Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Sabtu, 26 Oktober 2019

Review Buku: Kitab Penyihir Aksara

Dok. Pribadi


Judul: Kitab Penyihir Aksara
Penulis: Brili Agung

Ada yang kenal buku ini? Coba ketik jawabannya. Lalu, apa yang terlintas di pikiran Sahabat sesaat setelah melihat cover-nya? Yang sudah kenal bahkan ikut coaching dengan penulisnya, boleh ikut berbagi pengalaman di kolom komentar ya. Jangan lupa centang notifikasi komentarnya supaya kita dan teman-teman yang lain bisa aktif diskusi.

Baik, kali ini aku bingung kasih judul tulisan. Ya sudah, sebut saja ini review, tapi kalau ternyata isinya melesat jauh dari jalur review, mohon dimaafkan. Penenun Kata sedang belajar membuat cerita, anggap saja begitu. Karena sesungguhnya aku lebih nyaman dengan cara ini, berbagi, tanpa terikat aturan. Bukan ga mau diatur atau ga bisa. hehehe .... Aku cuma merasa kurang bebas berkreasi saja, karena memang aku masih belajar menenun kata. Semoga dan semoga ya, kelak aku bisa menjadi reviewer sebagaimana mestinya. Karena salah satu tujuan aku membangun Teras Kata juga untuk membagikan ilmu yang pernah aku dapat dari membaca. Wujudnya bisa berupa review, harapanku sih itu Sahabat. Mohon doanya.

Ahaha, jadi melantur yak...

Oke, kita kembali ke buku KPA.

Kalau aku, pertama kali lihat buku ini, rasanya amazing. Itu belum baca isinya, masih 'kebetulan' dia lewat depan Teras. Kira-kira setahun yang lalu ya, tiba-tiba aja gitu muncul. Terus kan, akunya penasaran, ko unik, batinku. Jarang ya ada buku judulnya kitab gitu. Biasanya kalau kitab ya you know-lah apa? Kemudian aku coba telusuri itu, dari mana arah datangnya. Sampai akhirnya aku DM penulisnya. Kalau ndak salah begitu. Sudah setahun juga ya, agak lupa akunya.

Singkat cerita, buku itu berhasil juga masuk ke Teras dan menjadi salah satu bagian penghuni Teras. Entah member ke-berapa, aku juga ndak ingat. Biasanya, aku suka cuek tuh sama member baru. Ya paling aku cuma uncover, terus kenalan dikit. Habis itu aku gabungin dia sama member lama. Nanti, kalau mood-ku lagi oke, baru samperin dia. Itu biasanya. Jadi enggak yang langsung dibuka terus baca. Tapi ya lihat juga kasusnya sih. Kalau bukunya bener-bener harus segera aku selesaikan untuk menjawab ini dan itu, ya begitu datang sudah langsung aku dudukin untuk wawancara sampai tandas. Hahaha, enggaklah. Buku diwawancara, dibaca atu... Dan itu bukan dibuat duduk ya, enggak bolehlah buku dibuat alas duduk. Maksudnya itu dia aku baca dalam sekali duduk.

Nah, beda sama si KPA ini. Aku enggak lama sih membiarkan dia ter-cover rapi. Aku langsung baca dia, kebetulan moment-nya juga pas. Pas gerimis (hahaha, apa hubungannya?), ada bangetlah. Membaca buku pas gerimis itu syahdu sejuk gimana gitu ya. Hehehe ....

Tadinya aku takut mau mengawali dari halaman pembuka. Secara judulnya Penyihir, sudah gitu konsepnya Harry Poter banget, dan mungkin aku satu-satunya orang yang enggak heboh sama si HarPot. Alasannya simple, aku kesulitan membaca novel terjemahan. Bukan HarPot saja kalau begitu. Tapi aku sering dan suka dengar kisahnya dari teman-teman yang suka baca atau nonton HP.

Lupakan soal kengerian. Kalau kalian beneran belum kenal dan penasaran, bisa banget klik di sini untuk bisa kenalan langsung sama si KPA. Kataarhana, judul buku mencerminkan isinya banget. Brili benar-benar mengajari kita untuk menjadi penyihir. Eits, iya ... Penyihir Aksara. Teori yang dipaparkan enggak bertele-tele, dan kita bisa langsung praktek setelahnya. Pokoknya ya itu tadi, amazing. Sesuai ekspektasilah, malahan lebih mungkin. Jadi, enggak rugi untuk investasi dan jadiin dia salah satu koleksi perpustakaan pribadi kita.

Baru kali ini aja aku bersemangat untuk mengikuti semua aksi dari buku. Mulai dari ritual satu sampai selesai dan mantra satu. Kenapa aku berhenti di mantra satu? Kali ini alasan personal lagi. Aku belum berhasil menciptakan moment. Mantra kedua dan seterusnya bukan sesuatu yang ringan, butuh fokus yang baik dan akan lebih mengena kalau disertai aksi tentunya. Tapi saat itu aku tidak bisa fokus untuk menyelesaikan. Bisa dibayangkan ya, mungkin aku akan dapat menyelesaikan satu buku solo. Kalau sudah finish bacanya. Hihihihi. Oiya, jadi materi di buku ini betul-betul dikonsep layaknya kitab sihir (udah kaya yang tahu kitab sihir seperti apa aja. Hehehehe), ya kalian pahamlah mestinya. Kalau ndak mau membayangkan, ya itu tadi buka sendiri saja linknya.

Di sana ada tiga bagian utama. Pertama ada Purnama, kalau menurutku ini semacam motivasi dan pembaruan mindset kita tentang menulis. Kemudian bagian kedua Brili sebut sebagai ritual. Nah, di sinilah saatnya aksi itu di mulai. Ini aku kasih bocoran hasil aksiku saat itu.
Bikin catatan yang paling lama itu ya ini. Ga ngerti mau nulis apa. Lha wong menikahi bahasa. Tapi ga kenal bahasa yang mana. 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣
Yang diminta itu nulis kata asing. Dududududu ini namanya apa ya? Nyentil banget, berasa kurang bacaan. Atau kurang gaul. Hehehe
Tap tapi, tadi nemu bahasa aneh pas lagi browse. Nggak sih salah, pas lagi baca wp ada bahasa planet seperti itu. Terus ingat dan browse. Hehehehe... Dan berikut ini kata yang kutemukan:
1. Wagelaseh : wah gila sih
2. Warbiyasah : luar biasa
3. A sih B aja : apa sih biasa aja
Baiklah, sementara itu dulu. Bahasa gaul yang kutemukan dan banget-banget asingnya. Bahasa yang lain, menyusul yaaaa...
😅😅😅
💦
-arhana-
Kdr, 171118
Judulnya ritual #3. Ritual yang menurutku paling amazing. Kenapa? Ya itu pasti sudah terjawab, kan? Bisa dibilang aku kurang gaul mungkin ya, karena enggak punya referensi bahasa aneh. Hahaha, ya enggak semulus atu lurus itu juga sih. Cuma memang akunya yang kurang peduli sama bahasa-bahasa asing begitu.

yang ketiga adalah mantra. Jadi lengkap bukan, ada ritual yang dilakukan saat purnama dan dalam ritual kalian harus baca mantra. 😂😋

Yes, meskipun buku ini keren sampai tersihir juga akunya, tentu saja bukan satu-satunya ya Sahabat. Dan aku sepakat dengan pernyataan Pak Hernowo, bahwa menulis itu bukan soal seberapa hafal kita pada teorinya, akan tetapi seberapa banyak kita telah berlatih. Dan buku KPA-nya Brili Agung akan menuntun kita mewujudkan itu. Menulis jadi menyenangkan, tanpa beban dan luar biasa. Teori bukan tak penting, tapi dengan sering berlatih, maka teori akan melekat dengan sendirinya.

Seabu-abu apa pun tulisanmu, jangan pernah berhenti. Karena semakin banyak menulis, warnamu akan tercipta dengan sendirinya. Gaya kepenulisan itu juga akan mengikuti. Sama seperti seni, di mana masing-masing tangan dan individu memiliki takaran seninya sendiri-sendiri. So, temukan gayamu dan cintailah. Sebagai upaya menghargai diri sendiri karena sudah berusaha sejauh ini.

Terimakasih sudah menyimak dan hadir di ruang berbagi kita. Semoga yang sedikit ini bisa diambil manfaat ya. Sampai jumpa di pertemuan yang akan datang.

Assalamu'alaikum wa rohmatulloh wa barokaatuh

Kediri, 26 Oktober 2019

1 komentar:

  1. Review yang paling mendidik yang pernah aku baca. Hehe. Selain menarik aku biar kepengen beli bukunya.

    Aku sempat gagal Fokus ketika buka Link yang mengarah ke halaman penjelasan buku itu, woooow ternyata bukan buku biasa, marketing nya juga warbyaasaah.

    Keren aslona

    BalasHapus