Follow Me @arhana.handiana

@arhana.handiana

Senin, 23 September 2019

Terapi Menulis Ekspresif (TME)

Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini aku mau berkisah tentang TME.
___**___
Tujuh tahun yang lalu
Menulis menjadi sesuatu yang istimewa untukku. Sampai-sampai mahasiswi tingkat akhir ini memutuskan untuk mengabadikannya dalam riset tugas akhir. Meskipun istimewa, bukan berarti semua berjalan tanpa halangan. Termasuk berganti-ganti tema penelitian.

Jika kalian memilih riset dengan metode eksperimen, mestinya bisa membayangkan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi, tidak berhenti di situ. Penelitian terdahulu dari tema yang kuambil telah terbukti berpengaruh. Dan pertanyaan dosbimku saat itu adalah mau apa.
Kalau sudah terbukti berpengaruh antar variabel yang kamu teliti, lantas kamu mau apa? Penelitianmu mau dibawa kemana? Apa kontribusi yang bisa kamu berikan?
 Sejenak aku terdiam dan hanya tersenyum kikuk. Apa yang harus kulakukan setelah ini? Apa yang bisa kuperbaiki? Berkecamuk segala pikiran dan pertanyaan untuk menemukan jalan keluar.

Setelah bimbingan hari itu, aku lama tak kembali. Banyak merenung dan berkontemplasi dalam kebimbangan. Tanpa tahu harus bertanya kepada siapa lagi untuk berdiskusi. Satu metode Beliau selipkan pada pertemuan singkat itu. Mixed methode.

Yaa Allah, apalagi ini? Aku setengah mati menghindari metode kualitatif. Lantas sekarang diminta menggunakan mixed methode. Sekali lagi, aku berpikir. Apa yang bisa kulakukan?

Tak banyak yang bisa menjadi opsi. Aku pun memutuskan untuk pelan-pelan mencari referensi. Alhamdulillah salah satu teman yang juga bimbingan bersamaku. Menggunakan metode tersebut. Bahkan aku sampai membeli buku yang membahas khusus tentang mixed methode. Untuk memilih metode mana yang paling tepat dalam risetku dan sebagai referensi tentunya.

Well, akhirnya metode yang kupilih disetujui dosbim. Karena mixed methode, mau tak mau aku tetap harus menggunakan metode kualitatif. Hah, harus siap apapun yang harus kukerjakan nanti. Batinku mengukuhkan. Interview-nya toh sama responden. Pikirku lagi.

Ya, aku menghindari metode itu karena tidak suka jika harus melakukan serangkaian proses wawancara dan segala interpretasinya. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari kelebihan apa yang Allah install untukku. Karena sudah menyerahkan hati dan mengukuhkan diri, aku pun berangkat dengan proposal yang sudah kususun sebelumnya.
***
Mencari responden tidak semudah mencari makan. Hahaha kenapa makanan? Ya, asal kalian tahu saja. Di sekitar kampus menjamur berbagai macam warung makan. Mulai dari makanan ringan sampai yang paling berat.

Sasaran pertamaku sebetulnya di sebuah rumah sakit swasta di bawah PTPN X. Tapi kemudian, karena sebulan tidak menghasilkan apapun. Aku memutuskan untuk oper tempat. Tidak ada pilihan lagi, waktu tak mungkin berdiam diri hanya untuk menungguku, bukan? Aku memilih klinik kampus. Dan ternyata, rezeki dari Allah itu hadir. Bahkan tak terbayangkan. Kendalanya hanya satu, jumlah respondenku tidak mememnuhi syarat eksperimen. Yaitu minimal sepuluh orang.

Setelah diskusi lagi dengan dosbim, jawaban yang kudengar kali ini lebih menentramkan. Hahaha, bukan berarti sebelum-sebelumnya bikin galau. Sungguh itu benar 😆 . Tapi justru itu aku semakin banyak belajar. Dapat banyak bonus lah intinya. Termasuk yang sampai saat ini kutekuni, dunia editor.

Dosbim menyatakan tidak masalah dengan responden yang ada. Dan memintaku untuk lekas melangkah ke tahap berikutnya. Bisa dibayangkan dong, setelah menanti sekian purnama, akhirnya aku bisa melanjutkan. Bahkan tinggal beberapa langkah lagi, aku sudah bisa mengantongi tiket yudisium.
***
Sebulan yang lalu
Aku mau ngucapin terimakasih k mbk handa yg udh ngajarin Aku terapi nenulis 💖
Jujur aku shock. I do nothing to her.  Bagiku, itu bukan karena aku. Aku tidak merasa mengajari siapapun. Apalagi dengan kualifikasiku saat itu. Mahasiswi semester akhir yang sedang berjuang menuntaskan misi. Lantas, bagian mana yang bisa disebut aku ngajarin?

Setelah sebulan yang lalu kita berbincang santai. Kemarin aku melihat berita membahagiakan itu hadir. Insyaallah dia mau menggenapkan separuh agamanya. Diam-diam aku menggenggam namanya dalam doa. Hanya dia satu-satunya respondenku yang masih menjalin komunikasi. Meskipun tidak instens. Hanya sesekali waktu kita bertegur sapa.

Lagi-lagi aku memberi jejak pada kabar berita yang sengaja ia titipkan di medsos. Satu-satunya media yang masih menghubungkan kami, selain doa yang diam-diam menyisip di hati kami. Dia pun merespon komentarku. Tapi sekali lagi, dia membuatku terpaku. Lebih ke penasaran. Apa yang sebenarnya dia lakukan setelah pertemuan-pertemuan kami, setelah jejak langkah terakhir kami di gedung hijau. Seingatku, dia hadir saat wisuda. Dan setelah itu, kami hanya bisa say hello yang sering terabaikan.

Thankyou mb therapist ku ❤️
She said that. Well, kali ini di ruang umum, sahabat. Sekali lagi aku berkaca, what I did? I did nothing. Ya, aku tidak melakukan apapun untuknya. Justru aku yang harusnya berterimakasih. Karena dia mengerjakan apa yang kuminta dengan sepenuh hati. Jika tidak, mungkin hari ini aku tidak akan pernah tahu kabarnya yang semembahagiakan ini. Meski demikian, bukan berarti yang lain tidak mengerjakannya. Karena memang prosentase keberpengaruhan itu berbeda-beda tiap responden. Ada yang malah enggak berpengaruh sama sekali.
***
Jadi, apa yang kukerjakan pada saat itu sahabat PeKat?

Aku mencari lebih jauh tentang manfaat terapi menulis ekspresif bagi penderita psikosimatis. Dan tiga tahun ke belakang, aku menyadari. Bahwa faktor terbesar adanya pengaruh atau tidak adalah kemauan. Kemauan untuk menyadari kondisi diri. Kemauan untuk terbuka dan menerima dengan hati situasi yang sedang dihadapi. Dan kemauan untuk memperbaiki kondisi diri yang abnormal.

Kalian tentu paham, tidak semua orang mampu melakukan itu. Banyak di antara kita lebih memilih untuk mengelak dan menghindar. Parahnya mereka ini tidak menyadari.

Seperti halnya menulis. Aku akan menyampaikan apa yang paling dekat denganku. Apa yang paling aku pahami. Dan tentu saja sesuatu yang paling kukuasai. Lantas apa hubungannya dengan riset yang kulakukan?

Adalah sesuatu yang tidak masuk akal jika kemudian memilih diri sendiri sebagai responden. Kenapa? Karena riset memerlukan banyak pendukung, dan dia juga bakal menemui banyak bias. Jika kita tidak hati-hati dan teliti.

Benar. Berangkat dari kondisiku sendiri, aku memilih tema ini. Dan meski berbeda dari yang kuharapkan, jelas ya? Karena memang responden minim. Akhirnya tugas akhirku berdamai dengan metode kualitatif. Judulnya pun berubah menjadi studi kasus. Tentu saja, tidak dapat digeneralisasi.
***
Segala rangkaian treatment yang kuberikan, murni keinginan subyek. Aku hanya memandu, apa yang perlu dan tidak perlu mereka lakukan. Selain itu, aku memang membuka diri untuk menjadi teman bicara selagi mereka butuhkan. Sebab, bukan tanpa efek. Justru terapi ini butuh pendampingan sebenarnya. Karena kalau ternyata yang ditulis adalah hal tersensitif, subyek akan mengalami beberapa keluhan sebagaimana psikosimatis yang ia alami.

Dan aku bersyukur, sekalipun subyekku yang satu ini mengungkapkan hal paling sensitif. Dia komitmen untuk menyelesaikannya. Bukan hanya itu, entah karena disembunyikan dariku atau memang demikian, keluhannya tak membutuhkan penanganan khusus dari medis.

Kalian tentu paham, tujuh tahun yang lalu. Terapi itu mulai dikerjakan. Oleh dirinya sendiri. Dan sekarang dia merasakan efek positif dari keputusannya. Allahu Akbar. Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk Allah. Semua itu karena Allah yang menggerakkan hati kami. No others.
***
Itulah kenapa, langkah kecil kita sebagai bentuk kepedulian, sekali pun bagi kita hanya sepele. Ternyata begitu berharga bagi orang lain. So, berhenti memperhitungkan. Berhenti menimbang. Jika ada niat baik di hati, lakukan segera. Karena belum tentu kesempatan akan menghampiri kita lagi.

Kata gurunda dalam salah satu post
Sumber: Story IG Bu Septi Peni Wulandani

Ya, kita tidak perlu mengejar bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Dan kita justru harus yakin bahwa apa yang kita kerjakan akan membuat kita bahagia. Perihal orang lain turut bahagia dengan apa yang kita kerjakan, itu namanya bonus.

Sama halnya ketika sahabat PeKat ingin membantu orang lain. Just do it! Dan perhatikan apa yang memang orang lain butuhkan. Jangan sampai, niat baik kita justru jadi petaka bagi orang lain. Eum, pernah nonton video singkat? Di mana ada orang sedang olah raga, kemudian ia bertumpu tangan ke mobil merahnya. Tapi, naasnya, orang lain melihat itu sebagai upaya mendorong sebuah mobil. Sehingga mobilnya jatuh ke jurang.

That's it, kalian tentu jauh lebih paham dariku.
___**___

Apapun itu yang kamu lakukan, niatkan lillah. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang jauh lebih baik.

See you on the next letter.
Semoga yang sederhana ini mengandung hikmah yang bisa diambil.

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh


Kediri, 23919

5 komentar:

  1. Alhamdulillah kak tulisan yang bermanfaat sekali kak hihi salam literasi kak dari Selvi Febriani group adelaide. Ini pake akun yang di hp hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam literasi Mbak Selvi.

      Wah terimakasih sudah berkunjung. Jauh-jauh dari Adelaide ini. 🤗

      Hapus