Belajar dari Pengalaman

Dok. Pribadi

Brak!

Suara itu terdengar sangat mengerikan di telingaku. Suara gesekan ban dan aspal yang direm mendadak oleh sang sopir, menimbulkan tekanan pada sisi dalam ban sehingga bukan hanya mendecit tapi juga meletus. Kami sama-sama terpental dalam versi masing-masing. Entah apa yang terjadi pada mobil di depanku, aku hanya mampu mengamati dari jauh. Sebab di sini aku juga luka-luka akibat hilang kendali pada stang sepeda yang kukendarai. Akibatnya, aku harus bertubrukan dengan kerikil kecil di pinggir jalan.

Sebenarnya lukaku tidak terlalu parah, mengingat kecelakaanku yang sebelumnya. Ini tidak seberapa. Tapi aku terlalu kaget sampai-sampai tak mampu mengendalikan apa yang bergaung di rongga telingaku. Mengetahui kondisi ini, Ayah segera membawaku ke rumah sakit. Di sana perawat ayah membantu untuk membersihkan luka dan kemudian memberiku sedikit obat penenang. Mungkin supaya aku sedikit lebih toleran dengan bebunyian ini.

Sehari kemudian, aku masih belum terbiasa dengan lingkungan berisik di sekitarku. Kalau Bunda bilang, mungkin aku mengalami trauma. Jadi aku cenderung berbisik saat berbicara, dan tak toleran pada suara-suara orang yang ngobrol dalam nada normal.

"Kakak, apa yang dirasakan?" Tanya Bundaku lirih. Bunda selalu bertanya apa yang kurasakan, ketimbang menunjuk. Memastikan aku bisa merasakan dan menyadari bagian mana yang sakit. Begitu juga dengan Ayah, meskipun cenderung diam dalam menanganiku. Aku yakin, Ayah juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan Bunda. Hanya saja cara mereka mengekspresikan berbeda.

"Ndak ada Bun. Kakak ndak papa."

"Kenapa telinganya masih ditutup, Nak?"

"Ini lho Bun, ada suara berisik di telinga Kakak. Bunda, Kakak minta maaf ya?" Aku tahu, Bundaku banyak berpikir pasti. Makanya aku segera mengalihkan pembicaraan kami saja.

"Maaf kenapa, Sayang?"

"Karena Kakak ndak hati-hati."

Bunda hanya tersenyum menanggapi ucapanku, kemudian bergegas memelukku. "Lain kali hati-hati, Nak. Bunda ndak marah."

"Bener Bunda? Bunda jangan marah ya, jangan sedih."

"Iya, Sayang." Kata Bundaku lagi.

Bunda adalah orang yang sangat berarti untukku. Sedikit pun aku tidak ingin melihat Bunda sedih. Aku tidak bisa melihat Bunda marah. Sekalipun Bunda tidak pernah marah tanpa alasan, dan aku selalu menyadari itu. Suasana hatiku pun berubah-ubah mengikuti suasana hati Bunda. Kalau kalian tanya kenapa, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah hati kami saling terpaut. Itu saja.

Sore itu aku sedang bermain sepeda. Karena jalanan lengang makanya aku mengayuh sepeda ke jalan raya di depan rumah, ya itu sih cuma jalan kompleks perumahan. Jadi bukan jalan raya besar yang ramai. Biasanya juga mobil jarang lewat area situ. Tapi mungkin memang sudah takdirku jatuh, untuk menghabiskan jatah jatuh, kata Bunda. Ya, karena kaget dan secara mendadak menghindari mobil, aku pun terpelanting ke pinggir jalan. Alhamdulillah hanya luka ringan, sebentar saja juga akan sembuh. Tapi, ada hal lain yang membuatku merasa panik dan luar biasa takut.

***

Kamu percaya tidak? Selama Bundaku tenang dan yakin, aku juga merasakan hal yang sama. Sepekan ini, suara-suara gaduh itu hilang. Dan aku bisa kembali melakukan aktivitasku seperti biasa. Jadi teman-teman, kita boleh kok main sesuka hati kita. Tapi, tetap harus hati-hati ya. Waspadalah! Waspadalah!

Hehehe ....

Kalau orang tua kalian mengingatkan untuk tidak melakukan ini dan itu, yakinlah, bukan karena mereka tidak meyanyangimu. Tapi justru itulah bentuk kasih sayang mereka untukmu. Mereka tidak ingin melihatmu kenapa-kenapa. Tapi, kalau kamu tetap penasaran untuk melakukan yang orang tuamu larang, pastikan keridloan mereka ada di genggamanmu. Sebab itu juga yang mengantarkanku sejauh ini melangkah. Bunda mengizinkan aku melawan ketakutanku sendiri. Biidznillah, aku bisa sembuh dari trauma-trauma masa kecilku.

Sudah dulu ya teman-teman .... Bunda sudah memanggilku untuk sholat.
Assalamu'alaikum

Kediri, 27 Oktober 2019

Disclaimer. Cerita ini hanya fiktif.

Related Posts

There is no other posts in this category.

6 komentar

  1. aku melihat ada nilai luhur atau pendidikan karakter yang tersirat dalam cerita ini. seperti sikap anak kepada ibu, dan sebaliknya. seruu bacanya,. hee

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter