Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Jumat, 25 Oktober 2019

Berbagi Itu Menyenangkan

Sharing is caring

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh Sahabat PeKat

Apa kabar malam ini? Rasanya sudah lama kita tidak bersua ya. Semoga Sahabat PeKat senantiasa dalam lindungan Allah, sehat, dan bahagia. Aamiin

Ada satu titik poin yang menyentil sisi sensitifku saat diskusi semalam. Sebetulnya bukan hal yang membuatku baper. Tapi aku takjub dengan cara yang dilakukan untuk mengingatkan kami. Tentang apa kah itu?

Sebelum kita lanjutkan, Sahabat pernah merasa takut untuk berbagi? Terutama informasi. Atau justru tim easy going to share? Aku di sini tidak akan mengadili siapapun juga tidak untuk menilai apapun. Just reminder for myself.

Kita semua sadar, bahwa berbagi adalah salah satu bentuk dari rasa peduli kita kepada orang lain, lingkungan, dan alam. Berbagi selalu merujuk pada tujuan baik. Maksud hati kita supaya orang-orang terkasih tidak terjebak situasi bermasalah. Atau sekedar untuk pengingat.

Namun demikian, apakah kita pernah berpikir tentang kebenaran berita yang kita bagi? Atau pernah bertanya informasi x datangnya dari mana? Setidaknya berusaha mengetahui sumbernya sebelum membagikan.

Dulu, aku termasuk ke dalam golongan itu, mudah berbagi tanpa berpikir dua kali. Ketika ada informasi yang menurutku itu baik, bisa jadi bahan introspeksi, atau juga sarana berhati-hati, jemari ini dengan latah membagikannya begitu saja. Tentu saja, kepada orang-orang yang kuanggap membutuhkan. Tanpa pernah berpikir, berita itu benar atau tidak, dan siapa yang membuat. Bukan hanya itu, bahkan ketika membuat kutipan, seringkali lupa menyertakan sumber atau penulisnya.

Seiring berjalannya waktu, beredar dan viral tentang berita bohongan atau yang lebih dikenal dengan istilah hoax. Mulai dari sini, aku sudah jarang sar ser sor sesuka hati. Menahan diri supaya jemari tak latah menari. Bukan hal yang mudah tentu saja. Bahkan bukan hanya itu, aku mulai berpikir tentang hal apa saja yang boleh dan tidak boleh kubagikan di timeline media sosial.

Tahun 2017, aku mulai mengenal lebih jauh dan detail tentang ini melalui adab belajar. Salah satunya adalah adab membagi informasi. Yang salah satunya adalah kita harus memastikan apakah berita tersebut benar atau tidak. Bukan hanya sekedar disclaimer copas dari grup sebelah, lantas menjadi halal untuk kita bagi. Ah, jika kita tahu betapa banyak kecurangan yang terjadi di situ, sekalipun niat berbaginya baik.

Itu hanya salah satunya. Adalagi tentang menggunakan sumber ilmu. Atau sumber bacaan, referensi dan lainnya berkaitan dengan informasi yang kita bagikan. Hal ini untuk menjaga kualitas berita yang kita sampaikan. Valid atau tidak.

Nah, adab ini akhirnya juga akan berkaitan dengan apakah seseorang layak dikatakan plagiat atau tidak. Kembali lagi, seperti aku dulu selalu kesulitan meletakkan sumber. Semacam kalau kita mengerjakan karya ilmiah. Dalam hal kutip mengutip, tentu saja tak lepas dari referensi dan tentu saja mencantumkan penulis atau pencetusnya. Apa jadinya jika kita tidak mencantumkan bahan rujukan kemudian mengklaim itu sebagai hak milik?

Jawabannya tentu saja kita akan disebut sebagai pencuri, penjiplak, atau bahasa kerennya plagiat. Plagiat itu bukan hal sepele Sahabat. Namun demikian, juga tidak bisa dibicarakan semau gue. Plagiarisme itu kalau bagiku ya itu tadi, mengklaim yang bukan miliknya sebagai dirinya. Baik itu secara keseluruhan atau hanya cuplikannya.

Tapi, di sini aku ingat sesuatu pernah aku baca. Bahwa tidak ada kemurnian di dunia ini. Mereka yang mengklaim itu adalah miliknya sesungguhnya adalah hasil serapan dari berbagai sumber yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja kalau menurutku, kenapa kemudian sesuatu yang mungkin sama akan jadi berbeda dan bisa diklaim jadi hak milik?

Yes, karena manusia itu unik. Mereka memiliki kekhasan yang berbeda satu sama lain. Sekalipun sama-sama angka 1, akan menjadi beragam cerita dan hasil karya dari beragam orang yang menginterpretasikannya. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang tidak hanya kontekstual tetapi menyeluruh. Bahwa, adab itu dipahami sebelum belajar dan memperbanyak ilmu, pun sebelum beramal.

Karya kita mungkin saja original hasil pemikiran diri, tetapi ketika sudah terlempar ke dunia, maka ia telah menjadi milik dunia. So, lakukan apapun dengan kesadaran. Sadar akan apa yang disampaikan dan sadar akan konsekuensi dari penyampaian. Bukan membatasi diri tapi tahu batas itu perlu.

Happy sharing Sahabat....
Semoga yang sedikit ini bisa diambil manfaatnya ya..

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 25 Oktober 2019

2 komentar:

  1. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatu.

    "Kita harus memastikan bahwa berita tersebut benar atau tidak. Bukan hanya sekedar disclaimer copas dari grup sebelah, lantas menjadi halal untuk kita bagi."

    Arhana,2019

    Terimakasih untuk uraiannya Kak. Lebih dari sekedar sharing ini mah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... apa dong Kak? Hanya berbagi dari apa yang pernah saya pelajari.

      Hapus