Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Jumat, 18 Oktober 2019

Bincang Literasi

Membicarakan tentang literasi tidak akan ada habisnya. Mengingat literasi itu sendiri sangat luas cakupannya. Tidak hanya menulis dan membaca saja. Seperti halnya cinta yang tak pernah lapuk termakan masa. Selalu ada cerita di setiap eranya. Dan semua itu sukses terbukukan. Lalu, bagaimana dengan Sahabat PeKat hari ini? Sudah membincang literasi apa kepada dunia?

Jangan bicara soal siapa yang akan membaca naskahmu. Atau siapa yang akan menyukainya. Lebih dari itu, esensi apa yang ingin kita sampaikan kepada para penikmat kata. Kita tidak pernah tahu pasti, kalimat mana yang ternyata membantu orang lain. Dan perlu kita pahami, bahwa tulisan kita bukan satu-satunya. Namun demikian, kita tetap perlu memerhatikan sasaran baca.

Mengapa demikian? Tentu saja. Tidak mungkin kita akan menulis cerita anak tetapi menggunakan bahasa profesional. Tentu kita akan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.  Ini berbeda makna dengan pikiran tentang siapa yang akan mau membaca tulisanku. Oleh karena itu, tentukan sasaran bacamu, lalu menulislah! Perkara bagus atau tidak, biarkan pembaca yang menilainya. Tugas kita hanya menulis dan membagikannya. Supaya kebaikan-kebaikan itu mengalir. Tidak hanya tersimpan oleh kita sendiri.

Siang ini, secara spontan pembahasan-pembahasan terkait literasi mengalir begitu saja. Tak terasa obrolan antargrup saling berkaitan. Yang satu membahas tentang rumah baca, yang lainnya tentang literasi guru. Dan tanpa aba-aba, anganku melambung tinggi, tentang rumah baca dan segala pernak-perniknya. Mulai dari membangun atau mengadakan rumah baca sampai aktivitas apa yang hendak dicanangkan di sana.

Kalau dipikir-pikir, pokok bahasan yang akan disampaikan bisa dijadikan ide menulis buku. Tentu saja, ide ini tidak serta merta. Aku ingat buku karya Bunda Andita tentang perpustakaan keluarga. Judulnya Seru Senang Membangun Perpustakaan Keluarga.

Buku ini berisi tentang serba serbi mengorganisir perpustakaan keluarga. Tentu saja di sana ada tata cara pengarsipan buku atau koleksi perpustakaan. Mulai dari pencatatan di buku induk, sampai penomoran dan pelabelan. Sebetulnya ini bukan ilmu baru. Mengingat aku sendiri sudah pernah utak atik e-DDC tapi menariknya buku ini bikin aku lebih semangat dan bahagia. Berbeda ketika dulu aku justru merasa tertekan. Karena membaca DDC tak semudah membaca kamus, menurutku dulu. Sehingga, aktivitas penomoran ini tak berlanjut.

Akan tetapi, jelas berbeda dengan hari ini. Di mana beberapa buku koleksi sudah tercantum nomor identitasnya sendiri-sendiri. Uniknya ketika mendapati buku berbeda tetapi nomornya sama. Hal ini menambah daftar pekerjaan rumah yang belum ketemu jawabannya. Sementara biar seperti itu dulu. Toh dia memiliki nomor induk yang berbeda, pikirku. Suatu saat pasti ketemu solusinya.

Setidaknya untuk saat ini, aku sudah mulai mencicil untuk membangun rumah bacaku sendiri. Meski belum tersebar luas manfaatnya, tapi kelak kuharap bangunan mungil itu menjelma jadi perpustakaan yang bisa membagi bahagia kepada pengunjungnya.

Sedikit jejak untuk pondasi rumah bacaku.
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Ya, aku menamainya Teras Kata "Arhana". Ini adalah tempat di mana Penenun Kata akan memproduksi sepanjang kalimat, selama Allah mengizinkan. Kata-kata Arhana akan terajut indah oleh penenunnya di Teras Kata. Aamiin ...

Mohon doanya ya Sahabat.

Kediri, 18 Oktober 2019

6 komentar:

  1. Wuihhh menginspirasi ni..bikin rumah baca...semoga lancar dan bisa tetap bertahan membagi kebahagiaan melalui buku Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Terimakasih Kak Lusi

      Hapus
  2. New Face nih penenunkata sepertinya bakal membuat pabrik tenun yang besar. Waah, menarik untuk diikuti.


    Sepakat dengan Kak Arhana. Kalau kita bicara literasi memang tak pernah ada habisnya, beda sama kopi. Walaunpun pahit dan hitam. Habis juga nyatanya di teguk. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😅 gitu ya kak... Tapi cerita kopi juga ga ada habisnya, kan? Sekalipun hitam dan pahit, nyatanya sampai hari ini penikmat kopi bertambah. Buktinya bahkan warung kopi dan segala modifikasi tampilannya semakin beragam. 😊

      Insyaallah, masih dalam renovasi kak. Mohon doanya.

      Hapus
  3. Masyaa Allah, cantik sekali. Inilah hasil 'semedi' kemarin-kemarin, Kak? Hihi. Semoga Allah beri hidayah dan taufik untuk Kak Nana, beserta keluarga. Daaan dalam dakwahnya lewat untaian kata. Aamiin.

    Semangat terus Kakakku~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahumma Aamiin...
      Terimakasih Mbak Dee... Untuk support dan doa-doanya... Doa terbaik juga untuk Mbak Dee...

      Jazakillahu khairan katsiir Mbak Dee... 🤗

      Hapus