Adab Belajar: Fokus atau Tidak Sama Sekali

Bismillaahirrahmaanirrahiim
___**___

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah dialog. Muncul begitu saja sesaat setelah percakapan diakhiri. Juga merupakan sebuah hasil kontemplasi terhadap kebiasaan diri. Jadi, kalau dikatakan spontan, sepertinya tidak sepenuhnya benar.

Di luar sana banyak sekali informasi kuliah berbasis online. Platform atau tempat yang digunakan bisa beragam. Ada WhatsApp group, Telegram, dan Zoom meeting. Pilihan pertama dan kedua, yang sudah jamak kita dengar, biasanya disebut dengan KulWhap atau KulGram. Yang merupakan akronim dari Kuliah WhatsApp (KulWhap) dan Kuliah Telegram (KulGram).

Nah, semakin menjamurnya metode ini. Semakin beragam pula tingkah laku mahasiswanya. Namanya juga kuliah ya? Tentu saja pesertanya kita sebut mahasiswa. Meski memang tidak seperti itu juga dalam kenyataan.

Aku dan teman sekomunitas pun sering mengadakan ini. Baik internal maupun eksternal. Tujuan diadakannya adalah untuk berbagi ilmu, yang pertama. Kedua, untuk memberi wadah paotensi bagi teman-teman yang potensial sebagai narasumber. Atau juga wadah bagi teman-teman yang ingin belajar. Sehingga cara belajarnya kami harap rerarah meski tak terukur. Sebab semua ukuran akhirnya dikembalikan ke peserta.

Saking banyaknya pilihan, aku pun berpikir tentang pola belajarku selama ini. Di awal serasa kebakaran jenggot. Aku semangat, bahkan sangat semangat. Tapi kemudian, ketika jam belajar dimulai, aku justru tengah sibuk dengan kegiatan offline-ku.

Oleh karena itu, setiap hendak klik join, terlebih dahulu aku pasti bertanya. Apa impact yang aku dapat dari mengikuti kelas? Apa yang ingin aku pelajari dari kelas ini? Dan apa yang membuatku harus mengikuti? Ketiga pertanyaan dasar ini yang kemudian membekaliku setiap akan mengambil keputusan.

Dan mantra-mantra Ibu Profesional seringkali menjadi senjata pamungkas untuk tidak menyesal, jika urung mendapati diri dalam kelas. Ya, di mana pun tempatnya, belajar tetap memiliki adab yang harus kita perhatikan. Bukan hanya diperhatikan melainkan juga wajib dilaksanakan. Supaya ilmu yang kita dapat itu barokah. Insyaallah.

Salah satu mantranya yaitu menarik tapi tidak tertarik.

Ya, katakan pada sebuah event, bahwa ia menarik tapi kita tidak tertarik untuk saat ini. Percaya atau tidak, kalimat yang nampak sederhana itu justru memberikan dampak luar biasa. Kita pun legowo untuk tidak mengambil kursi. Maka, perhatikan betul, jawaban dari ketiga pertanyaan di atas.

Selain itu, seringkali di dalam kelas bukan hanya meninggalkan jam belajar karena masih full in action. Tapi bisa jadi layar kita menayangkan perjalanan presentasi di grup, tapi pikiran kita tidak ke sana. So, apa yang bisa dan akan kita dapat kalau hanya bengong?

Maka, berangkat dari beragam hal yang kurasakan itu, aku membuat jargon sendiri. Fokus atau tidak sama sekali. Sudah bisa dipastikan bahwa dalam kurun waktu tertentu kita akan mengikuti sebuah program. Akan tetapi, apakah kondisi publik bisa menyesuaikan atau tidak? Alih-alih memberi kesempatan, seringkali dunia publik meremehkan orang-orang yang sering menggunakan gawai.

Di benak mereka si pemgang gawai ini kalau enggak ngegame ya mungkin menonton YouTube. Bahkan di dalam kedua aktivitas tersebut juga ada muatan belajarnya, jika kita mau berpikir sedikit lebih keras. Hanya saja ini bukan sebuah amunisi untuk boleh berlama-lama dengan gawai, sama sekali tidak.

Fokus atau Tidak Sama Sekali
Nah, sebelum belajar/menuntut ilmu tentu saja kita harus tahu adab-adabnya. Salah satu adab menuntut ilmu adalah hadir dalam majelis yang disepakati. Dan yang kita bahas di sini adalah belajar dengan media online. Sekalipun peraturan perkuliahan disampaikan bahwa boleh disimak setelah jam selesai, tetap saja perlu diupayakan untuk hadir. Terutama jika perkuliahan hanya dilakukan sekali saja.

Seringkali KulWhap atau KulGram diadakan hanya sekali pertemuan. Nah, kalau seperti itu, kecil kemungkinan kita akan membaca ulang materi atau menyimak serunya diskusi. Oleh karena ketersediaan waktu kita berbatas dan mungkin saja kuliah dilaksanakan saat jam padat kita. Maka, akan lebih bijak jika tidak bergabung.

Ya, hal ini tentu saja berkenaan dengan adab kita menuntut ilmu. Maka, meskipun dia menarik tapi kita belum tertarik. Lalu, tinggalkan. Kalau sudah saatnya, ilmu itu juga akan menghampiri kita. Tinggal apakah kita paham tandanya atau tidak. Lain daripada itu, belajarlah sedikit saja kemudian amalkan. Karena ilmu itu sebelum amal. Dan jika telah berilmu jangan lupa diamalkan. Supaya ilmu yang sudah kita dapat bermanfaat. Manfaat itu bisa kita rasakan manakala sudah diamalkan.

Sekian sharing dari saya. Semoga sekelumit kisah ini bisa diambil manfaatnya oleh Sahabat PeKat.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 81019

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter