Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Selasa, 01 Oktober 2019

Request 1: Menulis Fiksi Anak

Assalamu'alaikum Sahabat PeKat ....
Apa kabar malam ini? Semoga selalu sehat dan bahagia ya. Aamiin
Yes, Arhana kembali lagi malam ini dengan berjuta ide yang sudah digenggam. Tapi, pada tahu tidak, malam ini aku mau berbagi tentang apa. Kalau dari judul, bau-baunya aku mau "menjelentrehkan", apalah itu bahasa aneh banget ya? Hehehehe ....

Ok, malam ini Arhana berkesempatan untuk menjawab request dari Sapporo, namanya Kak Ibra, sang ninja penulis. Kalian bisa tuh main-main juga ke rumah virtual Beliau. Alamatnya di sini, tinggal klik saja sudah sampai. Hahahaha .... Ninja, larinya sambil kedip sudah ada di tujuan.

Jadi, sesuai dengan janjiku kemarin, kalau kalian boleh request tema apa yang akan kita bahas di sini. Dan kali ini request Kak Ibra adalah tentang menulis fiksi untuk anak, dengan fokus diksi yang menyenangkan tentunya. So, mari kita mulai saja.

Bismillahirrohmaanirrohiim

Sebelum kita membahas tentang cara atau tata aturan menulis fiksi asik anak, terlebih dahulu kita perlu samakan persepsi. Tentang apa itu fiksi dan definisi anak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kenapa? Jawab saja, untuk membiasakan diri dengan KBBI. Kalau enggak biasa, kita enggak bisa dekat, kalau enggak dekat bagaimana bisa tahu tata aturan penulisan yang sesuai kaidah? KBBI itu salah satu kitabnya penulis. Untuk melihat bentuk kata baku, salah satunya.

Oke, kembali ke fiksi anak. Fiksi menurut KBBI adalah cerita rekaan, berdasar khayalan atau pikiran dan tidak berdasarkan kenyataan. Sedangkan anak kita merujuk pada definisi secara psikologis ya. Bahwa yang disebut anak adalah makhluk sosial sebagaimana orang dewasa yang masih membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya. Eum, kenapa aku memilih pembahasan ini berkaitan dari sisi psikologis? Karena aku memang akan memaparkan materi ini dari kajian psikologis.

Fiksi anak dibuat dengan tujuan membantu anak-anak untuk menyukai aktivitas membaca. Yes, sebelum kita membuat naskah atau tulisan, perlu dipahami terlebih dahulu tentang siapa sasaran baca kita. Apakah anak-anak, remaja atau dewasa? Oleh karena itu, dalam banyak kajian penulisan buku, perlu dibuat matriks buku. Yang di dalamnya memuat informasi atau kalau manusia biasa menyebut sebagai curriculum vitae. Hanya saja berbeda bidang dan informasi yang akan kita sampaikan. Nah, salah satu isinya adalah sasaran baca.

Setelah kita menemukan tujuan dari penulisan, tentu saja tidak serta merta selesai begitu saja. Kita perlu tahu juga dunia dari segmen baca kita itu seperti apa. Karena kita mau menulis untuk anak-anak, yang utama dan penting adalah masuk ke dalam dunia mereka. Ah, kalian tentu sudah lebih mahir tentang ini. Dunia anak itu bebas berkreasi, berekspresi, dan eksplorasi. Mereka juga makhluk yang paling besar rasa ingin tahunya. Hehem, ingat dong kalau bertemu dengan makhluk satu ini, kalian tentu pernah merasa kuwalahan menjawab pertanyaan. Pernah tidak?

Ya, mereka memiliki daya imajinasi yang luar biasa tinggi. Rasa ingin tahunya pun luar biasa besar. Maka, fiksi yang berhasil itu ketika tulisan tersebut mampu membawa pembacanya memiliki quriosity yang semakin bertambah. Ya, pembaca yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, akan berusaha mencari jawaban. Membaca, tentu tidak akan berhenti di tengah jalan, bukan?

Maka, ketika kita memutuskan untuk menulis kisah anak, yang perlu diperhatikan setelah masuk dunia mereka adalah tahap pemahaman. Ingat, asik menurut kita belum tentu asik untuknya. Menarik menurut kita belum tentu menarik untuk mereka. Jadi, totalitas nyemplung ke dimensi usia sasaran baca.

Kita mungkin tanpa sadar seringkali tercengang dengan polah tingkah bahkan celoteh polos mereka. Apakah kemudian kita perlu merevisi bahasanya? Kupikir tidak. Justru kita lah yang harus masuk ke dalamnya. Banyak main dengan mereka, sehingga kita paham bahasa seperti apa yang akan dengan mudah dipahami. Karena mereka memiliki kosa kata yang tentu saja masih terbatas. Maka, jangan paksa asik menurut kita.

Masuk dunia anak berbeda dengan kekanakan ya, Sahabat. Dua hal ini sama sekali berbeda. Jika kalian merasa sama, maka bersiaplah untuk menghadapi waktumu dengan sangat membosankan dan penuh dengan tekanan. Cobalah sesekali menyelam bersama mereka, dan rasakan sensasi apa yang kalian rasakan. Apakah pernah dalam rutinitas kalian bisa tertawa seriang ketika bersama mereka? Dan apakah tingkah polah mereka sama sekali tidak ada nilai dan peajarannya? Buktikan sendiri.

Ketika kemudian, kita sudah masuk ke dunia mereka. Bisa bicara dan saling terhubung. Aku pikir, kalian telah siap untuk membuat kisah menarik bersama mereka. Well, ketika anak-anak merasa bahagia dengan ide cerita kita, pada saat itu telah terjadi proses menuju baca lancar. Ya, yang diperlukan anak-anak bukan buku bacaan berat sesuai standar baca kita. Buat mereka suka dulu, maka dengan sendirinya mereka akan belajar. Karena sejatinya setiap anak terlahir sebagai individu pembelajar. So, tumbuhkan terus bibit ini. Rawat, sehingga ia tidak hanya sekedar hidup tapi juga bermakna.

Karena dunia mereka berbeda dengan kita. Kita sudah pernah melewati masanya. Sedangkan mereka belum pernah berada di posisi kita. Maka, sudah seyogianya kita lah yang memahami mereka, bukan sebaliknya.

Demikian yang bisa kupaparkan terkait bagaimana membuat sebuah bacaan anak menjadi asik bagi anak-anak itu sendiri. Semoga yang agak berputar ini ada yang bisa diambil sebagai manfaat. Dan pertemuan kita malam ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa esok hari, insyaallah.

Assalamu'alaikum ....

#tumbuhkan minat membaca dengan cara menyukai, bukan dengan cara bisa. Karena bisa akan mengikuti jika hati sudah suka.

Kediri, 11017

6 komentar:

  1. Kita sama di odop7 tapi aq di grup Tokyo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Iya Mbak... Alhamdulillah, bisa belajar bareng lagi. Berasa ospek kitanya. Hehe.. teman-teman RWC Aisyah banyak yang ikut kayanya. Tapi beda-beda kelompok.

      Hapus
  2. Makanya ada yang bilang kalau nulis bacaan buat anak tuh agak susah² gimana gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hem,,, bener Kak Zen... Susah-susah menyenangkan. Kalau ga pas bisa jadi garing bacaannya.

      Hapus