Grojogan Sewu di Alam Kandung

Source: dokumentasi pribadi

Hari Ahad beberapa pekan lalu, aku berkunjung ke salah satu member komunitas bersama teman-teman pengurus. Tujuan kami pertama silaturahmi dan kedua takziah atas meninggalnya rekan kami tadi.

Perjalanan ini diikuti oleh 6 orang dewasa dan 5 anak. Sebelumnya tidak ada agenda untuk pergi ke salah satu wisata. Entah bagaimana ceritanya, bapak-bapak memutuskan mampir ke wana wisata ini. Aku sendiri hanya menyimak sekilas untuk memastikan rute yang akan kami lewati.

Saat itu kami berada di wilayah Tulungagung. Sedangkan wisata ini terletak di Desa Tanen, Rejotangan, Area Sawah, Tanen, Kec. Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66293.

Source: dokumentasi pribadi
Source: dokumentasi pribadi
 
Jalan menuju wisata terbilang cukup sulit. Tetapi masih bisa dilewati mobil. Menurut informasi dari google map, juga masih mampu akses untuk elf, tapi aku tidak bisa memastikan elf yang ukuran berapa. Saat itu kami mengendarai kendaraan pribadi jenis taxi dan pick up. Lumayan bikin berdebar saat tak disengaja ada kendaraan dari arus berlawanan. Dimungkinkan juga dari wisata yang akan kami kunjungi.

Meskipun jalan kecil (kurang lebih selebar mob pribadi ditambah setengah meter), tapi samping kanan kiri bukan jurang atau tepi yang curam. Justru bahu jalannya berupa tanah, tapi memang beda ketinggian dari jalan. Di samping itu, jalanan sudah mulai rusak karena terlalu banyak dilewati muatan berat. Kemungkinan lain juga karena kondisi tanah jenis bergerak (kata teman-teman).

Jujur, aku tidak ada bayangan akan seperti apa tempatnya. Air terjun yang lebih dari sekali kunjungi hanya Coban Rondo, Malang. Selebihnya aku sering melihat di pinggir jalan, sepanjang rute menuju Malang. Ada juga yang disebut Grojogan Sewu. Berkali-kali aku hanya menerawang, mengapa disebut Grojogan Sewu.

Rasanya kami akan terus menahan napas sampai pos penjagaan pintu masuk mulai terlihat. Tapi di situ, aku lagi-lagi masih belum percaya sedang di mana kami. Setelah dari pos penjagaan, kami turun untuk memarkir kendaraan. Tak ubahnya lahan kering. Tempat parkir ini justru terlihat seperti halaman. Hanya saja bentuknya berundak. Di sini saya mulai berpikir banyak. Membayangkan. Jika pengunjungnya banyak, akan jadi seperti apa lahan parkir ini.

Oiya, wana wisata ini tergolong sangat murah. Karcis masuknya hanya Rp 6.000, mestinya ada ketentuan tarif. Akan tetapi pada saat itu, kami hanya dihitung dua orang dewasa. Sementara rombongan dalam satu mobil berjumlah 4 orang dewasa dan 3 anak.

Setelah urusan parkir memarkir selesai. Kami disuguhi pemandangan yang kering, gersang, dan rasanya tak nyaman untuk mulai perjalanan. FYI, hari ini memang kondisi hutan kota sedang tidak sehat ya sahabat. Beberapa titik kita dapati sedang terbakar. Entah dibakar atau memang terbakar kita tidak tahu. Jadi, sore itu kami menapak satu demi satu langkah. Suasana di sana tidak terlalu dingin. Waktu itu kami tiba sekitar pukul 15.30 wib. Tapi, pukul 16 lebih hawa dingin mulai menyambut.

Lokasi air terjun dengan parkiran kurang lebih 500 m. Di sepanjang jalan itu, aku banyak mengamati. Ada kolam renang yang sudah tidak difungsikan. Kemudian beberapa warung berjajal di sepanjang area sebelah kanan dan beberapa di kiri atas. Ya layaknya pegunungan, tentu saja jalan setapak yang kita lewati akan menanjak dan kadang banyak kerikil.

Setelah melewati hutan kering dan suguhan yang tak terawat tadi. Kami mulai turun dan menjejak jalan setapak. Di situlah mulai terkuak keindahannya. Kalau diperhatikan, airnya berwarna hijau. Sedangkan air terjunnya memang tidak terlalu tinggi. Di ketinggian dekat air terjun, aku mengamati anak-anak, betapa bahagianya mereka ketemu air.
Source: dokumentasi pribadi

Diperkirakan, wana wisata ini dulunya sangat terawat. Namun entah karena apa, perubahan-perubahan itu terjadi di beberapa titik. Dan sekarang dilengkapi dengan spot foto seperti frame, atau hanya sekedar tempat duduk dengan meja yang semuanya buatan dari semen.

Meskipun terkesan kering karena memang cuaca tak menentu. Suasana di sekitar air terjun memberi atmosfer baru pada kita. Terutama airnya yang menghijau.

Kalau ada kesempatan di dekatnya situ, silakan main. Semoga saja sudah pada aktif lagi. Kan eman kalau dibiarkan begitu saja.

Baik sahabat PeKat, kisah kita malam ini cukup sampai sini dulu ya. Besok kita bertemu lagi, insyaallah.

Kediri, 20 Oktober 2019

Related Posts

There is no other posts in this category.

20 komentar

  1. Kirain tadi yang di Tawangmangu, jebulnya bukan ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ree ko tahu? Hehehe aku malah ga tahu Tawangmangu

      Hapus
    2. Di Twangmangu namanya juga Grojogan Sewu ��

      Hapus
    3. Iya Mbak Ree... Kemarin sudah langsung gugling. Tapi memang banyak sih sekarang namanya grojogan sewu gitu.

      Hapus
  2. jadi sebenernya mah enggak niat mau jalan-jalan ini teh ya. hehe.
    Sesekali boleh atuh khusus liputan, trus bikin Travelogue nya. Travelogue ala penenun kata, menarik nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheu.... Bener Kak. Karena memang jarang traveling. Hihihi...
      Insyaallah next diagendakan Kak. Kayanya udah lama pisan enggak pegipegi.

      Hapus
  3. Wah kapan ya bisa main kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuy, agendakan sama teman ngemahnya

      Hapus
  4. Semoga pemerintah pusat bisa lebih membenahi lagi ya, kan sayang tempat wisatanya😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ki, bener banget itu. Kasian bangunan yang udah ada teronggok begitu saja.

      Hapus
  5. Kok namanya sama kaya yang di mana gitu.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak.... banyak kembarannya. Meski penampakannya beda-beda.

      Hapus
  6. Pengen berkunjung, aku terlalu suka sama foto pohon-pohon.

    BalasHapus
  7. Sayang ya, tempat-tempat wisata kadang nggk terawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. He,em Kakak Lus... Kalau aku kadang mikir, kenapa ya dulu bangunan itu didirikan? Kalau kemudian ditelantarkan. Apa enggak sayang sama semen yang udah dicairkan, kemudian mengeras bersama batu bata. Tapi mereka tak jadi apa-apa. Hanya dinding setengah bahu, kemudian dirimbuni rerumputan.

      Hehehe... ko jadi ke mana-mana..

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter