Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Kamis, 03 Oktober 2019

Aku Belajar: As a Leader

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Malam Sahabat PeKat ....
Eum, maaf hari ini terlambat menyapa kalian. Apa kabar hari ini? Ada yang mau cerita keseruan apa yang sudah kalian buat? Atau mau curhat ke Arhana? Boleh kok, kalian tahu caranya lah. 😊
***
Malam ini aku mau bikin refleksi aja. Sebagai apresiasi dari sebuah perjalanan. Di mana catatan ini didedikasikan untuk teman-teman seperjalanan. Dan mereka yang mendukungku baik terang-terangan mau pun sembunyi-sembunyi dalam doa.

Tidak pernah terbayang olehku, bisa berdiri di titian ini. Semua mengalir begitu saja. Tidak ada rencana jangka panjang yang menurutku bisa menempatkanku di posisi sekarang. Jika tidak semua itu atas kehendak-Nya.

Aku hanya bisa mengatakan itu sekarang. Dan sampai kapan pun, setiap pencapaian itu karena ada tangan Allah di baliknya. Kalian tentu lebih paham dariku. Bahwa semua yang kita jalani, tidak pernah murni hasil kerja kita. Is it right?

Alih-alih berpikir tentang apa yang bisa kuberikan. Justru aku mendapat lebih banyak dari yang pernah kusangkakan. Dan sekali lagi, semua itu atas kehendak Allah.

Dua tahun berlalu dan aku adalah nahkodanya. Belum pernah aku berpikir akan menjadi apa aku di sini. Satu-satunya yang mendominasi alam bawah sadarku adalah keinginan untuk menjadi sebaik-baik manusia. Tepat sekali, aku ingin menjadi orang yang berguna. Tidak hanya sekedar "grubyak grubyuk". Tapi tidak pernah menyangka sampai sejauh ini.
***
Kemarin pagi ada yang tiba-tiba menodongku dengan memberi dua pertanyaan sekaligus. "Tidak menerima penolakan," sambungnya. Karena aku hanya membalas dengan emoji yang sama sekali tidak terbaca maksudnya. Antara kaget dengan menolak.

Yang pertama,
kenapa aku dulu memutuskan untuk gabung dengan komunitas kami?
Sebagai healing, jawabku lugas. Tanpa tahu, kedua pertanyaan ini sampai di mana muaranya. Alih-alih berpikir untuk apa. Aku malah menganggap ini penting. Untuk apa menanyakan hal yang sedemikian ini kalau enggak terburu, harus dan segera. Memang iya, di awal sudah dibuka dengan kalimat, "Mbak urgent." Dan aku mengaminkan sebagai jawabannya.

Ya, komunitas ini merupakan wahanaku untuk healing. Bukan satu-satunya memang. Tapi dengannya aku bisa menemukan banyak hal baru. Yang tidak pernah berkomunikasi lebih dari urusan pekerjaan, aku malah melangkah sangat jauh.

Mulai dari dunia perduitan. Jadi dulu, setelah lulus program matriks, aku langsung dipinang untuk memegang amanah perbendaharaan negara. Hahaha, luas amat yak? Atau itu uwow? Ya memang itu amazing. Di saat aku butuh belajar banyak tentang masalah akutansi dan sanak saudaranya. Allah menggiringku pada tempat dan orang yang tepat.

Calon leader saat itu kerjanya berhubungan dengan kas dan segala pelaporan keuangan. Sebelum bertemu beliau di komunitas, aku sudah lebih dulu kenal di bidang lain. Jadi, ketika bertemu di sini, rasanya sudah seperti teman lama. Banyak hal yang kudapat dari jalinan silaturahmi ini. Salah satunya adalah tambah pengalaman.

Satu hal yang paling kuingat saat pertama kali gabung di dapur pengurus. "Aku enggak butuh orang pinter. Aku butuh orang yang mau belajar. Karena pinter saja tidak cukup, kamu harus mau belajar lebih banyak lagi."

Ya, pesan itu mengalir saat aku merajuk, mau menolak dijadikan wong penting lan wong nngerti.

Perlahan aku melangkah, meski kadang gontai dan tersuruk-suruk. Ibarat latihan bela diri, ketika kamu lelah harus minum air yang cukup. Istirahat. Dan kamu akan menemukan energimu lagi.

Siklus itu berputar berulang kali. Sampai pada puncaknya, beliau pamit mengundurkan diri dari tampuk amanah sebagai leader. Sebagai koordinator, beliau adalah orang yang paling banyak jasanya, mengantarku sampai titik ini. Saking banyaknya manfaat yang kudapat, hingga bingung harus memaparkan dari mana.

Perlahan aku sembuh dari rasa was-was dan kekhawatiran yang tidak semestinya.

Kalau kamu tahu dunia ini akan hancur. Kenapa justru memikirkan yang belum terjadi. Mengkhawatirkan masa depan yang belum jelas. Kenapa kamu tidak berpikir untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat? Apa kamu lupa, siapa orang yang paling baik?

Kalimat itu mungkin tak sama tapi serupa dalam makna. Kalimat yang dicecarkan dokter untuk membantuku kembali sadar. Aku tidak benar-benar depresi saat itu. Hanya saja, langkah-langkah ke arah sana semakin terlihat jelas. Sebelum terlambat, aku pun bergegas menemui seseorang di ruang prakteknya. Dan justru kalimat-kalimat seperti itu yang muncul di balik sesi konselingku.
***
Pertanyaan kedua,
Apa yang aku dapat setelah bergabung dengan komunitas ini?
So many things sampai aku tidak dapat menyebutkannya satu per satu. Tapi nanti kalian protes, kalau enggak jelas bisa jadi itu cuma omong kosong. 😅

Di antara banyaknya manfaat, beberapa yang sangat kuat mendominasi bagiku diantaranya sebagai berikut:
Belajar banyak hal, mulai dari kepemimpinan, kesekretariatan, sampai kebendaharaan.
Belajar jadi orang yang peka.
Belajar mengolah rasa.
Belajar menjadi pendengar yang baik.
Belajar menjadi dewasa yang bijak.
Belajar mengelola emosi dan pikiran.
Belajar menemukan kekuatan diri dan mengasahnya untuk hal yang positif.
Menemukan sahabat dan saudara seperjalanan.
Dan menjadi leader itu bukan perkara apakah kamu cakap atau tidak menurutmu. Tapi menurut orang-orang yang kau pimpin, dan tentu saja karena Allah yang memampukan kita. 

Poinnya ada di kalimat terakhir. Dan aku baru mengerti sekarang. Seberapa banyak pertanyaan terlontar dari lisan pun pikiranku. Jawabannya hanya satu, sebab Allah yang membuat mampu. Bukan pertanyaan yang hanya membuat kepala berdenyut lagi pening.

Kita semua sadar, bukan? Bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba melebihi batas mampunya. Begitu juga dengan langkah kita hari ini. Allah tidak akan memberi lebih seandainya kita mau merenung sejenak. Dan semua kesulitan ini sudah Allah pasangkan dengan kunci kemudahannya. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk bermurung hati. Sebab Allah juga telah berfirman, laa tahzan innallaha ma'ana.

Kalau sudah begitu, tinggal bagaimana kita bisa menangkap tanda-tanda-Nya. Yang bisa jadi terletak di antara kepala dan tempat sujud kita. Maka, kemudian hanya kepada Allah saja kita pantas bersandar. Dan menjadikan salat dan sabar sebagai perantara pertolongan Allah kepada kita. Sebab Allah yang akan membukakan pintu pertolongan. Di saat semua orang sibuk dengan urusan mereka. Dan bersyukur adalah salah satu jalan untuk menambah nikmat yang telah Allah anugerahkan untuk kita.
***
Semoga kita semua Allah mampukan dalam mengemban misi spesifik ini. Dan Allah masukkan ke dalam golongan orang-orang yang berpikir.

Wallahu a'lam bishshowab



Kediri, 2-31019

4 komentar:

  1. Aamiin..
    Membaca tulisan Mbak Hana membuatku bersyukur mengenal orang - orang yang tepat. Terima kasih, tulisannya keren^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahu yubarik fiik Mbak...

      Sama-sama Mbak Risna. Mari belajar bersama...

      Hapus