahabat PeKat tidak perlu khawatir juga akan hal itu. Karena ini bisa kita lakukan seperti saat menulis buku harian. Hayo, siapa yang bilang tak pernah menulis buku harian? Hampir sebagian besar dari kita pernah membuat catatan harian. Bagaimana pun bentuknya.

Iya, karena sejatinya tulisan yang menyehatkan itu ya tulisan di buku harian sahabat. Hanya karena bentuknya beragam, maka efek terapinya pun berbeda masing-masing orang. Bergantung pada tingkat kedalaman topik yang dituliskannya.

Ada orang yang bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan sangat mudah. Tetapi ada juga yang untuk memulainya pun sulit. Dan ada yang hanya mengutarakan permukaannya saja. Maka, ketiga tipe tulisan ini tentu saja memberikan dampak yang berbeda bagi penulisnya.

Sebelum beranjak terlalu jauh, apa sih healing itu? Kapan healing dilakukan? Dan apa efek yang ditimbulkan selama proses?

Menarik, bukan? Yuk kita kupas satu per satu.

Healing adalah penyembuhan. Ya, secara bahasa healing berarti penyembuhan. Lalu bagaimana menulis bisa bekerja sebagai media penyembuhan? Sip.

Menulis itu salah satu media penyembuhan, dan ini benar sekali. Karena ternyata menulis memiliki beragam manfaat. Tapi merujuk pada hasil penelitian James W. Pannabeker, bahwa menulis yang akan menghasilkan efek terapi adalah menulis yang dilakukan secara kontinu selama 15 menit setiap sesi. Lalu, apa yang ditulis? Yang ditulis adalah semua pengalaman pahit yang pernah terjadi. Baik di masa lampau maupun masa sekarang.

Maka, dalam kasus-kasus tertentu proses ini harus didampingi tenaga ahli. Apakah itu dokter atau psikolog. Kenapa? Karena beberapa kasus menunjukkan bahwa efek dari terapi ini adalah adanya gangguan fisik. Bisa jadi gastritis selama ini bukan karena terlambat makan. Tetapi sebab adanya persoalan hidup yang terkadang belum mampu diungkapkan. Sehingga bernaung terlalu berat pada pikiran, inilah yang seringkali membuat seseorang terkena serangan fisik. Dan keluhan fisik ini masing-masing orang berbeda. Sedangkan keluhan itu sendiri menyerang pada bagian tubuh yang lemah.

Untuk teknik lengkap terapi, teman-teman bisa merujuk ke sini. Pada salah satu penelitian J.W. Pannabeker memberikan instruksi yang berbeda untuk respondennya. Di mana ada kelompok yang harus menuliskan luka batin yang terjadi di masa lalu. Apapun tentang luka batin tersebut, peristiwanya, apa yang dirasakan, dan dipikirkan. Kemudian ada kelompok yang diminta untuk menuliskan kegiatan sehari-harinya. Proses ini dilaksanakan selama empat hari berturut-turut. Selama 15 menit per sesi.

Dan ternyata setelah hasilnya keluar, keduanya menunjukan perbedaan yang signifikan. Kelompok yang menulis luka batinnya, menjadi lebih terorganisir dan rileks dalam menjalani kegiatan harian. Keluhan fisik yang mungkin muncul selama proses sampai berakhirnya proses berangsur normal. Sedangkan kelompok yang hanya menuliskan daily activity tidak menunjukkan perubahan serupa.

Maka, sejatinya proses terapi di dalam menulis ini ada pada seberapa jauh kita berani mengambil langkah. Seseorang mengatakan bahwa ada perubahan besar yang terjadi dalam dirinya sejak mengenal terapi menulis. Selain menuliskan hal-hal yang menyakitkan secara acak, artinya kita tidak perlu memerhatikan kaidah menulis, dalam hal ini sesuai EYD dst. Karena yang kita perlukan hanya menyalurkan apa yang mengendap di kepala.

Akhiri tulisan tersebut dengan ungkapan yang reflektif. Seseorang akan mengalami proses seperti segitiga. Bergerak dari dasar, semakin naik dan meruncing (fase pelepasan emosi terdalam), kemudian turun. Ketika kembali ke posisi di bawah ini, ia sudah berada dalam masa release. Maka, ini adalah tahap yang paling krusial karena berkenaan dengan bagaimana seseorang melihat dan menilai suatu peristiwa tersebut. Bagaimana pula ia memaknai diri dan rangkaian peristiwa yang terjadi.

Semoga, yang sedikit ini bisa diambil manfaat.

Wallahu a'lam bishshowab


Kediri, 21 November 2019

Rabu, 20 November 2019

5 Ide Menulis

November 20, 2019 15 Comments

Setelah kemarin kita bahas tentang potensi diri, kemudian niche blog, sekarang ide. Menurut kalian, ide itu apa sih? Mengapa semua pekerjaan kreatif termasuk menulis butuh ide? Lalu, ide itu dari mana sih?

Sebagian orang mungkin tampak tidak terganggu dengan ada atau tidak adanya ide yang matang. Kenapa begitu? Karena sejatinya semua orang itu memiliki ide di kepalanya. Bahkan kita ini bisa disebut sebagai buku berjalan. Siapa pun itu, tidak hanya seorang penulis. Namun, seringkali kita masih mendengar mereka mengatakan bahwa sedang tidak punya ide. Sedang tidak menemukan ide. Jangankan mereka, aku pun sering mengalaminya, bukan?

Nah, lalu apa sih ide?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ide adalah rancangan yang tersusun di kepala, gagasan, cita-cita, dan perasaan yang benar-benar menyelimuti pikiran.

Sudah jelas ya? Jadi, sebenarnya kita itu sudah kaya ide. Hanya saja mungkin stock-nya beragam masing-masing orang. Dan untuk memunculkannya seringkali butuh pancingan. Seperti kalau kita memancing ikan, maka butuh umpan. Dan ide ini ibarat ikan yang bisa keluar kalau kita menyiapkan umpan.

Lain orang tentu saja lain juga umpan yang disukainya. Ada yang dengan umpan a dia langsung respon, ada yang dengan umpan baru tergugah, dan seterusnya. Kali ini aku tidak sendirian membahas tentang umpan untuk memunculkan ide menulis. Itu kenapa bannerku bertuliskan Inun - Arhana Talk.


Karena perbedaan tersebut, maka kali ini mari kita bicara lima ide menulis ala aku.

  • Membaca Buku
Hehem, mestinya sih sudah tidak asing ya. Mengapa membaca buku bisa jadi umpan untuk menulis. Masih ingatkah, bahwa banyak membaca banyak menulis.

Ya, membaca merupakan satu aktivitas memasukkan. Apakah itu informasi, kosakata, maupun wawasan. Dengan membaca berarti kita sedang mengumpulkan berbagai macam kebutuhan dalam menulis. Sebut saja senjata dalam menulis.

Sedangkan menulis sendiri adalah aktivitas menuang. Ibarat teko, ia akan mengeluarkan sesuai dengan isinya. Bisa dibayangkan apabila sedikit sekali isi tekonya, mungkin satu kalimat saja sudah berhenti. Membaca juga dapat mengurangi dampak gagap tulis lho.

Selain itu, membaca juga bisa memberikan wawasan baru atau yang sifatnya membarui. Sehingga pada salah satu prosesnya, membaca akan memunculkan sebuah gagasan baru dan murni dari para pembaca. Maka, itulah kemudian mengapa membaca bisa jadi umpan kita untuk memunculkan ide tulisan.

  • Blog walking (BW)
Ketika masih dalam masa ujian selama dua bulan kemarin, salah satu inspirasiku dalam menulis adalah aktivitas blog walking. Sebetulnya ini sama dengan membaca. Hanya saja, ada sensasi berbeda saat menemukan tulisan teman-teman.

Seringkali aku merasa terkejut dan tertarik dalam waktu bersamaan, ketika mendapati tema yang sangat sederhana tetapi disajikan dengan sangat istimewa. Maka aktivitas BW tidak berhenti hanya pada membaca saja, melainkan ada proses diskusi di sana. Atau proses perenungan dengan diri sendiri, yang kemudian sering mendapati hati berucap, o ... Iya ya.

  • Mendengarkan Musik
Hehe ... Sebenarnya ini bukan tipikalku. Tapi kurasa ini juga bisa jadi satu umpan yang menarik. Lirik lagu yang dibuat oleh para musisi sangat beragam. Bisa jadi lirik-lirik ini yang kemudian membawa kita pada sebuah argumen baru.

Ada salah satu peserta non-fiksi yang baru kutahu bahwa dia konsen pada bidang ini. Jadi, dia fokus pada review sebuah lagu. Menurutku ini unik. Di saat banyak orang sedang menggarap review buku bacaan mereka, sedangkan dia justru memilih review lagu. Bukan hanya itu, si Mbak ini juga mengakui bahwa dari lagu itu dia juga mencoba untuk memetik pelajaran apa yang terkandung.

Lagu itu serupa puisi yang dimusikalisasi kalau menurutku. Meski pengertian ini berbeda dengan pemahaman para kritikus sastra ya sahabat. Tapi, bahasa puitis seringkali memberikan ruang lebih luas untuk berimajinasi. Terlebih jika kita tidak dapat diskusi langsung dengan penulisnya.

Maka, kalau dulu saat SMP, guru Bahasa Indonesia mengajarkan pada kami untuk bisa membuat parafrasa puisi. Bahkan dari situ kita bisa memunculkan ide, kemudian mengembangkannya.

Baca : Cerita dan Lagu

  • Diskusi
Nah, ini yang paling menarik. Aku memang tipe orang yang tidak suka bertemu orang. Ketika melakukan serangkaian tes, hasilnya tentu lebih besar prosentase TKO atau Tidak Ketemu Orang. Bukan soal apakah aku suka atau tidak suka sebenarnya, akan tetapi tentang kenyamanan.

Tapi, apa kalian tahu? Bahwa diskusi tidak harus bertemu dengan orang dan aku bisa melakukannya melalui media sosial. Sebut saja aplikasi chatting. Dari sini, seorang aku yang tidak nyaman bertemu orang sekalipun tetap bisa melakukan diskusi menarik sekaligus membahagiakan. Karena dari sana mengalir bermacam-macam ide.

Maka, umpan ini menjadi umpan istimewa setelah membaca buku. Bahkan aku memiliki ruang khusus untuk teman-teman diskusi ini. Aku sering menyebutnya ruang makan. Ruang yang seharusnya kita gunakan untuk makan, tapi justru aku nyaman berbincang di sana. Sekali pun virtual.

Untuk ruang khusus ini, tentu saja hanya akan ada aku dan seseorang saja. Membicarakan apa pun yang menurut kami perlu dibicarakan. Termasuk, apakah kita perlu menulis ini atau tidak. Buku apa yang menarik dan sudah sampai mana progres tulisan kita. Dan menariknya, memang topik tulisan selalu menjadi yang terbaik saat kami sedang diskusi di ruang makan.

Ruangan lain yang sering kugunakan untuk belanja ide adalah grup. Isinya sudah tentu banyak orang. Dari percakapan sederhana mereka seringkali memantik satu dua ide di benakku. Kemudian menunggunya apakah akan bertunas dan menjadi kokoh, atau hanya sekedar lewat begitu saja. Karena seperti kata Dee Lestari, bahwa tidak semua ide mempunyai potensi berkembang dengan baik.

  • Pengamatan
Topik terakhir sebagai umpan adalah mengamati. Apa yang bisa kita amati? Apapun. Biasanya kalau aku, proses ini terjadi saat aku berkunjung ke suatu tempat. Apakah itu ke rumah teman, saudara, atau hanya sekedar lewat selama  di perjalanan.

Jadi memang, seorang aku belum pernah dengan sengaja berkunjung ke tempat wisata. Sehingga obyek pengamatan seringkali berkisar hal-hal yang ada di sekitar saja. Padahal, penulis itu bukan hanya yang duduk berlama-lama di depan laptop atau layar gawai seperti ini.  Meskipun juga tidak wajib menguras kantong.

Sekedar jalan-jalan, kemudian singgah sebentar ke taman kota atau hehijauan di sekitar rumah seperti sawah, tepi sungai. Mungkin juga akan menumbuhkan setingginya imajinasi kita.

Apapun umpan ide menulismu, tidak akan berarti apa-apa jika setelah menemukannya tidak segera eksekusi. Ibarat kita menginginkan sesuatu, tapi tidak membayarnya dengan aksi dan doa. Ya sama juga bohong kalau kata Bang Rifa'i.

Jadi, yuk temukan inspirasi itu dengan eksplorasi berbagai macam aktivitas. Kemudian sediakan waktu untuk mengikatnya. Tentu saja dengan cara menulis.

Selamat bereksplorasi! Selamat Menulis!

-arhana- 20/11/2019

Selasa, 19 November 2019

Niche Blog, Seberapa Penting Ia Bagimu?

November 19, 2019 5 Comments
Setiap bicara tentang blog selalu tak lepas dari diskusi terkait niche. Seolah keduanya adalah sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Seorang blogger mesti paham niche blognya. Terutama jika ia berharap bisa menghasilkan dari rajin merawat blognya.

Nah, apa sih niche blog itu?
Kata Mbak Rindang, pemateri tempo hari, niche blog itu serupa tema. Yes it, I know. Dan sama seperti yang sudah kupikirkan sebelumnya. Hanya saja materi kali ini benar-benar memberi wawasan baru untukku.

Bagi para expert blogger tentu saja hal ini sudah sangat familiar ya sahabat. Tapi bagi pemula sepertiku begini, rasanya berat untuk menentukan satu jenis niche dalam satu blog. Karena ya memang nulisnya juga masih sesuka hati. Jadi isinya seperti gado-gado.

Tapi, kalau kalian juga seorang pemula, please jangan galau. Kata Mbak Rindang lagi, semua blogger pernah melewati fase gado-gado ini sahabat. Sebelum kemudian mereka bisa memilih dan menentukan tema mana yang nyaman untuknya.

Seberapa penting niche blog untukku?
Soal seberapa penting, tentu saja penting untukku. Hanya saja, aku sendiri masih belum bisa mengkondisikannya menjadi sebuah konsistensi dan komitmen untuk selalu berada di  satu tema tersebut. Meskipun demikian, ternyata beberapa dari tulisanku tengah mencerminkan satu tema yang paling lekat dengan diriku. Yaitu, menulis. Entah mengapa overall tulisanku bicara soal menulis itu sendiri.

Sebelum memutuskan untuk fokus merawat rumah virtual ini, aku memiliki lebih dari satu blog. Tapi kemudian mereka bernasib sama. Aku meninggalkannya setelah jumlah tulisan mencapai sekian puluh saja. Kupikir hanya aku saja yang seperti itu. Ternyata ketika kemarin akhirnya lolos ke babak penyisihan selanjutnya, di ODOP batch #7, aku menemukan orang-orang yang serupa denganku. Berbagai macam alasan tentunya ya sahabat.

Nah, menariknya mereka juga sempat menyinggung soal si niche ini. Beberapa sudah expert memang. Dan bahkan secara mengejutkan, blog yang menurutku sudah ok, tapi ternyata masih belum fix menurut mereka yang sudah jago. Ya, seperti itu kira-kira perbedaan kacamata orang yang sudah expert dan masih belajar sepertiku.

Well, meskipun aku tidak menentukan dan kemudian spesifik membahas lebih dalam tentang niche nic yang kupilih. Nyatanya, sampai hari ini aku bergerak ke arah sana. Ibarat mau bikin buku, aku haru menentukan dulu matriksnya. Termasuk tema dan sasaran pembaca ada di dalamnya.

Maka, blog bagiku serupa buku elektronik. Kalau bikin e-book mungkin aku belum terpikir, jadi mari kita mulai saja dengan blog ini. Berangkat dari berlatih dua bulan dan satu bulan ke depan bersama ODOPers lainnya, aku akan mulai membangun niche dari sini. Meskipun isinya ya tetap acak-acakan apalagi kalau sudah bertemu tantangan. Tapi, tenang saja. Bukan kah kita bisa membuatnya seperti buku sungguhan? Yang memuat bab atau tema beragam di dalamnya, seperti sebuah antologi.

So, niche blog apa yang kamu pilih?
Yuhuuu, pada akhirnya kita bertemu juga dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang sudah tak sabar kalian utarakan dari tadi, bukan? Hehehe, terlalu pede. Ya tidak apa-apa, sekalian latihan menghargai diri sendiri dengan rasa percaya padanya bahwa ia mampu mengatasi tantangan, biidznillah.

Sebelum aku menjawab spesifikasi apa, mari kita tahu dulu tentang apa yang menarik untukku.

Bagiku, dunia literasi itu sangat luas, tak terbatas hanya pada konteks menulis, membaca saja. Ada berhitung, dan lainnya. Tapi, seperti kata Bang Rifa'i di bukunya yang berjudul Super Writer, kita berbagi itu bukan hanya perkara apa yang khalayak cari tapi lebih pada apa yang menjadi minat kita. Kalau dipikir-pikir, peminatan atau passion ini yang kemudian akan membawa kita pada satu spesifikasi untuk bisa dibagi.

Apakah kalian ingat? Sedikit yang kita miliki kemudian dibagi dan bermanfaat jauh lebih baik, dari pada banyak tapi tak menghasilkan apapun. Menghasilkan bukan selalu perkara uang, tapi bisa jadi kemanfaatan yang diterima orang lain. So, aku menulis karena aku minat. Aku berbagi karena aku punya sesuatu untuk dibagi. Kenapa kemudian bahasanku hanya itu-itu saja?

Bicara soal itu-itu saja, aku terpancang pada pikiran belum mendalam menggali satu topik ini. Sedangkan mungkin bagi kalian, itu-itu saja adalah satu topik yang sama. Maka, itulah kemudian yang bagiku seperti jalan setapak untuk mendaki ke puncak. Aku tertarik dengan buku, dan minat untuk menjadi pereviewnya. Buku apa? Tentu buku yang juga sesuai dengan minat. Bisa tentang psikologi, parenting, kepenulisan, dan motivasi.

Dan aku berniat menjadikan blog ini sebagai ruang aktualisasi diri untuk produktif. Membagi review dari buku yang telah selesai kubaca. Soal ini pun, aku juga belum ahlinya. Tapi minat yang kita tekuni insyaallah bisa membawa pada satu posisi ahli, biidznillah.

Kemudian, apakah hanya itu? Tidak. Menilik dari tema yang kuminati untuk dibaca. Maka, bisa jadi aroma tulisanku berkisar pada apa yang sudah kubaca. Ingat, bahwa menulis itu aktivitas menuang. Maka, kalau kata Bang Rifa'i, tumpahkan semua isi kepala kita pada kertas kosong. Meski mungkin hari ini hanya sekedar menuang, bisa jadi esok lusa kita bisa menyusunnya menjadi sebuah project yang bisa dinikmati pembaca.

Soal, berapa jenis niche yang akan kutanam? Aku belum bisa memastikannya. Sebab ya itu tadi, aku masih berkutat pada konsistensi dan kuantitas tulisan untuk mencapai sebuah standar kualitas. Meskipun demikian bisa jadi, niche dari blog ini juga tidak lebih dari tiga.

Demikian, sedikit yang bisa kubagikan sahabat. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik bersama. Mohon maaf apabila ada tutur yang terketik dan meninggalkan kesan berbeda.

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

-arhana- 19/11/19

Pahami Dirimu, Temukan Ruang Aktualisasimu

November 19, 2019 11 Comments
"Ternyata sesulit ini ya?"
"Tidak semudah yang dibayangkan."
"Jangan-jangan aku belum paham, siapa diriku?"

Kalimat-kalimat yang dengan lantang terucap saat sesi workshop berlangsung. Kali ini kita bicara tentang potensi diri. Dengan mengetahui potensi diri, harapannya kita juga akan lebih mudah menemukan ruang aktualisasi. Di mana bukan hanya sibuk menghabiskan waktu, tapi kita pun semakin produktif.

Sebetulnya tools semacam ini bukan satu-satunya yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan atau pun kepribadian. Akan tetapi aplikasi ini lebih mudah digunakan dan lebih cepat. Hanya saja mungkin dalam hal interpretasi hasil, kita tetap perlu tenaga ahli untuk membacakannya.

Tapi aku menggarisbawahi, bahwa memang dengan kita bisa memahami diri maka kita juga akan bersikap yang tepat sesuai kapasitas diri. Kalau pun misal ternyata saat ini kita justru harus masuk pada situasi di mana sisi lemah kita lebih banyak dimanfaatkan. Maka, kembali lagi. Apakah betul kelemahan kita adalah sesuatu yang memang tidak perlu dilakukan? Ibaratkan kelemahan itu bagian dari skill yang harus dimiliki. Misalnya saja komunikasi.

Komunikasi adalah salah satu cara seseorang menyampaikan gagasan. Mau tidak mau kita tetap harus belajar dan berlatih untuk bisa berkomunikasi dengan lancar, baik secara lisan maupun tulisan. Maka, komunikasi tidak lagi masuk dalam rangka kelemahan atau pun kekuatan seseorang melainkan sebuah kebutuhan untuk dipelajari.

Komunikasi itu butuh bahasa, di mana bahasa itu sendiri merupakan sebuah kesepakatan. Ketika penyampai dan penerima pesan sudah saling mengerti maka, bahasa dan komunikasi dua orang tersebut tidak terjadi masalah.

So, tools apapun yang utama adalah seberapa dalam kamu memahami dirimu sendiri. Apakah kemudian hasilnya akan tetap atau berubah? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Jadi, mari kita sikapi dengan bijak dan mawas diri.

Apapun tools yang digunakan, semua itu kalau menurutku hanya piranti atau alat bantu untuk membahasakan apa yang terjadi dengan diri kita, atau apa kekuatan dan kelemahan diri kita. Jadi, bukan tools-nya yang keren melainkan kalian lah yang luar biasa. Karena telah memahami dirinya dengan baik.

Selanjutnya akan kita bahas tentang ruang aktualisasi dan produktivitas. Dua hal yang mungkin bagiku tidak asing tetapi sangat exclusive untuk bisa mengurainya.

Beberapa waktu lalu seorang senior mengatakan padaku bahwa apa yang kulakukan saat ini bukan lagi untuk pembuktian atau pencarian melainkan untuk sebuah proses aktualisasi diri. Lalu, apa aktualisasi itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia aktualisasi bermakna perihal mengaktualkan; pengaktualan. Sedangkan aktual sendiri bermakna betul-betul ada (terjadi); sesunggunya. jadi, bisa dikatakan bahwa aktualisasi diri bermakna mewujudkan sebuah hasil dari kemampuan yang dimiliki seseorang.

Narasumber dalam workshop tersebut mengatakan bahwa, kalau kita sudah tahu mampu begini dan begitu kemudian menikmati aktivitas ini dan itu, lalu apa? Apa yang akan memunculkan dampak? Atau apa yang menjadikan kemampuan tersebut sehingga bermanfaat? Bukankah sebaik-baik manusia adalah ia yang memberikan banyak manfaat bagi manusia lainnya?

Maka, setelah kita menemukan potensi diri selanjutnya kita juga harus temukan ruang untuk menghasilkan karya. Dikatakan karya tidak mesti berupa produk yang bisa dipegang atau divisualisasikan. Akan tetapi kembali lagi pada kebutuhan dari pada potensi yang kita punyai. Untuk tools apa yang kemarin kita gunakan, kami menggunakan tools sederhana dari Temu Bakat. Biasanya kami di ruang belajar online menggunakan temubakat.com, kalau kemarin kami hanya menggunakan tools manual yang dibantu baca oleh narasumber.

Sekali lagi, alat tes hanya membantu kita untuk membahasakan apa yang terlihat oleh mata. Bukan berarti hasilnya akan mutlak dan tidak bisa berubah. Sebab, manusia itu makhluk dinamis yang bertumbuh dan berkembang. Salah satu fitrahnya adalah menjadi makhluk pembelajar, maka tidak menutup kemungkinan bahwa hasil tes juga akan berubah. Meskipun mungkin ada satu yang melekat dan semakin besar prosentasenya. Bergantung seberapa kenal kita pada diri sendiri.

-arhana- 19/11/2019


Selasa, 05 November 2019

Orang Baik Itu Ada

November 05, 2019 0 Comments
Di antara ribuan logika. Apakah kamu pernah berpikir tentang mereka yang setia saat kamu berada di titik terendah? Apakah kamu pernah menyadari kehadiran mereka? Lantas sudahkah mengucapkan terimakasih? Atau kamu memilih untuk lupa dan tidak tahu apa-apa perihal siapa yang Allah kirimkan saat kau merasa letih?

Seringkali kita merasa hampa. Lelah tak berkesudahan dan penat tiada tara. Merasa waktu menghimpit tak memberi ruang dan kesempatan untuk sekedar berhirup udara segar. Rasanya semua sudah akan sirna, jika sekejap saja kau pejamkan mata. Meski nyatanya, semua masih menanti hingga kau kembali terjaga.

Apakah pernah himpunan kata-kata susut sedemikian rupa, tanpa pernah kau mengalirkannya? Bagaimana rupanya hatimu bekerja saat senyap lebih memilih mendominasi alam sadar? Bukankah kau juga menyadari bahwa tak mesti hidup kita kan seorang diri? Meski kelak kan berakhir sendiri.

Suatu ketika, aku menemukan puing-puing kenangan. Yang kadang terasa indah namun sekaligus menyedihkan. Atau kutemukan berkas-berkas yang kusam, seolah telah usang dan tak terkatakan. Tapi aku tak kuasa meninggalkan. Berdiam diri sebentar untuk memenuhi sang ingatan, bahwa semua itu pernah menaungi hamparan memori.

Kita itu benar tidak sendirian kawan. Karena Allah telah bersumpah, jangan bersedih sebab Allah bersamamu. Allah bersama kita dengan cara mengirim orang-orang pilihan-Nya. Jika bersamanya tenanglah hati kita, sedikit merasa tenteram, dan bersyukurlah hati dan lisan kita.

Semua itu bukan kebetulan, bukan juga semata karena harapan. Tapi ada kehendak Allah yang bekerja di antaranya. Salah satunya adalah hati yang saling terpaut. Pikiran yang seringkali menyebut. Dan lisan yang tak sengaja bergumam. Sebab semua itu telah dinisbahkan atas izin Allah.

Laa haula wa laa kuwwata illa billahil'aliyyil'adziim

Kediri, 5 Oktober 2019

Masa dalam Kenangan

November 05, 2019 0 Comments
Tunggu aku,
Debur ombak bergulung
Meluruhkan segalagala
Berdebur, bergerombol, lalu pergi

Waktu
Memiliki batas antara ada dan tiada
Sebagaimana semesta memiliki siang dan malam
Dan aku, 

Jika telah tiba masaku
Tak seorang pun kan merayu
Tak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Kata Chairil Anwar dalam puisinya
Aku,

Masa terus berganti
Membuat detikdetik berlari
Meninggalkan kerontang dan sisi tersepi
Aku masih di sini
Menunggu batasbatas menghampiri
Semoga puan berbaik hati

Dan sampai waktuku
Ribuan sabda memecah cerita
Berharap hikmah masih tersimpan dalam dada

Kediri, 5 Oktober 2019


Senin, 04 November 2019

Wakhid Syamsudin: Menulis Sesuai Kenyamanan

November 04, 2019 2 Comments
Bismillahirrohmaanirrohiim

Akhirnya tibalah juga kita di penghujung bulan kedua. Perjuangan yang mestinya dirayakan dengan closing syukur yang tiada terkira, karena telah berusaha dengan luar biasa untuk tetap bertahan. Dan tantangan pekan 8 yang sangat istimewa. Kali ini aku akan menulis biografi sederhana untuk satu slide bagian dari kehidupan Pak Wakhid.

Apakah sebelumnya ada yang kenal, siapa Beliau? Benar sekali, Beliau adalah ketua ODOP periode saat ini. Pada kesempatan ini kami berkesempatan mengulik berbagai hal dari pengalaman Beliau bergiat dalam dunia Literasi.

Bapak dua anak ini tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah bersama keluarga kecilnya. Bergiat di beragam aktivitas yang semuanya keren. Bukan hanya ketua ODOP, Beliau juga seorang Ketua RT di lingkungan rumahnya. Adalah kesempatan istimewa dapat mengenal Beliau dalam sesi ini, mengingat kesibukan yang luar biasa padat.

Meskipun demikian, Pak Wakhid yang memiliki nama pena Suden Basayev ini tetap produktif dalam dunia yang ditekuninya, apalagi kalau bukan menulis. Beliau akan meluangkan waktu antara pukul 20.00 hingga 24.00, tepatnya saat keluarga tercinta sudah menuju alam mimpi masing-masing.

Hasil kerja keras tersebut tentu saja sesuai dengan effort yang dilakukan Pak Wakhid. Beberapa hasil karya Beliau diterbitkan di media massa. Dan salah satu pengalaman Beliau memang menjadi penulis di beberapa media massa, diantaranya ada Majalah Ummi, Majalah Hadila, Koran Solopos, Koran Jakarta, dan Kedaulatan Rakyat.

Salah satu tips dari Pak Wakhid yang paling mengena adalah menulislah sesuai kenyamanan, baik itu fiksi maupun non fiksi. Sesekali kita tantang diri dengan genre berbeda, apakah mampu atau tidak?
Tak heran jika kemudian Beliau adalah seorang Ketua ODOP. ODOPers angkatan ke-4 ini mengaku bahwa dahulu selalu berusaha menjadi yang nomor satu mengumpulkan tulisan. Bagaimana keren atau keren?

Buat kalian yang ingin berkenalan lebih jauh dengan Beliau, bisa banget dengan berkunjung ke rumah virtual Beliau yang beralamat di sini https://www.coretanbasayev.com

Minggu, 03 November 2019

PENULIS RASA: Closing

November 03, 2019 0 Comments
Tak ada yang tiba-tiba. Puanku merangkai kata bukan mendadak tanpa peringatan. Hati yang selalu membawanya berima dan menjadi celah untukku teralir suka cita. Meski kadang tersendat dan tak menemukan jalan kembali. Tapi aku selalu punya cara untuk membuat Puan ingat dan menemukanku lagi.

Aku dan Puan adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisah. Mendengar semua ide yang terlontar oleh  mulut memori, membuatku gundah sekaligus bahagia. Sebab puanku tak mesti lega dalam berkarya. Ada saja yang menariknya kembali atau sekedar menjadi distrak.

Rasa, aku menjadi pengiring pada setiap paragraf. Apakah itu tentang irama atau sumbang yang kuhasilkan. Hingga orang lain memahami tentang keindahan itu bukan hanya berupa jejak langkah tetapi juga rangkaian. Dan di sini ia tak hanya untuk dirangkai.

Rasa, penutup itu termasuk ke dalam bagian yang tak terpisahkan. Apakah bahagia, menegangkan, atau justru terasa sangat tak masuk akal.

Puan,
Langit senja menerbangkan segenggam gulanaku. Berarak awan dan sesekali meninggalkan jejak lebam. Aku tak kan putus membiarkanmu terlalu lama bergulat kesedihan. Meluruh bersama puing-puing bernama air mata.

PENULIS RASA: Vibrasi

November 03, 2019 0 Comments
Melakukan hal yang disukai itu belum tentu mulus, lurus dan bebas hambatan. Justru jika hendak naik tingkat, tantangan-tantangan itu hadir mengisi peralihan. Apapun bentuknya, ia akan mengantarkan kita pada puncak yang dinanti. Dengan syarat, kau harus kuat menghadapi dan lugas menjalani.

Naskah berikutnya masih tentang perjalanan hidup anak manusia. Yang dirangkum indah dalam deretan bait dan tenunan kata-kata. Meski sebetulnya mereka sedang menggambarkan luka menurut versi masing-masing. Kemudian apa yang terjadi pada keindahan perjalanan ketika goncangan tiba-tiba hadir di antara jalur yang ditempuh.

Penulis itu bebas, mungkin hanya akan merasa terenyuh dalam satu sisi dan lempeng di sisi lain. Termasuk jika itu tentang asa dan masa lalu. Luka selalu membawa dampak dalam kehidupan kita. Hari itu aku ditugaskan untuk menangani naskah sentimental ini, dan tentu saja rasanya luar biasa. Bukan hanya naskah yang harus kuperbaiki, tetapi juga harus menjaga kondisi tetap fit hingga naskah tuntas.

Naskah terlama yang kutangani sepanjang aku memutuskan untuk menambah giat di dunia editing.

"Seharusnya tak boleh seperti itu." Kata sahabatku.

"Iya, aku tahu. Enggak boleh baper saat nangani naskah. Yang ada malah kitanya yang sakit." Jawabku sambil berhaha hihi.

Tapi akhirnya, vibrasi itu tetap menjadi seni dalam perjalanan yang membuat kita semakin matang dalam proses.


PENULIS RASA: Pena Pejuang

November 03, 2019 0 Comments
Menulis bukan hanya soal apa yang akan dituangkan melalui pena. Melainkan hikmah apa yang terkandung di dalamnya. Sekalipun aku harus menulis cerpen dan sejenisnya.

Setelah mengikuti event daring setahun lalu, giat literasiku semakin mengangkasa. Jejak-jejak pena semakin lincah dan luwes, meski kadang terbentur kerikil kecil di perjalanannya. Aku pun mulai menyusun satu per satu kata. Meski sesekali aku menjadi pejuang deadline, tapi kontribusi itu perkara tanggung jawab. Bagaimana kemudian aku akan mengakhiri apa yang sudah kumulai.

Biidznillah,  naskah kedua pun turun gunung dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aku membagikan kepada dunia tentang kisah sederhana yang pernah melintas di garis kehidupanku. Menulis benar-benar telah membuatku salut dan terharu luar biasa. Entah, dari mana aku mendapatkan warisan ini. Tapi yang jelas aku bahagia bisa membersamainya dalam diriku.

Gara-gara menulis aku mengesampingkan apa yang menjadikanku tak berdaya. Akhir masa kuliah mestinya aku bisa menyandang gelar baru bersama seluruh rekan seangkatan. Namun takdir berkata lain, Allah menghendakiku untuk mundur satu semester. Yang akhirnya menjadikan menulis sebagai pokok masalah yang akan kuangkat dalam sebuah rangkaian eksperimen.

Maka, setelah semua perjalanan itu tertempuh. Bukan lantas aku akan melepaskannya begitu saja. Perlahan mimpi berliterasi itu tersemai dalam imajinasiku. Memenuhi ruang ingin yang mengejawantah dalam giat yang tak terukur saat itu. Aku berusaha menikmati perjalanan ini. Hingga perjuangan sang pena rasa tak pernah sia-sia.

Tinta itu membasahi kanvas kehidupanku dengan bijaksana dan tutur yang menenangkan. Mengajakku merenung dan berkontemplasi bahkan kadang diskusi dengan mereka yang seminat.

PENULIS RASA: Antologi Pertama

November 03, 2019 0 Comments

Tentang aroma yang mungkin selalu kuingat di olfaktorium. Bagaimana aku mengenang serpihan masa, saat aku memutuskan untuk fokus pada satu dunia. Dan rasa yang selalu memenuhi memori untuk segera ditandaskan. Aku memulainya.

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan daring. Aku mulai terkoneksi dengan banyak jaringan. Salah satunya adalah dunia impian. Sejak kapan tepatnya, aku mendaftarkan literasi dalam ruang mimpiku. Rasanya belum pernah terlukis dengan jelas. Dan aku selalu asik mengingatnya.

Persahabatan itu hadir bak embun pagi menyejukkan sang fajar. Menemani dan setia mendampingi hangat sang mentari. Kami bincang daring seolah sudah pernah bertemu muka, padahal tahu wajahnya saja tidak. Who knows, jika ternyata kami memiliki minat yang sama. Tentang menulis dan kaitannya dengan kesehatan.

Percakapan singkat itu menelurkan satu gagasan. Bahwa menulis itu menyenangkan dan bahkan menyehatkan, untuk jenis tulisan tertentu. Meskipun demikian, doi ingin mengemasnya menjadi sesederhana bungkus. Sehingga lebih mudah diterima dan dipahami khalayak.

Proses tersebut kami rekam jejaknya dalam sebuah segmen pelatihan menulis dalam jaringan. Yang kemudian menelurkan satu karya berupa buku. Kemudian buku inilah yang menjadi pemicu lahirnya buku-buku yang lain.

Memang benar, seribu langkah itu selalu dimulai dari langkah pertama. Dan antologi Dari Nihil Menjadi Berhasil adalah buktinya.

PENULIS RASA: Menulis Menyehatkan

November 03, 2019 0 Comments


Aku adalah rasa yang tertuang dari tinta sebuah pena. Menghamburkan berjuta kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang puanku rasakan. Sesekali ia merobek kanvas tempatku tertoreh. Sebut saja kertas dari buku hariannya. Dan seringkali aku menyaksikan mata itu sembab ketika sedang mengayunkan tubuhku.

Kamu tahu? Sekalipun aku ini tak disadari keberadaannya. Bahkan mungkin cenderung dilupakan maknanya. Tapi aku bahagia. Karena sudah membantu puanku melegakan hatinya.

Seringkali ketika sudah mulai aksi, ia tak segan untuk menghabiskan berlembar-lembar helai. Dan yang dikisahkan tentu saja beragam. Sebab aku tak hanya satu. Kadang rupaku yang kecewa ia suguhkan pada kanvas putih dengan bungkus gang menarik. Dan jadilah si putih tak tampak semakin pucat.

Dan seringkali rona kepedihanku yang menemaninya berhari-hari. Menghasilkan ribuan huruf dan ratusan kata, seolah rutinitas ini menjadi pelengkap harinya. Bahkan tak satu pun hari terlewat tanpa satu pesan singkat. Iya, kadang hanya satu bait saja. Dan seringnya berbaris-baris.

Puanku ini memang tak pandai bicara. Menyembunyikanku dengan caranya yang elegan ini, membuatku merasa dihargai. Pelan-pelan kehadiranku membuatnya jatuh hati. Semakin giatlah lagi ia bercerita, ini dan itu. Dari ujung ke ujung, dan dari waktu ke waktu.

Geliatku semakin diperhatikan saat ia menyadari ada sesuatu yang tak biasa. Ada yang berbeda dengan dirinya, dan jika kuperhatikan sebab efek dari rutinitasnya. Apa kau tahu rutinitas yang mana? Ya, benar sekali menulis.

Meskipun tulisannya saat itu tak beraturan, suka-suka dan moody. Tapi, justru menimbulkan vibrasi positif. Sebab ia selalu jujur tentangku dan terhadapku. Tak peduli mereka mengatakan apa. Tapi ia jujur saat mengalirkanku. Dan tak sekalipun meninggalkanku seorang diri dengan pikiran buruk. Dan aku, bahagia bersama lembaran-lembaran catatannya.