Tantangan 2

Sumber: Dokumen Pribadi
Sewaktu kecil, pernah tidak bergumam atau bahkan teriak dengan keras mau jadi apa? Atau diam-diam kamu mengemasnya dalam doa untuk sebuah keinginan? Membayangkan akan menjadi dokter, polisi, guru, atau bahkan berbagai macam profesi lain yang kamu sendiri belum pernah melihatnya. Dan untuk satu event sederhana tetapi memberi kesan berbeda bagiku adalah bermimpi. Banyak mimpi sewaktu kecil, apakah kemudian kamu pernah berpikir saat ini, mimpi mana yang terwujud?

Pada satu momentum di bulan Ramadan tahun ini, aku terharu menyaksikan anak-anak menyuarakan mimpinya ketika dewasa kelak. Salah satu hal yang membuatku hampir berlinang air mata adalah ketika ada yang menyebut dirinya ingin menjadi psikolog. Spontan rasanya tubuh ini ingin meloncat. Buatku itu spesial. Aku sendiri baru terpikir dan menginginkannya ketika sudah menginjak kampus. Ah, bisa jadi dia tahu dari kakak kelas, atau mungkin kakak pengasuh di PA, pikiranku mengemas keterkejutan. Meski aku tidak yakin, tapi dewasa ini informasi semakin mudah diakses. Bukan tidak mungkin, seusia dia tidak tahu apa atau siapa itu psikolog.

Ramadan tahun ini, komunitasku kolaborasi dengan komunitas tetangga mengadakan buka bersama dengan anak-anak panti asuhan. Acara itu dikemas sesederhana mungkin tapi berkesan. Nah, sebelum masuk acara inti, temanku yang bertugas sebagai pemandu game, meminta sebuah perkenalan dari kami. Nama, dan pekerjaan atau cita-cita profesi harus kami sampaikan kepada audiens. Satu per satu secara bergiliran menyampaikan perkenalannya, termasuk aku.

Tibalah saatnya giliranku. Kusebutkan dua kata sebagai nama lengkap, kemudian penggilanku, dan terakhir adalah profesiku. Berat rasanya mengucapkan sebagai apa aku ingin dikenal orang. Namun, dengan tegas dan lantang aku menyebut diriku sebagai teman belajar. Bahkan saat itu tak terpikir aku akan menyebut diriku sebagai penulis atau mungkin guru sekalipun. Tapi, teman belajar memberiku ruh baru, sebagai kata ganti dari guru. Sebab, bagiku guru masih terlalu jauh untuk bisa berdampingan denganku. Terasa asing dan seperti bukan diriku.

Sebagai teman belajar, aku merasa lebih leluasa. Sebab teman belajar tidak melulu harus memberi arahan atau menyampaikan sesuatu sebagai bahan ajar. Justru aku lebih menikmati peranku untuk bisa belajar bersama dengan siapapun rekanku. Karena bagiku, semua guru dan semua murid. Termasuk malam ini. Aku akan belajar banyak hal bersama dan dari kalian.
__**__

Sudah saatnya berkontemplasi ...

Malam ini aku ingin kamu dan kalian tahu. Menulis bukan hanya sekedar imajinasi saat aku menginginkan profesi apa yang kelak kugeluti. Tetapi, menulis merupakan salah satu sarana bagiku untuk menemukan jalan berbagi dan menyampaikan ide. Menulis juga saranaku untuk menjaga diri agar tetap waras. Selebihnya, menulis adalah ketetapan yang harus kulakukan disamping membaca. Jadi, menulis sudah seperti rangkaian amunisi dan aspirin untukku.

Lalu, jika ditanya mau fokus pada jenis tulisan apa. Aku akan lebih bisa mengatakan bahwa saat ini aku tertarik dengan genre faksi. yaitu sebuah genre gabungan antara fiksi dan non-fiksi. Non-fiksi rasa fiksi. Kalau ditanya lebih spesifik lagi, aku sedang cenderung ke kisah-kisah inspiratif. Meskipun demikian aku tidak membatasi diri pada satu jenis saja. Sebab, mulanya aku terlahir dari bidang yang di dalamnya telah bersemayam jiwa-jiwa sastra.

Sajak yang terasa sangat familiar untukku terus mengalir hingga aku beranjak dewasa. Sampai pada satu titik, aku merasa tak pernah menuliskan apapun. Bahkan bersajak saja rasanya terlalu ringkih. Aku berhenti. Dan mungkin saja berubah haluan. Meskipun sebenarnya aku tidak pernah benar-benar pergi untuk berpaling.

Bertahun-tahun mengenal sajak hanya dari ayunan penaku sendiri. Aku terlalu naif untuk bisa menerima apapun dari luar. Meskipun sudah tenggelam dalam dunia pena sejak sekolah dasar. Aku tetap belum menyadari kebahagiaanku saat bisa membaca beragam jenis bacaan. Baru paham ketika aku mampu membaca sebuah novel dalam waktu singkat saat SMA. Dan kecintaanku pada dunia baca tulis semakin mengembara. Namun demikian, aku juga tidak unggul pada mata pelajaran Bahasa.

Ditilik dari bacaanku, mungkin aku cenderung ke fiksi. Tapi aku juga tidak menolak bacaan non-fiksi. Akan tetapi jika berbicara tentang selera untuk menulis, aku lebih berenergi pada faksi. Seperti tulisan-tulisanku di beberapa buku berikut:

Dari Nihil Menjadi Berhasil | Antologi pertama
Sumber: Dokumen Pribadi

Dilatasi Hati | Antologi ketiga
Sumber: Dokumen Pribadi

Ayat-Ayat Kehidupan | Antologi keempat
Sumber: Dokumen Pribadi

The Miracle | Antologi kelima
Sumber: Dokumen Pribadi


Menulislah Tentang Apa yang Paling Dekat denganmu

Alasan yang paling kuat mengapa aku cenderung ke faksi dari pada genre lain adalah dekat. Aku merasa lebih mengenal apa yang kusampaikan. Dan aku percaya tentang sesuatu yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati (baca: pembaca). Faksi memberiku ruang untuk bercerita sekaligus menyisipkan aroma non-fiksi. Kelemahan dalam menciptakan karakter atau berimajinasi, membuatku urung menuliskan kisah-kisah fiksi. Meskipun aku sangat menikmati hasil karya berjenis ini.

Aku pikir perkenalan kita malam ini cukup dulu. Dan soal aku penulis dengan genre apa, semoga kalian paham dengan pemaparanku yang sedikit agak memusingkan ini. Meskipun demikian, aku tetap berharap ada selarik manfaat yang bisa kalian ambil. Semoga...

Selamat berkarya dan selamat membaca...

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokaatuh

Kediri, 18919

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter