Tantangan 1

Ini adalah malam yang mengantarkanku pada pemburuan deadline. Sesungguhnya aku memang "bukan" salah satu dari mereka. Sebut saja Pejuang DL. Akan tetapi malam ini lain. Ada satu hal yang membiusku untuk bertahan tak menghiraukan apapun. Mungkin aku belum pernah mengatakan sebelumnya atau bercerita mungkin, bahwa membaca adalah salah satu hal yang bisa membuatku terdiam lama.

Bacaan yang terlalu lama bertengger manis dengan balutan seragam kebesarannya, apa lagi kalau bukan plastik press, tiga hari lalu berhasil meluluhkan keinginanku untuk mengintipnya. Bukan tanpa alasan. Biasanya aku melakukan ini sebab akan ada orang yang menginginkannya. Tetapi mereka tak segan mencuri start dariku. Kadang lucu juga, aku sendiri tak mempermasalahkan sebenarnya. Hanya saja, keingintahuanku bisa menembus batas "menyoal".

Tak tanggung-tanggung, kali ini aku harus mengunyah 696 halaman dalam waktu kurang lebih 72 jam. Bahkan mungkin kurang. Aku tak ingat, kapan tepatnya memulai pengembaraan itu. Tapi aku harus segera menuntaskannya. Membaca seperti halnya makan. Jika kamu sudah memutuskan untuk mengambil sesuai porsi di piringmu, maka menghabiskan adalah tanggung jawab tak tertulis yang harus kamu pikul. Terlepas dari apapun alasannya. 

Sampai naskah ini kubagikan, bacaan itu sudah habis 5/6 bagiannya. Ya, aku sudah sampai pada halaman 562. Besok pagi buku ini sudah harus kupindahtangankan. Ini bukan soal berapa cepat aku membaca sebab membaca sendiri ada ilmunya. Kalau kalian mau tahu lebih jauh, bisa mengekor informasi dari Kak Adji.
___**___

Terlepas dari kendala yang terjadi hari ini. Oiya, itu bukan kendala hanya pengembaraanku yang memang butuh porsi besar. Bahkan untuk menyelesaikan tantangan pertama ini.

Setelah lima hari menghabiskan stok 20.000 kata dengan cara random text, maka hari ini aku harus menyelesaikan tantangan dengan sedikit ujian. Ada tema yang disandingkan untuk bisa kubagi hari ini atau besok.

Semacam lelucon ketika aku harus merangkai kata dengan gabungan kata kunci. Rasanya memang di sanalah porsi tantanganku yang seharusnya diperbesar atau diperbanyak. karena kadang aku justru macet saat dihadapkan dengan satu kata atau malah beberapa kata sekaligus. Kecuali kata-kata yang memang telah melekat manja dan sesekali romatis di benakku. Karena mereka akan mengeluarkan apapun dengan lebih flowy tanpa perlu aku memaksanya.
___**___

BASAH, PLASTIK, MACET

Terlintas di benakku satu kondisi yang mungkin belum pernah secara nyata kulalui, atau justru sebenarnya kerap menghinggapi rutinitasku. Tapi, ketiga kata itu tak memunculkan argumen terhubung sama sekali, bagi benak yang setiap harinya hanya melewati jalanan lengang dan bebas mengebut sekalipun.

Aku pun berpikir keras akan mengungkapkannya dalam bentuk apa, ketika tak terbentuk korelasi pasti di antara ketiganya. Hanya saja kepalaku menangkap moment tak biasa dua hari lalu. Saat tiba-tiba motor yang kuparkir di halaman kantor ambruk tanpa mengejutkan. Bahkan tidak disadari oleh seseorang yang dekat lokasi. Aku sendiri hanya terpegun dan menganalisa sebabnya.

Setiap sore, halaman itu disiram. Entah apa tujuannya. Kalau untuk membuat tanahnya semakin meliat dan padat, aku pikir tidak dengan cara seperti itu juga. Tapi entahlah, aku tak ingin mengira-ngira lebih jauh lagi. Yang jelas, setiap hari aku hampir tak alpha melihat genangan air di halaman depan kantor. Halaman itu memang sebagian masih berupa tanah. Sekalipun genangan itu akan merembes, tapi dengan intensitas siraman yang begitu konstan, tentu membutuhkan waktu lama untuk benar-benar lenyap. Kuperkirakan sore iitu, tanah yang menopang standar motorku lembek seperti bubur. Sehingga terjadi kemiringan yang tidak seimbang sampai akhirnya ia harus rela terpeleset tanpa bisa teriak.

Dan yang membuatku semakin gusar, alas kaki yang biasa bertengger di depan teras ikut basah. Sekali lagi menjadi korban siraman. Hm, memastikan alas kaki tidak basah sepertinya ayal. Karena mereka tak mungkin memedulikan itu. Selepasnya, aku tak peduli lagi, bisa dicuci, pikirku menenangkan. Selanjutnya, aku bergegas untuk menjejakkan kembali motor malang itu. Sekali lagi aku memastikan tidak ada luka atau pun bagiannya yang basah terkena genangan air. Alih-alih aku mendapati yang kucari, justru kaca spionku yang malah jadi korban. Ah, baiklah, ada yang ceroboh kali ini. Lain kali mesti lebih hati-hati lagi.
__

Ya, ingatan itu menjalar begitu saja. Sampai aku sendiri tak tahu harus membagikan apa yang sungguh-sungguh dapat diambil pesannya. Tapi kata penulis, Masdar Zainal, menulis itu enggak perlu memaksakan untuk menyelipkan hikmah, sebab sesuatu yang dipaksa itu hasilnya enggak akan bagus. Juga tentu saja enggak akan jadi alami. Betul tidak? Kalau enggak percaya, boleh dibuktikan sendiri, semakin kamu fokus pada hikmahnya, semakin kamu memaksakan diri. Jatuhnya akan kaku dan enggak dari hati.
__

Sudah satu setengah jam aku duduk di sini. Sesekali berdiri untuk memastikan apa yang kulihat. Pemandangan ini memang belum pernah kutemui sebelumnya. Kecuali dalam lesatan ingatan dan imajinasi. Di antara kursi yang kutumpangi saat ini ada meja kecil bundar, kupastikan tatakannya terbuat dari kayu dan kakinya besi yang dilapisi cat, entah bagaimana detailnya, aku tak begitu memerhatikan. Satu-satunya fokusku saat ini adalah manik mata yang sedari tadi menatapku intens. Seolah memastikan tak ada yang kurang dari apa yang dilihatnya.

Ah bukan, mungkin saja dia sedang mengatur supaya gemuruh dan badai itu segera tenang. Bahkan sapuan angin yang terlalu kencang, berharap dapat ia kendalikan untuk menjaga suhu tubuh tetap normal. Dan sedari tadi sepertinya gegap gempita kesyukuran itu belum juga larut dalam keheningan. Ia terlihat hendak mengatakn sesuatu, tapi kata-kata kembali tertelan. Seolah suara-suara itu mampu menembus dinding hatiku.

"Aku bersyukur," katanya kemudian. Memecah hening yang sedari tadi bertemankan aroma cokelat yang mengepul berebut tempat di indera penciumanku.

Aku masih tertegun. Merasakan genggamannya yang kadang merenggang, tak jarang menjadi semakin erat.

"Aku bersyukur, kita ada waktu seperti ini. Bisa duduk berdua dengan wanita yang kucintai. Dan aku bahagia." Tutupnya dengan pandangan penuh kepadaku.

Tak ada yang bisa kukatakan. Sementara gerimis syukur semakin menderas dalam hatiku. Tanpa terasa, air mata haru sudah menetes satu satu. Seperti bayangan embun yang menempel di dinding kaca malam ini. Bersama siluet yang terbentuk dari sorot lampu jalanan. Sementara di luar sana, kendaraan masih lalu lalang. Menceritakan kepada kami, betapa aktivitas di jalan itu begitu padat dan penuh sesak. Beruntung tak macet, meskipun tetap saja jalan seperti siput itu sangat melelahkan bagi mereka yang tengah merindu rumah untuk segera istirahat bersama keluarga.

Dan lesatan memori dan bayangan situasi itu tak pernah jenuh menghampiriku. Setiap ada kesempatan ia selalu mampir dan menyisakan butir-butir bening di mataku.
___**___

Kediri, 15919

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter