Sinergi Baca Tulis



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ya, hari ini kita akan bahas tentang sinergi membaca dan menulis. Seberapa urgent dan penting tema ini aku angkat, silakan disimak dulu. Sambil cari spot untuk nongkrong yang nyaman dan aman. Lalu, mari kita diskusikan.
Baca, baca, baca, tulis
Banyak membaca kemudian tuliskan. Tentu saja Sahabat PeKat tidak asing ya dengan istilah tersebut.  Jadi, kunci dari lancar menulis adalah banyak membaca. Kata Pak Hernowo, membaca itu tidak harus buku, tetapi kita dapat memvariasikan bahan bacaan sehingga gairah membaca itu terus ada.

Seringkali ketika ingin membaca sebuah buku, kendalanya datang silih berganti. Apakah itu harganya yang melangit atau buku tidak tersedia. Kalau pun meminjam di perpustakaan, sekalipun di sana juga tersedia banyak eksemplar, kadang juga sedang dipinjam oleh anggota lain. Oleh karena itu, kita harus pandai membuat bahan bacaan bervariasi. Apalagi dewasa ini informasi telah tersebar di berbagai macam media. Meskipun demikian, kita juga tetap harus selektif dalam memilih bacaan.

Proses menumbuhkan minat baca memang tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, itu adalah modal bagi penulis. Banyak pertanyaan dari penulis terutama pemula, termasuk aku, tentang beberapa hal berkaitan dengan ide misalnya, atau macet saat mengembangkan, bahkan bagaimana cara mengalirkan supaya ide-ide di kepala tidak berebut keluar. Dan apakah kalian tahu? Jawabannya hanya satu, membaca.

Nah, untuk membaca sendiri ada beragam teknik supaya ia menjadi aktivitas yang menyenangkan dan sangat ringan untuk dikerjakan. Salah satunya adalah membaca nyemil. Camilan itu dimakannya bagaimana? Sedikit demi sedikit.

Ok. Maka begitu juga dengan membaca nyemil. Kita tidak harus menyelesaikan satu bacaan dalam sekali duduk. Tapi, perlu memberi jeda untuk memahami apa yang kita baca. Caranya ya dengan sedikit demi sedikit itu tadi. Ambil posisi yang nyaman, kemudian ciptakan moment membaca yang menyenangkan. Insyaallah dengan begitu, perlahan kita akan menikmati bacaan-bacaan kita. Atau merindukan moment baca kita.

Sedikit cerita, tadi malam aku sudah melakukan itu. Membaca buku Pak Hernowo memang tidak bisa dilakukan dengan buru-buru. Atau bahkan diambil saat kita sedang tidak fokus pada bacaan. Sekalipun bacaannya serius, tapi sangat renyah untuk kita hidangkan berulang kali. Makanya kalau aku, buku ini lebih cocok dijadikan camilan bacaan.

Buku yang kubaca berjudul Mengikat Makna Update. Ada beberapa part yang isinya sangat menohok untukku. Ia adalah tentang permainan ide yang tampaknya sangat banyak tapi sesungguhnya di dalam kepala tidak ada isinya, hampa, kosong. Bagaimana bisa?

Ya, apakah kalian pernah merasakan demikian? Ingin sekali menuliskan berkelebat dan beratus ide yang muncul di kepala. Tapi, kita tidak bisa memulainya barang sekata. Kalau kalian tidak pernah, fine, aku saja berarti. Hehehe

Jadi, ketika hal itu terjadi, maka pertanyaannya adalah bagaimana kualitas membacaku? Apakah sudah membekali diri dengan bacaan? Seberapa banyak? Dan bagaimana aktivitas membaca bagiku? Sudahkah menjadi kebutuhan? Atau hanya aktivitas sambil lalu?

Kata Pak Hernowo lagi, kalau belum bisa mencintai baca, jangan pernah bermimpi untuk jadi penulis. 
Duh ... duh ... duh. Rasanya seperti yang terlempar ratusan meter. Kebas seketika dan ternyata aku bukan apa-apa. Amazing.

Em, membaca itu aktivitas memenuhi teko otak kita, Sahabat. Seringkali kita juga dengar bahwa apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Karena ketika membaca, ada proses memasukkan kata-kata. Sehingga kita semakin kaya kosakata. Dengan kaya kosakata ini, kita akan lebih mudah mengatasi kemacetan saat menulis. Atau sebut dia stuck.
Membaca adalah aktivitas mencari jawaban.
Sahabat PeKat pernah dengar tentang ini, jika kamu tidak menemukan reverensi bacaan yang kamu cari, maka tuliskan. Bisa jadi, tulisanmu itu yang akan menjadi solusi. Aku lupa ini sumbernya dari mana. Tapi aku ingat pesan dari tulisan tersebut. Intinya, membaca itu adalah proses kita mencari jawaban. Ketika kita macet, kemudian membaca, maka ini adalah proses kita menemukan solusi dari kemacetan. Dan dalam surah Al-Alaq, Allah telah menejalaskan juga tentang kaitan membaca dan menulis ini. Yuk, kita sama-sama meresapi maknanya.

Betapa manisnya sinergi baca tulis ini, Sahabat. Mari kita jaga bersama gairah baca, dan jika memungkinkan tularkan semangat itu kepada lingkungan.

Terimakasih sudah kembali untuk menghadiri pertemuan kita. Semoga yang sebentar ini dapat diambil manfaatnya, dan aku bisa hadir setiap hari di ruang baca sekaligus ngupi-ngupi ini, biidznillah wa bibarokatillah. Aamiin


Kediri, 23 Oktober 2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

10 komentar

  1. Banyak pertanyaan dari penulis terutama pemula, termasuk aku, tentang beberapa hal berkaitan dengan ide misalnya, atau macet saat mengembangkan, bahkan bagaimana cara mengalirkan supaya ide-ide di kepala tidak berebut keluar. Dan apakah kalian tahu? Jawabannya hanya satu, membaca.

    Arhana 2019

    menarik nih, untuk orang yang ogah-ogahan mmbaca, sepertinya harus coba istilah Kak Arhana deh. mengemil Buku. sama hal kita ngemil makanan, tak perlu banyak, perlahan-lahan saja sambil santeii.. Aduhaiii, menginspirasi sekali ulasannya Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-D
      Itu istilah bukan dari saya Kak Ibra.

      Pak Hernowo yang bilang, kalau baca itu perlu jeda. Supaya apa yang kita baca tidak lewat begitu saja.

      Semangat Kak...
      Terimakasih untuk highlight yang ditinggalkan. Bahkan aku tak terpikir untuk menemukannya.

      Hapus
  2. Meningkatkan minat baca adalah hal yang sulit di lakukan apalagi keterbatasan fasilitas. Didukung lingkungan yang tak suka banyak baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar... Makanya menciptakan moment baca itu menjadi faktor penting dalam membangun minat baca.

      Hapus
  3. Sekarang ini aku merasakan manfaat dari membaca...bisa memperkaya kosakata

    BalasHapus
  4. Membaca karya orang lain bisa sekalian belajar tentang cara membuat alur cerita, seperti mencari inspirasi juga bisa jika kita tidak menyukai akhir cerita bisa buat cerita yang baru dengan akhir cerita seperti yg kita ingini.

    BalasHapus
  5. Tulisannya ku suka kak😊 kita memang harus banyak membaca, bukan hanya untuk menulis atau untuk mendapat ide, tapi memang karena kita butuh membaca😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter