Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 28 Oktober 2019

Cerita dari Lagu

Oktober 28, 2019 0 Comments
Dok. Pribadi (desain by canva)


Lagu bagiku ya lagu saja. Lirik ya lirik saja. Tak terpikir kalau kata per katanya bisa membawaku jauh berkelana. Meski memang sebenarnya iya. Tapi aku selalu menampik bahwa ide menulisku itu dari lagu.

Saat mereka mengatakan bahwa mencari ide menulis dari nonton. Aku berpikir, bagaimana bisa? Karena aku memang tidak sesuka itu untuk nonton. Bahkan aku sudah lama tidak tahu bagaimana rupa tampilan berwarna-warni dalam sebuah kotak bertabung maupun yang disebut lcd. Iya, aku tidak mengkonsumsi siaran komersil apapun melalui media itu.

Tapi, aku tidak menafikkan bahwa kadang menonton itu menyenangkan. Ada bagian-bagian yang bisa kita highlight, kemudian kita tulis ulang, lalu mungkin kita kembangkan. Di-highlight macam baca buku saja ya? Hahaha

Eum, itu pun aku mulai seperti begitu juga baru-baru ini saja. Karena memang aku tidak pernah menikmati secara total saat menonton, sebagaimana aku membaca. Hehehe

Nah, kalau lagu bagaimana?

Percaya atau tidak, aku bahkan mulai mencuplik satu bait untuk dijadikan inspirasi cerita. Dan memang lagu itu benar-benar memberi kesan untukku. Perkara lagu memang aku sendiri pilih-pilih, heee .... Sekalipun aku suka satu genre atau aku suka keseluruhan dari satu band. Bukan berarti all of them song mesti aku suka, enggak begitu juga. Tapi, lirik yang memang sarat makna dan bahasanya enggak biasa. Misalnya lagunya Sheila on 7 dan Letto.

Tapi kali ini, bukan lagu mereka yang bikin aku nekad memasukkan liriknya. Ada yang tahu lagu ini,
Hujan,
Kau ingatkan aku
Tentang satu rindu 
Yes, lagunya Bang Opick, judulnya Satu Rindu. Beberapa hari aku mikir, ternyata begini nih cara kerja sebuah lagu menjadi inspirasi untuk menulis. Bukan hanya itu, manusia itu unik. Akan muncul berbagai macam warna ketika mereka mulai menginterpretasi satu hal. Sebab semua warna itu dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan seseorang.

So, do more talk less kalau kalian merasa mentok. Lakukan dulu, apapun itu. Asal baik dan tak merugikan pihak mana pun. Karena kalau kita berhenti, siapa tahu justru di titik itulah kita akan menemukan sesuatu. Dan sampai pada satu titik itu karena kita memulai langkah pertama. Tidak ada satu kepercayaan diri yang utuh tanpa melalui kegrogian dengan tingkat berapapun. Maka, lewati.

Selamat berkontemplasi dan beraksi!
Salam Literasi.
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 28 Oktober 2019

Minggu, 27 Oktober 2019

Belajar dari Pengalaman

Oktober 27, 2019 6 Comments
Dok. Pribadi

Brak!

Suara itu terdengar sangat mengerikan di telingaku. Suara gesekan ban dan aspal yang direm mendadak oleh sang sopir, menimbulkan tekanan pada sisi dalam ban sehingga bukan hanya mendecit tapi juga meletus. Kami sama-sama terpental dalam versi masing-masing. Entah apa yang terjadi pada mobil di depanku, aku hanya mampu mengamati dari jauh. Sebab di sini aku juga luka-luka akibat hilang kendali pada stang sepeda yang kukendarai. Akibatnya, aku harus bertubrukan dengan kerikil kecil di pinggir jalan.

Sebenarnya lukaku tidak terlalu parah, mengingat kecelakaanku yang sebelumnya. Ini tidak seberapa. Tapi aku terlalu kaget sampai-sampai tak mampu mengendalikan apa yang bergaung di rongga telingaku. Mengetahui kondisi ini, Ayah segera membawaku ke rumah sakit. Di sana perawat ayah membantu untuk membersihkan luka dan kemudian memberiku sedikit obat penenang. Mungkin supaya aku sedikit lebih toleran dengan bebunyian ini.

Sehari kemudian, aku masih belum terbiasa dengan lingkungan berisik di sekitarku. Kalau Bunda bilang, mungkin aku mengalami trauma. Jadi aku cenderung berbisik saat berbicara, dan tak toleran pada suara-suara orang yang ngobrol dalam nada normal.

"Kakak, apa yang dirasakan?" Tanya Bundaku lirih. Bunda selalu bertanya apa yang kurasakan, ketimbang menunjuk. Memastikan aku bisa merasakan dan menyadari bagian mana yang sakit. Begitu juga dengan Ayah, meskipun cenderung diam dalam menanganiku. Aku yakin, Ayah juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan Bunda. Hanya saja cara mereka mengekspresikan berbeda.

"Ndak ada Bun. Kakak ndak papa."

"Kenapa telinganya masih ditutup, Nak?"

"Ini lho Bun, ada suara berisik di telinga Kakak. Bunda, Kakak minta maaf ya?" Aku tahu, Bundaku banyak berpikir pasti. Makanya aku segera mengalihkan pembicaraan kami saja.

"Maaf kenapa, Sayang?"

"Karena Kakak ndak hati-hati."

Bunda hanya tersenyum menanggapi ucapanku, kemudian bergegas memelukku. "Lain kali hati-hati, Nak. Bunda ndak marah."

"Bener Bunda? Bunda jangan marah ya, jangan sedih."

"Iya, Sayang." Kata Bundaku lagi.

Bunda adalah orang yang sangat berarti untukku. Sedikit pun aku tidak ingin melihat Bunda sedih. Aku tidak bisa melihat Bunda marah. Sekalipun Bunda tidak pernah marah tanpa alasan, dan aku selalu menyadari itu. Suasana hatiku pun berubah-ubah mengikuti suasana hati Bunda. Kalau kalian tanya kenapa, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah hati kami saling terpaut. Itu saja.

Sore itu aku sedang bermain sepeda. Karena jalanan lengang makanya aku mengayuh sepeda ke jalan raya di depan rumah, ya itu sih cuma jalan kompleks perumahan. Jadi bukan jalan raya besar yang ramai. Biasanya juga mobil jarang lewat area situ. Tapi mungkin memang sudah takdirku jatuh, untuk menghabiskan jatah jatuh, kata Bunda. Ya, karena kaget dan secara mendadak menghindari mobil, aku pun terpelanting ke pinggir jalan. Alhamdulillah hanya luka ringan, sebentar saja juga akan sembuh. Tapi, ada hal lain yang membuatku merasa panik dan luar biasa takut.

***

Kamu percaya tidak? Selama Bundaku tenang dan yakin, aku juga merasakan hal yang sama. Sepekan ini, suara-suara gaduh itu hilang. Dan aku bisa kembali melakukan aktivitasku seperti biasa. Jadi teman-teman, kita boleh kok main sesuka hati kita. Tapi, tetap harus hati-hati ya. Waspadalah! Waspadalah!

Hehehe ....

Kalau orang tua kalian mengingatkan untuk tidak melakukan ini dan itu, yakinlah, bukan karena mereka tidak meyanyangimu. Tapi justru itulah bentuk kasih sayang mereka untukmu. Mereka tidak ingin melihatmu kenapa-kenapa. Tapi, kalau kamu tetap penasaran untuk melakukan yang orang tuamu larang, pastikan keridloan mereka ada di genggamanmu. Sebab itu juga yang mengantarkanku sejauh ini melangkah. Bunda mengizinkan aku melawan ketakutanku sendiri. Biidznillah, aku bisa sembuh dari trauma-trauma masa kecilku.

Sudah dulu ya teman-teman .... Bunda sudah memanggilku untuk sholat.
Assalamu'alaikum

Kediri, 27 Oktober 2019

Disclaimer. Cerita ini hanya fiktif.

Ide Menulis

Oktober 27, 2019 2 Comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Every day about writing. Eum, bukan tidak ada topik lain selain menulis sih. Hanya saja, aku memang masih dalam mode stuck. Satu-satunya hal yang bisa dengan leluasa memancing opini atau apapun yang kupikirkan adalah menulis. Jadi, jangan pada heran kalau setiap hari yang kubicarakan hanya seputar itu-itu saja.

Eum, memang rencananya nanti niche blog atau tema rumah virtual ini tentang menulis. All about pokoknya mah. Tapi, tidak menutup kemungkinan, aku akan membuat hal-hal lain di beberapa lembar halamannya. Ya, bisa jadi nanti akan kupisah di beberapa ruang begitu. Ibarat rumah, semua bercat ungu. Kemudian ia akan terdiri dari beberapa ruang. Ada ruang tamu, ruang baca, ruang keluarga, ruang makan, dan kamar tidur. Anggap saja begitu ya. Di masing-masing ruang ini akan ada beragam topik yang berkaitan.

Ah, terlalu jauh sepertinya. Aku membuat diriku bertahan dalam tantangan ini saja, rasanya kembang kempis. Masa iya, sudah sejauh ini mau up gitu aja. Enggak menghargai banget itu namanya. Menghargai siapa? Diri sendiri dong. Meskipun acak begini, tulisan-tulisan yang hadir juga butuh effort lho. Kalau enggak, paling sebaris saja selesai. 😩

Ok, tadi aku mau bicara apa ya? Soal ide menulis, bukan?

Hehem, apa yang kalian baca dari awal hingga paragraf ini, sebenarnya upaya untuk menemukan ide menulis. Dan beberapa hari aku menemukan ide dari berbagai macam cara. Diantaranya, mengintip bank ide, membaca kembali tulisan lama bahkan catatan harian, membaca buku, dan membaca tulisan teman. (Tambah lagi yang lain sesuai versi kalian, ini ala aku dan beberapa hariku).

Jadi, benar. Tulisan yang pernah kita buat sebelumnya masih bisa kita kembangkan, atau revisi di beberapa part, sehingga lahir versi terbaru. Bukan hanya itu, mungkin malah ya bisa jadi buku.

Oleh karenanya, kalau satu cara tidak berhasil memantik kekuatanmu untuk beradu argumen dengan dirimu sendiri. Bukan berarti seluruh cara juga tidak akan berhasil. Untuk menjadi expert, seorang atlet harus berlatih dengan keras dan setiap hari. Nah, sama halnya dengan penulis.

Bagaimana? Apakah sudah siap untuk bisa rutin menulis setiap hari? Yuk sama-sama berjuang ....

Semangat Menulis!

Salam Literasi.
Kediri, 27 Oktober 2019

Sabtu, 26 Oktober 2019

Penulis Pemula, Menulislah untuk Manusia

Oktober 26, 2019 1 Comments
Dok. Pribadi dari buku Kitab Penyihir Aksara


Sebagai penulis, pernahkah berpikir untuk siapa menulis? Atau untuk apa menulis? Tapi nanti beda ya jawabannya dengan inti bahasan kita malam ini. Okay, kembali ke tujuan menulis tadi. Kepada siapa kamu menuju? Atau kalau tujuan menulisnya untuk apa, maka aku mau kasih dua opsi. Untuk ketenaran supaya viral, atau untuk dibaca orang lain dan berbagi manfaat.

Hayo, apa jawabanmu?

Hehehe, ini masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya ya. Tentang ritual menulis. Kalau tadi aku tercengang dengan ritual menikahi bahasa yang aku sendiri tidak begitu banyak mengenal bahasa. Maka sekarang saatnya kamu menelisik lebih jauh tentang untuk siapa kamu menulis.

Tadinya aku horor membaca bab ini. Bagaimana mungkin pertanyaan itu hadir lebih mula. Spontan jawabanku ya untuk siapa lagi kalau bukan untuk pembaca. Dengan kata lain, pembaca adalah manusia. Hahaha, ya iyalah manusia. Pasti kalian juga akan berpikir demikian.

Oke, saat menulis untuk dibaca publik, kita cenderung berpikir tentang rasa, kesan dan juga pesan. Padahal semua itu justru akan tercipta ketika kita berusaha hadir secara alami. Bukan rekayasa dengan cara memikirkan apa dan bagaimana. Kalau untuk kita yang pemula begini pokoknya tulis aja dulu. Tidak perlu berpikir tentang kesan apa yang akan pembaca miliki.

Namun, lain daripada itu. Selain berpikir tentang kesan, hendaknya kita memang banyak berlatih. Tak perlu juga berpikir tentang topik apa yang sedang hangat diperbincangkan publik. Karena kita juga perlu mempertimbangkan aspek mengenal lebih dekat. Salah satu kunci latihan menulis adalah dengan menuliskan apa yang paling dekat dengan kita, atau yang paling kita ketahui.

Oleh karena itu, menulislah untuk manusia bukan untuk mesin. Supaya mereka membaca dan kemudian mungkin mendoakan kita. Sebab semakin banyak yang berdoa akan semakin besar pula kemungkinan Allah mengabulkan permintaan kita.

Menulis yang untuk manusia juga tidak lepas dari apa yang kita sukai, apa yang paling dekat, dan apa yang paling kita pahami. Seperti ritual #5 yaitu publikasikan tulisanmu melalui media. Baik itu blog, fb, instagram, wattpad, dan lain-lain.

Demikian ya sahabat PeKat, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Semoga yang sedikit ini bisa diambil manfaatnya.

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 26 Oktober 2019

Review Buku: Kitab Penyihir Aksara

Oktober 26, 2019 1 Comments
Dok. Pribadi


Judul: Kitab Penyihir Aksara
Penulis: Brili Agung

Ada yang kenal buku ini? Coba ketik jawabannya. Lalu, apa yang terlintas di pikiran Sahabat sesaat setelah melihat cover-nya? Yang sudah kenal bahkan ikut coaching dengan penulisnya, boleh ikut berbagi pengalaman di kolom komentar ya. Jangan lupa centang notifikasi komentarnya supaya kita dan teman-teman yang lain bisa aktif diskusi.

Baik, kali ini aku bingung kasih judul tulisan. Ya sudah, sebut saja ini review, tapi kalau ternyata isinya melesat jauh dari jalur review, mohon dimaafkan. Penenun Kata sedang belajar membuat cerita, anggap saja begitu. Karena sesungguhnya aku lebih nyaman dengan cara ini, berbagi, tanpa terikat aturan. Bukan ga mau diatur atau ga bisa. hehehe .... Aku cuma merasa kurang bebas berkreasi saja, karena memang aku masih belajar menenun kata. Semoga dan semoga ya, kelak aku bisa menjadi reviewer sebagaimana mestinya. Karena salah satu tujuan aku membangun Teras Kata juga untuk membagikan ilmu yang pernah aku dapat dari membaca. Wujudnya bisa berupa review, harapanku sih itu Sahabat. Mohon doanya.

Ahaha, jadi melantur yak...

Oke, kita kembali ke buku KPA.

Kalau aku, pertama kali lihat buku ini, rasanya amazing. Itu belum baca isinya, masih 'kebetulan' dia lewat depan Teras. Kira-kira setahun yang lalu ya, tiba-tiba aja gitu muncul. Terus kan, akunya penasaran, ko unik, batinku. Jarang ya ada buku judulnya kitab gitu. Biasanya kalau kitab ya you know-lah apa? Kemudian aku coba telusuri itu, dari mana arah datangnya. Sampai akhirnya aku DM penulisnya. Kalau ndak salah begitu. Sudah setahun juga ya, agak lupa akunya.

Singkat cerita, buku itu berhasil juga masuk ke Teras dan menjadi salah satu bagian penghuni Teras. Entah member ke-berapa, aku juga ndak ingat. Biasanya, aku suka cuek tuh sama member baru. Ya paling aku cuma uncover, terus kenalan dikit. Habis itu aku gabungin dia sama member lama. Nanti, kalau mood-ku lagi oke, baru samperin dia. Itu biasanya. Jadi enggak yang langsung dibuka terus baca. Tapi ya lihat juga kasusnya sih. Kalau bukunya bener-bener harus segera aku selesaikan untuk menjawab ini dan itu, ya begitu datang sudah langsung aku dudukin untuk wawancara sampai tandas. Hahaha, enggaklah. Buku diwawancara, dibaca atu... Dan itu bukan dibuat duduk ya, enggak bolehlah buku dibuat alas duduk. Maksudnya itu dia aku baca dalam sekali duduk.

Nah, beda sama si KPA ini. Aku enggak lama sih membiarkan dia ter-cover rapi. Aku langsung baca dia, kebetulan moment-nya juga pas. Pas gerimis (hahaha, apa hubungannya?), ada bangetlah. Membaca buku pas gerimis itu syahdu sejuk gimana gitu ya. Hehehe ....

Tadinya aku takut mau mengawali dari halaman pembuka. Secara judulnya Penyihir, sudah gitu konsepnya Harry Poter banget, dan mungkin aku satu-satunya orang yang enggak heboh sama si HarPot. Alasannya simple, aku kesulitan membaca novel terjemahan. Bukan HarPot saja kalau begitu. Tapi aku sering dan suka dengar kisahnya dari teman-teman yang suka baca atau nonton HP.

Lupakan soal kengerian. Kalau kalian beneran belum kenal dan penasaran, bisa banget klik di sini untuk bisa kenalan langsung sama si KPA. Kataarhana, judul buku mencerminkan isinya banget. Brili benar-benar mengajari kita untuk menjadi penyihir. Eits, iya ... Penyihir Aksara. Teori yang dipaparkan enggak bertele-tele, dan kita bisa langsung praktek setelahnya. Pokoknya ya itu tadi, amazing. Sesuai ekspektasilah, malahan lebih mungkin. Jadi, enggak rugi untuk investasi dan jadiin dia salah satu koleksi perpustakaan pribadi kita.

Baru kali ini aja aku bersemangat untuk mengikuti semua aksi dari buku. Mulai dari ritual satu sampai selesai dan mantra satu. Kenapa aku berhenti di mantra satu? Kali ini alasan personal lagi. Aku belum berhasil menciptakan moment. Mantra kedua dan seterusnya bukan sesuatu yang ringan, butuh fokus yang baik dan akan lebih mengena kalau disertai aksi tentunya. Tapi saat itu aku tidak bisa fokus untuk menyelesaikan. Bisa dibayangkan ya, mungkin aku akan dapat menyelesaikan satu buku solo. Kalau sudah finish bacanya. Hihihihi. Oiya, jadi materi di buku ini betul-betul dikonsep layaknya kitab sihir (udah kaya yang tahu kitab sihir seperti apa aja. Hehehehe), ya kalian pahamlah mestinya. Kalau ndak mau membayangkan, ya itu tadi buka sendiri saja linknya.

Di sana ada tiga bagian utama. Pertama ada Purnama, kalau menurutku ini semacam motivasi dan pembaruan mindset kita tentang menulis. Kemudian bagian kedua Brili sebut sebagai ritual. Nah, di sinilah saatnya aksi itu di mulai. Ini aku kasih bocoran hasil aksiku saat itu.
Bikin catatan yang paling lama itu ya ini. Ga ngerti mau nulis apa. Lha wong menikahi bahasa. Tapi ga kenal bahasa yang mana. 🀦🏻‍♀️🀣🀣🀣
Yang diminta itu nulis kata asing. Dududududu ini namanya apa ya? Nyentil banget, berasa kurang bacaan. Atau kurang gaul. Hehehe
Tap tapi, tadi nemu bahasa aneh pas lagi browse. Nggak sih salah, pas lagi baca wp ada bahasa planet seperti itu. Terus ingat dan browse. Hehehehe... Dan berikut ini kata yang kutemukan:
1. Wagelaseh : wah gila sih
2. Warbiyasah : luar biasa
3. A sih B aja : apa sih biasa aja
Baiklah, sementara itu dulu. Bahasa gaul yang kutemukan dan banget-banget asingnya. Bahasa yang lain, menyusul yaaaa...
πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
πŸ’¦
-arhana-
Kdr, 171118
Judulnya ritual #3. Ritual yang menurutku paling amazing. Kenapa? Ya itu pasti sudah terjawab, kan? Bisa dibilang aku kurang gaul mungkin ya, karena enggak punya referensi bahasa aneh. Hahaha, ya enggak semulus atu lurus itu juga sih. Cuma memang akunya yang kurang peduli sama bahasa-bahasa asing begitu.

yang ketiga adalah mantra. Jadi lengkap bukan, ada ritual yang dilakukan saat purnama dan dalam ritual kalian harus baca mantra. πŸ˜‚πŸ˜‹

Yes, meskipun buku ini keren sampai tersihir juga akunya, tentu saja bukan satu-satunya ya Sahabat. Dan aku sepakat dengan pernyataan Pak Hernowo, bahwa menulis itu bukan soal seberapa hafal kita pada teorinya, akan tetapi seberapa banyak kita telah berlatih. Dan buku KPA-nya Brili Agung akan menuntun kita mewujudkan itu. Menulis jadi menyenangkan, tanpa beban dan luar biasa. Teori bukan tak penting, tapi dengan sering berlatih, maka teori akan melekat dengan sendirinya.

Seabu-abu apa pun tulisanmu, jangan pernah berhenti. Karena semakin banyak menulis, warnamu akan tercipta dengan sendirinya. Gaya kepenulisan itu juga akan mengikuti. Sama seperti seni, di mana masing-masing tangan dan individu memiliki takaran seninya sendiri-sendiri. So, temukan gayamu dan cintailah. Sebagai upaya menghargai diri sendiri karena sudah berusaha sejauh ini.

Terimakasih sudah menyimak dan hadir di ruang berbagi kita. Semoga yang sedikit ini bisa diambil manfaat ya. Sampai jumpa di pertemuan yang akan datang.

Assalamu'alaikum wa rohmatulloh wa barokaatuh

Kediri, 26 Oktober 2019

Jumat, 25 Oktober 2019

Berbagi Itu Menyenangkan

Oktober 25, 2019 2 Comments
Sharing is caring

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh Sahabat PeKat

Apa kabar malam ini? Rasanya sudah lama kita tidak bersua ya. Semoga Sahabat PeKat senantiasa dalam lindungan Allah, sehat, dan bahagia. Aamiin

Ada satu titik poin yang menyentil sisi sensitifku saat diskusi semalam. Sebetulnya bukan hal yang membuatku baper. Tapi aku takjub dengan cara yang dilakukan untuk mengingatkan kami. Tentang apa kah itu?

Sebelum kita lanjutkan, Sahabat pernah merasa takut untuk berbagi? Terutama informasi. Atau justru tim easy going to share? Aku di sini tidak akan mengadili siapapun juga tidak untuk menilai apapun. Just reminder for myself.

Kita semua sadar, bahwa berbagi adalah salah satu bentuk dari rasa peduli kita kepada orang lain, lingkungan, dan alam. Berbagi selalu merujuk pada tujuan baik. Maksud hati kita supaya orang-orang terkasih tidak terjebak situasi bermasalah. Atau sekedar untuk pengingat.

Namun demikian, apakah kita pernah berpikir tentang kebenaran berita yang kita bagi? Atau pernah bertanya informasi x datangnya dari mana? Setidaknya berusaha mengetahui sumbernya sebelum membagikan.

Dulu, aku termasuk ke dalam golongan itu, mudah berbagi tanpa berpikir dua kali. Ketika ada informasi yang menurutku itu baik, bisa jadi bahan introspeksi, atau juga sarana berhati-hati, jemari ini dengan latah membagikannya begitu saja. Tentu saja, kepada orang-orang yang kuanggap membutuhkan. Tanpa pernah berpikir, berita itu benar atau tidak, dan siapa yang membuat. Bukan hanya itu, bahkan ketika membuat kutipan, seringkali lupa menyertakan sumber atau penulisnya.

Seiring berjalannya waktu, beredar dan viral tentang berita bohongan atau yang lebih dikenal dengan istilah hoax. Mulai dari sini, aku sudah jarang sar ser sor sesuka hati. Menahan diri supaya jemari tak latah menari. Bukan hal yang mudah tentu saja. Bahkan bukan hanya itu, aku mulai berpikir tentang hal apa saja yang boleh dan tidak boleh kubagikan di timeline media sosial.

Tahun 2017, aku mulai mengenal lebih jauh dan detail tentang ini melalui adab belajar. Salah satunya adalah adab membagi informasi. Yang salah satunya adalah kita harus memastikan apakah berita tersebut benar atau tidak. Bukan hanya sekedar disclaimer copas dari grup sebelah, lantas menjadi halal untuk kita bagi. Ah, jika kita tahu betapa banyak kecurangan yang terjadi di situ, sekalipun niat berbaginya baik.

Itu hanya salah satunya. Adalagi tentang menggunakan sumber ilmu. Atau sumber bacaan, referensi dan lainnya berkaitan dengan informasi yang kita bagikan. Hal ini untuk menjaga kualitas berita yang kita sampaikan. Valid atau tidak.

Nah, adab ini akhirnya juga akan berkaitan dengan apakah seseorang layak dikatakan plagiat atau tidak. Kembali lagi, seperti aku dulu selalu kesulitan meletakkan sumber. Semacam kalau kita mengerjakan karya ilmiah. Dalam hal kutip mengutip, tentu saja tak lepas dari referensi dan tentu saja mencantumkan penulis atau pencetusnya. Apa jadinya jika kita tidak mencantumkan bahan rujukan kemudian mengklaim itu sebagai hak milik?

Jawabannya tentu saja kita akan disebut sebagai pencuri, penjiplak, atau bahasa kerennya plagiat. Plagiat itu bukan hal sepele Sahabat. Namun demikian, juga tidak bisa dibicarakan semau gue. Plagiarisme itu kalau bagiku ya itu tadi, mengklaim yang bukan miliknya sebagai dirinya. Baik itu secara keseluruhan atau hanya cuplikannya.

Tapi, di sini aku ingat sesuatu pernah aku baca. Bahwa tidak ada kemurnian di dunia ini. Mereka yang mengklaim itu adalah miliknya sesungguhnya adalah hasil serapan dari berbagai sumber yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja kalau menurutku, kenapa kemudian sesuatu yang mungkin sama akan jadi berbeda dan bisa diklaim jadi hak milik?

Yes, karena manusia itu unik. Mereka memiliki kekhasan yang berbeda satu sama lain. Sekalipun sama-sama angka 1, akan menjadi beragam cerita dan hasil karya dari beragam orang yang menginterpretasikannya. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang tidak hanya kontekstual tetapi menyeluruh. Bahwa, adab itu dipahami sebelum belajar dan memperbanyak ilmu, pun sebelum beramal.

Karya kita mungkin saja original hasil pemikiran diri, tetapi ketika sudah terlempar ke dunia, maka ia telah menjadi milik dunia. So, lakukan apapun dengan kesadaran. Sadar akan apa yang disampaikan dan sadar akan konsekuensi dari penyampaian. Bukan membatasi diri tapi tahu batas itu perlu.

Happy sharing Sahabat....
Semoga yang sedikit ini bisa diambil manfaatnya ya..

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh

Kediri, 25 Oktober 2019

Rabu, 23 Oktober 2019

Sinergi Baca Tulis

Oktober 23, 2019 10 Comments


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ya, hari ini kita akan bahas tentang sinergi membaca dan menulis. Seberapa urgent dan penting tema ini aku angkat, silakan disimak dulu. Sambil cari spot untuk nongkrong yang nyaman dan aman. Lalu, mari kita diskusikan.
Baca, baca, baca, tulis
Banyak membaca kemudian tuliskan. Tentu saja Sahabat PeKat tidak asing ya dengan istilah tersebut.  Jadi, kunci dari lancar menulis adalah banyak membaca. Kata Pak Hernowo, membaca itu tidak harus buku, tetapi kita dapat memvariasikan bahan bacaan sehingga gairah membaca itu terus ada.

Seringkali ketika ingin membaca sebuah buku, kendalanya datang silih berganti. Apakah itu harganya yang melangit atau buku tidak tersedia. Kalau pun meminjam di perpustakaan, sekalipun di sana juga tersedia banyak eksemplar, kadang juga sedang dipinjam oleh anggota lain. Oleh karena itu, kita harus pandai membuat bahan bacaan bervariasi. Apalagi dewasa ini informasi telah tersebar di berbagai macam media. Meskipun demikian, kita juga tetap harus selektif dalam memilih bacaan.

Proses menumbuhkan minat baca memang tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, itu adalah modal bagi penulis. Banyak pertanyaan dari penulis terutama pemula, termasuk aku, tentang beberapa hal berkaitan dengan ide misalnya, atau macet saat mengembangkan, bahkan bagaimana cara mengalirkan supaya ide-ide di kepala tidak berebut keluar. Dan apakah kalian tahu? Jawabannya hanya satu, membaca.

Nah, untuk membaca sendiri ada beragam teknik supaya ia menjadi aktivitas yang menyenangkan dan sangat ringan untuk dikerjakan. Salah satunya adalah membaca nyemil. Camilan itu dimakannya bagaimana? Sedikit demi sedikit.

Ok. Maka begitu juga dengan membaca nyemil. Kita tidak harus menyelesaikan satu bacaan dalam sekali duduk. Tapi, perlu memberi jeda untuk memahami apa yang kita baca. Caranya ya dengan sedikit demi sedikit itu tadi. Ambil posisi yang nyaman, kemudian ciptakan moment membaca yang menyenangkan. Insyaallah dengan begitu, perlahan kita akan menikmati bacaan-bacaan kita. Atau merindukan moment baca kita.

Sedikit cerita, tadi malam aku sudah melakukan itu. Membaca buku Pak Hernowo memang tidak bisa dilakukan dengan buru-buru. Atau bahkan diambil saat kita sedang tidak fokus pada bacaan. Sekalipun bacaannya serius, tapi sangat renyah untuk kita hidangkan berulang kali. Makanya kalau aku, buku ini lebih cocok dijadikan camilan bacaan.

Buku yang kubaca berjudul Mengikat Makna Update. Ada beberapa part yang isinya sangat menohok untukku. Ia adalah tentang permainan ide yang tampaknya sangat banyak tapi sesungguhnya di dalam kepala tidak ada isinya, hampa, kosong. Bagaimana bisa?

Ya, apakah kalian pernah merasakan demikian? Ingin sekali menuliskan berkelebat dan beratus ide yang muncul di kepala. Tapi, kita tidak bisa memulainya barang sekata. Kalau kalian tidak pernah, fine, aku saja berarti. Hehehe

Jadi, ketika hal itu terjadi, maka pertanyaannya adalah bagaimana kualitas membacaku? Apakah sudah membekali diri dengan bacaan? Seberapa banyak? Dan bagaimana aktivitas membaca bagiku? Sudahkah menjadi kebutuhan? Atau hanya aktivitas sambil lalu?

Kata Pak Hernowo lagi, kalau belum bisa mencintai baca, jangan pernah bermimpi untuk jadi penulis. 
Duh ... duh ... duh. Rasanya seperti yang terlempar ratusan meter. Kebas seketika dan ternyata aku bukan apa-apa. Amazing.

Em, membaca itu aktivitas memenuhi teko otak kita, Sahabat. Seringkali kita juga dengar bahwa apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Karena ketika membaca, ada proses memasukkan kata-kata. Sehingga kita semakin kaya kosakata. Dengan kaya kosakata ini, kita akan lebih mudah mengatasi kemacetan saat menulis. Atau sebut dia stuck.
Membaca adalah aktivitas mencari jawaban.
Sahabat PeKat pernah dengar tentang ini, jika kamu tidak menemukan reverensi bacaan yang kamu cari, maka tuliskan. Bisa jadi, tulisanmu itu yang akan menjadi solusi. Aku lupa ini sumbernya dari mana. Tapi aku ingat pesan dari tulisan tersebut. Intinya, membaca itu adalah proses kita mencari jawaban. Ketika kita macet, kemudian membaca, maka ini adalah proses kita menemukan solusi dari kemacetan. Dan dalam surah Al-Alaq, Allah telah menejalaskan juga tentang kaitan membaca dan menulis ini. Yuk, kita sama-sama meresapi maknanya.

Betapa manisnya sinergi baca tulis ini, Sahabat. Mari kita jaga bersama gairah baca, dan jika memungkinkan tularkan semangat itu kepada lingkungan.

Terimakasih sudah kembali untuk menghadiri pertemuan kita. Semoga yang sebentar ini dapat diambil manfaatnya, dan aku bisa hadir setiap hari di ruang baca sekaligus ngupi-ngupi ini, biidznillah wa bibarokatillah. Aamiin


Kediri, 23 Oktober 2019

Selasa, 22 Oktober 2019

Tentang Waktu: Berproses dan Belajar darinya

Oktober 22, 2019 10 Comments

Menulis bukan soal punya waktu atau tidak, tetapi sudah punya komitmen yang kuat atau belum. Hanya sekedar hobi atau sudah menjadi passion. Sudah menjadi kebutuhan atau hanya sekedar menulis saat ingin. Dan akhirnya, ketika waktu telah jauh melangkah, kita bilang, waktu yang kurang untukku. 

Kenapa kita yang tidak introspeksi saja, 24 jam itu tidak sebentar, bukan? Kita hanya perlu melakukan sedikit hal dan fokus. Sehingga hasilnya maksimal. Kecuali dalam masa menjajaki rasa, mencari mana yang akan kau putus untuk dijadikan tempat tinggal, atau sekedar singgahan sementara.

Kau tahu?
Sesungguhnya bukan waktu yang merubah kondisi. Akan tetapi langkah yang kau ambil untuk menyelesaikan berbagai macam tantangan. Pilihannya ada dua, mau jalan di tempat atau segera menyelaraskan langkah dengan waktu. Yang jelas, waktu akan terus bergulir tanpa harus menunggumu berpikir.

Begitu juga dengan menulis. Tidak akan meningkat kualitas tulisan kita kalau hanya berpangku tangan menanti hadirnya ide atau inspirasi. Makanya, penulis juga harus banyak gerak. Gerakan penulis itu dengan membaca, baik itu membaca buku ataupun hal lainnya. 

Kenapa? Ya karena sekolahnya penulis itu membaca. Jangan ngaku penulis kalau belum suka membaca. Karena penulis sejati itu adalah ia yang tak menutup diri terhadap ilmu dan pengetahuan. Makanya, yuk perbanyak lagi investasi leher ke atas. Supaya makin berkualitas juga tulisan kita. Aamiin

Kediri, 21 Oktober 2019

Sumber gambar: dokumentasi pribadi
Desain: canva

Minggu, 20 Oktober 2019

Grojogan Sewu di Alam Kandung

Oktober 20, 2019 20 Comments
Source: dokumentasi pribadi

Hari Ahad beberapa pekan lalu, aku berkunjung ke salah satu member komunitas bersama teman-teman pengurus. Tujuan kami pertama silaturahmi dan kedua takziah atas meninggalnya rekan kami tadi.

Perjalanan ini diikuti oleh 6 orang dewasa dan 5 anak. Sebelumnya tidak ada agenda untuk pergi ke salah satu wisata. Entah bagaimana ceritanya, bapak-bapak memutuskan mampir ke wana wisata ini. Aku sendiri hanya menyimak sekilas untuk memastikan rute yang akan kami lewati.

Saat itu kami berada di wilayah Tulungagung. Sedangkan wisata ini terletak di Desa Tanen, Rejotangan, Area Sawah, Tanen, Kec. Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66293.

Source: dokumentasi pribadi
Source: dokumentasi pribadi
 
Jalan menuju wisata terbilang cukup sulit. Tetapi masih bisa dilewati mobil. Menurut informasi dari google map, juga masih mampu akses untuk elf, tapi aku tidak bisa memastikan elf yang ukuran berapa. Saat itu kami mengendarai kendaraan pribadi jenis taxi dan pick up. Lumayan bikin berdebar saat tak disengaja ada kendaraan dari arus berlawanan. Dimungkinkan juga dari wisata yang akan kami kunjungi.

Meskipun jalan kecil (kurang lebih selebar mob pribadi ditambah setengah meter), tapi samping kanan kiri bukan jurang atau tepi yang curam. Justru bahu jalannya berupa tanah, tapi memang beda ketinggian dari jalan. Di samping itu, jalanan sudah mulai rusak karena terlalu banyak dilewati muatan berat. Kemungkinan lain juga karena kondisi tanah jenis bergerak (kata teman-teman).

Jujur, aku tidak ada bayangan akan seperti apa tempatnya. Air terjun yang lebih dari sekali kunjungi hanya Coban Rondo, Malang. Selebihnya aku sering melihat di pinggir jalan, sepanjang rute menuju Malang. Ada juga yang disebut Grojogan Sewu. Berkali-kali aku hanya menerawang, mengapa disebut Grojogan Sewu.

Rasanya kami akan terus menahan napas sampai pos penjagaan pintu masuk mulai terlihat. Tapi di situ, aku lagi-lagi masih belum percaya sedang di mana kami. Setelah dari pos penjagaan, kami turun untuk memarkir kendaraan. Tak ubahnya lahan kering. Tempat parkir ini justru terlihat seperti halaman. Hanya saja bentuknya berundak. Di sini saya mulai berpikir banyak. Membayangkan. Jika pengunjungnya banyak, akan jadi seperti apa lahan parkir ini.

Oiya, wana wisata ini tergolong sangat murah. Karcis masuknya hanya Rp 6.000, mestinya ada ketentuan tarif. Akan tetapi pada saat itu, kami hanya dihitung dua orang dewasa. Sementara rombongan dalam satu mobil berjumlah 4 orang dewasa dan 3 anak.

Setelah urusan parkir memarkir selesai. Kami disuguhi pemandangan yang kering, gersang, dan rasanya tak nyaman untuk mulai perjalanan. FYI, hari ini memang kondisi hutan kota sedang tidak sehat ya sahabat. Beberapa titik kita dapati sedang terbakar. Entah dibakar atau memang terbakar kita tidak tahu. Jadi, sore itu kami menapak satu demi satu langkah. Suasana di sana tidak terlalu dingin. Waktu itu kami tiba sekitar pukul 15.30 wib. Tapi, pukul 16 lebih hawa dingin mulai menyambut.

Lokasi air terjun dengan parkiran kurang lebih 500 m. Di sepanjang jalan itu, aku banyak mengamati. Ada kolam renang yang sudah tidak difungsikan. Kemudian beberapa warung berjajal di sepanjang area sebelah kanan dan beberapa di kiri atas. Ya layaknya pegunungan, tentu saja jalan setapak yang kita lewati akan menanjak dan kadang banyak kerikil.

Setelah melewati hutan kering dan suguhan yang tak terawat tadi. Kami mulai turun dan menjejak jalan setapak. Di situlah mulai terkuak keindahannya. Kalau diperhatikan, airnya berwarna hijau. Sedangkan air terjunnya memang tidak terlalu tinggi. Di ketinggian dekat air terjun, aku mengamati anak-anak, betapa bahagianya mereka ketemu air.
Source: dokumentasi pribadi

Diperkirakan, wana wisata ini dulunya sangat terawat. Namun entah karena apa, perubahan-perubahan itu terjadi di beberapa titik. Dan sekarang dilengkapi dengan spot foto seperti frame, atau hanya sekedar tempat duduk dengan meja yang semuanya buatan dari semen.

Meskipun terkesan kering karena memang cuaca tak menentu. Suasana di sekitar air terjun memberi atmosfer baru pada kita. Terutama airnya yang menghijau.

Kalau ada kesempatan di dekatnya situ, silakan main. Semoga saja sudah pada aktif lagi. Kan eman kalau dibiarkan begitu saja.

Baik sahabat PeKat, kisah kita malam ini cukup sampai sini dulu ya. Besok kita bertemu lagi, insyaallah.

Kediri, 20 Oktober 2019

Perjalanan

Oktober 20, 2019 16 Comments
Source: dok. pribadi


Kita masih berjuang
Di antara ribuan bahan perenungan
Aku memilih untuk diam
Menekuri jalan asa yang tertinggal

Kita masih harus terus berjuang
Untuk kebahagiaan hakiki
Bukan sesekali,
fatamorgana sebagai bayangan sepi

Pertukaran malam dan siang
Bukan hanya dilalui begitu saja
Berpikir dan menemukan
Adalah langkah semesta untuk sebuah juang

Mari kita kembali
Memaknai jalan asa yang terlewati
Sudahkah mencapai target mini
Atau justru terlempar jauh dari jalur pasti

Dan kita masih perlu berjuang
Menggenapkan langkah yang telah kita mulai
Menyelesaikan misi yang telah kita temukan
Hingga kelak kita kan letakkan
Segala rasa dan pemikiran
Untuk beralih pada medan juang lainnya

Kediri, 20 Oktober 2019

Ketika Ibu-ibu Berbagi

Oktober 20, 2019 0 Comments


Pernah  yang tidak menyimak ibu-ibu ngobrol? Biasanya apa yang kalian temukan? Ya, ibu-ibu seolah tak habis kata untuk bercerita aneka ragam tema dalam sekali duduk saja. Lalu, pernah kah membayangkan, ketika obrolan itu berubah wujud jadi tulisan? Dan buku antologi artikel parenting ini bukti fisik, obrolan ibu-ibu yang tiada habisnya.

Pembahasan yang bukan itu-itu saja, meskipun tetap hal-hal yang tak jauh dari aktivitas kesehariannya. Mulai dari buah hati sampai urusan investasi. Dan semua topik tersebut memiliki ruangnya sendiri-sendiri. Tetapi, ibu selalu punya cara untuk membuat obrolan mereka renyah dan tiada habisnya.

Maka benarlah, bahwa perempuan memiliki kebutuhan untuk menyalurkan stok kata yang ia miliki setiap harinya. Dan apa kau tahu? Bahwa perempuan memiliki stok 20.000 kata per hari. Bisa lah dibayangkan, andaikata stok tersebut diendapkan begitu saja. Dan terlewatkan dari hari ke hari. Ibarat keran air, ketika harus dialirkan saat mesin pemompa air menyala. Sementara, tidak ada tandon untuk menampung air yang sudah disedot. Dan kerannya dibiarkan tetap tertutup. Kalau tidak jebol pipanya, dia akan menyembur lebih deras saat keran itu dibuka. Benar tidak?

Nah, oleh karenanya seorang perempuan harus lebih pandai mengelola dirinya. Baik itu caranya membagi ide pun bagian dirinya yang harus tetap utuh dan waras menghadapi hari. Bagi yang tidak suka menulis, tentu memiliki cara untuk menyalurkan kebutuhan ini. Bisa jadi dengan melakukan hobinya, apapun itu. Sebab, kadang saluran kata-kata yang dimiliki perempuan, kerannya enggak mesti berupa menulis. Tapi bisa dari kegiatan apapun yang disenangi. Entah bagaimana cara kerjanya. Hanya saja, ketika hati perempuan itu bahagia. Ia akan secara otomatis juga membawa dunia di sekitarnya bahagia. Manajemen dirinya pun meningkat.

Buku antologi artikel ini hanya sekelumit bukti, bahwa perempuan punya bahasa sendiri. Untuk membagi kisah dan juga informasi. Menebarkan benih juga hikmah dalam kehidupan sehari-hari. Selamat membaca wahai perempuan. Semoga kisah sederhana dalam buku ini membuka tabir inspirasi.

Salam Literasi
Handiana Muthoharoh

Batu, 20 Oktober 2019

Jumat, 18 Oktober 2019

Bincang Literasi

Oktober 18, 2019 6 Comments
Membicarakan tentang literasi tidak akan ada habisnya. Mengingat literasi itu sendiri sangat luas cakupannya. Tidak hanya menulis dan membaca saja. Seperti halnya cinta yang tak pernah lapuk termakan masa. Selalu ada cerita di setiap eranya. Dan semua itu sukses terbukukan. Lalu, bagaimana dengan Sahabat PeKat hari ini? Sudah membincang literasi apa kepada dunia?

Jangan bicara soal siapa yang akan membaca naskahmu. Atau siapa yang akan menyukainya. Lebih dari itu, esensi apa yang ingin kita sampaikan kepada para penikmat kata. Kita tidak pernah tahu pasti, kalimat mana yang ternyata membantu orang lain. Dan perlu kita pahami, bahwa tulisan kita bukan satu-satunya. Namun demikian, kita tetap perlu memerhatikan sasaran baca.

Mengapa demikian? Tentu saja. Tidak mungkin kita akan menulis cerita anak tetapi menggunakan bahasa profesional. Tentu kita akan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.  Ini berbeda makna dengan pikiran tentang siapa yang akan mau membaca tulisanku. Oleh karena itu, tentukan sasaran bacamu, lalu menulislah! Perkara bagus atau tidak, biarkan pembaca yang menilainya. Tugas kita hanya menulis dan membagikannya. Supaya kebaikan-kebaikan itu mengalir. Tidak hanya tersimpan oleh kita sendiri.

Siang ini, secara spontan pembahasan-pembahasan terkait literasi mengalir begitu saja. Tak terasa obrolan antargrup saling berkaitan. Yang satu membahas tentang rumah baca, yang lainnya tentang literasi guru. Dan tanpa aba-aba, anganku melambung tinggi, tentang rumah baca dan segala pernak-perniknya. Mulai dari membangun atau mengadakan rumah baca sampai aktivitas apa yang hendak dicanangkan di sana.

Kalau dipikir-pikir, pokok bahasan yang akan disampaikan bisa dijadikan ide menulis buku. Tentu saja, ide ini tidak serta merta. Aku ingat buku karya Bunda Andita tentang perpustakaan keluarga. Judulnya Seru Senang Membangun Perpustakaan Keluarga.

Buku ini berisi tentang serba serbi mengorganisir perpustakaan keluarga. Tentu saja di sana ada tata cara pengarsipan buku atau koleksi perpustakaan. Mulai dari pencatatan di buku induk, sampai penomoran dan pelabelan. Sebetulnya ini bukan ilmu baru. Mengingat aku sendiri sudah pernah utak atik e-DDC tapi menariknya buku ini bikin aku lebih semangat dan bahagia. Berbeda ketika dulu aku justru merasa tertekan. Karena membaca DDC tak semudah membaca kamus, menurutku dulu. Sehingga, aktivitas penomoran ini tak berlanjut.

Akan tetapi, jelas berbeda dengan hari ini. Di mana beberapa buku koleksi sudah tercantum nomor identitasnya sendiri-sendiri. Uniknya ketika mendapati buku berbeda tetapi nomornya sama. Hal ini menambah daftar pekerjaan rumah yang belum ketemu jawabannya. Sementara biar seperti itu dulu. Toh dia memiliki nomor induk yang berbeda, pikirku. Suatu saat pasti ketemu solusinya.

Setidaknya untuk saat ini, aku sudah mulai mencicil untuk membangun rumah bacaku sendiri. Meski belum tersebar luas manfaatnya, tapi kelak kuharap bangunan mungil itu menjelma jadi perpustakaan yang bisa membagi bahagia kepada pengunjungnya.

Sedikit jejak untuk pondasi rumah bacaku.
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Ya, aku menamainya Teras Kata "Arhana". Ini adalah tempat di mana Penenun Kata akan memproduksi sepanjang kalimat, selama Allah mengizinkan. Kata-kata Arhana akan terajut indah oleh penenunnya di Teras Kata. Aamiin ...

Mohon doanya ya Sahabat.

Kediri, 18 Oktober 2019

Kamis, 17 Oktober 2019

Tiga Hal yang Harus Dihindari Penulis

Oktober 17, 2019 3 Comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aku kembali dengan segenggam cerita. Dan akan duduk bersama kalian untuk beberapa frasa saja. Setelah itu, aku akan pergi lagi. Hendak mencari mangsa. Untuk kemudian kusantap bersama-sama. Tenanglah, mangsaku bukan yang berdarah karena tertoreh luka. Melainkan segenggam kata-kata untuk kita cerna dan menyisipkan rasa.

Siang ini, ceritaku tak jauh dari arti kata menulis, tak juga menenun. Yang kuingat, tadi pagi ada berbagai macam obrolan mampir ke mata, sebab aku hanya membaca, tidak bersuara. Aku melihat di sana ada yang berkata tentang penulis itu harus menghindari tiga hal.

Yang pertama ia tak boleh menye-menye menulis tentang dirinya sendiri. Terkadang kita lupa di mana tempat kita harus membagi rasa yang mengharu biru. Bisa-bisa media online menjadi diary umum bagi penikmat kopi. Tapi, para penikmat kopi tak semudah itu akan memilih bahan bacaan. Dia tahu, mana yang harus dituntaskan dan hanya sekedar dilirik saja. Atau bahkan, dihirup aromanya saja tidak.

Kenapa harus membawa penikmat kopi, bisa-bisa mereka tersinggung karena tak ada urusan. Bukan buka ... ini hanya soal bagaimana kita meramu saja. Well, meskipun tulisan kita tak hendak dikunjungi orang seorang. Akan tetapi, kalau sudah menulis di media sosial, maka harus tahu mana yang boleh dan tidak boleh.

Pahami media sosial itu adalah tempat di mana orang lain bisa membacanya. Bukan hanya platform yang saat ini sudah beraneka rupa. Ketika kita menulis di tempat yang kemungkinan dibaca atau dikunjungi orang sangat tinggi, maka berhati-hatilah. Pilah dan pilih mana yang tepat dan tidak tepat. Mulai pelajari juga adab berbagi. Sopan santun dalam bermedia. Sebab itu bukan hanya untukmu saja, tapi mereka yang menikmati aliran idemu.

Jadi, tulis yang bermanfaat dan paling dekat denganmu. Tak mesti harus urusan pribadimu. Right?

Kedua, gunakan bahasa yang orang mudah pahami. Bukan mendayu-dayu dan hanya kau saja yang menikmati. Kalau seperti itu, kenapa harus kautulis di sini. Cukup simpan untukmu sendiri.

Dulu aku menulis macam ini. Menyembunyikan banyak hal dari tulisan. Berharap tidak ada yang memahami. Karena aku terlalu takut untuk dihakimi. Lalu untuk apa dibagi? Tidak. Kalau aku dulu memang menulis untuk diriku sendiri. Yang ternyata, dampaknya tak terlalu signifikan. Tulisan sebetulnya mengandung banyak hal. Bisa jadi terapi, karena mampu menjadi jalan untuk mengalirkan yang kaupendam. Bisa jadi sarana bicara, maksudnya untuk membuat bahasamu lebih rileks dan terstruktur. Tapi, akan tak jadi apa-apa kalau tetap tak menyuarakan isi hati dan pikiranmu.

Kuncinya ada pada apa yang ingin kamu bagikan. Kalau mau berbagi hikmah, tak perlu paksa diri menunjukkan bahwa ini lho hikmahnya. Beri kebebasan pada pembaca untuk membuat kesimpulannya sendiri. Dan kamu bebas menyampaikan informasi yang kau miliki. Sekali lagi, aturannya tetap seperti poin pertama. Adab berbagi harus ditepati.

Soal bahasamu yang mendayu tak dapat dimengerti. Endapkan saja dahulu. Ibaratnya kamu mengeluarkan energi negatif, kalau itu memang bermuatan negatif. Kemudian menulis kembali sesuatu yang memang seharusnya kamu sampaikan. Jadi, nyatu gitu. Enggak terpecah kemana-mana fokusnya.

Yang ketiga adalah berpetuah. Oh, tidak. Bisa jadi aku berada di zona ini ya Sahabat. Maafkanlah. Semua butuh proses, kan ya? Maka, mari berproses bersama. Kadang niat kita tak untuk itu. Tidak untuk sok bijak dan naif menasehati. Tapi pembaca yang baik akan memahami maksudmu. Makanya, menulis itu perlu dari hati.

Bukan hanya itu, penulis perlu banyak membaca. Kenapa? karena belajar dan sekolahnya para penulis itu sesungguhnya dari bacaannya. Sebanyak apapun teori yang kita punya, tetapi tak ada sama sekali ghirah untuk mempraktekan, sama dengan bohong. Seorang penulis perlu sekali banyak membaca. Karena bacaan-bacaan itulah yang nanti akan memahamkan ia pada sebanyak teori yang sudah dipelajarinya.

Ini sungguhan Sahabat. Aku sendiri mengalaminya. Sudah berapa banyak aku masuk ruang seminar. Bahkan hampir masuk semacam short course. Tapi kupikir ulang. Sudah berapa banyak aku belajar tentang teknik itu? Dan sudah berapa kali aku praktek untuk menguji kemampuanku? Belum pernah. Lalu, untuk apa aku harus lagi dan lagi masuk ke ruangan-ruangan ini?

Satu kalimat yang membuatku merenung, lagi dan lagi. Pelatihan menulis itu ya menulis itu sendiri. Bayangkan tuh, aku dengernya setelah selesai mengikuti pelatihan. Kemudian dilanjutkan, bahwa Beliau enggak pernah sekalipun ikut pelatihan. Tapi tulisannya sudah ada di mana-mana. Then, apa yang Beliau lakukan? Menulis. Hanya menulis. Setiap hari dan lebih seringnya setiap pagi. Betul-betul menjadi istiqomah. Dan memang, banyak membaca dan menulis akan melatih diri seorang penulis lebih kreatif dan kritis.

Jadi, mau bagaimana dengan kalian para penulis? Sudah berapa lembar yang kalian tulis hari ini? Mari diskusi ini kita lanjutkan lagi. Kutunggu komentar cerdas kalian di kolom yang sudah tersedia ya.

See you soon.

Assalamualaikum.

Kediri, 17 Oktober 2019

Note. Tulisan ini memang belum diself editing. Jadi, mohon bersabar kalau nemu typo di mana-mana.

Nulis Suka-suka

Oktober 17, 2019 4 Comments
Hari ini aku bertekad untuk menyelesaikan semua urusan tentang editing dan utang menulis. Tapi, who knows? Ketika macet saat mengembangkan ide yang terlintas. Bahkan menulis bebas rasanya pun tidak sanggup. Tapi biarlah ya. Ini juga menjadi bagian dari jejakku untuk berbagi sedikit saja dengan kalian.

Rasanya sudah lama tidak menyapa Sahabat PeKat. Apa kabar kalian? Semoga selalu sehat dan bahagia ya ....

Well, aku berhenti kaya gini tepat setelah ada yang curhat sama aku. Tentang apa yang mesti kalian lakukan kalau apa yang kalian cita-citakan justru ditentang sama orang tua. Ya, ga ada cara lain. Buktikan. Tanpa harus menentangnya. Itu kalau aku. Kali aja kalian punya ide lain untuk ini.

Ok,
Aku cerita saja ya hari ini. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di dunia ini. Yang kadang kita terlalu menikmati satu hal saja, sehingga melewatkan banyak hal lain yang sebetulnya juga bermanfaat untukmu. Lalu, apakah kamu sadar? Kalau sebenarnya, satu kemampuan itu ada ketika ia memiliki komponen pembangun yang lengkap, dan sesuai takaran. Ayo, siapa yang sudah menyadari itu?

Nah, kadang masing-masing komponen ini enggak kita dapat di zona nyaman. Kita perlu move dan menemukan berbagai macam hal untuk kemudian kita cari keterhubungannya. Begitu saja. Tapi, perjalanan di luar zona nyaman ini yang seringkali membuat kita harus menahan napas bahkan. Jangan lama-lama, habis oksigen nanti.

Hal-hal sederhana saja yang kita lakukan, juga bisa mengantarkan kita pada titik di mana kesadaran itu terbangun. Kitanya saja yang kadang terlalu banyak pertimbangan. Eh, ini sih aku ya. Terlalu banyak berpikir sampai akhirnya tenaga sudah habis saja untuk berpikir. Sehingga tak ada energi lagi untuk melakukan apa yang sudah direncanakan.

Termasuk menulis, kalau memang saat ini belum bisa konsisten dengan apa yang sudah kita rencanakan, masih dalam fase nulis suka-suka, ya sudah do it. Yang jelas, jangan putus untuk tidak menulis. Bukan status lho ya. Ternyata esensinya benar berbeda, sangat berbeda. Nulis status itu kamu hanya butuh satu kalimat. Atau beberapa kalimat deh. Sedangkan kebutuhanmu itu lebih dari itu. Bisa dibayangkan sendiri, kalau kebutuhan yang dialirkan itu ada satu liter, tapi yang keluar hanya setetes. Jadi, apa sisanya? Kalau tidak meledak dan meluber tak jelas.

Makanya ya, hari ini biarlah dulu aku nulis suka-suka. Siapa tahu dari sini nemu kekuatan untuk mengembangkan ide yang berlesatan secepat kilat.

Semoga Sahabat PeKat enggak bosen ya nunggunya. Sampai jumpa lagi ....
Kediri, 17 oktober 2019

Stuck ... Lagi-lagi Stuck

Oktober 17, 2019 2 Comments
Puing-Puing Ingatan
Oleh: Arhana


Rasanya entah
Tak mengerti mengapa sudah
Berhenti tanpa jeda dan tak memberi kesempatan
Apapun itu

Terlintas sekejap
Kemudian memilih untuk tak hinggap lagi
Memilih untuk menjadi semu dan menggoda seolah permata
Ide

Sudah hampir tujuh
Tepatnya berapa, aku tidak tahu
Tapi belakangan sangatlah mengganggu
Coba terangkan saja padaku
Rasa apa yang sedang kau ramu di ruang hatiku

Sekelebat dan berkelebat cepat
Membuat ruam-ruam hati ini semakin meradang
Menembus dan masuk semakin dalam
Seolah meracuni adalah jalan terbaik
Tapi aku seperti pati yang hinggap tak bertuan
Seolah hidup segan mati pun tak mau

Mengapa hadir di antara lelah
Jika kau tak hendak meretas kalah
Aku terjebak rasa
Dan kau diam saja

Sekarang,
Dan untuk selanjutnya
Aku akan mengusikmu
Jangan biarkan aku seperti ini
Berhenti dan tak berkarya lagi
Bukan seperti ini

Kediri, 17 Oktober 2019

Senin, 14 Oktober 2019

Mulai dari Diri Sendiri

Oktober 14, 2019 0 Comments

Ya, mari simak story WhatsApp yang kubagikan kurang lebih satu tahun yang lalu. Bukan untuk menegur siapapun, lebih-lebih menggurui, story semacam ini justru pengingat untuk diri sendiri. Biasanya, ketikan seperti itu tidak kubagikan, hanya disimpan sendiri. Tapi, saat-saat tertentu bisa juga menjadi pengingat bersama.

Ceritanya, setahun lalu, aku seperti sedang di ambang batas. Maju salah, mundur pun tidak menjadi solusi. Lalu, kontemplasi adalah jawaban dalam kondisi semacam itu. Berhenti sejenak bukan berarti untuk melangkah pergi.

We know that pemimpin juga manusia. Yang memiliki kebutuhan lain dalam hidupnya. Tidak serta merta hidup untuk apa yang dipimpinnya. Dia tetaplah manusia biasa yang berdiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, stabilitas diri seorang pemimpin menjadi modal utama dirinya berada pada posisi penting tapi genting tersebut.

Bukan hanya stabil, seorang pemimpin juga mesti sudah tuntas perkara FoE dan FoR-nya. Ia paham bahwa setiap individu berucap sekaligus bersikap dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan yang melatarinya. Selama ia belum tuntas akan pemahaman tersebut, mestilah akan banyak menemui kendala yang bisa saja mestinya tidak ada.

Kembali lagi, karakter seorang pemimpin yang demikian, saat itu disebut no keder. Dan hari ini aku membahasakannya dengan bahagia diri. Karena pemimpin itu juga manusia, maka proses adalah jalannya untuk merenung, rehat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan bersama awak kapalnya. Ia tak mungkin begitu saja menyerah, dan memindahkan tampuk amanat kepada awak kapal.

Oleh karenanya, baper dan keder itu enyah lah. Semakin seorang pemimpin itu psimis, awak kapalnya justru akan semakin jauh memadamkan bara semangatnya. Dan ini betul-betul kurasakan. Ketika diri ini oleng terhadap realita, merasa tak berdaya dalam banyak sisi, teman-teman tim justru lebih kalut dadi yang kubayangkan.

Meski aku belum mampu mengenali situasi. Tapi percaya bahwa perubahan besar itu akan terjadi ketika ada perubahan kecil dari dalan diri sendiri. Maka, langkah pertama pub harus segera diambil. Tak peduli dimulai dari sisi mana. Yang jelas, pemimpin adalah poros, mau ke mana pimpinannya akan di bawa.

Kalau mau bahagia, maka tularkanlah kebahagiaan itu. Bukan sebaliknya. Sebab, memberi tanpa mengharap, justru akan mengembalikan lebih banyak. Sebaliknya, jika kita mengharapkan sesuatu dari sebuah sikap, yang adalah nol. Karena ikhlas menjadi alat tukar yang tak ternilai harganya.

So, keder itu memiliki prosentase beragam. Kenali gejalanya, dan tuntaskan saat itu juga. Jangan kasih kesempatan untuk sesuatu yang tak semestinya menyelinap. Siapkan amunisi, dan berbahagialah dengan capaianmu. Supaya kebahagiaan itu kelak menular pada setiap baris pimpinanmu. Akhirnya bukanlah kharisma yang bertahta, melainkan sistem yang bekerja.

Happy leader together!

Kediri, 14102019

Sabtu, 12 Oktober 2019

My Quote Today

Oktober 12, 2019 0 Comments
Tidak bisa itu bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau.
Pilihan itu bukan sembarangan. Karena pemilih tentu sudah memiliki pertimbangan.
Merasa tidak mampu, bukan karena kamu sungguhan tidak mampu. Juga bukan sebab kamu yang memampukan. Melainkan Allah.
Menulis itu menyehatkan, bukan membebani atau pun menyakiti. Sekalipun prosesnya kadang harus melewati masa kritis.
Tidak selesai-selesai itu bukan karena sulitnya pekerjaan. Tapi karena tidak segera dituntaskan.
 
 
 
 

Kamis, 10 Oktober 2019

Aliran Rasa

Oktober 10, 2019 4 Comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hari ini aku cuma mau diam. Diam dalam berucap sepenuh kata. Ada banyak sekali informasi yang harus dikelola dengan cermat. Kalau tidak, mungkin akan salah dia menempati ruang. Kosong bukan berarti boleh ditempati siapapun. Kadang kita perlu membiarkannya. Sampai beberapa waktu penghuninya akan datang.

Beragam rasa telah mampir selama ng-ODOP bersama Sapporo dan seluruh tim. Ada kalanya kami saling sahut di ruang baca umum. Tapi tak kalah seru, Sapporo mewarnai sebagian hariku. Tak terasa, Kamis manis sudah menyapa kembali. Rasanya baru kemarin aku menulis setelan daftar pengumpulan link di hari Kamis. Subhanallah, betapa terasa sekali cepatnya waktu berlalu.

Harapanku yang membumbung, semoga konsistensi selama dua bulan akan terpatri menjadi sebuah kebiasaan untukku. Habit yang selama ini sangat ingin kutanamkan. Tapi seringkali menghadapi berbagai kendala. Sampai akhirnya harus stuck.

Seperti itu juga kondisi rumah virtualku satu ini. Aku membangunnya sejak dua tahun lalu. Andai saja kemarin tidak dicantumkan link post lama sebagai pintu kunjungan. Mungkin aku sendiri lupa, bahwa rumah ini sudah ada sejak dua tahun yang lalu.

Ya, begitu banyak hal yang kupertimbangkan. Salah satunya media. Di awal ng-ODOP, aku sudah pernah bercerita. Bahwa aku memilih instagram sebagai media penyimpanan sekaligus berbagi. Karena memang saat itu, kapasitasku masih sependek caption instagram. Meski sebenarnya kalau sudah mencuit, aku seperti burung yang saling bicara pagi ini. Sahut menyahut dan tentu saja rame.

Mengikuti ODOP, ternyata memancing sisi tercerewetku. Jadi, ya mau tidak mau, sepanjang ini kalian harus membantuku. Menjadi pembaca, setidaknya berkunjunglah barang semenit. Supaya aku juga bisa terus bisa menjaga kewarasan ini. Hahaha, bagaimana mungkin seperti itu? Iya, aku nulis di blog sebenarnya sambil mikir. Ko kaya lagi monolog. Aneh aja, karena memang belum terbiasa. Kalau sudah terbiasa mah. Ya, it's ok.

Tapi, link post yang dijadikan pintu rumahku itu, justru melahirkan beragam ide. Salah satunya adalah membangun bilik. Ya, sepertinya ada janji yang belum tunai di sana. Tentang apa yang sebenarnya ingin kusampaikan di sini.

Baca juga :
1. Namaku Adalah 
2. Menulis menyehatkan

Iya, dulu aku ingin membagikan kepada kalian, tentang betapa manfaatnya menulis. Meskipun mungkin ia bukan satu-satunya. Tapi setidaknya, aku bisa membagikan hasil riset sederhanaku. Supaya tidak hanya terdampar di rak-rak perpustakaan. Atau mungkin hanya jadi obyek pengamatan.

Sesederhana itu. Kalau bukan aku yang membantunya untuk menebar manfaat, lalu siapa lagi. Sekali saja ada yang pernah bertanya kepadaku dulu. Tapi itu pun sudah lama berlalu. So, izinkan aku untuk berbagi tentang itu, next time.

Semoga plan project-ku bisa segera tuntas. Sehingga tulisanku tak selamanya juga akan seperti ini. Meskipun mungkin di sini ada sekecil manfaat yang tersimpan. Terimakasih kepada seluruh sahabat PeKat. Kehadiran kalian semacam bahan bakar baraku.

Salam Literasi!

Kediri, 10 Oktober 2019

Rabu, 09 Oktober 2019

Petrichor Rindu

Oktober 09, 2019 18 Comments
Source design by Canva

Rindu selalu saja meningkahi pongah
Tak peduli seberapa berat aku harus menanggungnya
Dan hujan November menjadi pengantar mula
Bersama sejumput asa, aku kembali mengenangnya

Penghujung tahun 2014
Bersama penat kau rebahkan segala duka lara
Meninggalkan rindu yang tak pernah tahu batasnya
Jika saja aku boleh bernegosiasi dengan-Nya
Kau tak perlu pergi meninggalkan rindu belantara

Bulan baru di tahun 2015
Jejak langkah jenjang itu harus tetap kuat
Hati yang teriap nestapa
Perlu segera kumengusirnya
Mungkin aku lupa
Tapi asaku telah padu padan dengannya

Maafkan senja yang tak pernah tuntas meramu rasa
Aku di sini menunggu kau bicara
Barang sekata, sahaja

Katamu, angin sore yang akan mengantarkan pelipur
Tapi nyatanya hujan baru lebih bisa menguarkan seluruh rindu
Katamu lagi, hujan itu membawa pesan cinta
Rindu yang mungkin saja tak tahu harus ke mana
Hujanlah yang menyampaikan maklumatnya

Bersama rinai hujan baru
Aku mengenang segala ceritaku dan dia
Membentuk alur baru menjadi kita
Aku dan kamu

Bersama petrichor harapan
Aku menitipkan sebongkah asa
Untuk menyampaikan kedukaan yang tiada tara
Sebab rindu tak bisa lagi memeluk raga
Semoga engkau selalu terjaga
Dan tenang di alam baka

Rindu, hujan baru yang tenangkan rasa
Kau selalu ada di antara tetes rinai dan derasnya
Mari kita berayun di dalamnya
Supaya riap tak lagi mengharu biru sebab luka
Tetapi,bahagia dipertemukan Sang Esa

Kediri, 9102019
-arhana-
Hati yang merindu


Catatan: puisi ini didedikasikan untuk bunda dan ayah. Semoga Allah menempatkan keduanya di tempat terbaik.

Hujan dan bunda seperti kombinasi rindu yang tiada pernah kan tuntas, meski ribuan kata mengeja.

Titip Al-fatihah untuk keduanya ya Sahabat PeKat. Salam

Selasa, 08 Oktober 2019

Adab Belajar: Fokus atau Tidak Sama Sekali

Oktober 08, 2019 0 Comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim
___**___

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah dialog. Muncul begitu saja sesaat setelah percakapan diakhiri. Juga merupakan sebuah hasil kontemplasi terhadap kebiasaan diri. Jadi, kalau dikatakan spontan, sepertinya tidak sepenuhnya benar.

Di luar sana banyak sekali informasi kuliah berbasis online. Platform atau tempat yang digunakan bisa beragam. Ada WhatsApp group, Telegram, dan Zoom meeting. Pilihan pertama dan kedua, yang sudah jamak kita dengar, biasanya disebut dengan KulWhap atau KulGram. Yang merupakan akronim dari Kuliah WhatsApp (KulWhap) dan Kuliah Telegram (KulGram).

Nah, semakin menjamurnya metode ini. Semakin beragam pula tingkah laku mahasiswanya. Namanya juga kuliah ya? Tentu saja pesertanya kita sebut mahasiswa. Meski memang tidak seperti itu juga dalam kenyataan.

Aku dan teman sekomunitas pun sering mengadakan ini. Baik internal maupun eksternal. Tujuan diadakannya adalah untuk berbagi ilmu, yang pertama. Kedua, untuk memberi wadah paotensi bagi teman-teman yang potensial sebagai narasumber. Atau juga wadah bagi teman-teman yang ingin belajar. Sehingga cara belajarnya kami harap rerarah meski tak terukur. Sebab semua ukuran akhirnya dikembalikan ke peserta.

Saking banyaknya pilihan, aku pun berpikir tentang pola belajarku selama ini. Di awal serasa kebakaran jenggot. Aku semangat, bahkan sangat semangat. Tapi kemudian, ketika jam belajar dimulai, aku justru tengah sibuk dengan kegiatan offline-ku.

Oleh karena itu, setiap hendak klik join, terlebih dahulu aku pasti bertanya. Apa impact yang aku dapat dari mengikuti kelas? Apa yang ingin aku pelajari dari kelas ini? Dan apa yang membuatku harus mengikuti? Ketiga pertanyaan dasar ini yang kemudian membekaliku setiap akan mengambil keputusan.

Dan mantra-mantra Ibu Profesional seringkali menjadi senjata pamungkas untuk tidak menyesal, jika urung mendapati diri dalam kelas. Ya, di mana pun tempatnya, belajar tetap memiliki adab yang harus kita perhatikan. Bukan hanya diperhatikan melainkan juga wajib dilaksanakan. Supaya ilmu yang kita dapat itu barokah. Insyaallah.

Salah satu mantranya yaitu menarik tapi tidak tertarik.

Ya, katakan pada sebuah event, bahwa ia menarik tapi kita tidak tertarik untuk saat ini. Percaya atau tidak, kalimat yang nampak sederhana itu justru memberikan dampak luar biasa. Kita pun legowo untuk tidak mengambil kursi. Maka, perhatikan betul, jawaban dari ketiga pertanyaan di atas.

Selain itu, seringkali di dalam kelas bukan hanya meninggalkan jam belajar karena masih full in action. Tapi bisa jadi layar kita menayangkan perjalanan presentasi di grup, tapi pikiran kita tidak ke sana. So, apa yang bisa dan akan kita dapat kalau hanya bengong?

Maka, berangkat dari beragam hal yang kurasakan itu, aku membuat jargon sendiri. Fokus atau tidak sama sekali. Sudah bisa dipastikan bahwa dalam kurun waktu tertentu kita akan mengikuti sebuah program. Akan tetapi, apakah kondisi publik bisa menyesuaikan atau tidak? Alih-alih memberi kesempatan, seringkali dunia publik meremehkan orang-orang yang sering menggunakan gawai.

Di benak mereka si pemgang gawai ini kalau enggak ngegame ya mungkin menonton YouTube. Bahkan di dalam kedua aktivitas tersebut juga ada muatan belajarnya, jika kita mau berpikir sedikit lebih keras. Hanya saja ini bukan sebuah amunisi untuk boleh berlama-lama dengan gawai, sama sekali tidak.

Fokus atau Tidak Sama Sekali
Nah, sebelum belajar/menuntut ilmu tentu saja kita harus tahu adab-adabnya. Salah satu adab menuntut ilmu adalah hadir dalam majelis yang disepakati. Dan yang kita bahas di sini adalah belajar dengan media online. Sekalipun peraturan perkuliahan disampaikan bahwa boleh disimak setelah jam selesai, tetap saja perlu diupayakan untuk hadir. Terutama jika perkuliahan hanya dilakukan sekali saja.

Seringkali KulWhap atau KulGram diadakan hanya sekali pertemuan. Nah, kalau seperti itu, kecil kemungkinan kita akan membaca ulang materi atau menyimak serunya diskusi. Oleh karena ketersediaan waktu kita berbatas dan mungkin saja kuliah dilaksanakan saat jam padat kita. Maka, akan lebih bijak jika tidak bergabung.

Ya, hal ini tentu saja berkenaan dengan adab kita menuntut ilmu. Maka, meskipun dia menarik tapi kita belum tertarik. Lalu, tinggalkan. Kalau sudah saatnya, ilmu itu juga akan menghampiri kita. Tinggal apakah kita paham tandanya atau tidak. Lain daripada itu, belajarlah sedikit saja kemudian amalkan. Karena ilmu itu sebelum amal. Dan jika telah berilmu jangan lupa diamalkan. Supaya ilmu yang sudah kita dapat bermanfaat. Manfaat itu bisa kita rasakan manakala sudah diamalkan.

Sekian sharing dari saya. Semoga sekelumit kisah ini bisa diambil manfaatnya oleh Sahabat PeKat.

Wallahu a'lam bishshowab

Kediri, 81019

Senin, 07 Oktober 2019

Kontemplasi: Bermimpi untuk Menemukan Misi Spesifik Hidup

Oktober 07, 2019 0 Comments
Perjalanan panjang bukan lagi sesuatu yang wah baginya. Menunggu adalah peristiwa sakral yang selalu khusuk ditunaikan. Tak lupa dilengkapi dengan doa-doa yang dirapal tiada henti.

Pertahanan itu runtuh, ketika yakin telah menembus batas rasa. Keraguan. Tapi kembali lagi menegak dan terus menuntas putus, batas gamang. Sebab keyakinan itu hanya boleh pada Yang Esa. Tidak yang lain.

Sore itu sepulang dari kunjungan. Aku memutuskan berhenti sejenak di antara angin sepoi yang membelai senja. Di samping rerumputan yang sedang asik berbisik dan bercanda. Sedangkan aku, sibuk dengan gawai dan berderet-deret senandika.

Tetiba saja pikiran-pikiran itu terlintas. Menembus batas ketidakmampuan. Aku pasti bisa, benakku meyakinkan. Segepok kue bernama ide telah tuntas disuapkan. Aku hanya mampu terlongok dan kembali terdiam, ketika sadar aku sudah merespon berlebihan. Mestinya bukan bengong, tapi memang aku sedang sibuk dengan alur gagasan baru. Lahir tanpa aba-aba, dan mencuat seketika. Gagasan itu tentang semua mimpi dan apa yang pernah kuharapkan dulu.

Perjalanan sore itu membawaku terbang sangat tinggi dan jauh. Meskipun kondisi jalan lumayan padat. Tapi aku tidak bisa serta merta mengenyahkan segala kompleksitas pikiran ini.

Pertemuan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Duduk saling berhadapan dan membuat posisi ternyaman versi masing-masing. Kami memulai percakapan dan menuntaskan. Hingga tak terasa empat jam menjadi kumparan paling menyenangkan untukku. Jelas, ini adalah sesuatu yang langka, belum pernah kulakukan sebelumnya.

Pembahasan mulai dari yang umum hingga ranah pribadi yang sesuai konteks bahasan kami. Sampai tepat pada satu titik. Telak, aku tak bisa mengakhiri. Bermimpi itu ternyata penting. Dengan mimpi, kita bisa menemukan alasan-alasan mengapa sampai hari ini kita masih bisa berjuang. Masih bisa bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.

Mimpi, menjadi wasilah langkah-langkah kita menuju. Mimpi, adalah apa yang mampu membuatmu menjadi superhero dalam hidupmu sendiri. Mimpi, satu dari sekian banyak hal, yang diperintah Allah untuk menuntunmu mencapai satu tingkatan.

Aku pernah bertanya, mengapa kita harus punya mimpi? Mengapa kita harus berimajinasi. Dan yang paling utama, mengapa Allah memberikan semua kesempatan itu untuk kita?

Ya, ternyata dengan mimpi kita bisa bergerak lebih spesifik dan efektif. Jika kita mampu menyadari dan memahaminya. Bukan sekedar bisa memulai langkah. Tapi juga akan dapat menemukan misi spesifik hidup.

Baca juga: Misi Spesifik Hidup

So, selamat bermimpi Sahabat PeKat. Temukan impianmu dengan membangun mimpi-mimpi. Sederhana sekalipun. Karena ternyata bahagia itu sesederhana saat kita bisa meraih satu per satu impian. Dan lebih membahagiakan lagi ketika kita bisa menerima ketetapan Allah dan mengamiknkannya dengan seruan syukur tiada batas. Tuntaskan segala apa yang telah dimulai, dari sekarang.

Kediri, 71019