Tiga Hal yang Harus Dihindari Penulis

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku kembali dengan segenggam cerita. Dan akan duduk bersama kalian untuk beberapa frasa saja. Setelah itu, aku akan pergi lagi. Hendak mencari mangsa. Untuk kemudian kusantap bersama-sama. Tenanglah, mangsaku bukan yang berdarah karena tertoreh luka. Melainkan segenggam kata-kata untuk kita cerna dan menyisipkan rasa.

Siang ini, ceritaku tak jauh dari arti kata menulis, tak juga menenun. Yang kuingat, tadi pagi ada berbagai macam obrolan mampir ke mata, sebab aku hanya membaca, tidak bersuara. Aku melihat di sana ada yang berkata tentang penulis itu harus menghindari tiga hal.

Yang pertama ia tak boleh menye-menye menulis tentang dirinya sendiri. Terkadang kita lupa di mana tempat kita harus membagi rasa yang mengharu biru. Bisa-bisa media online menjadi diary umum bagi penikmat kopi. Tapi, para penikmat kopi tak semudah itu akan memilih bahan bacaan. Dia tahu, mana yang harus dituntaskan dan hanya sekedar dilirik saja. Atau bahkan, dihirup aromanya saja tidak.

Kenapa harus membawa penikmat kopi, bisa-bisa mereka tersinggung karena tak ada urusan. Bukan buka ... ini hanya soal bagaimana kita meramu saja. Well, meskipun tulisan kita tak hendak dikunjungi orang seorang. Akan tetapi, kalau sudah menulis di media sosial, maka harus tahu mana yang boleh dan tidak boleh.

Pahami media sosial itu adalah tempat di mana orang lain bisa membacanya. Bukan hanya platform yang saat ini sudah beraneka rupa. Ketika kita menulis di tempat yang kemungkinan dibaca atau dikunjungi orang sangat tinggi, maka berhati-hatilah. Pilah dan pilih mana yang tepat dan tidak tepat. Mulai pelajari juga adab berbagi. Sopan santun dalam bermedia. Sebab itu bukan hanya untukmu saja, tapi mereka yang menikmati aliran idemu.

Jadi, tulis yang bermanfaat dan paling dekat denganmu. Tak mesti harus urusan pribadimu. Right?

Kedua, gunakan bahasa yang orang mudah pahami. Bukan mendayu-dayu dan hanya kau saja yang menikmati. Kalau seperti itu, kenapa harus kautulis di sini. Cukup simpan untukmu sendiri.

Dulu aku menulis macam ini. Menyembunyikan banyak hal dari tulisan. Berharap tidak ada yang memahami. Karena aku terlalu takut untuk dihakimi. Lalu untuk apa dibagi? Tidak. Kalau aku dulu memang menulis untuk diriku sendiri. Yang ternyata, dampaknya tak terlalu signifikan. Tulisan sebetulnya mengandung banyak hal. Bisa jadi terapi, karena mampu menjadi jalan untuk mengalirkan yang kaupendam. Bisa jadi sarana bicara, maksudnya untuk membuat bahasamu lebih rileks dan terstruktur. Tapi, akan tak jadi apa-apa kalau tetap tak menyuarakan isi hati dan pikiranmu.

Kuncinya ada pada apa yang ingin kamu bagikan. Kalau mau berbagi hikmah, tak perlu paksa diri menunjukkan bahwa ini lho hikmahnya. Beri kebebasan pada pembaca untuk membuat kesimpulannya sendiri. Dan kamu bebas menyampaikan informasi yang kau miliki. Sekali lagi, aturannya tetap seperti poin pertama. Adab berbagi harus ditepati.

Soal bahasamu yang mendayu tak dapat dimengerti. Endapkan saja dahulu. Ibaratnya kamu mengeluarkan energi negatif, kalau itu memang bermuatan negatif. Kemudian menulis kembali sesuatu yang memang seharusnya kamu sampaikan. Jadi, nyatu gitu. Enggak terpecah kemana-mana fokusnya.

Yang ketiga adalah berpetuah. Oh, tidak. Bisa jadi aku berada di zona ini ya Sahabat. Maafkanlah. Semua butuh proses, kan ya? Maka, mari berproses bersama. Kadang niat kita tak untuk itu. Tidak untuk sok bijak dan naif menasehati. Tapi pembaca yang baik akan memahami maksudmu. Makanya, menulis itu perlu dari hati.

Bukan hanya itu, penulis perlu banyak membaca. Kenapa? karena belajar dan sekolahnya para penulis itu sesungguhnya dari bacaannya. Sebanyak apapun teori yang kita punya, tetapi tak ada sama sekali ghirah untuk mempraktekan, sama dengan bohong. Seorang penulis perlu sekali banyak membaca. Karena bacaan-bacaan itulah yang nanti akan memahamkan ia pada sebanyak teori yang sudah dipelajarinya.

Ini sungguhan Sahabat. Aku sendiri mengalaminya. Sudah berapa banyak aku masuk ruang seminar. Bahkan hampir masuk semacam short course. Tapi kupikir ulang. Sudah berapa banyak aku belajar tentang teknik itu? Dan sudah berapa kali aku praktek untuk menguji kemampuanku? Belum pernah. Lalu, untuk apa aku harus lagi dan lagi masuk ke ruangan-ruangan ini?

Satu kalimat yang membuatku merenung, lagi dan lagi. Pelatihan menulis itu ya menulis itu sendiri. Bayangkan tuh, aku dengernya setelah selesai mengikuti pelatihan. Kemudian dilanjutkan, bahwa Beliau enggak pernah sekalipun ikut pelatihan. Tapi tulisannya sudah ada di mana-mana. Then, apa yang Beliau lakukan? Menulis. Hanya menulis. Setiap hari dan lebih seringnya setiap pagi. Betul-betul menjadi istiqomah. Dan memang, banyak membaca dan menulis akan melatih diri seorang penulis lebih kreatif dan kritis.

Jadi, mau bagaimana dengan kalian para penulis? Sudah berapa lembar yang kalian tulis hari ini? Mari diskusi ini kita lanjutkan lagi. Kutunggu komentar cerdas kalian di kolom yang sudah tersedia ya.

See you soon.

Assalamualaikum.

Kediri, 17 Oktober 2019

Note. Tulisan ini memang belum diself editing. Jadi, mohon bersabar kalau nemu typo di mana-mana.

Related Posts

There is no other posts in this category.

3 komentar

  1. "Terkadang kita lupa di mana tempat kita harus membagi rasa yang mengharu biru. Bisa-bisa media online menjadi diary umum bagi penikmat kopi. Tapi, para penikmat kopi tak semudah itu akan memilih bahan bacaan. Dia tahu, mana yang harus dituntaskan dan hanya sekedar dilirik saja. Atau bahkan, dihirup aromanya saja tidak." Arhana, 2019

    "Tulisan sebetulnya mengandung banyak hal. Bisa jadi terapi, karena mampu menjadi jalan untuk mengalirkan yang kaupendam. Bisa jadi sarana bicara, maksudnya untuk membuat bahasamu lebih rileks dan terstruktur. Tapi, akan tak jadi apa-apa kalau tetap tak menyuarakan isi hati dan pikiranmu." Arhana, 2019

    "Soal bahasamu yang mendayu tak dapat dimengerti. Endapkan saja dahulu." Arhana, 2019

    "penulis perlu banyak membaca. Kenapa? karena belajar dan sekolahnya para penulis itu sesungguhnya dari bacaannya" Arhana, 2019

    "Satu kalimat yang membuatku merenung, lagi dan lagi. Pelatihan menulis itu ya menulis itu sendiri." Arhana 2019




    BalasHapus
    Balasan
    1. uwoooooo. Akhirnya penenun kata berakselerasi. ditabuhnya keyboard itu lantas kata-demi kata terproduksi begitu saja. bukan, bukan begitu saja. penenun punya racikan khusus tentunya. hehhe

      Hapus
    2. Wew... Spicles pakai banget bacanya. Tapi benar memang, kita perlu piknik. Yang jauh bahkan. Piknik jauh tapi tak perlu biaya banyak. Cukup cari tempat paling nyaman. Kemudian bawa bekal bacaan yang menerut kita paling fix. Enough

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkenan membaca artikel ini hingga selesai. Silakan berjejak untuk menjalin silaturahmi di dunia maya.

Salam,
-arhana-

Subscribe Our Newsletter