Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Sabtu, 05 Oktober 2019

Aku Belajar: As an Editor

Bissmillaahirrahmaanirrahiim

Hai, Sahabat PeKat? Apa kabar hari ini? Sudahkah mengawali hari dengan syukur dan basmalah? Semoga harimu menyenangkan ya ....

Sahabat PeKat,
Pernahkah merasa amaze dengan skenario Allah? Merasa diri belum cukup mampu, tapi Allah menggiring kalian hingga pada posisi capaian saat ini? Dan mungkin, berpikir bahwa hasil yang kita peroleh hari ini bukan murni dari usaha diri, melainkan ada campur tangan Allah di dalamnya. Mari kita berkontemplasi sejenak. Merenungkan perjalanan seumur kita hari ini. Merenungkan setiap capaian-capaian yang telah kita raih hari ini. Dan menderaskan makna pada setiap langkah kaki kita, hingga detik ini.

55.Ar-Rahmān : 13
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Dibagikan menggunakan MyQuran

Rasanya terlalu dini jika kita kemudian merasa bahwa Allah itu enggak adil, enggak sayang, dan enggak enggak yang lainnya. Ketika satu keinginan kita ada yang belum Allah kabulkan. Maka, sesungguhnya bersyukur dan merenungi setiap capaian itu adalah rezeki dari Allah, baik yang kita inginkan maupun tidak, akan menambah nikmat itu sendiri. So, sudahkah kita bersyukur hari ini? Sambil merasakan dan menikmati hembusan nafas yang masih Allah takdirkan untuk kita pagi ini.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmat. Aamiin.
***
Ada orang yang hidupnya tertata, rapi banget. Apa-apa terjadwal dan terstruktur. Meski mungkin juga masih fleksibel. Tapi ada juga yang jalan aja. Pokoknya jalan aja sudah. Biasanya kita sebut easy going. Nah, pernah enggak tuh mikir, ko sekarang aku ngerjain ini ya?

Kadang kita lupa kalau-kalau pernah meminta sesuatu. Tapi Allah kasih. Karena semua memang sudah Allah tetapkan. Menjawab doa pun demikian, bukan memberi saat kau minta, tapi bisa jadi belum tepat waktunya. Maka, ketika doa kita Allah kabulkan, bisa jadi itu adalah waktu yang tepat menurut Allah. Allahu yubarik fiik, Sahabat PeKat.

Begitu juga dengan apa yang ingin kubagikan pagi ini. Well, aku memang belum ahli dalam hal editing. Tapi perjalanan ke sini, memberiku banyak pelajaran yang sayang jika kusimpan sendiri. Semoga kau menangkap apa yang baik itu baik, dan mohon dimaafkan jika ada keburukan yang tak sengaja terbagi.

Jadi, aku sendiri sepertinya belum pernah punya mimpi nyata untuk menjadi editor. Aku hanya gemar detail dan suka obrak abrik tatanan. Kenapa begini? kok tidak begitu. Dan seterusnya. Membongkar detail untuk menemukan sisi lain yang bisa jadi lebih potensial.

Ternyata, langkahku secara perlahan dituntun ke arah ini. Menjadi editor paruh waktu dan fleksibel. Meski juga belum banyak karya yang kutangani. Tapi setidaknya cukup bisa untuk menjadi editor diri sendiri. Ya, kita sebut itu proses self editing.

Salah satu hal yang bisa kuterima dan pelajari saat berproses adalah kesabaran. Seperti kutipan dari salah satu buku koleksiku, judulnya Sincerely Yours. Tia Widiana menyebut  bahwa editor merupakan kombinasi dari profesi dokter bedah dan guru TK; akurat dan teliti, sekaligus sabar dan welas asih. Dan editor yang cakap bukanlah mereka yang paling pandai mencari kesalahan, tetapi yang paling jeli melihat potensi.

Wiiih, rasanya seperti tertusuk duri. Kecil tapi justru itu yang sakitnya terasa ngilu hingga ke tulang. Jadi, editor itu bukan cuma yang bisa bilang, "Hey, ini keliru!" Dan aku masih sangat jauh dari yang Mbak Tia tuturkan tentang editor. Aku tertarik dengan buku ini tentu saja karena rekom. Tapi akan sulit bagiku untuk mengelak, ketika kontennya memang aku banget. Di buku ini enggak cuma bicara tentang apa intisari  ceritanya. Melainkan ada dua aspek yang kusoroti dan itu selalu membuatku berbinar. Kedua hal itu adalah psikologi dan editor.
***
Mungkin, editor bukan salah satu poin dalam daftar mimpiku. Tapi aku selalu percaya bahwa Allah enggak ngasih sesuatu ke kita kalau kita memang enggak membutuhkannya. Jadi, bisa saja editor adalah tanggaku untuk mencapai satu tingkat capaian yang akan kuraih kelak.

Untuk itu, mari cintai apa yang kita kerjakan hari ini. Karena ketika hati kita sudah cenderung kepadanya dan senantiasa menyandarkan harap kepada Yang Maha Memberi, insyaallah semua yang baik-baik dari pekerjaan ini akan mengikuti. Salah satu kutipan favoritku untuk ini adalah rezeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari. Maka, salah satunya adalah dengan mencintai pekerjaan pun sama dengan usaha kita mencari kemuliaan, baik itu untuk diri pun keluarga kita.
***
Ok, Sahabat PeKat ... semoga yang sederhana ini dapat diambil pelajaran dan manfaat. Semoga kita senantiasa dimudahkan dalam istiqomah kebaikan, serta dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat.

Wallahu a'lam bishshowab

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh

Kediri, 5102019

2 komentar:

  1. Wah Masya Allah, selamat, Mbak ��������

    Jadi editor memang asyik sekaligus menantang. Keep up the good work, gal ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak Renita cantik...
      Insyaallah Mbak....
      Bismillah

      Hapus