Mulai dari Diri Sendiri


Ya, mari simak story WhatsApp yang kubagikan kurang lebih satu tahun yang lalu. Bukan untuk menegur siapapun, lebih-lebih menggurui, story semacam ini justru pengingat untuk diri sendiri. Biasanya, ketikan seperti itu tidak kubagikan, hanya disimpan sendiri. Tapi, saat-saat tertentu bisa juga menjadi pengingat bersama.

Ceritanya, setahun lalu, aku seperti sedang di ambang batas. Maju salah, mundur pun tidak menjadi solusi. Lalu, kontemplasi adalah jawaban dalam kondisi semacam itu. Berhenti sejenak bukan berarti untuk melangkah pergi.

We know that pemimpin juga manusia. Yang memiliki kebutuhan lain dalam hidupnya. Tidak serta merta hidup untuk apa yang dipimpinnya. Dia tetaplah manusia biasa yang berdiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, stabilitas diri seorang pemimpin menjadi modal utama dirinya berada pada posisi penting tapi genting tersebut.

Bukan hanya stabil, seorang pemimpin juga mesti sudah tuntas perkara FoE dan FoR-nya. Ia paham bahwa setiap individu berucap sekaligus bersikap dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan yang melatarinya. Selama ia belum tuntas akan pemahaman tersebut, mestilah akan banyak menemui kendala yang bisa saja mestinya tidak ada.

Kembali lagi, karakter seorang pemimpin yang demikian, saat itu disebut no keder. Dan hari ini aku membahasakannya dengan bahagia diri. Karena pemimpin itu juga manusia, maka proses adalah jalannya untuk merenung, rehat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan bersama awak kapalnya. Ia tak mungkin begitu saja menyerah, dan memindahkan tampuk amanat kepada awak kapal.

Oleh karenanya, baper dan keder itu enyah lah. Semakin seorang pemimpin itu psimis, awak kapalnya justru akan semakin jauh memadamkan bara semangatnya. Dan ini betul-betul kurasakan. Ketika diri ini oleng terhadap realita, merasa tak berdaya dalam banyak sisi, teman-teman tim justru lebih kalut dadi yang kubayangkan.

Meski aku belum mampu mengenali situasi. Tapi percaya bahwa perubahan besar itu akan terjadi ketika ada perubahan kecil dari dalan diri sendiri. Maka, langkah pertama pub harus segera diambil. Tak peduli dimulai dari sisi mana. Yang jelas, pemimpin adalah poros, mau ke mana pimpinannya akan di bawa.

Kalau mau bahagia, maka tularkanlah kebahagiaan itu. Bukan sebaliknya. Sebab, memberi tanpa mengharap, justru akan mengembalikan lebih banyak. Sebaliknya, jika kita mengharapkan sesuatu dari sebuah sikap, yang adalah nol. Karena ikhlas menjadi alat tukar yang tak ternilai harganya.

So, keder itu memiliki prosentase beragam. Kenali gejalanya, dan tuntaskan saat itu juga. Jangan kasih kesempatan untuk sesuatu yang tak semestinya menyelinap. Siapkan amunisi, dan berbahagialah dengan capaianmu. Supaya kebahagiaan itu kelak menular pada setiap baris pimpinanmu. Akhirnya bukanlah kharisma yang bertahta, melainkan sistem yang bekerja.

Happy leader together!

Kediri, 14102019

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter